Diplomat

Di sebuah tempat makan di kastil pinggiran kota, duduk melingkar tujuh orang. Satu lelaki dari Indonesia yang kerjanya cengar-cengir saja, satu perempuan Malaysia ahli lingkungan, seorang diplomat Australia, pengacara necis dari Belanda, sepasang suami istri penari dimana si suami dari Perancis dan istri dari Denmark. Satu lagi, wanita paruh baya yang berasal dari Republik Ceko. Yang terakhir ini, kami sempat dapat bisikan kalau nenek moyangnya keturunan bangsawan yang dihabisi oleh Komunistická strana Ceskoslovenska (KSC), partai komunis Cekoslovakia, pada awal tahun 1920-an. Sebab, ketika partai itu runtuh di awal tahun 1990-an, kastil ini kembali terdaftar atas nama waris si wanita paruh baya ini.

Obrolan melingkar kemana-mana. Seperti mimpi. Tanpa pangkal tanpa ujung. Awalnya sebenarnya bermula ketika saya yang nampak ogah makan sup lemak, salah satu panganan yang diklaim terenak di bagian Ceko Utara. Masalahnya simpel, saya tidak dibesarkan dengan makanan itu. Melihat lemak putih-putih besar menggumpal dalam sup yang encer, tidak membuat saya berselera.

Si wanita paruh baya nampak sedikit berubah raut mukanya ketika saya tidak menjamah sup dalam mangkuk perak itu. Mungkin ia tidak suka. Lalu pengacara Belanda bertanya apakah latar belakang saya yang muslim membuat saya tidak makan lemak dari babi?

Tidak ada hubungannya dengan identitas keagamaan monotheis. Kata perempuan Malaysia, tidak semua pemeluk agama mengikuti tradisi agama dengan setia seperti anjuran kitab suci. Itu berlaku secara universal. Hampir semua pemeluk agama, di semua penjuru dunia, punya semacam fleksibilitas. Misalnya, ada yang benci korupsi tapi cinta rokok. Ada yang hobi bersenggama, tapi pantang makan daging berwarna merah. Ada yang rajin ibadah namun menoleransi homoseksualitas. Setiap pemeluk agama, dalam hal ini yang mengaku bertuhan di langit, punya fleksibilitas. Dan fleksibilitas itu perlu dalam bertahan hidup.

Obrolan semakin seru, ketika sang diplomat yang bermata biru berambut coklat dan nampak berotot ini, mengaku sebagai seorang muslim dan menjadi mualaf ketika berdinas di Tunisia dua puluh tahun lalu. Ia kelihatan membela saya dengan mengatakan bahwa tidak ada seorangpun di muka bumi ini yang menjadi perwakilan tetap atas agama yang diusung oleh orang tersebut. Tentu saja sebagai diplomat, kami mahfum bahwa ia seakan berkata, “Gua disini juga tidak mewakili pemerintah Australia”. Sebab belum tentu saya seorang muslim. Andaipun saya muslim, katanya, tidak ada seorangpun yang tahu kalau saya diam-diam (atau malah terang-terangan) makan babi yang tidak berlemak.

Kami tertawa.

Namun karena obrolan semakin serius dan setiap orang memiliki argumennya masing-masing mengenai agama, beberapa orang terlihat letih. Terutama saya. Entah kenapa saya letih. Saya juga tidak mengerti. Mungkin karena menurut saya agama yang paling kuat saat ini adalah kapitalisme. Sebab setiap upaya ibadah seringkali dibungkus dengan embel-embel modal pada diri sendiri. Misalnya doa minta kaya, doa minta sehat, doa panjang umur, doa bisa terus kerja, doa dapat pacar, doa agar anak menurut. Semuanya terlihat seperti investasi. Agar hidup nyaman. Agal modal diri semakin kuat. Kalau ritual sudah berubah menjadi penguatan modal, bukankah namanya kapitalisme? Sejarah pun sudah berkali-kali membuktikan bahwa penyebaran reliji selalu berhubungan dengan kekuasaan dan saudagar. Ada modal ada agama.

Ahh tapi siapa saya? Ilmu saya sedikit dan selalu kelihatan tidak serius. Apa ada yang percaya bualan saya itu? Bahkan saya jadi bosan dengan pikiran-pikiran saya sendiri.

Karena malam semakin larut, obrolan pun berubah. Saya yang bosan mulai bertanya pada pasangan penari. Bagaimana mereka bertemu.

Syukurlah, suasana berganti. Jadi lebih romantis. Si wanita bilang bahwa Jean Pierre adalah lelaki teromantis yang pernah ia temui. Ahh kalau itu saya tidak ragu. Toh pria Perancis sudah lama terkenal romantis. Si lelaki bilang kalau Adelle adalah makhluk terindah yang pernah ia temui dengan rambut pirang sebahu dan kaki mungil yang amat cantik. Ketika berkata begitu, mata mereka tertumbuk dan saling tersenyum. Ahh indahnya. Pasangan yang saling cinta.

