Apabila Saya Jadi Gubernur Jakarta (Satu – Tata Kota)

Sudah beberapa tahun belakangan ini saya terus menerus menyoroti langkah kerja serta kinerja buruk gubernur Jakarta. Tadi pagi, bangun tidur -mungkin akibat mimpi buruk dan kurang tidur- entah kenapa saya baru berfikir “Gimana yaa kalo gua yang jadi gubernur terus apapun kerjaan gua hasilnya dijelek-jelekin melulu sama blogger yang kerjanya ngomong doang? Seperti bangaip misalnya”

Hehehe…

Maka itu, karena saya biasanya hanya bisa ´ngomong doang´, kali ini saya coba memposisikan diri saya apabila jadi seorang Gubernur Jakarta.

Apa yang akan saya lakukan apabila jadi Gubernur Jakarta?

Tentu saja ini sekedar ‘ngomong doang’. Sebab kemungkinan terpilihnya saya jadi gubenur amat kecil. Selain akibat tidak adanya ambisi, di sisi lain, skandal-skandal hidup saya pasti akan dijadikan sarana untuk membungkam mulut dan ide saya. Hehehe.

Namun, tetap saja saya akan meracau dan ini ocehan saya:

Karena tidak akan muluk-muluk, maka program utama dan konsep kerja saya hanya satu, yaitu “Jakarta Berteknologi Bersih”

Konsep ini memang bukan baranag baru. Kebanyakn basi malahan. Hihihi. Tapi berangkat dari kenyataan lapangan terakhir saya tiba di Jakarta (April 2010), di mata saya Jakarta lebih banyak kotornya daripada bersihnya. (Mungkin karena saya terlalu banyak di Cilincing, desa pinggir pantai Jakarta yang kotor itu. Hehe). Ini jelas subjektif. Tapi biar saja lah. Ijinkan saya ngoceh sebentar kan tidak dosa. Selain itu, kenyataan baru yang ajaib bahwa ternyata warga Jakarta banyak sekali yang memanfaatkan teknologi mobile dalam beraktifitas. Intinya, orang Jakarta itu ternyata kebanyakan melek teknologi. Pintar. Dari dua realitas itu ideologi ini berasal.

Program ini akan dibagi menjadi beberapa proporsi kerja, diantaranya adalah:

  1. Tata Ruang Kota
  2. Transportasi
  3. Pasar dan ekonomi
  4. Hukum
  5. Kemajemukan dan integrasi

Proporsi kerja ini akan di bagi dalam beberapa langkah kongkrit yang akan dijabarkan dibawah ini. Langkah-langkah nyata itu akan pula dianalisa kelebihan dan kekurangannya serta popularitasnya di masyarakat. Setidaknya sebelum anda mulai membaca, jelas ini analisa yang berdasarkan subjektifitas saya pribadi :)

Ok, mari kita mulai. Yang pertama adalah tata ruang kota. Langkah nyatanya:

1. Membangun terowongan besar bawah tanah

Alasan: Jakarta ternyata masih suka banjir. Klaim para gubernur terdahulu dalam mengatasi banjir ternyata bohong belaka. Cara terbaik dalam mengatasi banjir dalam kota tropis pemukiman padat adalah belajar dari Kuala Lumpur. Dimana mereka membangun terowongan besar bawah tanah yang bahkan mampu memuat dua tingkat jalan tol di dalamnya. Apabila dam atas warisan belanda seratus tahun lalu kolonialisme Jakarta itu masih mampu menangani hujan, maka terowongan ini hanya akan dijadikan sarana transportasi. Namun apabila hujan, maka terowongan ini dapat multi fungsi sebagai sungai bawah tanah penyalur kelebihan air.

Kelebihan: Semua orang benci banjir. Banjir itu rugi. Banjir itu kotor.

Kekurangan: Membutuhkan biaya besar dan pasti akan ada asumsi dan praduga akibat ketidaktahuan. Maka itu, sebaiknya anda bisa baca bagaimana cara Kuala Lumpur mengatasi banjirnya disini (SMART). Sialnya ide ini sudah ada sejak 2007 untuk Jakarta dan masih belum dilaksanakan juga sampai saat ini (2010) tanpa alasan apapun.

Popularitas: cukup tinggi. Sebab hampir semua penduduk Jakarta pernah mengalami aksi reaksi banjir.

