Apa Pekerjaan Yang Cocok Untuk Saya Bahagia?

Tadi pagi saya baru saja baca Yahoo News. Kebetulan artikelnya menarik perhatian, sebab penuh kontroversi. Bukan mengenai wikileaks dan hidup pendirinya Jullian Assange yang mantan hacker dan kini diburu oleh Pemerintah US. Bukan itu. Melainkan sesuatu yang membumi. Yaitu masalah gaji :)

Yahoo menurunkan berita berjudul “Worst-Paying College Degrees in 2010”. Kalau tidak salah, terjemahannya kira-kira adalah “Ijasah Sarjana Dengan Gaji Terburuk di Tahun 2010”. Selebihnya kalau mau tahu bisa membaca di sini.

Namun agar memudahkan pembaca, saya coba ambil diagram pemicu kontroversi tersebut. Berikut ini adalah diagramnya;

Ijasah Sarjana Dengan Gaji Terburuk di Tahun 2010 (USA)
Ijasah Sekolah Gaji Awal Gaji Tengah Karir
1. Ilmu Anak dan Keluarga $29,500 $38,400
2. Pendidikan Dasar $31,600 $44,400
3. Sosial $31,800 $44,900
4. Atletik $32,800 $45,700
5. Kuliner $35,900 $50,600
6. Hortikultura $35,000 $50,800
7. studi Hukum (Paralegal) $35,100 $51,300
8. Teologi $34,700 $51,300
9. Rekreasi dan Hiburan $33,300 $53,200
10. Pendidikan Khusus $36,000 $53,800
11. Diet $40,400 $54,200
12. Ilmu Agama $34,700 $54,400
13. Seni $33,500 $54,800
14. Pendidikan Umum $35,100 $54,900
15. Studi Antar Disiplin Ilmu $35,600 $55,700
16. Interior Design $34,400 $56,600
17. Nutrisi $42,200 $56,700
18. Disain Grafis $35,400 $56,800
19. Musik $36,700 $57,000
20. Sejarah Seni $39,400 $57,100

Dalam 24 jam semenjak tulisan itu dipamerkan di dunia maya, telah memancing lebih dari lima ribu komentar. Bayangkan, lebih dari lima ribu!

Kenapa?

Sebab gaji itu universal. Sebagaimana pekerjaan yang universal, gaji adalah merupakan bagian darinya. Hampir semua orang yang berkomentar, marah terhadap opini si penulis. Sebab bukan karena si penulis memaparkan data melalui tabel di atas. Melainkan karena di akhir tulisannya si penulis berkata “Jika kamu mau memperoleh gaji yang besar, lebih baik sekolah di perguruan tinggi dengan jurusan yang banyak matematikanya. Sebab dengan begitu gaji kamu nanti lebih baik

Gong penutup tulisan itu menarik. Opini pribadi si penulis Lynn O’Shaughnessy (yang apabila di riset sedikit dengan social engineering, tidak memiliki latar belakang pendidikan yang berhubungan dengan matematika). Amat kontroversial.

Apakah tulisan penutup itu salah?

Mungkin iya, mungkin tidak.

Pendapat itu tidak salah. Sebab Nyonya O’Shaughnessy sendiri adalah pengamat dunia kampus. Saya pikir, beliau tidak akan terlalu tolol mengirimkan dirinya ke jurang jeopardi dengan menerbitkan diagram yang tidak didukung oleh data yang kuat dan akurat. Sebab itu akan meredupkan ketenaran dirinya sebagai seorang penulis best seller dunia kampus. Jika beliau memaparkan sebuah tulisan, maka data-data yang ia miliki, harus memuat realita apa adanya. Jadi, jika ia bilang bahwa matematika akan membuat anda kaya. Bisa jadi karena data yang ia lihat menceritakan begitu kepadanya. Dan sebagai pengamat, saya yakin beliau amat paham dengan statistik. Sebab output statistik sendiri adalah netralitas angka-angka dingin yang menyeramkan yang terdiri dari kumpulan data dan fakta.

Namun, mengapa pendapat itu jadi salah?

1. Krisis

Sejak tahun 2007, krisis melanda Amerika Serikat. Bahkan hingga 2010 ketika tulisan ini diturunkan, Amerika masih dilanda krisis. Eksesnya, Pemerintah US melakukan pemangkasan di mana-mana sebagai upaya menyelamatkan negara mereka dari kebangkrutan. Orang-orang cerdas di Amerika sibuk mencari pangkal akibat mengapa mereka bisa bangkrut dan sibuk mencari pemecahannya.

Krisis ini parah. Benar-benar parah. Dalam filmnya Capitalism: A Love Story, Michael Moore, seorang sutradara film dokumenter terkenal, menuduh pialang saham Wall Street sebagai pencuri uang rakyat Amerika. Pada intinya, krisis ini parah. Menghancurkan banyak industri. Membuat banyak orang dipecat dari pekerjaannya. Hingga banyak orang jadi pengangguran. Bahkan sarjana post-graduate pun banyak yang kehilangan pekerjaannya.

