Jadi Siswa, Belajar. Jadi Guru? Juga Belajar Dong!

Strategi mengajar setiap orang beda-beda. Maksud saya di sini, mengajar adalah mentransferkan sebuah bentuk informasi kepada orang lain. Orang yang biasa mengajar dalam keseharian katanya disebut sebagai guru.

Ini cerita waktu saya masih jadi guru. Bukan guru kehidupan. Hanya guru sekolah biasa. Jadi guru untuk cari nafkah. Supaya bisa makan hari ini. Dan saya sama sekali bukan guru semacam Gandhi atau Dalai Lama. Guru para manusia.

Saya sadar saya bukan guru yang baik. Kadang malah menyebalkan, dengan memberikan tugas untuk dikerjakan di rumah terlalu banyak.

Saya sadar sekali akan hal itu. Mahasiswa saya banyak yang mengeluh soal tugas. “Pak, kok bapak kejam sekali sih? Tugas kita banyak banget?”.

Dan saya jawab dengan tertawa terbahak-bahak macam Rahwana yang baru berhasil menculik Sinta.

Saya beri mereka tugas satu setiap hari. Kalau benar-benar dikerjakan, satu tugas bisa memakan waktu satu hingga dua jam. Kalau setiap hari diberi dan mereka lalai, akhir minggu mereka pasti penuh dengan asap rokok dan bergadang untuk mengerjakan tugas. Sebab setiap senin semua tugas dikumpul. (*Semoga bukan gara-gara saya paru-paru mahasiswa itu penuh dengan nikotin*)

Suatu hari, tanpa diduga-duga, serombongan mahasiswa saya datang menghampiri ke ruangan kerja. Protes. Salah seorang diantaranya, pakai rambut jambul dan berdandan a’la rocker tahun 50’an nampaknya hadir sebagai ketua. (*sumpah, dia pakai jaket kulit berpaku, kacamata hitam dan sepatu lancip mengkilat. Plus sisir kecil di saku belakang. Saya memang membebaskan mahasiswa memakai pakaian yang mereka suka kalau hendak menemui atau datang di kelas saya*)

– “Ada apaan rame-rame dateng? Mau nraktir saya makan apa mau ngajak jalan-jalan?”
+ (*dia bingung*) “Err, nggak Pak… Err… Begini Pak…”
– “Kalian ke sini rame-rame. Nggak ada orang barang sebiji pun yang ngajak saya senang-senang? Pemuda macam apa kalian? Jangankan Soekarno, Soe Hok Gie aja yang militan waktu masih mudanya hobi senang-senang. Kok kalian nggak?”
+ (*Dia tambah bingung. Menarik napas*) “Bukan gitu Pak. Tugas kebanyakan Pak. Susah tidur. Tiap malam begadang ngerjain tugas dari bapak. Belum lagi tugas dari Bu Nani”

(*Bu Nani itu juga salah seorang dosen di departemen kami yang juga hobi memberikan tugas*)

Saya lihat, matanya cekung. Letih. Si rocker 50’s ini kelihatannya jujur. Saya sebenarnya tidak tega. Saya ingin dia seperti anak muda lain. Mungkin di setiap malam pergi ke pantai bersama teman-teman, minum-minum sambil bakar ikan. Atau membeli es krim di siang yang panas sambil menggosip bintang idola televisi.

Tapi itu tidak mungkin saya lakukan. Sebab riskan dan berbahaya. Sebelum saya datang ke tempat mengajar ini, saya sempat sedikit survey demografi. Umumnya anak-anak muda seusia mereka ini sudah harus melakukan sesuatu, jika lulus atau tidak. Orangtua sudah keluar uang banyak untuk sekolah mereka. Ada yang jual ternak. Ada yang jual sawah. Bahkan sampai ada yang sampai hutang ke bank. Anak-anak ini, harapan keluarga mereka. Ketika saya menjenguk keluarga salah seorang mahasiswa, si ayah yang jadi buruh bengkel pabrik es bangga sekali mengenalkan saya hingga ke kepala kampung mereka. Sebab anaknya adalah pemuda kampung mereka satu-satunya yang menginjak sekolah tinggi. Ahhh…, anak-anak muda ini pun harapan daerah mereka. Berat sekali bebannya. Kalau tidak dibantu saat ini untuk belajar tegar, bahaya.

Di sisi lain, saya juga sempat khawatir akan kedisiplinan yang saya tanamkan. Bisa jadi, mungkin tidak cocok dengan budaya mereka.

“Jadi maunya kamu apaan?” Tanya saya santai sambil menyeruput es teh manis.

Mereka cengar-cengir. “Butuh hiburan, Pak?”

