Mencari Kebahagiaan Di Selangkangan Janda – 1

Sudah beberapa minggu terakhir ini saya tidak begitu gembira sebagaimana biasanya. Senyum cengengesan yang biasanya tanpa sadar selalu kumandangkan, menghilang begitu saja. Singkat kata, saya sedih.

Saya murung.

Kesedihan yang saya alami, kelihatannya tidak jelas juntrul-pangkal penyebabnya. Mungkin, sebagaimana syair lagu band 70-an Koes Plus “Kerja keras bagai kuda, dicambuk dan di dera”. Saya terlalu keras bekerja. Mengakibatkan jemu yang tiba-tiba memuncak.

Namun bisa jadi saya juga jemu dengan hidup monoton yang saya alami. Kerja nine to five. Jauh dari adrenalin junkie lifestyle yang dianut sebelum menikah. Lalu setelah menikah, hidup di daerah suburban yang gersang. Jauh dari peradaban sebagaimana saya tumbuh dibesarkan.

Saya jemu.

Istri saya ikut sedih melihat suaminya murung. Ia khawatir saya tidak bahagia dengan pernikahan kami. Beberapa kali, ia terlihat diam-diam menangis setelah makan malam. Takut suaminya pergi begitu saja tanpa berkata apa-apa.

Putri saya, mungkin menyadari atmosfir ini. Sudah beberapa hari setelah melihat ayahnya murung, ia pula terlihat rewel. Meminta perhatian. Mungkin sekali akibat ayahnya tidak sanggup memberi banyak perhatian, akibat terlalu sibuk berfikir mencari jawaban untuk permasalahannya sendiri. Dalam masa-masa ini, saya lihat ia sering kali memeluk mamanya. Ketika melihat mamanya menangis, ia memeluk dan lalu berkata “Mama jangan menangis. Kenapa mama menangis?”

Saya menatap tertegun bocah perempuan berusia 2 tahun itu. Istri saya tambah terisak mendengar putrinya bertanya.

Saya jawab, “Papa nakal sama mama, Nak. Maaf yaah…”

Putri saya menatap saya sambil pura-pura melotot marah sambil berkata, “Papa jangan nakal mama yaah…” lalu kembali memeluk mamanya sambil berkata “Mama aku cinta kamu”

Saya termangu menatap adegan ini.

Entah apa yang terjadi dengan diri saya? Saya sendiri tidak tahu. Aneh. Saya punya istri dan anak sehat yang mencintai saya sepenuh hati. Walaupun masih mengontrak saya punya tempat tinggal yang mampu melindungi dari terik atau hujan. Saya punya sepeda yang meskipun tua namun mampu mengantar saya dengan selamat ke pasar belanja dan bekerja cari nafkah. Lebih dari semua itu…. Saya dikaruniai hidup yang sehat. Sebuah anugrah yang tiada tara.

Mengapa saya tidak bahagia? Saya sendiri tidak tahu. Pasti ada apa-apa dengan hidup saya. Kalau tidak ada apa-apa, tentu saja saya tidak merasa aneh seperti ini. Hidup cukup namun tidak bahagia.

Saya mulai mencoba menganalisa diri saya. Jangan-jangan saya adalah anarko individual yang jadi bagian dari kaum anarkis. Orang-orang yang anti kemapanan dan kestabilan (namun anti kekerasan fisik). Sebab melihat track record hidup saya, memang besar sekali kemungkinannya saya dikategorikan sebagai anarkis dalam definisi di atas.

Tapi aneh, kalau memang saya seorang anarkis indivudualis yang mengutamakan ego di atas segalanya; mengapa pula saya berkeluarga dan mencari nafkah dalam sebuah usaha yang melibatkan banyak orang? Mengapa istri saya percaya saya ayah yang baik untuk putrinya? Mengapa rekan-rekan kerja saya percaya bahwa kami mampu bekerja sama dalam mencari hasil yang lebih baik?

Mengapa dan mengapa, berkecamuk terus tanpa habisnya. Saya bingung. Dan terus jatuh dalam kebingungan. Banyak sekali pertanyaan dalam otak saya. Berhari-hari, mencoba mencari jawaban atas permasalahan diri saya yang tidak bahagia.

