Apabila Saya Jadi Gubernur Jakarta (Tiga – Pasar dan Ekonomi)

Tanpa malu-malu, saya lanjutkan kegilaan saya di depan publik. Menghayal jadi Gubernur Jakarta (kesian yaah).
Selanjutnya adalah program membangun pasar dan ekonomi. Tanpa banyak cingcong dan jujur apa adanya, ini adalah program sapi perah. Jika program lain mungkin banyak menghabiskan uang kota, maka ini adalah pemasukannya. Diantara lain adalah:

1. Jakarta Aman

Alasan: Tidak ada bisnis yang bisa jalan tanpa rasa keamanan. Bekerja sama dengan polisi, warga dan teknologi, maka beberapa lokasi rawan ataupun tidak di Jakarta akan dipantau baik melalui kamera, patroli, media sosial secara berkesinambungan. Apabila Jakarta aman, bisnis pun jalan dengan baik.

Kelebihan: akan membuat bisnis di Jakarta menuju level selanjutnya yang lebih tinggi.

Kekurangan: mungkin tidak terlalu banyak. Sebab polisi sudah memiliki teknologi ini serta tingkat kesadaran warga Jakarta dalam mempergunakan media sosial sudah cukup tinggi.

Popularitas: cukup tinggi di kalangan pelaku bisnis

2. Membangun Unit Reaksi Cepat Bisnis Kota

Alasan: Untuk menguatkan ekonomi, sarana publik milik kota yang berhubungan dengan pasar dan ekonomi harus dipelihara semaksimal mungkin, kalau perlu, terus dimodernisasi. Semakin cepat sarana itu bekerja, semakin cepat pasar bisa bergeliat kembali.

Kelebihan: Bekerja sama dengan pasar, layanan ini dapat menambah pemasukan kas kota.

Kekurangan: mungkin akan ada protes bahwa seharusnya kota yang bertanggung jawab atas sarana publik. Namun apabila berhubungan dengan pasar dan ekonomi, tentu saja akan berakibat dengan bujet kas kota.

Popularitas: medium. Namun apabila sosialisasinya baik, maka popularitasnya akan naik.

3. Memberikan fasilitas keringanan pajak pada hi-tech industri non polusi

Alasan: High Technology industri biasanya belum menyerap banyak tenaga kerja secara massal. Namun apabila sudah berjalan beberapa tahun dan mulai stabil, akan ekspansi secara gila-gilaan yang mengakibatkan pemasukan bagi warga dan pelaku bisnisnya. Ini akan baik bagi daerah-daerah lain di sekitar JKT. Sebab Jakarta secara geografis sudah tidak bisa menampung industri tenaga kerja massif.

Kelebihan: investasi jangka menengah dalam menyerap pendapatan dari industri. Selain itu, akan mengakibatkan JKT sebagai kota berteknologi tinggi. Hi-tech industri non pulusi diantaranya adalah industri kreatif seperti studio film animasi PIXAR

Kekurangan: industri lain akan menuntut hal yang sama.

Popularitas: Medium.

4. Standarisasi pasar tradisional

Alasan: Imago pasar tradisional yang kumuh, bau dan becek harus dirubah. Pasar tradisional adalah tulang punggung utama bergeliatnya ekonomi tingkat dasar. Pasar ini harus dibantu. Diperbesar. Dibangun sanitasinya. Diberi fasilitas teknologi yang mempermudah hubungan dengan Unit Reaksi Cepat Bisnis Kota. Dan diterapkan standarisasinya agar terus memperbaiki kualitas.

Kelebihan: pemasukan kota mungkin tidak akan sangat tinggi dari retribusi pasar ini. Namun warga akar rumput gembira sebab dapat bertransaksi dalam lokasi yang mudah mereka jangkau dan sesuai bujet. Kas kota akan bersemangat sebab memiliki pendapatan baik pengganti pajak dari mall.

Kekurangan: tidak begitu disukai oleh pasar-pasar ritel besar multinasional yang kini sedang berkuasa di seluruh sudut Jakarta. Dalam membangun pasar tradisional sesuai standarisasi akan dibutuhkan pasar transisi, ini pun akan ditemui kendala dari kalangan warga.

Popularitas: turun naik antara rendah hingga medium. Tapi kalau konsep ini sudah jalan lebih dari lima tahun, maka akan cukup tinggi.

5. Pajak tinggi atas judi

Alasan: Judi di Jakarta sudah jadi rahasia umum. Pola yang berlaku saat ini adalah, berjalan secara gelap dan dilindungi oleh oknum hamba hukum. Dari tahun ke tahun, judi adalah lahan basah antara preman rebutan jatah. Sudah saatnya pola ini dirubah. Judi akan dialokasikan secara khusus dan tidak dekat dengan lokasi pemukiman publik. Ditangani dibawah badan kota pengawas perjudian yang kerjanya bisa dipantau langsung oleh warga.

Kelebihan: Judi itu perputaran uangnya kadang lebih tinggi dari beberapa bank tertentu di JKT. If you can’t fight it, tax it. Pemasukan kas kota akan luar biasa kencang dari sini. Bisa jadi, menyaingi pendapatan pajak dari pelabuhan Tanjung Priok, sapi perah lainnya.