Namun akibat hanya mereka yang berpasangan di meja makan ini, maka obrolan pun tidak lama usai dan berubah kembali. Sialnya, lagi-lagi bicara mengenai latar belakang saya. Ini cukup menyebalkan buat saya. Kok lagi-lagi saya. Namun mau bilang apa, ternyata masing-masing manusia di meja ini semuanya pernah ke Jakarta. Entah bisnis, entah liburan, entah singgah, entah apa lah namanya. Yang pasti semuanya pernah ke Jakarta. Bahkan si bangsawan tua ini pun, mengejutkan, ternyata pernah pula ke Jakarta. Dan satu-satunya orang Jakarta (walaupun tidak sah) di meja ini, yaa saya.

Sebelum menjawab pertanyaan, jelas saya tekankan pada mereka, bahwa saya bukanlah wakil resmi Jakarta. Tentu saja trik ini saya pelajari dari si diplomat Aussie beberapa menit lalu. Si diplomat melirik tersenyum. Saya tahu dibalik senyumnya ia akan melontarkan pertanyaan yang tidak akan spesifik mengenai kebijakan politik kota. Tapi yang pasti, akan membuat saya kelimpungan. Dua puluh tahun lebih jadi diplomat pasti mengajarkannya banyak hal.

Ajaibnya, yang melontarkan pertanyaan dahsyat pertama kali, adalah sang Lady bangsawan. “Bagaimana kabar keluarga kamu? Saya dengar ada banjir di Jakarta?”

Saya kaget. Saya jawab apa adanya. Bahwa banjir memang melanda Jakarta. Setiap setahun sekali, Ibu dan adik-adik saya pasti mengungsi ke rumah tetangga yang lebih tinggi. Demi bertahan hidup menghadapi banjir. Adik saya Uul, bahkan baru saja mengirim email melalui jaring sosial media, bahwa ia amat cemas dengan banjir yang kelihatannya akan datang.

Semua orang menatap saya sedih.

Ketika mereka bertanya kenapa, saya jawab bahwa sistem pengairan Jakarta itu warisan Belanda seratus tahun lalu dan hingga kini sedikit perubahannya. Si pengacara tersenyum sambil berkata, “Mau tetap dibantu?”

Sambil senyum saya jawab bahkan sungai di Jakarta adalah tempat sampah yang masif tiada tara. Hampir semua elemen masyarakat masih membuang sampah tidak pada tempatnya. Lalu mengalir ke sungai. Kanal banjir dibangun, namun tidak mengentaskan masalah. Sebab kegemaran pemerintah lokal kami adalah menangani simptom. Bukan mencari akar masalah.

Si perempuan manis Malaysia keturunan Pakistan ini menyela, “Bagaimana mereka mau buang sampah. Tempat sampah sedikit? Aku jalan kaki di Manggarai yang penuh polusi, mau buang sampah bungkus permen saja susahnya minta ampun. Hingga harus masuk mall dan cari tempat sampah”. Uugh, dia ternyata pernah tinggal di Jakarta. Lebih lama daripada saya. Semestinya ia yang berhak di tanya mengenai Jakarta.

Lagi-lagi saya memang harus menjawab, bahwa kebijakan pemerintah kota yang tidak menyediakan banyak tempat sampah lah yang harus di tanya. Ketika perempuan ahli lingkungan itu semakin mencecar, tentu saja trik ad hominem saya pakai. Berdasar hubungan antara RI-Malaysia yang saat itu meruncing, saya jawab, “Sayang sekali kami tidak seberuntung kalian yang memiliki pemerintahan yang menjamin kebersihan kota sebagaimana di Kuala Lumpur”.

Bingo! Berhasil! Sebab dia jawab, “Tapi kalian punya kebebasan untuk bicara. Kami punya undang-undang patriot yang bahkan bisa menjerat siapa saja yang mengkritik UMNO yang rasis dan selalu mementingkan orang asli itu. Malaysia hanya untuk pribumi, ahh omong kosong”

Saya yakin tidak ada yang tahu apa yang saya lakukan di meja makan pada saat itu. Mencoba memonopoli topik. Memanfaatkan situasi terkini sebagai senjata.

Hingga akhirnya saya sadar saya salah besar. Si diplomat rambut coklat mendehem, “Sudah larut, mungkin saya istirahat. Kamu bintang malam ini, selamat. Sayang sekali kamu tidak memilih jalur diplomasi sebagai karir, sebab saya yakin kamu akan jadi sukses besar”, katanya sambil menatap saya.

Saat itu beliau menggunakan bahasa slang lokal. Yang secara samar bisa diterjemahkan, ´sebab saya yakin kamu akan akan jadi omong kosong besar´.