“Kamu mau menghibur saya? Wah hebat”

“Bukan Pak, bukan kita. Bapak lah yang jadi penghiburnya”

“Kamu mau saya pakai bikini di kelas pas waktu saya ngajar? Boleh, kalau perlu saya pakai g-string kayak si Nina” (*Ada mahasiswi saya, bukan WNI, pakai g-string dikombinasikan jeans pinggul rendah. Alamak, kalau jongkok, tatto di bagian atas bokongnya itu terlihat cuma dihalangi oleh sebaris lintas benang*)

Mereka serempak teriak ‘Whuuuu…’. Saya cengar-cengir.

“Trus apa dong? Kamu mau saya pakai seragam badut di depan kelas?”

Mereka senyum-senyum. Satu orang di belakang bilang bahwa itu ide bagus. Kampret! Memangnya saya cowok apaan?

“Ya udah. Bubar.., bubar. Tokonya mau buka. Nanti saya pikirin. Saya susah mikir nih kalau kalian segerombolan ada di sini. E-eh… Itu kacang di toples pojok kok abis? Siapa ini diam-diam kau curi kacang. Wah kacau nih. Ayo bubar… Bubar graaak”

Mereka keluar dari ruangan sambil tertawa-tawa.

Saya melamun.

Seharian itu saya terus berfikir. Sampai tidak konsentrasi makan siang. Pulang kerja, saya biasanya ke pantai melihat matahari terbenam. Di sana saya akan berfikir, bagaimana agar mahasiswa saya betah di kelas. Bisa konsentrasi dalam transfer ilmu yang kami lakukan sehari-hari. Tidak bosan dan lalu putus sekolah. Saya sadar saya tidak pernah sekolah jadi guru. Apa yang harus saya lakukan agar jadi ‘guru beneran’, yang mampu menghibur siswa? Apa yang harus saya perbuat agar mereka betah di kelas dan konsentrasi belajar?

Di titik ini saya sempat menyalahkan diri sendiri. Saya tidak pernah sekolah khusus jadi guru, kok iya mau-maunya saja begitu ditawari kerja lalu jadi guru. Saya tidak pernah dapat pendidikan keguruan, kok iya dengan santainya menuruti nasihat Ibu mengikuti jejaknya sebagai guru. Di titik ini, saya pikir saya adalah cowok murahan. Tapi yaah semurah apapun saya mengukur harga diri saya saat ini, tetap saja tidak akan membereskan masalah yang sedang terjadi.

Apa yang harus saya lakukan untuk membantu siswa saya?

Saya bingung. Maka saya putuskan sore itu ke pantai yang tidak jauh dari lokasi sekolah mengajar. Saya duduk di sana. Sendirian.

Saya selalu suka senja, sebagaimana ketua Mao dalam dalam sakaratul maut membisikkan kalimat ‘senja semakin merah, siapa yang akan menjaganya?’. Sore itu saya berbisik lirih sendiri di atas butir pasir dan deru ombak. Ahh murid-murid saya sudah semakin dewasa, siapa yang akan menjaganya?

Matahari terbenam di atas laut senja yang membara. Saya tidak dapat hasil apa-apa kecuali entah kenapa, saya merasa bahagia.

Besok paginya, ketika saya baru saja memarkir motor butut yang setiap hari saya pakai untuk mengajar dan mengojek, itu anak-anak sudah bergerombol di Pos Satpam. Waduh, pagi-pagi belum sarapan yang jadi kewajiban saya, sudah dituntut kewajiban lain. Hahaha.

Tapi bukan bangaip namanya kalau tidak licik. Hehe. Tentu saja saya harus bisa mencari cara untuk menghibur mereka tanpa harus merendahkan diri apalagi lari dari sarapan pagi yang berupa lontong sayur plus kerupuk sambal yang dahsyatnya minta ampun itu.

Saya menemukan cara. Di depan satpam dan bocah-bocah itu, saya bilang bahwa saya tahu cara hiburan yang edukatif. Sesi hiburan tetap kami lakukan tapi tidak lupa belajar. Jadi pada intinya, belajar sambil bermain atau bermain sambil belajar. Silahkan pilih, yang penting senang.

