Kebahagiaan Di Rumah Judi

Dulu saya pernah kerja buat orang Filipin (walaupun saya sering ragu mana yang benar, antara Filipina, Philipina atau Philippine, biar saja saya tulis Filipin. Atas dasar egoisitas pribadi saya. ;).

Majikan saya dua orang. Satu namanya Fey, perempuan setengah baya. Satu lagi namanya Nunoy, lelaki lebih daripada setengah baya. Dua-duanya bukan suami istri. Fey itu suaminya orang Iran. Sementara Nunoy istrinya orang Jerman. Namun apapun namanya, dua manusia ini saya yakin akibat pekerjaan jauh lebih sering bertemu satu sama lain ketimbang bertemu pasangannya.

Nunoy itu ketua. Fey itu sekretarisnya. Saya? Hmhh, saya babu biasa.

Dulu saya pernah malu kalau ditanya orang. “Kamu kerja di tempatnya Nunoy? Wah asik tuh. Bagian apa?”

Saya tidak bisa bilang apa-apa. Saya bilang, “Yaa bantu-bantu biasa…”

Orang-orang pikir saya merendah dengan berkata begitu. Padahal sebenarnya saya memang malu berkata mereka apa adanya. Saya malu jadi babu. Entah kenapa saya malu. Mungkin akibat rasa percaya diri saya yang rendah. Dan saya malu utuk mengatakan sebenarnya kalau saya datang tiap pagi ke kantor Nunoy dan Fey untuk membersihkan lantai, WC, hapus debu di meja hingga telpon, menyapu lalu mengepel. Setiap pagi begitu. Lima hari perminggu. Jadi babu. Tapi kenapa harus malu?

Suatu hari di dapur ketika saya sedang mencuci piring kantor mereka, saya ditanya Ferdinand yang tetangga Nunoy. Saya tidak banyak menjawab. Beberapa pertanyannya melesat cepat. Saya sering diam. Saya pikir diam itu bukan emas, tapi semacam upaya perlindungan diri ketika ditanya begitu banyak pertanyaan yang mendesing bagaikan hujan peluru.

Fey kelihatannya melihat kejadian itu. Begitu Ferdinand pergi, Fey datang ke dapur.

+ “Kamu nggak enak badan hari ini?”
– “Enggak, saya baik-baik saja kok…”
+ “Muka kamu pucat setelah bicara dengan Ferdinand. Kamu di bully?”
– “Nggak Fey. Dia baik kok. Selalu sopan dan ramah”
+ “Kamu jangan takut, kalau ada apa-apa bilang saja sama saya atau Nunoy. Kami pasti bantu. Masak orang sebangsa kami walaupun tidak kenal, kami bantu, sementara kamu yang sudah seperti keluarga kami cuekin”

Saya terbelalak kaget. Seperti keluarga? Wah, mereka memang ramah sekali selama beberapa bulan terakhir sejak saya bekerja untuk mereka. Tapi saya tidak menyangka bahwa mereka sebegitunya terhadap saya.

Saya beruntung punya majikan seperti Nunoy dan Fey. Mereka orang baik. Mereka tahu bahwa dengan status pelajar, saya hanya mampu bekerja secara terbatas dalam 1 minggu. Namun mereka tetap membantu. Menambah jam kerja saya. Hingga saya masih bisa mengumpulkan sedikit uang kiriman untuk bantu-bantu hidup biaya keluarga di Jakarta sana.

Nunoy dan Fey tidak hanya membantu saya. Namun juga membantu ribuan pekerja migran Filipin yang ada di Eropa. Mungkin hanya nasib lah yang yang mempertemukan kami. Sehingga saya pun ikut-ikutan dibantu oleh Godfather dan Godmother warga Filipin di Eropa ini.

Nunoy dan Fey itu kuat luar biasa walaupun bukan mafia. Hidup mereka sederhana. Tidak punya anak buah. Tidak punya mobil mewah. Tidak punya tabungan banyak di bank. Bahkan rumah pun masih kontrak.

Tapi mereka hebat. Dicintai oleh hampir seluruh pekerja migran asal Filipin yang ada di Eropa. Mereka memulai sebuah bentuk organisasi akar rumput pekerja migran WNF (Warga Negara Filipin) dengan cara yang ajaib (setidaknya menurut saya).

