Hidup Apa Yang Sia-Sia?

Life is very short, and there’s no time
For fussing and fighting, my friend.

(WE CAN WORK IT OUT – The Beatles 1965)

Tadi malam, saya di sapa seorang sahabat “Mana tulisan terbarunya?”

Saya, seperti biasa. Hanya cengar-cengir menjawabnya. Jadi ingat kalau ketemu beberapa client yang sudah bertahun-tahun jadi langganan. Semuanya pasti bertanya, “Mana portfolio barunya?”. Pun jawabannya sama, cengar-cengir saja.

Tadi malam saya menonton film The American. Bintang utamanya George Cloney dan seorang aktris wanita Italia yang rambut kemaluannya terlihat lucu. Dalam film itu, George walaupun mengaku fotografer seniman, ia adalah seorang yang mengerti jalannya mekanis dan menyukai mesin (ceritanya, si George adalah ahli senjata pembunuh khusus untuk penembak jitu). Teman George, seorang pendeta akhirnya pada suatu hari bilang, “Tangan kamu, tangan mekanik. Bukan tangan seniman”

Secara eksplisit sang pendeta berkata bahwa orang-orang yang dianugrahi kelebihan mekanis, adalah berkah ketika dibutuhkan untuk memperbaiki mesin, organ atau apapun yang berjalan secara mekanikal. Sementara tangan seniman, adalah implementatif sekaligus eksekutor terhadap kepekaan seseorang terhadap apa yang ia rasakan.

Habis menonton film itu, saya lihat tangan saya sendiri. Membuka semua jari-jari membentangkannya di hadapan muka. Dalam hati bertanya, ini tangan mekanis apa tangan seniman? Lah, gimana kalo saya tidak punya tangan? Bagaimana cara mendefiniskan kepekaan atau keahlian?

Saya lantas juga bertanya dalam hati, gimana yah kalau orang yang tangannya suka jawil-jawil iseng pantat orang lain tanpa tahu diri. Itu masuk kategori tangan apa?

Lebih lanjut lagi, saya bahkan bertanya tentang tangan-tangan orang yang suka menadahkan tangan. Apa pernah ada riset mengenai tipikal tangan orang yang suka meminta atau bahkan ada riset mengenai tangan manusia yang suka memberi? Apakah garis-garis pada telapak mereka mempunyai kemiripan? Apakah jari, kotoran kuku, pergelangan dan sebagainya milik tangan mereka punya semacam benang merah? Sebuah persamaan?

Waduh saya kebanyakan mikir.

Lebih baik konsentrasi ke jawaban pertanyaan teman saya. Kenapa saya tidak begitu banyak menulis lagi sekarang.

Iya, kenapa yah? Saya juga bingung?

Wah, jawab apa dong?

Tidak mungkin saya jawab, “Gua cuman mau menulis yang bagus-bagus aja”. Apa itu maksudnya? Absurd. Tidak mungkin saya memberikan jawaban absurd. Sebab saya terlalu malas untuk ditanya lebih lanjut dengan pertanyaan yang lebih mengerikan.

Tangan punya. Mata punya. Minimal dikit-dikit, bisa lah baca tulis. Tapi kok tidak ada tulisan baru. Itu pertanyaan sahabat saya yang baik.

Alih-alih menjawab, saya malah curhat. Halah. Biasa lah, ini trik saya cari alasan. Hehe.

Saya bilang sama dia kalau hidup saya sejak enam bulan ini seperti sirkus. Berusaha sekuat dan selihai mungkin terlihat senyum dihadapan lampu sorot dan penonton. Menunggu tepuk tangan demi keping-keping logam untuk sekedar bertahan hidup.

Ia mengerutkan kening, “Sirkus?”

Saya meralat, “Errg… Mungkin gulat kali yang lebih cocok”

“Gulat? Gulat ama siapa?”

“Ama nasib”

Ia semakin mengerutkan kening, “Apa hubungannya dengan menulis?”

“Di akhir hari, udah terlalu capek untuk menulis”

Kerut alisnya hilang, “Ini alesan?”

Saya senyum, menjawab “Iya” dengan hambar.

“Iya maksudnya apa? Alesannya? Apa capeknya? Atau nggak ada tulisannya”

Saya mengangguk menjawab, “Semuanya”

“Tau cerita Saiweng Shima Yanzhi Feifu?”

Saya yang tadinya lemas dengan bahu tertekuk ke bawah menatapnya penuh selidik, “Nggak. Apaan tuh, Sampeng Tahu? Makanan?”

“Saiweng Shima Yanzhi Feifu itu ungkapan dari China kuna. Sebuah idiom yang berangkat dari legenda”

“Emang lu orang Cina? Coba ngomong bahasa Cina? Penampakan lu aja kali Cina tapi paspor kita kan sama, burung garuda. Lu aja lebih indonesia daripada gua. Lu tuh apal pancasila dan UUD45, men. Gua mah boro-boro apal begituan”

“Lu cerewet amat sih, Rip. Mao gua ceritain ga?”