Saya sibuk mencari jawaban untuk pertanyaan saya. Sehingga terlihat murung dan meresahkan keluarga. Bukan hanya keluarga sih. Rekan-rekan saya juga khawatir saya pergi dan tak kembali. Sebab kami dalam sebuah project besar skala 30 bulan yang sudah berjalan selama setahun lebih. Kalau saya pergi, kepergian saya jelas akan menimbulkan masalah besar.

Masa dimana keluarga dan rekan kerja bertanya-tanya dan saya pun masih terbelit dalam kesedihan, menurut saya bukanlah masa yang menyenangkan.

Dalam masa ini, bahkan saya sempat terfikir, “Jangan-jangan gua kena midlife crisis? Buset dah, umur belom empat puluh udah kena sindrom krisis paruh baya ini”

Saya kaget. Luar biasa kaget. Wah, apakah saya terkena krisis paruh paya? Kalau iya, geblek dah. Kok bisa? Kenapa?

Akibat sangat ingin mencari jawaban, maka mulailah saya membolak-balik wacana referensi pop-culture dan psikologi kognitif. Mencari tahu lebih lanjut mengenai krisis paruh baya (midlife crisis) yang katanya dialami manusia usia antara 30-60 tahun itu.

Sebagai jawaban, saya menemukan bahwa:

Individu yang mengalami krisis paruh baya memiliki perasaan ini:

  • Pencarian atas mimpi atau tujuan yang sama sekali tidak terdefinisikan
  • Penyesalan mendalam atas hasil yang tidak tercapai
  • Keinginan untuk ‘kembali muda’
  • Ingin sendiri atau malah lebih ingin bergaul hanya bersama teman-teman tertentu

Umumnya individu ini pula menunjukkan perilaku:

  • Penyalahgunaan alkohol
  • Memiliki barang yang tidak biasa atau mahal seperti; sepeda motor, perahu, pakaian, mobil sport, perhiasan, gadget, tato, tindikan, dan lainnya
  • Depresi
  • Menyalahkan diri sendiri akibat kegagalannya
  • Memberikan perhatian khusus kepada penampilan fisik seperti menutupi kebotakan, mengenakan “pakaian anak muda”, dan lainnya
  • Menjalin hubungan dengan orang-orang muda (baik seksual maupun profesional, atau lainnya)
  • Menempatkan hal penting (yang dalam jumlah tertentu mungkin bisa merusak secara psikologis) pada anak-anak mereka untuk unggul dalam bidang-bidang seperti olahraga, seni atau akademik

Diantara banyak analisa di atas, saya berfikir dalam hati. Astaga, jangan-jangan saya kena depresi? Tapi kenapa?

Lalu, berhari-hari lagi saya coba cari jawabnya. Sampai mencari-cari buku The Art of Happines karya Dalai Lama dan Howard Cutler. Mungkin dari buku tulisan gabungan karya biarawan Tibet dan psikiater Amerika tersebut itu saya bisa dapat jawaban. Sebab buku tersebut digadang-gadang sebagai manual untuk mengalahkan marah, cemburu, benci, iri, stress dan depresi yang sehari-hari melanda umat manusia.

Ketika buku itu saya dapat, bukannya dibaca, ealah, malah saya kasih ke ibu mertua. Huaduh, apa yang terjadi dengan diri saya sebenarnya?

(*Bersambung ke bagian 2*)

This entry was posted in bangaip, Orang Indonesia, sehari-hari and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

5 Responses to Mencari Kebahagiaan Di Selangkangan Janda – 1

  1. Amd says:

    Masih belum menemukan korelasi judul dengan midlife crisisnya… Menunggu bagian berikutnya sahaja…

    –0–

    Sip… :)

  2. Amd says:

    Lah, komen saya masuk spam ya?

    –0–

    Komen kamu sudah berapa kali masuk sekte kasih sayang akismet, Med. Entah kenapa. Saya juga bingung. Itu sudah saya bebaskan euy :)

  3. bangsari says:

    lha kelanjutannya mana?

    –0–

    Sabar… Sabar… Tunggu besok :)

  4. edo says:

    #sabar menanti…

    –0–

    #Orangsabarpuasanyaapdol 😀

  5. edratna says:

    Mesti baca lanjutannya

Leave a Reply