(Saya) Gila Dan (Saya Cari) Metode Penyembuhannya

Saya memang cukup sedih akhir-akhir ini. Beberapa orang yang saya pikir dekat dengan saya dan mengerti tentang saya; menuduh saya tidak waras.

Tadinya, pada hari-hari awal, saya hanya cengar-cengir senyum tidak jelas menjawab tuduhan itu. Saya sadar saya gila. Hehehe. Itu mah dari dulu. Nggak usah diomongin saya juga sudah cukup tahu diri. Hehehe.

Tapi ketika makin hari dan hampir setiap saat saya dituduh “terlalu banyak bekerja hingga stress lalu depresi tanpa sadar”. Saya makin kaget. Lantas dalam hati berfikir, “Apa iya gua gila beneran? Kalo iya, kasian banget anak gua. Bapaknya gila”

Padahal saya pikir… Saya sama sekali tidak gila!

Ketika setiap hari saya di doktrin bahwa saya tidak waras. Gamang sekali hati ini. Bimbang juga rasanya, euy. Padahal saya yakin saya memang tengah ada masalah personal, tapi sama sekali bukan di problematika kewarasan.

Karena ragu akibat di cap ‘tidak waras’ bahkan oleh orang-orang yang saya cintai. Lalu mulailah petualangan baru saya. Yaitu mencari jawaban pertanyaan “Apakah saya gila?” dan apabila jawabannya iya, “Bagaimana cara menyembuhkannya?”

Anda pikir aneh? Hmhh, jangankan situ. Saya sendiri saja yang mengalaminya merasa aneh. Belum pernah seumur hidup dituduh ‘gila beneran serius dan butuh psikiater’. Maka jika suatu hari orang terdekat saya menuduh seperti itu, dengan suka rela saya pun melakukan tes dan bahkan menghubungi profesional untuk mencari jawaban pertanyaan di atas.

Namun sebelum ke profesional. Ini ada bebarapa langkah yang saya lakukan. Antara lain:

1. Mencari literatur mengenai kewarasan dan ketidak-warasan

Orang yang tidak waras definisinya simple. Memikirkan dan lalu melakukan hal yang tidak dilakukan orang waras. Yang jadi masalah memang bukan definisi orang tidak waras, melainkan malah pertanyaan terhadap “Apa yang orang waras pikirkan dan lakukan?”

Setiap orang berhak mengklaim dirinya sehat dan waras. Itu hak siapa saja. Namun masalahnya, apakah yang mereka klaim itu benar adanya?

Pencarian terhadap ‘apa yang orang waras pikirkan dan lakukan’ membawa saya kepada beberapa buku Jungian (berasal dari nama Carl Gustav Jung, seorang psikiater dari Swiss). Sebab Jung menulis beberapa buku yang menurut orang waras bagus untuk belajar menganalisi diri.

Buku-buku Jung yang berelasi dengan pola tidur dan mimpi (terutama yang berjudul Undiscovered Self) tentu saja akhirnya juga membawa saya ke buku-buku Psikopatologi (Ilmu yang mempelajari penyakit mental, tekanan mental dan perilaku abnormal serta tidak adaptif) karya Sigmund Freud, Paul Keegan, dan Anthea Bell.

Di sini, saya mulai menganalisi diri dengan simptom dan keluhan orang-orang yang saya cintai. Sumpah mati, saya takut kalau saya jadi psikopat. Parah kan, kalau ternyata saya adalah seorang psikopat yang dengan bebasnya berkeliaran di muka umum tanpa dicoba untuk disembuhkan?

Namun, dari bebeberapa literatur di atas, saya ternyata (secara sepihak) mampu menyimpulkan bahwa saya bukan psikopat. Sebab saya tidak mempunyai gejala seperti psikopat dan keluhan dari mereka yang saya cintai bukan karena psikopatisme.

Di sini, saya cukup lega.