Saya tidak peduli. Mungkin ia mabuk terlalu banyak minum wine enak. Tapi bisa jadi, mungkin ia benar. Saya tidak peduli. Saya pamit sebentar mau ke toilet. Si diplomat ikut. Mau merokok. Dalam perjalanan menuju toilet yang terletak di sayap kanan bangunan, kami tidak bicara apa-apa.

Sebelum sampai toilet ada persimpangan, satu menuju kamar kecil, satu lagi menuju ruangan merokok. Dalam remang terowongan yang diterangi cahaya lilin-lilin besar itu, kami melihat jelas Jean Pierre masuk ke WC sepi dengan seorang wanita berambut panjang gelap (kalau tidak salah yang melayani minuman untuk madam bangsawan). Saya pikir itu pertanda bahwa saya tidak perlu masuk ke ruang tersebut dan memilih melupakan apa yang saya lihat dengan menemani si diplomat ketika ia merokok di luar sambil bicara tentang Bali.

Ketika kami kembali ke meja makan untuk sebenar-benarnya pamitan, Adelle bertanya cemas, “Kalian lihat suami saya? Saya cari dari tadi ia tidak ada”

Si diplomat menatap saya. Sial. Seakan saya lah yang harus menjawab pertanyaan itu.

Saya berfikir keras. Beberapa saat terdiam mengumpulkan kalimat dalam ribuan rimba kata-kata yang mampu merepresentasikan jawaban apa yang paling tepat yang harus saya utarakan.

Apa yang harus saya jawab; Jujur dan lalu meluluhlantakkan rumahtangga mereka? Atau berbohong bahwa saya tidak lihat apa-apa? Atau setengah jujur setengah bohong? Atau kejujuran yang dibungkus kalimat ambigu? Atau bohong yang dibungkus kalimat manis? Bagaimana saya harus fleksibel menghadapi pertanyaan sulit?

Apa yang harus saya jawab pada perempuan berambut pirang sebahu dengan kaki cantik ini?

Saat itu pula saya pikir saya tidak berbakat jadi diplomat.

This entry was posted in bangaip, cerita_kerja, sehari-hari and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

9 Responses to Diplomat

  1. Manusiasuper says:

    jawab saja bang, tadi Bang Aip liat dia masuk WC. Kan ndak perlu jawab masuknya sama siapa…

    ah, siyal, apakah dengan menjawab ini dianggap lulus test bakat diplomat?? naujubile…

    –0–

    Para womanizer biasanya cocok untuk kerjaan ini, Mansup.

    Hihihi

  2. Jardeeq says:

    Diplomat? Yakin setiap saat..

    Trus, hasil obrolan ama diplomat tersebut apaan bang? Jangan2x ditawarin kerjaan baru…

    –0–

    Yup, tapi saya tolak :)

  3. Payjo says:

    kalau begitu, calon diplomat paling berbakat seantero Indonesia ini adalah Nurdin Halid ya? Nyaris 9 tahun jago berkelit terus :mrgreen:

    –0–

    Wah Mas, kalau beliau mah parah. Udah diteriakin satu stadion. Masih senyum santai saja.

  4. hedi says:

    banyak lho orang jago diplomasi, tapi bukan diplomat 😀

    –0–

    Bener sekali Mas Hedi. Malah ada beberapa diplomat, tidak pandai diplomasi. Hahaha

  5. almascatie says:

    bang aip cocok jadi diplomat blogger hehehehe

    –0–

    Saya cocoknya deket ama makanan, Alma. Hihihi…
    Prinsip saya; kelaparan mendekatkan pada kebodohan.
    😀

  6. Iwan Awaludin says:

    Kayaknya orang Prancis itu nyasar, jadi perlu guide dari pelayan untuk sampai tujuannya.

    –0–

    Lovely… Diplomatis nih :)

  7. kunderemp says:

    Sepakat dengan manusia super. Jawab aja, tadi masuk ke WC.

    –0–

    Hehe, terimakasih telah ikut dalam kuis ini, Mas :)

  8. adipati kademangan says:

    Harus dibedakan antara “berbohong” dengan “tidak berterus terang”. Jawaban “tidak berterus terang” inilah yang bisa dipakai untuk menyelamatkan diri dari kemungkinan “berbohong”

    –0–

    Hehehe…. Adipati, Saya jadi inget omongan si Gugun adek saya. “Kalo lo bilang abis enam itu lima, itu bohong namanya. Tapi kalo lo bilang abis enam itu delapan, itu bukan bohong”

  9. edratna says:

    Hehehe…kadang kita sulit ya menjawab pertanyaan dengan jujur…namun juga tidak berbohong.
    Kita memang harus jadi diplomat di lingkungan masing-masing karena seringkali jika kita menjawab secara terus terang dan jujur, masalah tak selesai malah menimbulkan konflik.

Leave a Reply