Nunoy datang ke Berlin sebagai mahasiswa. Lalu jatuh hati dengan gadis lokal. Fey datang ke Utrecht sebagai istri ikut suami. Nunoy hobi main gitar. Fey hobi menari. Dan mereka sadar betul bahwa orang Filipin doyan pesta. Di Amsterdam mereka bertemu dari satu pesta ke pesta lain. Mengumpulkan begitu banyak orang Filipin yang juga berhobi sama.

Dari pesta ke pesta, mereka berkumpul, berserikat saling bantu membantu satu sama lain. Membentuk sebuah keluarga. Yang berasal dari nasib yang sama, hidup di tanah asing. Paguyuban para exile.

Paguyuban itu, meluas. Bukan hanya bisik membisik lagi cara kerjanya untuk menawarkan pekerjaan bagi mereka yang baru datang. Tidak lagi bermain bowling di hari minggu ba’da misa gereja, melepas lelah memburuh selama seminggu penuh. Melainkan sudah berani menyewa tempat sendiri untuk bersekretariat. Lalu membuka kelas untuk belajar bahasa lokal. Mendirikan radio gelap untuk pemirsa berbahasa Tagalog (lalu akhirnya disahkan pemerintah akibat banyak supporternya), punya team advokasi hingga dokter dengan praktik asuransi mandiri membantu pekerja yang tak terdokumentasi, bahkan hebatnya dengar-dengar kini sudah digandeng bank besar akibat uang yang terkirim ke negeri asal mereka sungguh mencengangkan banyaknya.

Ketika Nunoy berkata “Kita ini ada di negeri asing, ada baiknya saling membantu” pada suatu siang yang membuat saya terharu. Perjuangan lebih dari dua puluh tahun itu membuahkan hasil luar biasa. Suara pekerja migran Filipin terdengar hingga bahkan ke parlemen pemerintah lokal hingga konfrensi PBB di Jenewa sana. Suara ini benar-benar luar biasa, yaitu hingga kini, tidak ada seorang pun pekerja migran Filipin bahkan hingga serendah-rendahnya profesi mereka, di siksa di tanah asing.

Saya tidak ada ketika mereka memulai usaha ini. Saya ada ketika mereka sudah besar dan mandiri. Dan amat terkejut ketika suatu hari Fey berkata, “Kita punya website. Kami tahu kamu mengerti tentang itu”

– “Kamu mau saya merombak website itu?”
+ “Tidak, kami mau kamu mengajari kami bagaimana membuat dan menangani itu”
– “Tapi saya belum pernah mengajar sebelumnya. Astaga Fey, saya bahkan belum lulus”
+ “Tidak ada salahnya mencoba kan?”

Ia bilang begitu sambil tersenyum.

Tiga minggu kemudian kelas perdana saya dimulai. Dengan gugup campur gemetar saya menerangkan dasar-dasar teori arsitektural pembangunan website. Saya ingat betul waktu itu malam hari pukul tujuh. Kelas saya dihadiri oleh tiga orang murid. Semuanya pekerja migran. Tanpa punya dokumen legalitas. Satu orang ibu-ibu penjaga bayi. Dua lagi, lelaki pembersih kamar hotel. Semuanya terlihat letih. Baru pulang kerja seharian penuh. Namun tatap matanya… Tatap mata yang tidak pernah saya lupakan. Keinginan belajar terpancar luar biasa keluar dari mata-mata tersebut.

Kelas ini berlangsung hingga berapa bulan. Terakhir yang saya ingat, saya bahkan membagi hingga tiga kelas akibat pesertanya membludak terlalu banyak.

Suatu hari di bulan April, saya terpaksa harus berdiri di depan kelas berkata bahwa sudah saatnya saya kembali ke negeri sendiri. Ketika mereka bertanya kenapa, saya tidak tahu harus bilang apa. Saya terlalu sedih harus berpisah dengan mereka. Orang-orang yang lugu dan baik hati. Yang karena kekuatan nasib dan semangat untuk saling membantu, bertemu di titik yang sama di muka bumi.

Malamnya, Nunoy mentraktir kami semua pesta. Semua orang memeluk saya dan walaupun sedih mereka mendoakan saya agar bahagia di negeri tercinta. Di tengah riuh pikuk, Nunoy berkata, “Jangan pernah lupa, orang Filipina dan Indonesia itu sama. Kita sama-sama suka senang-senang. Kita sama-sama cinta keluarga. Kita sama-sama harus membantu. Kamu harus mengajar yaah kalau di Indonesia?”

Saya mengangguk dan lalu menjabat tangannya erat.