Namun apakah membaca saja cukup? Tentu saja tidak. Berdasarkan literatur di atas, saya mengambil tindakan nyata. Antara lain dijelaskan dalam langkah selanjutnya, yaitu;

2. Analisa Perilaku Diri

Saya tahu, sudah banyak perangkat lunak berbasis web yang mampu dipakai untuk memantau kondisi diri seseorang. Diantaranya adalah kemudahan update melalui sosial media seperti Twitter, Plurk hingga status facebook. Analisa diri, umumnya bisa dipantau dari feature status sosial media ini, sebab ada pilihan bagi yang gemar memberitahu publik lewat status updatenya.

Sebab saya sendiri memantau perkembangan kondisi kesehatan putri saya memakai Plurk ketika ia jatuh dari tangga. Lalu secara real time, dokter keluarga kami memantau perkembangan kesehatan putri saya itu melalui akun Plurk khusus. Sehingga memudahkan analisa beliau dalam mengambil tindakan yang perlu dalam menyelamatkan jiwa putri saya.

Namun akibat akibat kondisi geografis saya yang berpindah-pindah saat ini. Serta terbatasnya akses internet. Maka saya punya buku mimpi.

Buku mimpi? Apa itu?

Buku mimpi adalah buku kertas kecil, bersampul coklat, tipis dan gampang keluar masuk kantong celana jeans yang saya kenakan. Ini buku tulis murahan. Saya beli di pasar. Sebenarnya bisa sih bikin sendiri, tidak perlu beli. Namun karena praktis, saya beli saja. Hehe.

Itu buku, saya bawa kemana-mana. Gunanya sebagai pencatat. Catatan yang dihasilkannya pun bukan catatan biasa. Melainkan perilaku tidur dan mimpi yang saya punya.

Dengan teliti dan detail, setiap hari selama saya dituduh gila, saya mencatat kapan saya tidur, terjaga, mimpi, bangun untuk kencing ketika tidur dan lalu kapan tidur lagi setelahnya dan semua perilaku tidur yang menyertai tidur saya.

Bangun tidur, otak masih segar. Secara detail saya mencatat semua perilaku tidur. Seperti bangun jam berapa. Tidur jam berapa. Sebelum tidur dan bangun, mikir apa. Lalu pikiran-pikiran diantaranya.

Apakah hanya perilaku tidur yang saya catat?

Tidak juga. Saya mencatat beberapa peristiwa penting maupun tidak penting yang terjadi hari itu. Semuanya pun masuk ke buku mimpi.

Mengapa saya mencatat perilaku?

Jawabannya simpel. Sebab saya bukan psikiater. Atau psikolog, atau apalah semacamnya. Saya tidak pernah terdidik secara khusus untuk mendalami ilmu jiwa sebagaimana adik saya Uul dan mungkin ribuan manusia lainnya. Tidak. Saya tidak punya keahlian itu.

Tapi, demi cinta, saya harus pergi ke psikolog dan psikiater. Dan salah satu kerja mereka adalah mereka akan menganalisa pasien agar si pasien cepat sembuh. Maka jika saya menjadi pasien, saya harus kerjasama dengan orang yang membantu saya. Saya tahu, pada psikologi modern, analisa mimpi sudah jarang dipakai lagi. Namun, buku pencatatan perilaku istirahat ini saya pikir adalah awal yang baik untuk memulai analisa diri.

Intinya, beberapa orang terdekat, minta agar saya mau dibantu oleh prefesional. Dan kalau saya meminta bantuan, saya biasanya membantu balik. You scratch my back and I’ll scratch yours :). Catatan analisa diri, saya harap bisa sebagai langkah awal untuk saling membantu.

3. Bantuan Profesional

Ini yang belum saya coba. Rabu depan saya dijadwalkan bertemu profesional.

Kalau memang saja dibilang gila, saya anjurkan pada Anda, jangan dekati saya lagi. Sebab saya gila. Hehe.

