Ganteng Itu Menular

Setiap orang punya ‘style’. Gaya yang kelihatannya unik dan dimiliki oleh masing-masing. Bisa gaya makan, gaya berjalan, gaya tidur, gaya bicara atau gaya di WC. Wajar saja. Bukankah setiap manusia berbeda. Maka adalah sebuah hal yang jamak ketika gaya mereka pun berbeda.

Dulu adik saya perempuan satu-satunya si Uul, waktu masih bujang kalau beli baju maunya yang bermerk. Ibu saya kalau menemani belanja ke pasar sempat mengurut dada berbisik, “Dia mah suka lupa kalo emaknya orang susah”

Saya yang mendengar cengar-cengir menjawab, “Biar aja lah, Bu. Biar miskin kan nyang penting gaya”

Ibu biasanya malas berdiskusi lebih lanjut kalau saya sudah cekikikan begitu. Tapi lah beliau mau bilang apa mengenai gaya saya? Baju yang saya pakai biasanya baju si Ami adik saya yang tinggal di Jogja. Sementara celana, biasanya punya si Gugun, adik saya yang satunya lagi. Jadi gaya berpakaian saya jelas sudah, yaitu ‘gaya pinjaman’. Ini style berpakaian satu-satunya yang saya miliki. Saya tidak pernah beli baju apalagi celana baru. Semua baju atau celana yang menempel di tubuh saya biasanya pemberian Ibu ketika lebaran tiba. Sementara kan tidak mungkin saya kemana-mana pakai sarung dan baju koko saja.

Gaya berpakaian saya makin parah ketika sudah mulai masuk sekolah di Depok dulu. Saya datang ke Jakarta hanya dengan membawa kaus tiga buah dan celana satu. Sesampainya di Depok terpaksa harus beli lagi, satu kemeja putih lengan panjang dan celana panjang katun hitam. Dua benda terakhir disebut, terpakai hanya satu kali ketika masa penataran P4 tiba. Dan ketika masa menyebalkan itu berakhir, saya sadar bahwa saya hanya akan mencoba hidup dalam dunia yang memakai kaus dan celana jeans saja.

Tetapi sesadar-sadarnya saya, tetap tidak bisa memungkiri kalau celana saya hanya satu dengan kaus tiga. Jadi ‘gaya pinjaman’ tentu saja masih berlangsung. Untunglah sahabat-sahabat saya satu rumah kost orang baik. Saya sering dipinjami pakaian. Entah itu kaus, kemeja, celana panjang bahkan hingga sarung. Sebelum meminjamkan biasanya mereka bilang, “Sono mandi dulu biar bersihan dikit”

(*Hingga kini saya masih tidak tahu, apakah mereka meminjamkan pakaian karena ikhlas atau karena terganggu dengan bau badan saya yang berhari-hari tidak mandi dan tidak ganti baju? Hahaha*)

Suatu hari rumah kost kami kedatangan tamu. Kakak kelas. Wah hebat dia. Pujaan. Ganteng. Keren. Banyak cerita pengalaman-pengalamannya. Ramah pula. Pokoknya, idola deh.

Kami senang kalau kedatangan dia. Beliau ini suka mentraktir soalnya. Kalau ada beliau, kami jarang lapar. Padahal semenjak jadi anak kost, lapar seakan sudah menjadi nama tengah kami.

Kalau ada Bob si kakak kelas, kami suka lebih banyak mandi dan bersolek. Maklum, gadis-gadis dari rumah kost sebelah atau adik-adik kelas suka datang menyambanginya. Lumayanlah, siapa tahu kecepretan keren. Sebab pernah ada pepatah di rumah kost kami, ‘ganteng itu menular’.

