Topeng Monyet Bencana

Saya sering sedih kalau melihat topeng monyet. Seekor monyet yang dirantai, dikenakan pakaian manusia, disuruh mengayuh sepeda mainan, diminta berjoget ketika gendang kecil tertabuh, disorak-soraki, lalu dinamai Sarimin.

Lebih sedih lagi ketika melihat lelaki yang kadang berusia setengah baya penjaganya. Mendorong gerobak kecil yang diatasnya ada monyet, sepeda mainan, gendang dan mainan atraksi. Kadang bukan gerobak. Kadang malah pikulan. Lelaki itu berusaha sekuat tenaga, setiap hari, menarik perhatian orang-orang. Berusaha sekuat tenaga agar ia tidak menjadi pusat perhatian. Sebab toh itu tugas monyetnya.

Dalam hujan dalam terik, dua makhluk hidup yang berbeda jenis itu hanya punya satu tujuan. Sederhana, cuma bertahan hidup. Itu saja.

Kita tahu, jadi tukang topeng monyet tidak akan memberikan penghasilan yang mampu membuatnya beli pesawat jet Boeing 747. Karir ini pula tidak akan menghantarkannya menjadi ketua Perserikatan Bangsa Bangsa. Atau suatu hari yang bahagia, dikelilingi gadis-gadis berbodi aduhai. Seharian memikul monyet atau memukul gendang paling dapat hanya cukup untuk makan.

Lalu bagaimana monyetnya? Yaah, nasibnya tidak jauh beda dengan pawangnya. Bagai sebelas ke dua belas. Leher dirantai seharian, hidup dalam penjara yang berjalan. Mungkin suatu hari ia lalu tua dan mati. Sebab kecil sekali kemungkinannya akan main film Tarzan di Hollywood sana.

Buat penyayang binatang, bisa jadi adegan topeng monyet itu menjijikkan. Apa yang lucu dari mencoba tertawa atas binatang yang dipaksa beraksi dalam rantai besi? Apa yang lucu dari mengajarkan anak sejak dini bahwa guna binatang adalah untuk memuaskan hawa nafsu manusia?

Buat orang yang mungkin tahu sedikit mengenai latar belakang kemiskinan yang terkondisikan, mungkin bisa jadi sedikit mahfum. Apa lagi yang bisa dilakukan dari seorang manusia urban dengan latar belakang sedikitnya wawasan ketika lapar menjirat perutnya? Mungkin pembelaannya; masih untung dia cuma ikat monyet, bukan jadi copet?
(*Ini argumen yang dapat diperdebatkan. Copet menyiksa kantung manusia. Sementara, secara literal aksi topeng menyiksa leher monyet.*)

Hidup itu kejam? Bisa jadi begitu. Beberapa orang mengusung pepatah ini sebagai motto hidupnya.
Hidup itu tidak adil? Mungkin juga bisa begitu. Bukan cuma satu dua manusia yang percaya semboyan ini.

Tapi apa sih yang lebih kejam dan lebih tidak adil daripada menyalahkan korban penyakit atau bencana alam sebagai “bagian dari pendosa”?

Oke, jelas akan lebih mudah memang mengatakan bahwa bencana alam yang bertubi-tubi di alam nusantara ini sebagai bagian dari ‘teguran Tuhan’. Lebih mudah mengkhayal gila berkata dalam hati, ‘ini artinya Tuhan masih sayang ama kita, jadi kita diminta untuk introspeksi’. Atau berkata pada publik, ‘ini saat yang tepat berderma’. Tentu saja lebih mudah berkata semua ini.

Karena jauh lebih mudah, banyak orang yang memilih ini.

Bicara bencana adalah bagian dari sebuah rencana besar kitab suci, jauh lebih mudah ketimbang menyediakan pendidikan pada publik mengenai bencana dan penanggulangannya.