——————–

Dua minggu setelah saya mengunjungi dokter

Saya menulis lagi. Postingan ini dibuat dalam beberapa minggu. Setelah mendapat jawaban dari beberapa profesional saya temui untuk meminta bantuan, saya putuskan untuk menulis lagi.

Jawaban semua profesional sama; saya tidak gila. Saya sedih. Iya, itu benar. Sedih luar biasa sehingga tangan gemetar dan sering sakit kepala. Tapi saya tidak gila. Kesedihan bukanlah termasuk kategori penyakit mental.

Apakah jawaban ini menggembirakan?

Jelas! Sudah hampir dua bulan terakhir ini saya dituduh gila, depresif dan sakit mental oleh beberapa orang terdekat yang saya kenal. Setiap hari, saya dicekoki dengan buku-buku self help. Diyakinkan, bahwa saya gila dan depresif. Jadi, ketika dokter, psikiater dan hampir semua teman-teman saya bersumpah bahwa saya tidak gila maupun depresif, maka saya bahagia sekali.

Saya merayakan ketidak-gilaan saya dengan pergi ke bandar udara lalu makan kentang goreng sambil melihat para manusia lalu lalang di hadapan saya. Hari itu, ada bom yang diselundupkan di antara koper para penumpang yang akan ke Los Angeles. Pemeriksaan polisi ketat sekali kepada semua orang kira-kira berasal dari Afrika. Ketika ada beberapa polisi lewat di hadapan saya dan kira-kira akan menanyai saya (padahal muka saya nampaknya tidak mirip orang Afrika), sambil tertawa lebar dan menawarkan serpihan kentang goreng, saya bilang “saya tidak gila! Hehehe… Hebat kan!” (*Kelihatannya mereka tidak percaya lalu pergi meloyor begitu saja tanpa bertanya-tanya*)

Hari itu saya bahagia sekali. Beban ini begitu berat, berbulan-bulan dituduh sakit. Maka ketika suatu hari ternyata tuduhan itu tidak benar, maka saya sungguh bahagia.

Ketika menyadari bahwa dalam beberapa bulan terakhir ini saya dituduh dengan sesuatu yang tidak saya lakukan/miliki, rasanya sungguh tidak enak sekali. Ternyata, dituduh itu tidak enak.

Dua bulan dalam kebingungan dan gamang, mengajarkan saya satu hal. Betapa menuduh itu sungguh amat mudah. Selain mudah, kemampuannya amat tinggi dalam menyakiti perasaan manusia.

Hari itu, ketika saya terbebas dari tuduhan mengalami penyakit mental yang merugikan orang lain, saya sadar satu hal. Betapa dalam hidup ini, seringkali saya pula menuduh orang lain. Sadar atau tidak, begitu mudahnya saya menuduh. Begitu mudahnya saya mengambil kesimpulan. Begitu mudahnya menyakiti perasaan orang lain.

Ketika suatu hari saya dituduh dan rasanya sungguh tidak enak. Saya baru sadar bahwa saya pun seringkali menuduh dan (sialnya) secara sadar menyadari bahwa menuduh itu enak. Lebih mudah memang demi ego saya yang maniak ini menyalahkan orang lain tanpa melihat diri sendiri.

Tanpa sadar, bahwa itu menyakiti.

Dituduh gila, ternyata ada maknanya. Aneh juga yah?

This entry was posted in bangaip, sehari-hari and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

6 Responses to (Saya) Gila Dan (Saya Cari) Metode Penyembuhannya

  1. Pita says:

    hi Arif!

    ini pita (cewenya Rio), masih inget kah??
    hmmm…ak jg pernah sedih bgt-bgt an, n ak menuduh aku sendiri sakit. Tapi (untungnya) kesedihan itu bukan sakit ternyata,, justru bersyukur kalo kita msh bs sedih, krn itu pertanda kalo mentally we’re trying to cope with our difficult situation…

    anyway, saya salah satu pembaca setia blognya Arif, dan whatever masalah bang aip, i hope this too shall pass..

    salam :))

    –0–

    Hi Pita, long time no see. Apakabar euy?

