Apabila Saya Jadi Gubernur Jakarta (Dua – Transportasi)

Program transportasi untuk Jakarta benar-benar tidak kalah pentingnya agar kota ini bisa berjalan lancar, beberapa langkah nyatanya antara lain:

1. Minimalisir macet

Alasan: Hampir tidak ada penduduk Jakarta yang tidak pernah merasakan macetnya jalan Jakarta. Alasan utama macet sebenarnya simpel. Yaitu semakin banyaknya kendaraan pengguna jalan namun tidak sebanding dengan pertumbuhan jalanan. Program busway maupun 3 in 1 tidak begitu banyak menolong. Cara meminimalisir macet antara lain adalah dengan menambah jalan baru. Antara lain melalui jalan bawah tanah. Sebab dengan membangun jalan raya bertingkat, berdasarkan pengalaman tenyata makin menambah kemacetan. Program ini berjalan bersamaan dengan project pembangunan terowongan bawah tanah.

Kelebihan: akan didukung oleh seluruh pengguna jalan raya yang bosan dilanda macet. Tidak didukung oleh pedagang asongan yang memanfaatkan macet sebagai sarana mencari nafkah.

Kekurangan: akan banyak ekspektasi terhadap terowongan bawah tanah. Maka itu terowongan bawah tanah harus dipikirkan secara masak-masak teknis pelaksanaan dan pembangunannya.

Popularitas: cukup tinggi

2. Menaikkan pajak kendaraan bermotor berbahan bakar minyak

Alasan: Ada dua. Pertama lingkungan hidup. Sebab kendaraan berbahan dasar minyak itu memiliki dampak polusi tinggi terhadap lingkungan. Agar bumi dan hidup kita tentram, ketergantungan terhadap BBM harus dikurangi. Kedua, alasan politis. Saya setuju dengan pendapat suheng saya Mas Mbelgedez, bahwa mungkin hanya di RI, bensin menjadi komoditi politis. Sudah banyak orang pintar jadi korban politisasi BBM. Sudah terlalu banyak paru-paru warga Jakarta jadi korban BBM. Politisasi ini harus dikurangi kalau bisa dihilangkan. Warga Jakarta adalah salah satu pengkonsumsi BBM terbesar di RI. Jika masih diteruskan, akan menjadi korban bahaya pencemaran lingkungan dan politisasi dungu oportunis pengusa.

Kelebihan: Warga Jakarta akan berfikir serius soal masa depan mereka dan kelangsungan hidup anak-anak mereka. Ini bagus, mendorong warga berfikir kritis.

Kekurangan: Pemilik kendaraan BBM akan berteriak marah dan meminta alternatif pengganti secara langsung. Maka itu, kebijakan ini akan diterapkan secara bertahap. Mirip kebijakan dari motor 2 tak menjadi 4 tak.

Popularitas: rendah di kalangan pengguna kendaraan BBM di JKT yang naudzibillah midzalik luar biasa banyakya.

3. Menurunkan pajak kendaraan bermotor berenergi alternatif seperti listrik atau matahari

Alasan: ini adalah aternatif pengganti kendaraan BBM. Memberanikan para pemilik kendaraan bermotor untuk mengkonversi kendaraan miliknya dengan energi alternatif yang terstandarisasi. Apabila kena macet pun, warga JKT bermotor tidak perlu pakai masker atau tahan nafas. Sebab tidak ada asap pengganggu paru-paru yang mereka hirup di jalan. Dengan ini pula, JKT resmi sebagai kota berteknologi selangkah lebih maju dari kota-kota di bumi lainnya. Contoh scooter tenaga matahari atau motor/mobil listrik.

Kelebihan: Akan merangsang industri baru otomotif dan dapat menyehatkan warga Jakarta.

Kekurangan: industri pendukung BBM multinasional maupun lokal akan mati-matian menyerang konsep ini.

Popularitas: rendah di pelaku bisnis industri BBM

4. Memudahkan akses pengguna jalan bersepeda dan pejalan kaki

Alasan: Simpel, sebab bersepeda dan jalan kaki itu sehat. Kalau jalan raya bersih dari polusi, maka kegiatan sehari-hari dapat dilangsungkan dengan jalan kaki dan naik sepeda. Hemat enerji. Hemat biaya.

Kelebihan: kalau tawaran terhadap hidup sehat tidak cukup? Apalagi yang Anda inginkan?

