Mencari Kebahagiaan Di Selangkangan Janda – 2

(*Sambungan dari bagian 1*)

Dalam keadaan galau mencari kebahagiaan. Saya sempat terpikir untuk pulang ke Cilincing, sebuah desa di pesisir utara Jakarta sana.

Tapi dalam hati saya berfikir lagi, “Nggak mungkin kebahagiaan terletak dari lokasi geografis. Sebab apabila memakai logika ini, maka argumen yang bisa dipakai adalah; pada lokasi tertentu, maka semua manusia akan menjadi bahagia. Andaipun ada, wilayah itu namanya pasti surga dan hanya eksis di kitab suci. Bukan di peta bumi. Apalagi di peta Jakarta”. Hehe.

Disini saya mulai ragu saya terkena depresi akibat pencarian tujuan tanpa definisi. Sebab nampaknya saya masih memakai beberapa parameter logis serta string iseng dalam mencari jawaban petualangan mencari kebahagiaan ini. Katanya, orang depresi sering tidak logis dan tidak iseng.

Tapi kalau saya tidak terkena midlife crisis dan kalau saya tidak depresi… Saya kena apa, dong?

Akibat letih lebih dari dua minggu terkena insomnia. Yang membuat tangan saya sampai gemetar ketika bekerja. Ditambah lagi berat badan saya dan istri yang masing-masing turun hingga dua kilogram. Maka saya berhenti mencari jawaban ini sendirian.

Suatu malam, setelah pamit pada anak dan istri; saya putuskan untuk berkelana tiga hari. Sambil terisak, istri saya merestui. Maklum, ia masih takut saya pergi dan tak akan kembali. Namun setelah saya yakinkan bahwa saya akan mencari jawaban pertanyaan-pertanyaan saya, maka mulailah petualangan ini. Diawali dengan naik sepeda ke stasiun naik kereta.

Sampai di stasiun kereta saya kebingungan. Dalam hati membatin, “Lah gua mao kemana yak?”

Di sini saya baru sadar satu hal. Dan di stasiun kereta yang sudah sepi ini, tiba-tiba menemukan sepenggal jawaban pertanyaan. Yaitu, ternyata saya tidak begitu banyak punya tempat mengadu. Semuanya, segala permasalahan maupun problematika, dengan angkuhnya seringkali saya pecahkan sendiri. Malam ini, kemandirian tiba-tiba menjadi sebuah bumerang. Sebab ternyata saya tidak punya terlalu banyak kawan selain ketika online.

Ternyata; saya kesepian. Itu masalah sekaligus jawaban pertama yang saya peroleh dari stasiun kereta pukul sebelas malam ini.

Untungnya (*iya, saya masih berkultur orang Indonesia. Dalam keadaan apapun, masih punya kalimat ‘untungnya’, hehe*) ndalilah di kantong celana saya ada telepon genggam. Dan di daftar telepon itu, ada nama Damin. Sahabat saya. Setelah kontak sebentar berbicara mengenai masalah yang saya alami, Damin berkata “Jangan ke hotel! Apalagi yang ada dugemnya” namun mengharap agar saya ke rumahnya malam itu.

Malam itu dengan memakai kereta terakhir, akhirnya saya ke rumah Damin. Dan ketika sampai dengan ramahnya, Damin menggoreng terong sambal untuk cemilan malam itu (*Aneh, nyemil kok pake terong?*)

Damin: “Lu banyak utang men?”
Saya: “Nggak”
Damin: “Lu selingkuh?”
Saya: “Nggak… Kok…”
Damin: “Bini lu selingkuh?”
Saya: “Nggak… Maksud lu apa sih nanya-nanya begitu?”
Damin: “Lu nganggur?”
Saya: “Nggak!”
Damin: “Lu sakit?”
Saya: “Nggak… Nggak.. Dan nggak… Lu kenapa sih nanya begitu?”

Damin menatap saya tajam, “Lu nggak punya masalah ama duit, nggak ada orang ketiga di rumah tangga, masih kerja dan sehat… Ada juga gua yang nanya… Ngapain lu ke sini malem ini? Ninggalin anak bini sendirian di rumah!”

Saya tercekat. Tidak mampu bicara apa-apa. Kalau saya tahu jawabnya, tidak mungkin saya ke rumah Damin malam itu.

Hening. Suasana membeku antara kami berdua. Hanya gesek kunci dengan lubang pintu yang membuat kami menoleh. “Odi pulang”, kata Damin.

Itu Odi. Teman sekamar Damin. Dua manusia ini memang tinggal sekamar.

(*Bersambung ke bagian 3*)

This entry was posted in bangaip, Orang Indonesia, sehari-hari and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Mencari Kebahagiaan Di Selangkangan Janda – 2

  1. edratna says:

    Hmm..baca lanjutannya lagi

Leave a Reply