    Makasih buat supportnya Pit. Need it badly in this moments :)

  2. Hadi says:

    Hahaha.. selamat bang.. ternyata anda tidak gila, soalnya kalo beneran gila, saya takut ikut ikutan gila baca tulisan bang aip yang nota bene udah gila.. hehehe…..

    –0–

    Huheuhehe, santai mas, kalo saya gila beneran. Pasti situ yang pertama saya kasih tau. Hihihi

  3. edratna says:

    Hahahaha..
    Sekitar tahun 92, temanku ngajak tes ke psikiater karena dia merasa kok pengin marah terus, nggak ada yang benar semua.
    Saya yang cuma ikutan, akhirnya ikut test di psikiater daerah Kelapa Gading (sayang lupa nama dokternya). Tesnya benar2 kayak tes untuk orang gila, pertanyaan seabreg dan diulang-ulang…ada pertanyaan:
    -Apa kuping anada terus terasa mendenging?
    -Apa anda merasa dikejar-kejar? dsb nya

    Dan hebatnya, hasil test tadi dimasukkan ke komputer….saya waras wiris…tapi teman saya ngamuk-ngamuk..karena memang dia sudah diambang kewarasan. Disarankan untuk cuti..akhirnya memutuskan keluar dari kantor dan berwirausaha…hasilnya dia sekarang jadi eksportir….jadi mungkin dulu dia stres melihat perilaku orang disekelilingnya….

    Apa kata psikiater tentang saya?
    Untung ibu selalu kembali ke Tuhan, ibu lebih pasrah….Ya, ya..saya harus begitu kalau tak pengin gila..karena diujung usaha selalu ada nasib atau takdir kan? Dan kita tetap harus menjaga kewarasan pada situasi yang makin tak menentu ini…..hehehe

    –0–

    Pengalaman yang menarik, Bu. Terimakasih sudah berbagi :)

  4. Sondang says:

    Aip, aku mau minta alamat email mu dong. Kirim aja ke japri sondang_*****@yahoo.com atau sondang.*****@gmail.com. Pingin kirim kumpulan pendapat mengenai “normal/waras” dan “gila”.

    –0–

    Sondang, maaf emailnya saya sensor yaah demi menghindari SPAM. Sori. Blog ini entah kenapa, dicintai juga oleh spammer. hehehe

  5. Yg dimaksud gila persisnya apa? IMHO sih itu biasanya skizofrenia. Kalo depresi, itu bukan ‘gila,’ walau mengganggu fungsi sehari-hari juga. Ga usah baca buku self-help lah, ga membantu.

    Kalo sekarang kayaknya banyak orang yg depresi, itu karena banyak hal. Salah satunya karena suasana hidup yg sangat tidak nyaman secara global. Lagipula, di mana batasan antara ‘depresi’ dan sekedar ‘feeling blue’? Semua orang bisa ada periode ‘feeling blue,’. Tapi ga semua periode itu bisa dipukul rata sebagai depresi.

    NB: Pernah baca tulisan orang gila beneran? Saya pernah. Kalo Bang Aip gila, asli postingannya ga bakal kayak gini.

    –0–

    Makasih Mbak. Ada lagi support buat saya. Makasih euy.

  6. saya sendiri sedang dituduh sakit sama keluarga dan lingkungan sekitar, perihal saya kadang cengar cengir sendiri jika ingat memori, dan karena beberapa masalah personal belakangan ini saya menjadi emosional, sudah habis sudah dicap orang2 sekitar, sungguh tersiksa dipikiran dan dihati juga kalau dengar orang2 bilang saya sakit mental T.T

Leave a Reply