2. Mengubah mall menjadi taman kota atau sarana publik umum

Alasan: Mall sudah terlalu banyak di Jakarta. Orang Jakarta tidak akan mati apabila mall diganti menjadi taman. Toh banyak orang jalan-jalan ke mall untuk cuci mata saja. Maka itu, untuk mengubah pola konsumerisme menjadi cinta lingkungan, ada baiknya mall diganti jadi taman kota yang rimbun pohonannya dan sarana publik umum seperti lapangan olahraga atau taman bermain anak-anak. Jadi orang Jakarta lebih sehat dan ada sarana untuk lebih dekat dengan keluarga.

Kelebihan: Akan membuat Jakarta lebih hijau, segar dan menghemat pengeluaran warga Jakarta.

Kekurangan: Mall menyerap tenaga kerja grass root yang lumayan tinggi dan memiliki pendapatan ekonomi mandiri. Walaupun tenaga kerja itu bisa dialihkan sebagai pemelihara taman kota dan sarana publik, namun tidak sebanyak mall. Di lain pihak pemeliharaan taman dan sarana-sarana ini juga akan menyedot pengeluaran finansial kota yang cukup lumayan.

Popularitas: cukup tinggi di kalangan WKJ (Warga Kota Jakarta) yang cinta lingkungan dan keluarga (apalagi anak muda yang sedang pacaran, hehe) namun rendah di kalangan aktifis Mall

3. Memberi presiden RI waktu 5 tahun untuk pindah kantor

Alasan: Jakarta terlalu semrawut jika infrastruktur pemerintahan pusat dan pemerintahan DKI Jakarta tumpang tindih. Sudah sebaiknya Republik Indonesia mencari lokasi lain sebagai ibukota pengganti. Dengan perpindahan ini, Jakarta tidak akan lagi mendapat nama kotor akibat carut marutnya politik nasional. Di sisi lain, dapat mengatasi drastisnya kelebihan padat penduduk di JKT yang selalu mengakibatkan banyak masalah sosial dan geografis.

Kelebihan: Jakarta bebas dari anggapan “pemukiman para penjajah” dan kontrol sosial seperti jaminan sosial, jaminan kesehatan, jaminan pemukiman dan jaminan-jaminan hidup lainnya terhadap warganya dapat diterapkan. Sebab jika diterapkan pada saat rejim pemerintah RI berkuasa, maka pasti akan berbenturan dengan peraturan pemerintah.

Kekurangan: Gubernurnya bisa ditempeleng sama presiden. Bolak-balik. Apalagi kalau presidennya militer. Sebab presiden RI dari dulu hingga sekarang mempunyai hobi akut atas adikuasa dan sentralisasi.

Popularitas: rendah. Akan dihantam banyak partai politik yang jadi penguasa. Sebab Jakarta adalah medan tempur mereka yang sudah amat dikuasai.

Tunggu besok kelanjutannya :) Silahkan usul kalau ada ide atau bilang “Lah kan udah ada? Kemana aja situ?”

This entry was posted in bangaip, Orang Indonesia, Republik Indonesia, sehari-hari and tagged , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Apabila Saya Jadi Gubernur Jakarta (Satu – Tata Kota)

  1. hedi says:

    kalo program di atas beneran ada, saya pasti pensiun golput 😀

    –0–

    Whahaha, nampaknya masih lama pensiunnya Mas Hedi. Huehehe

  2. Ferry ZK says:

    dari 3 poin diatas cuma poin no. 2 dan 3 yang masih bisa ditawar yang no. 1 kayaknya seperti mimpi hehehe…

    poin no 3 ditawar waktunya dari 5 taun sampai 5000 tahun, point no 2 ditawar dari mengubah mall menjadi taman kota menjadi mewajibkan mall memiliki taman kota qiqiqi… sudah ada tuh contohnya mall central park, meski tamannya cuma kecil tp sudah lumayanlah cuma sayang daerah serapan airnya sangat minim atau malah tidak ada coz bisa saja yang diatas berupa tanah dan rumput cuma selayang pandang alias bawahnya ya beton juga kekeke…

    –0–

    Poin 1 sudah ditenderkan, Pak. Entah kenapa, tiba-tiba tender gagal. Yang lebih parah, proyek ini masuk peti es tanpa publik pernah mengetahui kegagalannya.

Leave a Reply