Bicara bencana dikaitkan dengan dosa, tentu saja jauh lebih mudah ketimbang harus terus meriset dan mengembangkan sensor dini satelit terhadap tsunami, misalnya.

Bicara bencana dan (lebih ajaib) lalu mengaitkannya dengan kedatangan bintang porno ke nusantara, sumpah mati jauh-jauuuh lebih mudah ketimbang harus kordinasi dengan dokter, tentara, relawan, ahli IT, dan sebagainya dalam menyiapkan sebuah misi penyelamatan.

Bicara bencana dan mengaitkannya dengan takdir yang harus diterima umat manusia, secara sederhana memang jauh lebih mudah ketimbang harus memaksa penguasa agar tidak berhenti-hentinya memberi perhatian khusus terhadap aksi pencegahan dan penanggulangan pra atau pasca bencana terjadi. Sebab daripada bicara soal penguasa nan jahanam, bicara takdir itu kadang membuat kita lebih merasa suci.

Tahun 2006 di sebuah organisasi besar pembantu korban bencana yang berpusat di Jakarta, seorang anak muda berambut gondrong sebahu berkaus hitam bertanya kepada saya, “Bang, ada jembatan di Bantul keputus. Kita susah menyalurkan bantuan. Punya helikopter ga?”

Saya menatapnya dalam dan serius. Ia bicara soal gempa Jogja (yang sehari sebelumnya saya dengar menewaskan hampir seluruh keluarga sahabat saya). Saya jawab pelan, “Nggak. Kalo hercules sih ada”

“Hercules kegedean, Bang. Itu mah pesawat. Lagian mana ada lapangan terbang yang mampu nerima herkules di Bantul. Eh ngomong-ngomong abang beneran punya herkules?”

Saya menggeleng. Mana mungkin saya punya pesawat berjenis Lockheed C-130 bernama sandi Hercules super besar yang mampu mengangkut lebih dari seratus orang itu? Saya bilang saya hanya kenal pilotnya. Teman kecil sepengajian dulu. Mungkin siapa tahu bisa membantu.

Hampir menjelang akhir tahun 2010, teman saya Mas Dodi mengumumkan melalui status facebooknya bahwa beliau akan ke Mentawai untuk membantu korban bencana di sana. Sebab satu-satunya jalan yang paling logis menuju pulau-pulau Mentawai dengan cepat kalau tidak dengan hydrofoil (dulu ada feri cepat Padang-Mentawai berteknologi Hidrofoil, saya lupa namanya) yaa dengan helikopter. Beliau bertanya, apakah saya bisa membantu mencarikan helikopter. Ahh seperti deja vu rasanya.

Sekali lagi, sedih saya menggeleng. Sahabat-sahabat baik saya dari Cilincing yang dulu bertugas membantu menjaga dan memelihara helikopter (yang semestinya untuk bertempur tapi toh amat bisa dipakai dalam membantu distribusi bantuan bencana), kini entah ada di mana. Saya sukar meminta bantuan mereka. Dan tidak bisa membantu banyak terhadap rencana teman saya yang baik hati Mas Dodi untuk meneruskan langkahnya lebih jauh ke Mentawai sana.

Tidak lama kemudian, saya baca ReTweet Pak Harry bahwa sebaiknya kita tidak mengirim bantuan korban bencana melalui acara televisi. Sebab tidak ada auditnya. Ohh sedihnya. Bencana silih berganti, kok yaa sampai saat ini tidak ada kebijakan pemerintah untuk membuat satu kanal rekening bantuan. Saya mau menyalahkan siapa selain diri sendiri yang tidak becus menegur pemimpinnya?

Bencana menyisakan banyak kesedihan. Bukan hanya bagi korban, namun juga bagi mereka yang jauh di mana dan hanya mampu mengirim doa.

Dalam badai musibah yang terjadi akhir-akhir ini, saya tiba-tiba ingat dulu omongan seorang tukang topeng monyet yang suatu hari sedang beraksi dengan makhluk jajahannya mencari nafkah di pasar Cilincing.

