Apabila Memutuskan Untuk Tidak Beragama

Mbak Nendi itu kakak kelas saya waktu jaman sekolah di Depok dulu. Beliau kalau tidak salah, sekitar satu setengah tahun lebih tua daripada saya. Orangnya ramah. Kalau bicara halus dan lembut. Dengar-dengar, keturunan langsung bangsawan. Tapi kalau saya ajak bicara soal garis darah keturunan, ia selalu menolak. Lagi-lagi dengan halus. Ia lebih suka membicarakan pacarnya yang juga sahabat saya, Mas Danu.

Bertahun-tahun setelah ia wisuda saya tidak bertemu beliau. Beberapa kali bersua melalui tulisan di blog ketika ia bertegur sapa. Namun yah hanya sekedar ‘say hi’. Tidak pernah lebih.

Suatu hari, siapa sangka ia punya akun di facebook dan lalu menambahkan saya sebagai daftar pertemanannya.

Seperti biasa, saya sering jalan-jalan ke akun teman-teman saya dan juga daftar jaringan pertemanan yang mereka miliki. Sekedar hobi. Mau tahu siapa teman-teman saya saat ini dan siapa teman-teman mereka. Sebuah hobi yang kata teman akrab saya, ‘memuaskan rasa sakit jiwa akibat kecanduan untuk membuntuti’. Hahaha…

Suatu hari, entah kenapa di timeline saya muncul status Mbak Nendi yang sedang sedih. Ada apa gerangan kok beliau begitu sedih? Sungguh membuat saya terusik.

Saya lihat di lemparan-lemparan statusnya terdahulu. Saya tidak bisa menyimpulkan apa-apa. Jangankan menyimpulkan, menebak saja susah. Padahal metode penelitian secara deduksi itu amat bisa dipakai dalam melihat kondisi kejiwaan seseorang di timeline facebooknya.
(*ini sih sok tahu plus snobnya saya saja, menggabungkan antropologi, psikologi dengan matematika dalam aplikasi web2.0. Hehe. Maaf*)

Akibat teramat mau tahu (iya saya tahu ini hobi yang berbahaya). Saya mulai mencari foto-foto dimana Mbak Nendi di tag.

Kaget. Sebab sebuah foto yang baru saja di tag oleh temannya, Mbak Nendi terlihat sedang duduk di pinggir jalan. Di bawah tenda plastik warna biru yang didirikan sekenanya dan berlantai tikar di atas rumput trotoar. Ditemani anak-anak kecil, Mbak Nendi memegang sebuah kitab suci.

Di bawah foto itu terpampang sebuah tulisan, “Beginilah nasib minoritas”.

Saya makin kaget. Apa maksudnya ini? Dan untuk menjawab kekagetan-kekagetan ini saya lihat saja terus foto-foto Mbak Nendi.

Saya pikir, foto bicara jauh lebih banyak daripada kata. Walaupun ada yang bicara sebaliknya. Di foto-foto itu terlihat Mbak Nendi sedang mengikuti ibadah yang dilangsungkan di pinggir jalan.

Kenapa di pinggir jalan? Sebab terlihat di salah satu foto kalau rumah ibadah mereka terkunci gembok dan memiliki plang kayu peringatan bahwa Ijin Mendirikan Bangunan rumah ibadah itu dicabut oleh Pemda setempat.

Saya putuskan malam itu untuk chat dengan beliau.

– “Selamat malem, Mbak”
+ “Udah subuh di sini”
+ “Apa kabar? Anak udah bisa apa, Rip”
– “Lagi sibuk sih Mbak. Anak gua udah cerewet, hehe. Makasih”
– “Mbak, fotonya gawat banget deh. Kok bisa ditutup”
+ “Foto mana”
– “ini linknya” (*link URL address tidak saya publikasikan di sini. Foto rumah ibadah*)
+ “Iya tuh, sebel gua. Mentang-mentang minoritas, kita dikalahin terus”
– “Fungsi bangunan sampe ke fondasi bangunan kok bisa dicabut Mbak?”
+ “Gua juga bingung. Padahal warga lokal oke kok. Dua minggu lalu ada ormas gila, protes. Keliatannya walikota ga mao keilangan muka dikalangan orang seagamanya”
– “Lu pikir ada muatan politis, Mbak?”
+ “Lu pikir selama ini apa? Cuman sentimen keagamaan?”
– “Ada tukang baksonya ga kalo lo ke sana?”
+ “Kok di otak lo makanan melulu sih, Rip?”
– “Serius gua nih, ada tukang jajanannya ga?”
+ “Yaa banyak. Enak-enak kok. Warga lokal sini aja pada ikutan jajan kalo ada misa mingguan”

Di sini saya pikir ia tidak bohong kalau ada alasan lebih daripada sentimen keagamaan. Rumah ibadah yang ia, teman-teman dan keluarganya gunakan setiap minggunya ditutup. Alasan utamanya, tidak sesuai dengan estetika. Entah apa lagi alasan lainnya yang sungguh tidak masuk di akal, yang pasti rumah ibadah itu disegel. Mbak Nendi secara gerilya bersama rekan-rekannya datang ke tempat ibadah itu setiap minggu. Menggelar tikar mengepit kitab suci. Di trotoar mereka mengasah iman.

