Lelaki Sejati Bijinya Dua

Waktu saya pinjam buku Elizabeth Gibert yang berjudul eat pray love, Mbak Lia memberi sambil tertawa, “Kenapa, ini kan perempuan banget?”

Saya tersenyum menjawabnya. Tapi entah kenapa saya tidak jawab. Tapi bingung juga sebenarnya, andaipun mau saya jawab, saya harus jawab apa? Toh itu buku memang cerita tentang seorang perempuan dan perjalanannya. Tentu saja dari sudut pandang wanita. Saya tidak bisa jawab apa-apa selain tersenyum.

Dari dulu, entah kenapa, saya memang seakan terobsesi untuk memahami perempuan. Mulai dari cara yang sederhana seperti bertanya langsung kepada makhluknya, hingga trik yang agak licik seperti mencuri buah pikir tertulis mereka. Misalnya melalui membaca majalah yang paling banyak dibaca perempuan. Sampai dulu saya pernah beranggapan, jika feminisme adalah sebuah agama bagi peremuan urban maka Cosmopolitan adalah kitab sucinya.

Hubungan antara pria dan wanita itu misteri. Di Mesir kuno mitologi mengajarkan bahwa selain Isis sang pelindung, dewi yang dipuja adalah Ma’At, pengatur hubungan antara pria-wanita dalam relasi. Apapun itu, belum terkuak hingga saat ini. Jadi menurut saya sah-sah saja punya obsesi memahami dan mencari apa itu makna relasi.

Hasilnya bagaimana? Ahh sama saja. Buat saya, perempuan itu tetap saja misteri. Satu-satunya yang bisa saya kenali apa adanya, hanya putri saya seorang, Novi Kirana. Itu pun karena usianya yang baru 2,5 tahun. Entah nanti pada dua dasawarsa mendatang. Mungkin kabut misteri juga akan meliputinya.

Tentu saja itu subjektif.

Lantas bagaimana dengan pendapat para wanita terhadap pria? Apa juga sama? Apakah mereka juga pernah berfikir jika para lelaki itu adalah makhluk yang misterius?

Ehmhh, saya ragu.

Dulu sahabat saya si Aini pernah menjawab ketika saya tanya soal tipikal lelaki idaman, “Iih si Bambang orangnya cool loh. Pendiam gitu. Misterius. Kalau senyum juga seadanya. Banyak cewek yang seneng dia”

Senyum seadanya kok dibilang cool? Kenapa pula si Bambang disukai gadis-gadis?

“Nggak banyak, Rip, cowok yang kayak dia. Cowok mah… Yaa gitu deh…”

‘Yaa gitu deh’, apa pula itu maksudnya? Apa kami para pria sebegitu mudahnya diterka?

Saya pikir sebentar. Kelihatannya Aini benar. Mungkin ia pun generalisasi terhadap para pria yang ditemuinya. Katanya, selera bisa dibentuk, namun pemahaman itu tergantung lingkungan. Tapi ahh, mungkin ia benar. Tidak sedikit pria yang mencoba jadi humoris di depan wanita yang sedang diincarnya. Tentu saja atas nama tujuan, kodrat lelaki sebagai pemburu merasa perlu menggantikan lembing batu jaman Neanderthal primitif terdahulu dengan lelucon yang kadang malah membuatnya tidak lucu. Di sisi lain, sebagai makhluk yang diklaim dipayungi oleh planet Mars, tidak kalah sedikitnya para pria yang gemetar tak berdaya dihadapan perempuan yang disukainya. Katanya, venus si wanita lebih dekat dengan matahari. Dia yang berkuasa adalah yang dia yang dekat dengan planet api.

Pada intinya hanya satu; katanya, pria gampang ditebak. Terutama di depan wanita yang dicintainya.

“Jadi cuma gara-gara begitu si Bambang jadi idola. Ahh kalo gitu sih gampang, gua juga bisa pura-pura pendiem, misterius terus jarang ngocol”

Aini mengangkat bahu seakan tidak percaya, “Coba aja lu tiga jam diem. Baru gua percaya”.

Setelah itu, saya pura-pura jaim deh. Jaga image dengan sok tahu. Duduk di koridor ramai, buka buku agar bisa melalui tiga jam laknat ini dengan sukses. Di depan saya lalu lalang orang-orang. Tapi pikiran saya tidak konsentrasi ke bacaan. Dalam hati berfikir, “Nah gimana dong kalo gua disangka kutu buku. Trus cewek-cewek ga ada yang mao ama gua”. Saya gelisah. Memikirkan apa yang harus saya lakukan selanjutnya.