Saya menyarankan pada mereka:

  1. Membuka klub film. Yaitu kampus memfasilitasi ruangan agar mahasiswa bisa menonton film bagus di ruang kampus yang ber AC secara reguler. Mahasiswa yang mencari film(*Haha, saya ikutan nonton*)
  2. Dosen sehari. Yaitu dimana para mahasiswa secara bergilir memiliki satu jam kuliah untuk memberi tahu teman-temannya sekelas mengenai kegemaran atau kehidupan yang ia miliki. (*Ini seru. Saya ikutan jadi mahasiswa. Menyimak kuliah yang mereka berikan*)
  3. The battle of Pasar. Mahasiswa membuat sesuatu yang menarik dari ide kreatif mereka lalu kemudian di pamerkan di pasar-pasar tradisional. Karya yang paling menarik dan paling banyak direspons oleh pedagang maupun pengunjung pasar, dapat hadiah. (*Biasanya hadiahnya buku atau cinderamata sederhana yang sering saya kumpulkan kalau sedang berlibur atau kunjungan luar. Tapi namanya itu anak-anak mahasiswa mah senangnya minta ampun. Dikasih coklat saja sudah bahagia. Haha*)
  4. Sebagaimana imbalan, tentu saja ada hukuman. Bagi yang tidak mengerjakan tugas diminta untuk memilih atau membuat sendiri hukumannya apabila tidak mengerjakan tugas. Kalau teman-teman sekelasnya keberatan atas rasa keadilan apabila ia memilih hukuman, maka teman-temannya lah yang akan mencarikan hukuman yang pas untuk di tidak mengerjakan tugas. Mereka belajar menentukan sistem demokrasi sendiri

Mulanya mereka saling berpandangan. Kebingungan. Lantas bertanya detail. Biasalah, tipikal mahasiswa memang begitu. Tapi sisanya yang kelihatannya sudah mengerti, langsung teriak “Horee!!”

Sebagaimana hidup yang dinamis, tentu saja semua program kami di atas mengalami tantangan dan dukungan. Ada yang bisa terlaksana, ada yang tidak. Ada yang kena kendala teknis jadi terhalang ada pula yang hanya spontan lalu bisa jalan.

Apapun yang terjadi, pada saat itu kami memang mengalami masa-masa yang menyenangkan bersama.

Hingga detik ini, saya tidak tahu apa itu definisi guru yang baik. Yang lebih parah lagi, saya bahkan masih belum tahu metode belajar mengajar yang tepat jitu. Saya bukan orang yang banyak tahu.

Yang saya tahu cuma satu; yaitu ketika saya bersama para siswa, kami saling belajar untuk sama-sama bahagia.

This entry was posted in bangaip, cerita_kerja, sehari-hari and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

11 Responses to Jadi Siswa, Belajar. Jadi Guru? Juga Belajar Dong!

  1. Kimi says:

    Jadi pengen jadi muridnya Bangaip. šŸ˜€

  2. Pingback: Tweets that mention Jadi Siswa, Belajar. Jadi Guru? Juga Belajar Dong! Ā« bangaip.org -- Topsy.com

  3. aRuL says:

    wah bang aip sebenarnya udah jadi guru kehidupan :) metode2 yang fresh dan tak monoton sekedar memberikan ilmu dan mengerti juga bagaimana cara mahasiswa memahami pelajaran itu yg perlu dipelajari bang…
    salut atas usahanya bang… patut dicontoh :)

  4. Wijaya says:

    seperti biasa…tulisan yg cerdas :)

  5. jujur dulu waktu jadi muridnya bangaip, matakuliah dosen ini yang paling saya tunggu2. ngajarnya seru, wawasan nya luas, dan topiknya gak melulu yang itu-itu aja. untuk tugas justru saya semangat banget dulu ngerjainya, biasa..ngarep pujian sekaligus jadi ajang pamer skill.hehe

  6. yagam1 says:

    saya senang bisa datang ke blog anda sambil baca baca , kalo saya copas boleh ya ?? ixixixiixix

  7. jardeeq says:

    selalu belajar….

    dimanapun dan kapanpun

  8. warm says:

    bang Aip,
    sekali lagi makasih,
    sampeyan itu guru yang keren,
    sungguh
    :)

  9. edratna says:

    Hahaha…itu betul..guru dan murid harus sama-sama bahagia…
    Bagaimana cara transfer ilmu, yang penting bisa diserap…..pengajaran dan suasana yang menarik akan memudahkan murid….dan mereka akan senang jika dilibatkan.

    Jadi ingat mengajar di ujung Indonesia….
    Jika sudah siang, mata mengantuk…terpaksa diulang-ulang…Akhirnya….bagaimana kalau kita menyanyi…langsung deh mereka bersorak sorai.
    Apa boleh buat, pelatihan 40 sesi, selalu diiringi nyanyian, juga kotekan (bangku dipukul-pukul sesuai irama lagu). Yang penting sasaran tercapai, dan murid senang.

  10. nDaru says:

    jadi guru juga musti kreatip ya tyata

  11. Cerita nyata yang bagus sekali mas,
    saya baru tahu tentang keinginan siswa
    dan kita sebagai guru harus menjadi sahabat dan juga kakak dari siswa

Leave a Reply