Saya jadi ingat suatu hari di Cilincing dulu sahabat saya Udin pernah bertanya “Bang, kalo Tuhan gua nggak esa, apa gua masih bisa lulus penataran P4 dan jadi pancasilais yaah?”

“Mana gua tahu Din”

“Apa gua boong ajah kali yaah ditanya soal kayak gitu mah?”

“Masa sih boong?”

“Daripada gua nggak lulus penataran P4 bang? Kan gawat, nanti nggak bisa ngambil ijasah”

“Serius luh?!”

“Yaelah Bang, walopun kita udah diwisuda kalo nggak lulus penataran P4 kan nggak boleh ngambil ijasah”

“Waduhh, kok tega bener yaah…”

“Maka itu Bang, apa gua boong aja kali yaah. Pokoknya kalo ditanya apa-apa, gua jawab aja Tuhan gua esa. Padahal mah sebenernya dalam hati gua nggak percaya. Yang penting mah gua bisa lulus P4. Trus bisa nyari kerja. Kalo udah kerja, nanti juga Tuhan dateng sendiri”

Hmhh. Saya garuk-garuk kepala. Mau bilang apa lagi coba? Ketuhanan Yang Maha Esa dan Penataran P4 serta implikasi rumit di kehidupan orang Indonesia yang menyertainya sudah memusingkan otak saya yang kelihatannya jauh lebih kecil daripada otak manusia normal ini.

Bertahun-tahun setelah obrolan dengan Udin, sahabat saya James dari Maine bertanya terkaget-kaget ketika suatu hari ia menemukan bahwa agama yang diakui pemerintah Indonesia hanya ada enam. “Yang lainnya kemana, Rif. Tidak pernah diakui?”

“Emhh, mungkin belum. Mungkin harus berjuang dulu”

“Kok untuk punya agama saja harus berjuang? Terus bagaimana kalau tidak beragama. Tidak usah berjuang dong”

Saya bengong tidak bisa menjawab apa-apa. Apalagi menyambungkannya dengan Pancasila, Penataran P4 dan rumah ibadah yang dengan semenanya ditutup paksa.

This entry was posted in bangaip, Orang Indonesia, Republik Indonesia, sehari-hari and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

6 Responses to Apabila Memutuskan Untuk Tidak Beragama

  1. hedi says:

    semua salah politik…dan kebodohan terstruktur di negeri ini 😐

  2. edratna says:

    Serba salah ya bang….

  3. The Gombal's says:

    baru2 ini miyabi pengen silaturahmi k fpi. dan fpi berkenan menerima, tp dengan syarat, miyabi harus pindah islam dulu.

    *klo sy jd miyabi, ok-lah pindah islam dulu, biar bs tatap muka, “kayak apa sih muka2ny org fpi”. abis tuh ya pindah agama semua aja. gitu aja kok repot

    tp kayakny miyabi kagak mau, g jadi deh itu pertemuannya. pdhl sy nunggu banget tuh kayak apa wajah2 org fpi klo liat miyabi face to face. kira2 “naik” nggak ya?

    salam kenal,

  4. jardeeq says:

    kemaren saya mekihat dengan mata kepala sendiri penutupan sebuah rumah ibadah oleh warga lokal…

    dan sekarang oleh pemerintah…

    sepertinya tidak usah memunculkan NII untuk mengubah negara ini… sigh

  5. nDaru says:

    bukankah dulu Yesus juga di salib karena mengajar sebuah ajaran yang endak sama dengan ajaran agama penguasa? Selamat kepada mereka yang rumah ibadahnya ditutup demi apa saja..peluang mereka jadi martir lebih besar daripada saya yang dengan nyaman bisa beribadah

  6. Wijaya says:

    Negara kok ngurusin agama…
    Sebaiknya urusan agama adalah urusan pribadi, antara umat dengan Tuhannya.
    Kalau agama adalah sesuatu yang pribadi, maka orang lain juga tidak berhak ngurusin agama orang lain. Urusan surga neraka adalah urusan masing2…

    Lebih banyak masalah lain yg masih perlu penanganan negara (korupsi, kasus pengadilan, kemiskinan, dll).asila

    Saya juga bingung tuh bang, bagaimana menghubungkannya dengan Pancasila dan P4 yg dulu sampai khatam saya belajarnya (hapal luar kepala butir2 P4….Hahaha).

Leave a Reply