Gangguan Spam Di Telepon Genggam

Saya baca tulisannya teman saya, Bu Enni, soal telepon. Bagus loh. Menyoal bagaimana beliau berhadapan dengan penelpon dan SMS tak berguna dan trik beliau menggunakan silent mode pada ponselnya. Begini Bu Enni menulis:
Rasanya semakin banyak saja sms masuk yang tak berguna, dari sms minta pulsa (jelas tipu-tipu), sms penawaran KTA (Kredit Tanpa Agunan), sampai yang terakhir adalah sms penawaran jika mau beli rumah.
(Baca lebih lanjut tulisan beliau di http://edratna.wordpress.com/2010/09/13/silent-mode/)

Tidak lama saya baca juga tulisan keren dari MalasBangetDotCom soal spam melalui telepon atas nama telemarketer. Begini tulisan crew MDBC:
Terkadang menerima telepon dari telemarketer emang bisa bikin sebel. Apa lagi kalau kita emang nggak perlu produknya dan udah berkali-kali dihubungi oleh mereka hanya untuk kembali menawarkan produk yang sama, mulai dari promosi tempat fitness, penawaran kartu kredit, sampai berlangganan tv kabel.
(Baca lebih lanjut tulisan mereka di http://malesbanget.com/2010/09/cara-menghadapi-telemarketer/)

Tahun lalu, teman saya yang saya panggil om-om biar kedengaran seksi (jadi kita sebut saja namanya Om Fertob), menulis soal SMS Spam. Begini asal mulanya:
Saya sendiri punya 2 nomor telepon seluler. Yang satu katanya sinyalnya kuat, dan yang kedua katanya tersebar di seluruh Indonesia. Keduanya sudah lama saya pakai, lebih dari 5 tahun. Nah, kedua penyedia nomor seluler prabayar ini sama perilakunya. Sama-sama suka mengirimkan SPAM dalam bentuk SMS (short message service)”
(Baca lebih lanjut tulisan om kita ini di http://fertobhades.wordpress.com/2009/12/01/sms-spam/)

Pada intinya, semuanya sama. Asalnya adalah ketika privasi mereka dalam menggunakan telepon seluler, diacak-acak.

Kali ini, saya memang mau menulis soal telepon genggam dan perilaku yang menyertainya. Biasa lah, ikut-ikutan aja temen-temen saya di atas. Hehe…

Saya pribadi, selama ini walaupun kerap diprotes, terbilang cukup sadis dalam melakukan komunikasi melalui telepon genggam. Apabila dapat telpon dari penelpon tak dikenal, tidak akan saya angkat. Dapat SMS dari nomor tak dikenal, tidak dibalas. Dapat SMS Spam, saya kumpulkan lalu laporkan ke Yayasan Lembaga Pelindung Konsumen.

Komunikasi melalui telepon genggam, buat saya hanyalah untuk masalah yang penting saja. Iya saya tahu, dengan konsep tersebut, mensejajarkan saya dengan manusia yang dituduh ‘purba’ atau ‘orang tua jadul’ dan ‘ketinggalan jaman’. Biarlah. Tidak terlalu penting.

Saya menelpon, melalui telpon genggam, biasanya selama ini hanya menghubungi nomor-nomor penting masa darurat, seperti polisi, ambulans atau sahabat saya yang orangtuanya baru meninggal. SMS dipakai untuk memberitahu ketika telat akibat transportasi publik, sakit atau janji yang perlu konfirmasi.

Tahun ini, kebetulan frekuensi saya bepergian cukup tinggi. Hingga bulan ke delapan tahun ini saya sudah harus mengunjungi empat belas negara secara kontinyu di beberapa benua. Kemana-mana butuh ponsel. Setiap pindah negara, provider telepon memberitahu bahwa negara yang saya kunjungi memiliki sistem pembayaran berbeda-beda untuk menelpon dan SMS. Itu pun, sudah saya anggap SPAM. SMS yang tidak diinginkan.
(*Ketika saya complain ini ke provider, mereka meminta maaf dan Public Relation mereka langsung menghubungi saya untuk menindaklanjuti kalau-kalau saya akan menuntut, hehe*)

Yang paling parah mengenai banyaknya SMS/telpon SPAM, dari semua negara yang saya kunjungi adalah… Republik Indonesia.

Saya tahu, tidak adil memang membandingkan RI dengan negara-negara lain yang saya kunjungi. Sebab sangat subjektif sekali penilaiannya. Namun apabila memakai parameter SMS/Telpon SPAM, serta terbatasnya waktu residensi saya di tiap-tiap negara, maka tanpa ragu-ragu, saya berani bilang saya menerima lebih banyak telepon dan SMS yang tidak diinginkan ketika berada di Indonesia.