Kekurangan: pasti ditentang akibat tidak sesuai dengan norma agama warga Jakarta dan ‘standar moral’ yang berlaku.

Popularitas: rendah :)

6. Optimalisasi parkir milik kota

Alasan: Retribusi parkir itu juga salah satu pemasukan kas kota yang cukup tinggi. Apabila dimodernisasi dengan dibangun sistem parkir berteknologi yang menggantikan parkir liar pinggir jalan, maka pemasukan akan langsung menuju kas kota.

Kelebihan: Kas kota akan menggelembung. Lalu akan menyerap tenaga kerja baru, yaitu pengontrol parkir. Selain itu, sistem parkir yang akan memakai chip atau kartu ini akan memudahkan pengontrolan parkir. Apabila tidak bayar parkir, maka pemilik kendaraan akan membayar denda langsung ke kas kota. Apabila tidak membayar, tidak dipermudah dalam mengurus perijinan yang berhubungan dengan kendaraan miliknya. Silahkan baca sistem parkir kota terintegrasi teknologi di sini.

Kekurangan: Akan terjadi pertanyaan, bagaimana kalau pengontrol parkirnya bisa disuap? (*Jawabannya, hehe, kalau ini mah bisa terjadi di semua sektor. Maka itu, kita perlu bantuan teknologi dan percaya bahwa tukang parkir kita adalah manusia jujur yang amanah dalam menjalankan tugasnya. Di negara Benelux, pengontrol parkir yang mampu menemukan banyak mobil parkir liar, semakin dapat bonus besar sebagai imbalan kerjanya*)

Popularitas: rendah di kalangan pemilik kendaraan yang suka parkir semena-mena. Apalagi di kalangan pemungut parkir liar dan preman lokal.

7. Menjamin pasokan enerji kota

Alasan: Bisnis dan pasar tidak akan bergerak tanpa enerji. Ini hukum dasar hubungan antara enerji dengan ekonomi. Pemerintah Cina memanfaatkan Tibet dan Gurun Gobi di Mongolia sebagai pasokan enerji matahari mereka di masa depan. Maka itu, ada baiknya mencontoh mereka. Yaitu berinvestasi dalam pasokan enerji sambil membangun sarana enerji alternatif yang stabil dan tidak berpolusi tinggi.

Kelebihan: Membuka lapangan kerja baru. Merangsang pertumbuhan teknologi tinggi yang ramah lingkungan hidup. Jika pasokan enerji kota dapat digaransi, pelaku bisnis tidak akan was-was dalam menjalankan bisnis mereka. Dan itu bagus dalam memberi jaminan niat baik bahwa kota JKT membantu bisnis warganya.

Kekurangan: Di tahun-tahun awal masih menggantungkan harapan pada sumber enerji yang masih ada. Dan menggantungkan harapan itu bukan hal yang baik. Di sisi lain, apabila gubernur pengganti sudah dirasuki arwah saudagar minyak multinasional, maka proyek enerji alternatif akan menjadi proyek mercu suar yang akan menjadikan gubernur penggagas sebagai kambing hitam politik.

Popularitas: Walaupun di dukung industri enerji alternatif, pasti akan dihantam para saudagar minyak. Harapan populernya rendah. Hehe…

Sekian dulu bagian pasar dan ekonomi. Besok bagian hukum. Ada beberapa langkah di bagian ini yang akan ditawarkan. Antara lain adalah:

Ahahaha… Tunggu besok laaah… Hahahaha

This entry was posted in bangaip, Orang Indonesia, Republik Indonesia and tagged , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Apabila Saya Jadi Gubernur Jakarta (Tiga – Pasar dan Ekonomi)

  1. Pingback: tentang pasar nech. . . ! bantuen yach, , , !?

  2. Ferry ZK says:

    4. Standarisasi pasar tradisional

    Jika pasar tradisional sudah distandarisasi bukan rahasia lagi konglomerat tajir tiba-tiba menyamar jadi pedagang pasar yang ratusan jumlah kiosnya qiqiqi… gimana para pelaku ekonomi bawah yang saat ini berusaha di pasar tradisional nantinya ?

    5. Pajak tinggi atas judi

    Yang haram tetap haram, meski mendatangkan banyak uang haram dan pendatang haram qiqiqi, eh sorry om barangkali haram menurut yang saya akidah percayai siy qiqiqi…

    6. Optimalisasi parkir milik kota

    ini ide paling jenius, gimana kalau seluruh wilayah parkir di DKI di akuisisi oleh pemda, lumayan loh wat pendapatan daerah daripada menggemukan pengelola parkir yang cuex bebex sama problem kota, toh selama ini pemilik gedung jarang merangkap pengelola lahan parkir…

    –0–

    no 4: Kalau identifikasi berjalan baik, maka modus penyamaran bisa diminimalisir. Selain itu, jangan lupa, pajak RI sekarang sudah canggih loh :)

    no.5: No worries, setiap orang boleh punya keyakinannya sendiri.

    no.6: Sudah di coba oleh beberapa Pemda non-DKI, hasilnya lumayan sukses walaupun ada beberapa sih yang bolong-bolong. Maka kalau dibantu teknologi, patch itu kan bisa ditambal.

Leave a Reply