Banyak sarjana berijasah yang marah dengan tulisan penutup Nyonya O’Shaughnessy. Bahkan diantaranya sarjana matematika yang berkomentar bahwa ia seumur hidup berurusan dengan matematika dan kena sial sebab dipecat dari pekerjaannya. Kini si sarjana tersebut, ternyata lebih menikmati hidup menjadi penebang kayu di Alaska. Ia bersyukur masih punya pekerjaan dalam badai krisis ini.

2. Statistik

Pisau bedah bernama statistik itu punya dua sisi yang sama tajamnya. Kelebihan statistik adalah ia mampu menerjemahkan massive data dan fakta dalam tempo yang cepat dan mudah di baca. Kekurangannya adalah, jika digunakan dalam parameter yang terlalu lebar, akan terjadi ketimpangan data.

Nyonya O’Shaughnessy terjebak dalam menggunakan statistik ini. Beberapa orang yang memiliki ijasah sarjana dalam gaji tingkat terendah tabulasi di atas mengaku bahwa mereka memiliki penghasilan yang jauh-jauh lebih banyak daripada angka-angka paparan si Nyonya. Ketika orang-orang ini berkomentar, kesahihan data dalam tulisan Nyonya O’Shaughnessy memicu pertanyaan yang cukup serius di benak banyak orang. Mereka berfikir, “Jangan-jangan si Nyonya cuma asal ngomong!”

Di sini, statistik data sang Nyonya yang menjadi tulang punggung tulisan, pun amat bisa diperdebatkan. Dan ketika bahan dasar ramuan data sudah diragukan, maka apapun hasil racikannya, tentu tidak bisa dengan amat mudah jadi obat yang mujarab buat publik.

3. Fakta

Menurut salah seorang sahabat saya, “Kejujuran itu Brutal”. Sebab dapat menyakiti hingga seperih-perihnya perasaan manusia.

Analogi yang dipakai dengan idiom ini adalah, jika data Nyonya O’Shaughnessy adalah sebenar-benarnya data. Maka ada tiga ijasah sarjana yang akan membuat hidup pemegangnya dalam pekerjaan yang bergaji rendah hingga susah hidup. Tiga pekerjaan itu adalah;

1. Ilmu Anak dan Keluarga
2. Pendidikan Dasar
3. Kerja Sosial

Mengapa ‘Kejujuran itu Brutal’?

Jika sebuah sistem pendidikan dan tatanan masyarakat, sudah tidak lagi menghargai Anak dan Keluarga. Tidak lagi peduli akan pendidikan dasar dan mulai memudarkan prinsip-prinsip berbagi peduli dalam tindak kerja sosial. Sampai kapan bangsa itu akan bertahan?

Jadi sekali lagi, jika data Nyonya O’Shaughnessy adalah sejujur-jujurnya data, maka sistem pendidikan dan masyarakat Amerika adalah tatanan yang sungguh brutal.

Analogi ini, juga dipakai oleh banyak warga Amerika yang membaca tulisan si Nyonya dan amat menyakiti perasaan mereka.

4. Memusnahkan Harapan

Beberapa orang, jadi guru, bukan karena menginginkan gaji yang besar. Sebab gaji guru memang terkenal tidak besar. Beberapa orang jadi pemadam kebakaran bukan karena gaji yang besar. Sebab pemadam kebakaran pun memiliki bayaran yang tidak terlalu besar. Beberapa orang, jadi seniman, bukan karena cita-cita muluknya punya tabungan di bank bermilyar-milyar.

Beberapa orang, sekolah dan lalu mendapat ijasah untuk bekerja menjadi apa yang ia inginkan adalah karena ia mencintai apa yang ia lakukan. Beberapa orang lagi, mungkin tidak melalui jalur sekolah dan tidak pernah mendapatkan ijasah, namun berusaha sekuatnya untuk sedekat mungkin melakukan sesuatu yang ia cintai untuk dilakukan.

Tidak semua orang di muka bumi melakukan pekerjaannya demi uang belaka. Masih banyak orang yang bercita-cita bisa membuat perubahan di dunia ini dengan cara mereka masing-masing.

Tulisan Nyonya O’Shaughnessy, yang sialnya ditulis dalam masa krisis ini, dipandang oleh banyak komentator sebagai pemujaan uang diatas segalanya. Ketika banyak orang berusaha keluar dari krisis finansial ini dengan melakukan sesuatu yang mereka cintai (dan mungkin tidak terlalu banyak menghasilkan uang), tulisan sang Nyonya melemahkan mental mereka. Diantaranya adalah mental-mental anak muda yang baru saja lulus sekolah dan langsung melihat realita perihnya industri Amerika. Dimana-mana, susah cari kerja.