Begitu beli nomor kartu Indonesia baru, dapat SMS spam. Mulai dari ringtone, hingga acara TV. Ketika pulsa habis dan isi ulang, langsung dapat sembilan SMS SPAM. Gila, sembilan! Isinya iming-iming pulsa baru, doa mustajab hari ini hingga uang bermilyar-milyar. Begitu daftar hotel dengan nomor tersebut, tidak lama kemudian dapat telepon dari Customer Service hotel yang masih dalam group yang sama, menawarkan paket honeymoon ke Bali. Bulan madu sama siapa coba? Lah wong saya bepergian sendirian! Honeymoon sama dia? Ogah ahh, sudah cowok, suaranya nge-bass pula!

Sejak tahun 2000 ketika penggunaan telepon genggam semakin populer, spam melalui SMS dan telepon (disebut juga sebagai m-spam, singkatan dari mobile spam) memang semakin menggila. Dalam upaya untuk melawannya, negara-negara misalnya di US, Canada, EU dan Australia, mengeluarkan undang-undang di bawah nama trespass to chattels (Pelanggaran pada barang bergerak).

Pelanggaran pada barang bergerak adalah gugatan dimana pihak yang melanggar telah sengaja mengganggu milik sah harta (properti pribadi bergerak) orang lain. Gangguan tersebut dapat berupa kontak fisik atau pencabutan hak dari harta (properti pribadi bergerak) itu (baik dengan mengambil itu, menghancurkan, atau pembatasan akses pemilik). Agar tidak disalahgunakan, trespass to chattels hanya dapat ditindaklanjuti jika kerusakan yang sebenarnya dapat ditampilkan (*untuk kasus saya; misalnya SMS SPAM ringtones yang sekali kirim bisa sampai sembilan kali*).

Sialnya kita semua, yang masih dan akan bermukim di RI, hukum trespass to chattels tidak mempan berlaku di Indonesia. Sebab memang belum ada niat dari penyelenggara telekomunikasi di negeri ini untuk membuat jera para mobile spammer tersebut.

Bagaimana Memerangi Mobile Spam

Jawabnya simpel: Susah!

Kenapa susah?

  • Terbatasnya fasilitas program di kebanyakan telepon genggam (kecuali yang canggih semacam smartphone)
  • Tidak banyaknya pengembang perangkat lunak yang memfokuskan diri dalam filterisasi mobile SPAM
  • Jika memang ada filterisasi SPAM, maka untuk SMS akan sulit, sebab ada provider yang membebani pengguna mereka pulsa dengan SMS SPAM. Jadi mereka kirim SPAM, kita yang bayar. Kampret!
  • Providers yang notabene para raksasa telekomunikasi itu pasti tidak mau ladang usahanya dibantai demi kemslahatan umat pengguna mobile. Untuk kasus RI dimana undang-undang bisa dimodifikasi per sponsor terbesar, mereka akan melobi para politisi untuk melambati proses ini

Jadi Kita Tidak Bisa Memerangi Spam Pada Ponsel?

Jelas bisa, say!

Amerika Serikat, bisa memerangi SMS dan telepon yang tidak diinginkan ini dengan menerbitkan Undang-undang yang disahkan Dewan Komunikasi Federal (FCC) tahun 2003 (yang disebut CAN-SPAM Act of 2003 lalu ekstensinya di tahun 2004.

Uni Eropa pada May 2009 menerbitkan EYouGuide. Yaitu sebuah panduan untuk para warganya dalam melakukan komunikasi online. Di sana terlihat hampir semua peraturan yang dibuat oleh Dewan Uni Eropa dalam melindungi warganya beraktifitas digital. Selain melindungi, juga terlihat bahwa sanksi sudah diterapkan bagi para spammer mobile sejak tahun 2004.

Australia membuat ACMA (Australian Communications and Media Authority), sebuah lembaga yang bertugas memerangi SPAM pada media. Tahun 2009 lembaga ini mendenda Vodafone Hutchison Australia, raksasa provider mobile, sebanyak $110,000. Gara-gara provider ini mengirimkan 100 ribu SMS kepada penggunanya.

Bill C-27 adalah proyek legislasi yang dibuat oleh Canada dalam mengantisipasi SPAM global di negara mereka (*yang katanya menghabiskan sekitar 3 milyar dollar pertahun*)

Di RRC, tiga raksasa provider berkerjasama dalam memerangi mobile spam. Caranya adalah dengan membatasi dan mengambil tindakan keras pada pengirim pesan teks SMS spam. Berdasarkan pembatasan, nomor telepon dan pengiriman SMS dengan tidak lebih dari 200 pesan per jam atau 1000sms/hari kerja.

Jadi, kalau mereka bisa, kenapa kita tidak?

Bukankan salah satu bukti bangsa besar bukanlah bangsa yang mencoba memerangi dan menjajah tetangganya, melainkan bangsa yang mampu memerangi SPAM?