Orang-orang Filipin ini. Para pekerja migran. Mulai dari ibu-ibu tua setengah baya, hingga laki-laki transeksual belia. Ramah. Baik hati. Lugu. Luhur. Namun mengajarkan saya satu hal yang luar biasa. Bahwa berkumpul saling membantu, dapat meraih mewujudkan mimpi.

Pulang pesta, saya kembali ke kamar kost. Cerita semuanya kepada Robi, teman sekontrakan. Dengan menggebu-gebu bahwa seharusnya para pekerja migran asal Indonesia macam kami bisa meniru teman-teman Filipin. Atau minimal seperti para pekerja migran asal Indonesia di Hongkong yang bahkan sudah bisa membuat koran sendiri.

Robi hanya menatap saya heran mendengar cerita ini. Ia lalu mengeluh sambil mendesah bahwa berkumpul dan berserikat itu bukan budaya ‘orang kita’. Sebab ‘orang kita’ lebih suka adu argumen berdebat mencari perbedaan ketimbang melaksanakan solusi.

Saya kecewa mendengar ia bilang ‘orang kita’.

Dan mungkin ia benar. Sebab tidak lama kemudian kami adu argumen sedemikian kerasnya atas generalisasinya terhadap semua orang Indonesia.

Hingga akhirnya ia pergi menutup pintu, pergi. Cari kebahagiaan sesaat di rumah judi.

This entry was posted in bangaip, cerita_kerja, Orang Indonesia, Republik Indonesia, sehari-hari. Bookmark the permalink.

7 Responses to Kebahagiaan Di Rumah Judi

  1. sufehmi says:

    Dan mungkin ia benar. Sebab tidak lama kemudian kami adu argumen sedemikian kerasnya atas generalisasinya terhadap semua orang Indonesia

    Saya ngakak membaca ironi ini. Lalu baru sadar, mm…. kayaknya saya juga pernah melakukannya deh :-/

    Anyway, di suku Minang juga kami menemukan masalah yang sama. Amat susah untuk memfokuskan semua orang pada persamaan – dan bukannya perbedaan. Solusi, dan bukannya sibuk cari kambing hitam. Kepentingan bersama, dan bukan ego pribadi.

    Karena itu kita terus berada di dalam kesengsaraan ini.

    Mudah-mudahan suatu hari kita bisa mengambil pelajaran dari para Nunoy & Fey yang kita temui di sepanjang perjalanan hidup kita. Amin.

  2. jardeeq says:

    >Hingga akhirnya ia pergi menutup pintu, pergi. Cari >kebahagiaan sesaat di rumah judi.

    dan rumah judi yang disinggung hanya di kalimat itu.

    nggak tahu mau bilang apa tentang tkw di luar negeri. hhhhh

  3. itikkecil says:

    saya jadi bertanya-tanya, apakah ada hubungannya dengan shitnetron yang sering diputar di tipi itu
    di mana orang yang digambarkan sebagai orang yang egois dan menghalalkan segala cara untuk menang seringkali dimenangkan hanya untuk kepentingan rating
    dan entah mengapa seringkali ada saja orang-orang yang tidak bisa melihat teman sendiri maju sehingga bukannya membantu malah menjegal

  4. hedi says:

    kekerabatan kayak gitu yg musti dicontoh orang kita pas di luar negeri…kadarnya masih lemah (teringat kasus TKW)

  5. adipati kademangan says:

    dari level tertinggi hingga level terendah sudah diajari bangaimana menjadi berbeda dari lingkungan sendiri. Setiap kejadian dan kegagalan harus dicarikan kambing hitam terlebih dahulu, solusi? itu nomer tiga puluh dua setengah. Ini pasti karena PJTKI nya yang tidak resmi, ini pasti karena TKI nya yang tidak terdidik, ini pasti karena pemerintah yang tidak punya power dan diplomasi, ini pasti karena birokrasinya mbulet, ini pasti karena …
    Maka miris sekali ketika kejadian demi kejadian berulang. Kun fayakun, yang kaya kayalah, disiksa majikan maka tersiksalah.

  6. DeZiGH says:

    Jadi pengen kenal ama sang fey dan nunoy :)

  7. kunderemp says:

    Yang jelas, di Miami dan sekitarnya, toko-toko Asia dikuasai oleh jaringan Filipina. Bahkan pencak silat di Amerika saja, banyak yang pengajarnya ternyata saat dirunut, datang dari Filipina dulu seperti Dan Inosanto.

Leave a Reply