Lagu: Sebentar Lagi Malam Minggu

Seperti biasa, sebelum akhir pekan, biasanya kerja saya yaa menghibur diri. Maklum, saat-saat ini memang sedang butuh hiburan. Mengharapkan hiburan dari orang lain, khawatir mengganggu. Jadi daripada begitu, yaah mendingan begini. Hehe.

Lagi-lagi bikin lagu. Ambil gitar, gonjrang-gonjreng tidak jelas. Liriknya sama, tapi kalau diulang lagi, tiap bunyi, nada keluar berbeda-beda. Hihihi… Maklum amatiran.

Kalau mau ikut bernyanyi, silahkan. Mau pakai instrumen apa saja, bahkan hanya cuma bersiul, yaa boleh saja. Yang penting, ehmmm… yang penting… bersuara. Hahaha.

Maka itu, silahkan menikmati :) Ini lagunya;

——————————-
Sebentar Lagi Malam Minggu
oleh: bangaip_topdeh

Apakah aku harus mencintai kamu, wahai negeri yang 65 tahun merdeka namun rakyatnya masih tetap harus berjuang hanya untuk bebas berbicara?
Apakah aku harus mencintai kamu, yang terpilih dengan langsung umum bebas rahasia namun setiap hari memperkosa harapan dan menyetubuhi uang pajakku sia-sia?
Apakah aku harus mencintai kamu, yang hingga hari ini dengan tenangnya berkata ‘Ini sekedar salah prosedur’ ketika saudaraku di Papua sana kau tembak dengan peluru, yang-sedihnya-dibayar-oleh-keringat-saudaraku-lainnya, hingga mati?
Apakah aku harus mencintai kamu, ketika pagi itu kau pukulkan tongkat besi mematahkan semua rusuk sendi kepada sesama saudaramu Maluku yang kucintai hanya karena berbeda pendapat lalu mengibarkan bendera sendiri?
Apa aku harus mencintai kamu, ketika kau benci tari Cakalele atas nama tuhan politikmu dan penjarakan para pemuda penari?
Apa aku harus mencintai kamu, meski per hari kau berdusta pada keadilan Munir yang harus ditepati?
Apa aku harus mencintai kamu, ketika kau mengaku toleransi namun diam saja ketika ahmadiyah diburu dibakari atau para pendeta Cikeuting dibelati hingga hampir mati?
Apa aku harus mencintai kamu, yang sering bergelimang darah saudaraku hanya demi secuil garis di peta bernama NKRI?

Apa aku tetap harus mencintai kamu?

Jawab dong, sayang! Sebentar lagi kan malam minggu.

—————————-

Selamat bernyanyi di akhir pekan ini :)

This entry was posted in bangaip, Orang Indonesia, Republik Indonesia, sehari-hari and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

8 Responses to Lagu: Sebentar Lagi Malam Minggu

  1. Fortynine says:

    Apakah aku harus mencintai kamu, yang telah merampok alam kami, lantas berkata “demi pembangunan”

    –0–

    Makasih buat terusan liriknya, Rid :)

  2. uh says:

    Itu kok ngga sekalian sama kunci gitarnya, Bang? Saya ga bisa gitar, nanya kunci biar keliatan keren aja πŸ˜€

    Iseng ngomentarin lirik… Kata orang, salah satu tanda cinta itu adalah MENERIMA apa adanya, baik buruk, kelebihan dan kekurangannya, semua diterima.
    Kalau suami perokok, peselingkuh, penjudi, ya diterima apa adanya. Kalau istri pemalas, pemarah dan pecandu… Namanya cinta, apapun ya diterima apa adanya.
    Jadi kalau mencintai negara, walau si negara suka merampok sambil membodohi dan mengadudomba, ya diterima juga, kan cintah.

    Kalau cinta artinya adalah kebodohan seperti itu, ya jangan bang. Jangan pernah mencinta, mengerikan. Mending berusaha memperbaiki daripada mencintai, dan kalau sudah nyerah ya tinggalin, banyak kegiatan lain yg lebih menyenangkan.

    Tapi… “Mencintai” menurut Bangaip itu gimana ya?

    –0–

    Mencintai artinya sih bisa bercinta bersama, menurut saya. Kalau sendirian, platonis. Seuntung-untungnya bercinta sendirian, namanya masturbatif.
    Halah, ngawur ini saya jawabnya. Hihihi

  3. Manusiasuper says:

    Ada versi youtube-nya bang?

    yaelah, si teguh memang dari kapan hari itu, sudah pesimis sama kata cinta!

    tapi bang aip, segala ketidaknyamanan nurani di lagu itu, juga terjadi di mana-mana kan? Ada islamphobia di barat sana. Ada pembenci amerika di timur sini. Ada larangan bejilbab di prancis. Ada pemuka agama bakar kitab suci lain.
    ada saya juga, yang dari dulu penasaran, surganya versi bang aip itu seperti apa?

    –0–

    Surga saya mah berjangka. Saat ini, surga buat saya paling ketika diberi rejeki waktu jadi bisa bermain bersama putri saya, mansup.

  4. edratna says:

    Wahh itu tinggal buat not nya bang…..
    Kalau dibawakan oleh Iwan Fals pasti asyik…..

    Bukankah cinta tidak menghitung bang?

    –0–

    Bener, Bu. Tapi saya bingung juga. Kalau tidak kehitung, gimana membalasnya.

  5. hedi says:

    abang pantes nyanyi di pestablogger, buat menghibur kita2 yg butuh hiburan πŸ˜€

    –0–

    Hahaha, bisa aja mas Hedi. Doain saya suatu waktu bisa mampir di pesta itu, Mas. Kalau tidak, doain bisa ikutan muktamarnya. hehe

  6. adipati kademangan says:

    agaknya sebuah ajaran pancasila terutama sila ke empat tentang musyawarah mufakat sudah hilang. Kemauan untuk berkumpul dan berbicara sudah hilang, pengennya cepet selesai urusan tanpa basa basi. Padahal segala urusan permasalahan bisa dibicarakan. -ngomong2 bagaimana bangaip tahu penyamaran saya? Hehehe-

    –0–

    Udah lama tau, Adipati, saya mah udah lama kan langganan RSS feedernya :)

  7. arif says:

    sekalian didokumentasikan ke video, biar cepet laris :)

    –0–

    Laris manis tanjung kimpul. Hihihi

  8. adipati kademangan says:

    Melihat permasalahan bangsa ini yang tak kunjung reda, saya miris sekali. Padahal semua bisa dimusyawarahkan untuk kebaikan bersama. Tidak ada masalah yang selesai tanpa musyawarah. Negeri ini sudah punya dasar negara yang kuat dan sakti yaitu Pancasila. Yang salah hanya pengamalnya saja seharusnya sila ke 4 itu sudah gamblang. Entah pemerintahnya yang tidak mau bermusyawarah atau rakyatnya yang takut diundang musyawarah *untuk kemudian “diamankan dengan alasan keamanan bangsa”*

    *ngomong-ngomong bangaip kok tahu penyamaran saya selama ini ? πŸ˜€ *

    –0–

    Makasih Adipati. Right to the point :)

Leave a Reply