Kekurangan: Akan di protes oleh para pemilik warung-warung pinggir jalan yang hobinya merampas jalur pejalan kaki. Sebab mereka akan tergusur habis. Walaupun sebenarnya, mereka akan dialokasikan khusus di tempat baru yang tergabung dengan pasar tradisional.

Popularitas: medium di kalangan pesepedawan pesepedawati dan pejalan kaki.

5. Mempertinggi standarisasi keamanan di jalan raya Jakarta

Alasan: terlalu banyak kecelakaan yang diakibatkan oleh ketidakhati-hatian pengguna jalan raya. Orang tua akan di denda besar jika kedapatan anak mereka yang di bawah umur mengemudikan kendaraan bermotor. Sementara di sisi lain, pada sekolah dan pusat kepemudaan akan digalakkan edukasi mengenai keamanan di jalanan. Di beberapa lampu merah lokasi rawan kecelakaan, akan memiliki kamera yang mampu mencatat pelanggar jalan dan mendendanya amat tinggi.

Kelebihan: resiko kecelakaan akibat berkendara akan diminimalisir. Targetnya adalah pengguna jalan akan tertib dan investasi pada anak-anak kita yang akan belajar hidup disiplin dalam berkendara.

Kekurangan: akan masih banyak ditemui pengguna jalan yang sontoloyo dalam tahun-tahun awal penerapan program. Denda besar dan ancaman penyitaan SIM mungkin bisa membantu orang-orang ini bertabiat di jalan raya. Penghilangan calo SIM dan edukasi juga akan menyedot biaya besar.

Popularitas: tinggi di kalangan pengguna jalan raya. Sebab hampir semua warga pengguna jalan ingin pulang selamat sampai rumah.

5. Memperketat kontrol pengadaan otomotif

Alasan: Warga Jakarta terlalu banyak memiliki kendaraan bermotor. Kadang sampai tidak perlu. Sutuasi ini harus diubah dan langsung diadakan tindakan preventif terhadap pengadaan otomotif.

Kelebihan: Membantu program transportasi lainnya menjadi lebih maju dan terintegrasi.

Kekurangan: Akan ada pertanyaan, akan dibagaimanakan industri otomotif yang telah eksis? Dan ini belum ada jawabannya sejauh ini. (*Bantuin saya mikir dong?*)

Popularitas: belum tahu, tapi pasti akan memicu kontroversi di kalangan pembuat kebijakan.

6. Pajak atas otomotif berdasarkan berat

Alasan: tidak adil misalnya menyamakan pajak kendaraan roda empat yang berbeda beratnya. Peraturan daerah akan dibuat, kendaraan yang lebih ringan akan dipajaki lebih ringan. Begitupun sebaliknya. Sebab ini berhubungan dengan beban terhadap jalan raya. Pajak dari sini diharapkan mampu menopang dinas kota pemelihara sarana jalanan memperbaiki kualitas layanan mereka.

Kelebihan: Adil

Kekurangan: para pemilik kendaraan pribadi jenis berat akan protes. (*Eh pajak ini kan udah ada atau belum yaah? Hehehe*)

Popularitas: medium

Tunggu kelanjutannya besok, yaitu soal pasar dan ekonomi (*Iya saya tahu, makin gila aja nih ngoceh nggak jelas. hahaha*)

This entry was posted in bangaip, Orang Indonesia, Republik Indonesia and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

5 Responses to Apabila Saya Jadi Gubernur Jakarta (Dua – Transportasi)

  1. hedi says:

    kali ini programnya “nyerang” eksekutif & pengguna hihihi

    –0–

    Iya euy, di FB aja udah diserang ama pembaca. Hihihi

  2. Ferry ZK says:

    jiah dari 1 sampai 6, cuma 1 yang pro masyarakat yang lain siy sama aja lo miskin nanggung jangan coba bawa kendaraan kekeke…

    hampir sebagian besar pekerja Jakarta adalah kaum urban, lha kalau naik sepeda dari Bekasi ke Jakarta ya gempor om, klo tinggal di apartemen Rasuna Said kerja di Sudirman masih okelah…

    –0–

    Kata temen saya, kalo Jakarta suhunya stabil 18 C, akan lebih banyak orang yang naek sepeda. Hahaha