Beliau bilang, “Mas, saya mah nggak doa biar saya jadi kaya. Saya cuma bedoa, supaya saya dikasih kuat tiap hari nyari nafkah buat anak istri saya ama si Sarimin” sambil mengusap peluh.

Kesedihan ada dimana-mana. Mulai dari panggung terbuka di leher seekor monyet hingga di semangat membara menuju Mentawai dari seorang relawan muda. Yaa kesedihan ada di mana-mana. Mungkin teramat sedihnya hingga bisa berdoa, “Andaipun memang harus melewati ini bencana, jadikan kami kuat menjalaninya”

(*Untuk para korban, keluarganya dan relawan bencana, doa kami menyertai kalian. Mungkin jika suatu hari kami merasa bahwa doa memang sudah tidak cukup lagi, kami akan berusaha membantu mencegah luasnya kerusakan akibat bencana*)

This entry was posted in Orang Indonesia, Republik Indonesia, sehari-hari and tagged , , . Bookmark the permalink.

9 Responses to Topeng Monyet Bencana

  1. nDaru says:

    kan memang sedari kecil kita diajarin bang, kerjakan yang mudah dulu, nantik kalok nemu yang sulit tanyak pak/bu guru

  2. Jardeeq says:

    Bencana ini adalah peringatan..

    Ya., peringatan bagi pemerintah agar menyiapkan program penanganan bencana yang baik,,
    peringatan bagi warga agar lebih sadar bencana..

    Tapi entah kenapa orang hanya ingat peringatan tersebut saat diberi peringatan selanjutnya

  3. Manusiasuper says:

    “it’ time to us to choose between what is right, or what is easy” – Albus Dumbledore

    teringat ujaran seorang kawan, tentang betapa pulau kalimantan ini sudah dijauhkan tuhan dari resiko bencana. Tiada gunung berapi di sini. Patahan gempa pun tak melewati. Apalagi minimnya kemungkinan tsunami.

    Tapi apa daya, bencana kami cari sendiri. Hutan habis kami tebangi. Perut bumi kami lubangi. Sawah ladang kami sulut api. Jadilah, kami pula perlahan mati…

    Maaf kalau sangat egosentris ya bang..

    oh iya.. Tiap kali mengisi form web ketika mau komentar di blog ini, kok HP jadi mati sendiri ya bang? Saya pakai opera mini di samsung tipe Star SGH bang.

  4. dodo says:

    saya udah ngontak tni au bang, tapi sampai sekarang belum ada tanda-tanda bakal terjawab.

    padahal pas tanya bangaip tu berawal dari iseng aja

  5. urip kalteng says:

    ahh… jadi trenyu atiku.

  6. eMina says:

    klo dilihat2 sih, tiap sekilas melihat monyet dalam topeng monyet di pinggir jalan pas lampu merah menuju Dago, wajahnya selalu ceria walau udara panas dan banyak asap kotor. Misal dia bisa bicara, apa benar dia senang melakukan itu ya? tapi saya yakin, pawangnya mah engga seneng. hehe

  7. aRuL says:

    akhirnya selain berdoa, dan kita sendiri yg menentukan bagaimana sebaiknya kita menyumbang.

    eh awalnya topeng monyet ya, jadi teringat dulu sempat nyaksiin monyet dibantai ke tanah gegara ngak mengikuti petunjuk pawangnya, ah sadis banget, monyet sampe bedarah2..

  8. DeZiGH says:

    Yah, cara sulit memang jarang orang yang mau :)

    Tapi ya yang milih yang merintah itu khan rakyat juga,
    berarti tinggal memetik hasil yang rakyat tanam dulu, lah :)

  9. Li Ney Yeni says:

    Jujur loh,,,,aq neh bangga punya adek seperti dia (dodi),,,,meski kadang susah dibilangin!
    Thx brotha,,
    Thx Bang Aip

Leave a Reply