Ayo Republik Indonesia, kita pasti bisa! 😀

This entry was posted in bangaip, Orang Indonesia, Republik Indonesia, sehari-hari and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Gangguan Spam Di Telepon Genggam

  1. edratna says:

    Merindukan hape tahun akhir tahun 90 an….benar-benar nyaman.Nggak usah telepon genggam, sekarang juga menjalar ke telepon kabel, yang bahaya adalah jika yang menerima anak-anak atau PRT, karena mereka suka sok kenal sok dekat….ngajak ngobrol dulu, ntar baru tanya…”Papa mama kerja di mana…biasanya pulang jam berapa? Tahu nomor telepon kantor..bla..bla..ujungnya suatu ketika ada telepon yang seolah-olah teman Papa mama, yang pesan akan menyuruh seseorang ambil barang. Dan tertipulah yang tak waspada.

    Saya punya pengalaman bagus, PRT kan sulit kalau diajari berbagai hal, demikian juga anak kecil (kita tak bisa ngasih tahu anak-anak kan kalau ada orang dewasa tukang tipu?). Rumusnya sederhana:

    Jangan pernah memberikan sebuah barang jika ayah ibu tak ada. Tapi kalau terima barang boleh asal jelas alamatnya.

    Dan karena orang makin males angkat telepon kabel, maka penipuan ini berkurang dengan sendirinya…sesekali masih ada telpon dari telkom menawarkan speedy. Dan herannya, berkali-kali ditolak, ehh yang nelpon berganti-ganti…akhirnya saya bilang..”Mas/mbak, ini dari telkom mana sih, dan siapa namamu, kok setiap kali ada nelpon hal serupa…Rupanya mereka pekerja outsourching, dan agar target tercapai tak peduli waktu kapanpun maka mereka akan mengganggu terus. Dan akhirnya…kabel saya cabut, jika saya pengin istirahat..selesai sudah

    –0–

    Terimakasih Bu atas tipsnya. Wah menarik nih buat dicoba :)

  2. Manusiasuper says:

    Yang saya dengar, pabrik kartu cdma punya negara itu secara internal memang menerapkan kebijakan memaksimalkan kerjasama dengan pihak ketiga yang ingin berpromosi pada pengguna jaringan mereka. Target utama pendapatannya ya itu.

    –0–

    Saya sudah dengar sih rumor ini. Tapi ternyata dikonfirmasi oleh komentar Mbak Yoga di Facebook di tulisan ini pula dan komentar di bawah.

  3. Hmz says:

    mungkin gak banyak yang tau kalo fenomena sms spam itu sebenernya adalah dampak gak langsung dari perang tarif antar operator telekomunikasi.

    gw punya kenalan yang pernah kerja di salah satu content provider terbesar di indonesia. dapet bocoran dari dia, ternyata margin keuntungan dari telpon & sms itu sudah sangat kecil sekali. makanya operator telco melirik ladang baru, yaitu ya value added service. ini termasuk ringtone, RBT, reg spasi dukun dkk, kerja sama dengan penyedia kartu kredit, dll. dan ini gedenya gak main2 lho.

    mau tau content apa yang paling populer? gw terakhir ngobrol2 ama temen gw itu sekitar 2 taun yang lalu. waktu itu dia bilang kalo yang paling ngetop itu reg dukun, reg mama loreng, dan – ini yang paling mengejutkan – sms selebritis dan chatting service. kaget? so pasti. gak heran perusahaan2 content provider ini gak tanggung2 jor2an pasang iklan di tv. kalo perlu pake jurus setengah nipu (contoh : segera ketik reg spasi tiputipu, ntar lo bakal dapet game gratis. iya gamenya gratis, tapi harus dikirimi sms informasi sampah dimana penerimanyalah yang harus membayar).

    mau ditertibkan? susah. masalahnya operator telco sangat diuntungkan dengan praktek2 seperti ini. bahkan kalo perlu diam2 mendukung praktek ini dengan melakukan aksi tutup mata. kalaupun ada persh content provider yang dilaporkan ke YLKI karena penipuan, paling2 tutup sebentar, kemudian beroperasi lagi dengan nama lain.

    kalo mau ya harus bikin payung hukumnya. tapi kayaknya susah sih, lha wong menterinya aja masih ruwet ngurusin urusan selangkangan…. :p

    –0–

    Thanks Hmz atas konfirmasinya.

    Waktu nulis ini, jujur aja saya belum dapat raw intel mengenai pemetaan spamblast/spam sms/spam telpon (atau apapun sebutannya). Beberapa kontak di telco pun masih malu-malu memberikan data konkrit tertulis. Jadi konfirmasinya masih mengambang. Walaupun sebenarnya ada beberapa bahan tertulis di internet soal bombardir sms (pada masa kampanye lewat smscaster) namun belum bisa mengungkap rahasia dibalik tersedotnya uang konsumen lewat tipu-tipu digital ini.

    Maka itu sekali lagi, makasih euy untuk konfirmasinya :)

    Soal Bos Tifa dkk yang masih sibuk soal limitasi konten, kita doakan saja beliau kembali ‘ke jalan yang benar’. Hihi…

Leave a Reply