  3. Ferry ZK says:

    Siapapun gubernurnya memang sulit memecah kemacetan, kecuali punya keberanian besar untuk mengusik kemapanan. Coba kalau perda yang dibuat untuk masalah kemacetan bukan dibidik ke masyarakat tp ke konglomerat aka pengusaha perkantoran or perusahaan yang punya kantro makgrong2 dengan memberikan pajak setinggi2nya kepada gedung2 perkantoran yang tingginya lebih dari 10 lantai dus menyiapkan lokasi penyangga untuk relokasi jika mereka memilih hengkang dari Jakarta, masalahnya adalah jika semua bermuara kepada jumlah digit pemasukan daerah ya jadi buah simalakama lah…

    –0–

    Di beberapa kota besar Eropa Barat dan Amerika, yang digencet adalah yang punya kendaraan pribadi. Radius beberapa kilometer dari pusat kota parkir harganya selangit. Selain itu, Pemda lokal menyediakan parkir murah di pinggir kota. Dari tempat parkir itu, mereka naik bis ke pusat kota. Kalo ini diterapin di JKT, pemilik kendaraan pasti mengeluh, “Ngapain gua punya mobil kalo jatohnya naek bis juga?” (hehe, biasalah, arogansi pemilik modal)

  4. Ferry ZK says:

    “Di beberapa kota besar Eropa Barat dan Amerika, yang digencet adalah yang punya kendaraan pribadi…”

    betul om cuma pemerintah mereka kan wise, diperbaiki dulu sarana transportasinya, dipikirkan juga kaum urban sehingga ada parkir luas untuk kaum urban yang akan naik transportasi umum dari pinggir kota, saya rasa kalau semua berjalan seperti di luar sana mereka gak akan ngeluh “Ngapain gua punya mobil kalo jatohnya naek bis juga?” cuma kalau bus nya kaya transjakarta yang mesti bersedia jadi ikan pepes ya jelaslah…

    contoh segar ya proyek busway, apa ada survey berapa persen pengendara pribadi yang akhirnya pindah ke busway seperti yang gembar-gemborkan pembuat kebijakan selama ini ? yang ada penumpang bus reguler pindah ke busway, meski sama-sama jadi ikan pindang tp paling gak ada ac plus gak sembarangan berhenti plus gak ngetem lama plus gak ada kenek yang suka nyemek-nyemek.

    Klo soal kemacetan, busway justru sekarang jadi penyebab kemacetan kian parah, sudah ambil ruas jalan umum yang tadinya dah dah kurang lebar malah dikurangi, tujuan memindahkan pengendara pribadi ke busway gagal total coz cuma mimpi bloon dus jumlah bus yang beroperasi kian buanyak dengan alasan feeder busway tp malah jalan sebelah-sebelahan sama busway, yang satu punya jalur sendiri yang lainya di jalur umum dengan alasan si bus feeder untuk jurusan berbeda haiyahhhh :(

  5. bangaip says:

    @Ferry: Iya Pak, kebetulan saya ada di JKT waktu pembangunan jalur busway. Wah parah tuh. Tiap hari macet antara Kampung Melayu sampai Gunung Sahari. Bertahun-tahun kemudian setelah rute itu usai, saya nginep di sebuah tempat di lantai 8 di dekat perpustakaan nasional sekitar itu. Buset, pagi-pagi pun macet. Jalur busway dipenuhi motor dan mobil pribadi. Lebih parah lagi, taksi yang saya tumpangi pun suka edan ngambil jalur busway meski saya protes abis-abisan.

    Menurut saya, yang paling logis berdasar otak saya yang kecil ini dari kondisi di atas adalah membuat jalan baru (*yang jadi pertanyaannya; dimana? Maka ketika ide ini muncul, mau nggak mau KL yang jadi case model. Mereka juga macet dan banjir sih sebelum dibangun proyek tunnel. Pembangunan kanal banjir itu niru Amsterdam dan Venice awal abad 20. Padahal hingga saat ini Amsterdam itu sebenarnya masih dikategorikan kota peralihan. Selalu diatur agar tidak segede JKT*). Kebijakan pendukung yaitu memajaki lebih dari cukup pada pemilik kendaraan yang punya kendaraan berlebih (*katanya banyak warga JKT yang punya kendaraan lebih dari cukup*). Yang paling saru sih, kebijakan pindah ibukota. Hahaha.

    Ahh itu sih pendapat saya yang sama sekali nggak ahli tata kota. Siapa tahu bapak punya pendapat yang lebih asoy, silahkan berbagi euy :)

Leave a Reply