————————————————————————–

Saya pribadi, suka tulisan sang Nyonya. Bukan akibat data yang diusungnya. Melainkan suka sebagai wacana. Sebagaimana saya suka komentar-komentar positif atau negatif pembacanya. Bisa banyak belajar dari tulisan kontroversi itu.

Belajar bahwa masih banyak orang yang beranggapan bahwa hidup itu tidak melulu soal uang. Belajar bahwa masih banyak manusia di luar sana yang nasibnya sama seperti saya, yang harus berjuang setiap hari untuk menafkahi anak istri di tengah resesi. Belajar bahwa, sebaiknya jangan pernah membunuh mimpi.

Ya sudah. Sekian dulu tulisan minggu ini. Akhir kata, mohon maaf lahir batin dan selamat berakhir pekan :)

Omong-omong, berapa penghasilan anda? Dan apakah anda bahagia?

This entry was posted in cerita_kerja, sehari-hari and tagged , , , . Bookmark the permalink.

10 Responses to Apa Pekerjaan Yang Cocok Untuk Saya Bahagia?

  1. Indie_ana Jones says:

    Bang Aip lagi banyak cerita tentang syukur ya…
    jadi berkaca, sudahkah aku cukp bersyukur hari ini 😉
    Way to go Bang 😉

  2. joesatch says:

    eh…saya kok nyaris mewek ya, bang, pas baca2 paragraf2 akhir… :(

  3. edratna says:

    Bekerja sebagai guru, dosen memang bukan karena mengejar uang bang..tapi karena memang menyenangi pekerjaan itu.
    Saya justru menyukai pekerjaanku yang sekarang, paruh waktu, bisa sharing pada murid….namun untuk menjadi seperti ini, memerlukan proses panjang dan pengalaman dilapangan, yang menyita waktu, sehingga sebetulnya tak bisa menikmati waktu luang bersama keluarga.

    Syukurlah saya suka tantangan, dan bersyukur punya keluarga yang mendukung, sehingga saya tak merasa bersalah.

  4. Amd says:

    Ah, gaji saya sih kecil… tapi kalau soal penghasilan, jangan ditanya… kecil juga soalnya, hehehe.

    Ilmu Politik nggak ada di 20 besar itu ya Bang? Wah, kalo gitu mending jadi politisi aja deh, sepertinya menjanjikan…

  5. Hutaki says:

    Beberapa orang, sekolah dan lalu mendapat ijasah untuk bekerja menjadi apa yang ia inginkan adalah karena ia mencintai apa yang ia lakukan. Beberapa orang lagi, mungkin tidak melalui jalur sekolah dan tidak pernah mendapatkan ijasah, namun berusaha sekuatnya untuk sedekat mungkin melakukan sesuatu yang ia cintai untuk dilakukan.

    Tuhkan, memang harus begitu kan…Melakukan apa yang disukai berapapun gajinya selalu bisa mendapatkan yang lebih penting dari gaji. Bekerja dengan gaji besar belum tentu bisa banyak menghabiskan waktu dengan menyenangkan.
    Aaahh…saia suka hidup.

  6. DeZiGH says:

    Hmm, banyak orang yang cukup mempercayakan tumbuh kembang anak kepada pembantu, koq. Apakah artinya titel ilmu anak dan keluarga baiknya dimiliki oleh pembantu?

  7. hedi says:

    saya udah 2 bulan ga terima gaji, bangkrut bang :(

  8. nDaru says:

    kalok ibu rumah tangga itu masuk ke jenis pekerjaan ndak to?

    –0–

    Menurut saya, Ibu rumah tangga adalah salah satu pekerjaan yang luar biasa terhormat dan hanya cinta yang bisa membayarnya.

  9. mas stein says:

    gaji saya jauh lebih kecil dibanding peringkat pertama dalam tulisan sampeyan bang, tapi bahagia kok :smile:

    ngomong-ngomong ini mengingatkan saya waktu jaman sekolah dulu, kalo sampeyan sekolah SMA di indonesia pasti tau penjurusan tho bang, dulu saya itu dipaksa-paksa masuk jurusan IPA, dengan alasan masa depan akan lebih cerah dibanding jika masuk IPS. mungkin pertimbangannya mirip-mirip sama tulisan yang sampeyan bahas.

    tapi apa mau dikata, saya ndak suka IPA, saya milih IPS! 😆

  10. Amrik Yakti Padma Sari says:

    Pekerjaan saya diimpikan bnyak pelamar pekerjaan. Saya bekerja di BUMN dengan gaji yang tentuanya diatas rata2..tapi saya sangat tidak menikmati pekerjaan saya. Di benak saya selalu ingin mencari pekerjaan lain, berwirausaha mungkin. Apakah salah saya berpikir demikian?apakah sy dikatakan tidak bersyukur?kadang saya merasa tertekan dan tidak menikmati sama sekali pekerjaan saya.Mohon pendapat.

    –0–

    Life is short. Enjoy it

Leave a Reply