Saya diam. Mengangguk kalem dan mulai menyeruput sambil membuka telinga.

Begini ceritanya:

Selama Dinasti Han pada abad ketiga sebelum Masehi hidup seorang tua di perbatasan China bernama Sai Weng. Pada suatu hari ia kehilangan kudanya. Tetangganya semua mengasihani kesialannya, dan bersimpati dengan orang tua itu. Tapi Sai Weng mengatakan: “Mungkin kehilangan kuda bukan sebuah kesialan seperti yang kita sangka”

Pada hari berikutnya kuda orang tua itu kembali, bersama dengan kuda betina indah di sampingnya. Semua tetangga berseru: “Wah beruntung sekali kamu Sai Weng!” Tetapi orang tua itu menjawab: “Mungkin ini bukan sebuah keberuntungan baik seperti yang kita sangka”

Orang tua itu punya seorang anak muda yang cakap. Anak ini menyukai kuda betina baru dan mengendarainya setiap hari. Suatu hari kuda betina ini dikejutkan oleh binatang liar dan melemparkan anak itu dari punggungnya. Hingga kakinya patah sangat parah dan lumpuh permanen.

Semua tetangga Sai Weng mengatakan: “Oh benar-benar tragedi! Anak kamu tidak akan pernah berjalan tanpa rasa sakit lagi”. Tetapi orang tua itu lagi-lagi berkata: “Mungkin ini bukan hal yang buruk”

Dan begitu seterusnya ketika tahun baru datang, tentara kaisar melewati daerah mereka dan merekrut semua pemuda yang terlihat sehat agar ikut dalam perang di perbatasan kota. Karena anak orang tua itu lumpuh ia tidak bisa ikut perang dan ditinggalkan di desa untuk bertani dengan ayahnya. Sai Weng berkata kepada tetangganya: “Anda lihat, semuanya ternyata baik-baik saja pada akhirnya. Menjadi terlempar dari kuda dan patah kakinya menyelamatkan anak saya dari pertempuran dalam perang dan hampir mati. Jadi apa yang kita sangka tidak begitu manis di awal, belum tentu akan berakhir dengan pahit”

Maka katanya, setiap kali hal yang buruk terjadi di China, seseorang akan mengatakan “Sai Weng Shi Ma” (Ingat “Orang tua dengan kudanya yang hilang”) untuk mengingatkan diri sendiri dan orang lain bahwa ternyata hal-hal buruk terkadang memiliki lapisan baik yang belum tentu terlihat pada saat itu juga.

Ia menatap saya yang bengong mendengar ceritanya, “Lu kok bengong aja, Rip? Lu ngerti ga? Di Indonesia, barangkali namanya ‘habis gelap terbitlah terang’. Mirip judul buku ibu kita Kartini”

Saya garuk-garuk kepala, “Maap men. Gua ini pragmatis. Gua bener-bener nggak ngerti lah idiom-idioman. Jangankan dongeng rakyat China, dongengan emak gua aja kadang gua nggak ngerti”

Dia diam saja. Senyum. Kami menikmati teh malam itu. Melihat butir salju yang turun dengan derasnya di halaman belakang menimpa.

Dari radio terdengar band asal Inggris The Beatles menyanyikan lagu mereka yang berjudul We can Work it Out.

Kata mereka, “Hidup terlalu singkat untuk disia-siakan”

Saya meliriknya sebentar. Ia senyum sambil menyeruput teh panasnya.

This entry was posted in bangaip, sehari-hari and tagged , , , . Bookmark the permalink.

7 Responses to Hidup Apa Yang Sia-Sia?

  1. Pingback: Tweets that mention Hidup Apa Yang Sia-Sia? « bangaip.org -- Topsy.com

  2. Wijaya says:

    Mantap!!
    Inspiratif :)

  3. aRuL says:

    satu lagi tulisan yang menarik dan menggugah semangat hudip utk sia-sia.
    walau memang kadang kita terlihat pragmatis, tapi bukankah itu memang tujuan hidup kita, mencari keberuntungan keberuntungan untuk keberuntungan selanjutnya? 😀

  4. aRuL says:

    typo komentar : *hidup untuk tidak sia-sia

  5. jardeeq says:

    ya,,, hidup memang terlalu singkat untuk disia-siakan,,,

    tapi, apa definisi memaanfatkan kehidupan yang tepat….

    hura2x… atau bekerja dengan giat…

    kalau hasilnya hanya terlihat di akhir, mungkin jangan menyesal lebih tepat

  6. warm says:

    selalu begitu ya bang,
    pasti ada hikmah dibalik setiap peristwa,
    dan tampaknya memang harus belajar lebih banyak memaknai hidup dari abang,
    terimakasih
    :)

  7. edratna says:

    Hidup ini memang singkat
    Tahu-tahu sudah tahun 2011….

    Jadi kita mesti tahu arah tujuan kita…
    Jika kadang belok kanan kiri, tak apa-apa, tapi tujuannya harus tetap…ada arah yang jadi panduan.

Leave a Reply