Perempuan Yang Pantatnya Kotak

Tadi malam saya mimpi menulis. Aneh, mimpi kok menulis? Kenapa bukan mimpi lain misalnya? Misalnya kenapa tidak mimpi basah? Walaupun bangun-bangun ada bagian pakaian yang basah dan lengket di mana-mana, toh itu bukan masalah. Saya tetap akan mensyukurinya.

Tapi mau bagaimana lagi. Sudah terjadi. Tidur jam satu dinihari. Bangun pada pukul empat pagi. Badan masih kering. Lihat bagian dalam selimut, semuanya kering. Bagaimana mau basah, mimpinya kan cuma menulis. Apa yang bisa basah dari mimpi mengenai tulisan?

Saya mimpi aneh. Dalam mimpi saya bikin tulisan yang bagus. Minimal standar bagusnya, amat subjektif. Bagus itu bagaimana? Yaa jelas bagus menurut saya. Bukan buat anda. Toh kadar bagus tiap orang beda-beda. Teman saya Udin bilang bahwa perempuan bagus itu adalah perempuan yang pantatnya bulat. Jelas aneh buat saya. Memang ada perempuan yang pantatnya kotak?

Seorang perempuan muda, mandiri, cantik dan tanpa pernah ragu berkata kalau ia punya apartemen sendiri di sebuah bilangan ibukota yang cukup mahal pernah berkata pada sebuah makan siang, “Kenapa saya pikir lagu-lagu Juaquin Sabina bagus? Hmhh, good question. Mungkin karena kami sama-sama lahir di Úbeda. Tapi hmhh… Bukan itu juga… Lirik-liriknya itu. Ahh, apa namanya? Ah iya, mungkin kalimat yang tepat untuk liriknya adalah sangat membumi. Sepertinya, dari syair lagunya, ia merasakan apa yang saya rasakan”

Namanya Nia. Walaupun belum pernah menjamah, saya yakin pantatnya tidak kotak. Ketika ia menjawab, matanya menatap ke langit sambil memegang kedua belah tangannya menempel di ujung dagu. Saya melihat adegan itu dengan kagum. Mungkin momen itu adalah momen saya yang paling indah di hari rabu. Melihat seseorang yang begitu berempati dengan orang lain hanya melalui dari kekuatan kata-kata. Walaupun lalu divokalisasi, semuanya berawal dari ide dan tulisan.

Saya tidak kenal siapa itu Juaquin Sabina. Saya sendiri tidak tahu apa yang ia nyanyikan mengenai orang-orang Spanyol sana. Saya hanya bertanya pada rekan kerja, mengapa ia menyukai sebuah lagu. Itu saja.

Bagus itu subjektif. Dulu ada acara di televisi namanya Asia Bagus. Isinya para manusia berbakat yang di adu kepandaian mereka membawakan bakat masing-masing lalu dinilai oleh juri. Bukan hanya juri, penonton pun berhak memilih siapa jagoan mereka. Yang paling banyak terpilih, jadi juara. Salah satu diantaranya, Indonesia mengenal ia dengan sebutan Kris Dayanti yang lalu kemudian menasbihkan diri menjadi diva. Tapi di sisi lain, berdasar acara tivi tersebut, bagus itu ternyata bukan hanya subjektif. Ia pun bisa menjadi semacam paduan suara kolektif. Ketika ini terjadi, maka terbentuklah standarisasi norma.

Dan jawaban standarisasi norma itulah yang dipakai Meno, sahabat saya di Jogja, pada sebuah malam. Ketika saya bertanya, kenapa ia sering bepergian untuk bertemu orang-orang demi menggalang dana untuk membuat penyuluhan pentingnya kondom bagi para prostitusi waria Jogja. Jawabnya, “Susah Rip. Mana ada orang yang mau dukung acara ini. Kan ini bukan norma orang kita. Minggu kemaren ada orang Kaliurang yang mau ngasih dana, tapi begitu tau acara ini buat waria, dia berenti. Katanya… Nggak bagus”

Bagus yang suatu hari berganti nama menjadi norma itu rupa-rupanya tidak menyisakan banyak hal buat Meno. Suatu malam ketika saya sedang menyeduh mie rebus, ia pulang ke kamar kostnya. Buka pintu dengan terburu-buru lalu ambruk di ranjang. Ada bercak darah di kausnya. Mukanya penuh dengan bekas berwarna biru lebam. Acara penyuluhan yang diorganisasi bersama kawan-kawannya diserbu massa. Meno diteriaki kafir lalu wajahnya dihunjam batu.

Sejak saat itu, mungkin saya telah memilih bahwa kalimat bagus itu lebih baik dijadikan pendamping dengan ‘subjektif’.

Ahhh tapi ngomong-ngomong saya mau cerita apa yaa? Loh kok melantur. Oooh iya, soal mimpi menulis. Tulisannya juga bukan sembarangan. Tulisan bagus. Tapi apa itu tulisan bagus? Wah apa yaah? Kok saya lupa? Nanti lah kalau saya ingat saya akan coba cerita-cerita. Tapi tidak janji. Sebab bisa jadi akan saya pendam sendiri.

Hari ini, bagus itu ternyata menyulitkan. Mungkin lebih baik mengumandangkan agar dapat mimpi lebih menyenangkan dan mudah pada doa sebelum tidur malam ini. Seperti mimpi basah misalnya.

This entry was posted in bangaip, sehari-hari and tagged , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Perempuan Yang Pantatnya Kotak

  1. nDaru says:

    Joaquin Sabina itu kalok di Indonesia macam Sujiwo Tedjo ato WS Rendra gitu..kebanyakan lagu-lagunya ya mirip2 punyak iwan fals ato Franky Sahilatua,lagu-lagu balada saya dulu sempat ngicipi nonton belionya nyanyi waktu ikutan bapak saya juwalan tahu kopong di Antwerp dulu.

    Jadi yang bagus itu kek apa bang? ada standardisasi ISO-nya gak?

    –0–

    Pertanyaan yang sulit, Mbak.Saya baru baca buku Elizabeth Gilbert yang Eat, Pray, Love. Dalam situasi ketika ia terkena sakit akibat infeksi kandung kemih karena terlalu banyak bercinta, ia memilih pengobatan tradisional ala Ubud. Sebab ia yakin (atau minimal bisa diyakinkan) bahwa standarisasi ISO obat modern yang sering ia ambil ketika terkena indikasi yang sama, susah menyembuhkannnya.

    Maksud saya, ketika kadar bagus dalam hubungan antar manusia pun sudah harus distandarisasi. Maka kita akan berubah menjadi bagian dari mesin industrialisasi.

    Halah, sok tahu banget saya nih. Hehehe.

    Anyway, terimakasih infonya soal Joaquin

  2. mas stein says:

    dari tulisan ini saya belajar bahwa bagus itu belum tentu baik, karena kalo bagus itu baik akan terasa janggal menilai apakah seseorang itu perempuan baik atau bukan dari bentuk pantat.

    –0–

    Amen brother

  3. jardeeq says:

    kaya manusia mungkin..

    kecil imut-imut gede amit-amit (what a comment)

    –0–

    Hahaha

  4. edratna says:

    Bagus pada satu orang tak selalu dinilai bagus oleh orang lain…..jadi bagus itu relatif.

Leave a Reply