Sebal. Aini kelihatan melihat kegelisahan saya. Aneh, kok yaa perempuan instingnya tajam sekali? Kenapa bukan kami para pria yang dikaruniai bakat itu?

Baru setengah jam saya sudah berkata, “Ain, gua ke kantin dulu yah. Lapar. Nanti balik lagi ke sini. Gua buktiin deh ama lo, kalo gua juga bisa jadi lelaki jaim kayak si Bambang”

Lagi-lagi Aini mengangkat bahu.

Di kantin saya minum teh sambil makan gado-gado. Sambil memikirkan bagaimana caranya agar bisa jadi seperti Bambang. Tokoh idola gadis-gadis sekolah. Dalam kebingungan, tiba-tiba teman sekelas saya datang. Mengajak main bola.

Sumpah mati tiba-tiba saya lupa Aini. Saya lupa dengan tiga jam jaga imagi pria sejati sebagai janji. Saya lupa dengan niat saya menjadi Bambang wannabe. Di otak saya tiba-tiba yang adalah hanyalah bola memantul tinggi dan melesakkannya ke gawang sambil sekencang-kencangnya teriak ‘Horeee…!’

Begitu pertandingan selesai, saya lihat Aini di sisi lapangan. Sambil lagi-lagi mengangkat bahu. Matanya menyiratkan kalimat, “Oh betapa menyedihkannya kamu”

Saya cengar-cengir sambil garuk-garuk kepala. Lah mau bilang apa coba?

Malamnya di kost-kostan Depok, saya curhat pada si Otong tentang kejadian hari itu. Otong ini adik kelas saya. Tinggal di samping kamar kost saya. “Tong, gimana yaah caranya jadi lelaki sejati?”

“Lelaki sejati itu apaan, Bang?”

“Itu lah. Yang kayak si Bambang gitu. Cool. Cewek-cewek pada seneng ama cowok cool”

“Emang abang bijinya cuman satu?”

“Hah! Apa hubungannya ama biji?”

“Kan lelaki sejati bijinya dua, Bang”

Kampret! Kok saya tiba-tiba dituduh tak genap biji. Maka saya jelaskan pada Otong tentang lelaki (setidaknya di mata Aini). Yaitu para lelaki yang misterius. Pendiam. Bermata tajam seakan mampu membuka tirai hati para perempuan. Yang ketika berjalan, bahkan para wanita disisinya pun sudah mampu melihat aura kelakiannya. Yang ketika mengeluarkan suara, seluruh mata lawan bicara memperhatikan gerak bibirnya. Tentang lelaki yang digila-gilai wanita.

Otong meremas rambut dengan kedua tangannya, “Waduh kalo gitu gua juga bukan laki-laki idaman wanita yaa, Bang? Bukan lelaki sejati sih. Terus kalo begini, gimana dong ama gua? Masa sih gua nggak bisa dapet pacar?”

Saya tidak bisa menjawabnya. Pertanyaannya misterius. Semisterius topik tentang hubungan wanita dengan pria. Semisterius dengan alasan mengapa setelah berjuta tahun hidup bersama mereka masih saling mencoba untuk mengetahui satu dan lainnya.

Saya tidak bisa menjawabnya. Sebab tidak mungkin saya jawab, “Emang udah gitu kali nasib lo, Tong”

This entry was posted in bangaip, sehari-hari and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Lelaki Sejati Bijinya Dua

  1. Manusiasuper says:

    Kapan hari itu kan saya pernah berfatwa bang. “jangan pernah mencoba memahami wanita. Belikan saja mereka sepatu baru”

    –0–

    Hahaha…. Ini baru fatwa keren

  2. Jardeeq says:

    Kalo sejati bijinya dua..
    Berarti kalo mau dibilang super bijinya kudu 3 dong…
    Btw, kalo geek kan biasanya pendiem juga tuh,, komen sang cewek apaan ya?

    –0–

    Hahaha, kalo di tempat saya dulu mah. Cowoknya jarang geek. Yang banyak, geneet. Maklum libido tinggi. Hihihi

  3. Bang Aip, menurut saya nggak pa-pa laki-laki baca Eat, Pray, Love. Lha ternyata setelah saya nonton filmnya, filmnya nggak feminis kok, lebih cocok disebut religius.

    –0–

    Wah saya belum nonton filmnya. Terimakasih Mbak. Kalau Mbak yang ngasih tahu referensinya, saya percaya :) Nanti saya tonton deh

Leave a Reply