Entah siapa yang punya teori. Sebab begini penjelasan pepatah itu; “Kalo lo ganteng trus keren pula dan cool, pasti banyak cewek yang mao sama lo. Sementara, ga mungkin dong lu ngeladenin semua cewek. Bisa jadi karena terlalu banyak, jadi lo akan terlalu sibuk. Bisa jadi karena ada beberapa cewek yang bukan selera lo. Bisa jadi hal lainnya. Yang pasti, ga semua cewek bisa lo gebet. Ini seleksi alam namanya. Yang paling cocok yang kepilih. Nah diantara yang nggak kepilih, pasti ada yang mundur perlahan. Atau ada yang patah hati. Atau ada yang bales dendam. Tapi, ada juga yang masih berharap bahwa suatu hari ia akan kepilih. Nah dia pasti akan tetep nongkrong ama si cowok keren. Sementara, gimana caranya dia nongkrong ama si cowok keren padahal dia udah ditolak? Nah cewek kan banyak triknya. Supaya nggak keliatan dia lagi ngarep, maka dia akan ngedeketin lo deh sebagai temen si cowok keren. Kalo suatu hari dia dilirik ama si cowok keren, yaa itu namanya pucuk dicinta ulam tiba. Tapi kalo nggak kelirik, kan lumayan dia ada maenan. Nah, maenannya itu yaa elo. Kalo lo kepilih jadi maenan, yaa bermainlah sepuas-puasnya”

Jadi pada intinya, sebenarnya ganteng itu tidak menular. Dan teori ini amat seksis. Namun karena situasi teramat menyedihkan dan butuh win-win solution. Maka diciptakanlah pepatah ini.

Ganteng itu menular. Begitu terus saya ucapkan dalam hati ketika mandi dan ganti baju pinjaman. Siapa tahu ada seorang gadis pemuja Bob yang melenceng matanya ke arah saya dan bisa melihat betapa sumringahnya senyum saya. Doa saya waktu itu cuma satu; Yaa Yang Maha Keren, ijinkanlah daku sejenak hari ini dilirik ama sepasang mata wanita.

Malam hari kedatangan Bob, jelas ada pesta. Ada minuman es sirup buah-buahan. Ada makanan roti bakar keju yang atasnya ditaburi susu kental manis. Ini luar biasa. Makanan sehari-hari kami di rumah kost ya kalau tidak mie instan campur nasi putih, maka nasi putih campur mie instan. Dessert-nya… Buku dan tugas sekolah hari esok. Maka kalau ada Bob, artinya ada surga walau sesaat.

Bukan hanya makanan mewah yang tidak kami jumpai sehari-hari kalau Bob hadir hari itu, tapi juga sesuai dengan bisik-bisik sebelumnya. Ada dua puluh lebih gadis-gadis muda ikutan datang berpesta. Cihuiii…

Dan sibuklah saya dan teman-teman sambil mengunyah makanan menebar pesona. Sehebat-hebatnya Bob melayani gadis-gadis, paling banyak lima yang bisa ia kuasai di malam itu. Sisanya? Ahh, sisanya tentu saja jatah kami. Hehehe.

Maka teori ganteng itu menular pun diimplementasikan pada pesta. Sukses? Hmhh entah apa ukuran sukses, yang pasti saya bahagia dapat dua nomor telepon. Yang akan menjadikan akhir minggu ini sebagai cowok kabel. Cowok yang nongkrong di telpon umum merayu gadis yang baru dikenalnya. Yayat dan Toni malah dapat tiga nomor telpon. Eh lebih gila lagi, si Heru, katanya sempat dicium pipinya oleh seorang gadis yang pamit pulang. Wah, ganteng itu benar-benar menular rupanya.

Saya dan teman-teman kost bahagia. Oke, walaupun ada beberapa orang yang tidak dapat nomor telepon gadis, namun yang pasti sudah kenyang makan makanan enak di malam itu.

Bob tiga hari di rumah kost kami untuk menginap. Berbagi wejangan, berbagi cerita dan berbagi makanan kaleng yang datang dari tasnya. Lalu setelah itu, sebagaimana ia datang, ia pergi lagi dengan tas buntalan besarnya. Entah kemana, kami tidak tahu. Dengar-dengar, memang begitu hidupnya. Seorang pengelana. Terus berjalan dan terus bepergian. Pantas saja gadis-gadis tergila-gila kepadanya. Ia seorang avonturier.

Minggu depannya, saya Yayat, Toni dan Heru duduk di kantin sekolah. Sudah hampir sore. Entah kenapa, masing-masing kami tidak begitu banyak bicara. Saya ajak mereka main bola, namun semua orang tetap tidak banyak bicara.

Saya pikir, pasti ada apa-apa. Tapi ada apa?

“Lo pada kok diem aja, kena sakit gagu yee?”

Setelah diam cukup lama tidak ada yang menjawab. Heru menatap saya seakan mau menangis, “Sebentar lagi semester baru, Rip. Gua stress, uang bayaran ilang”

“Hah! Yang bener luh? Emang lo simpen dimana? Udah dicari belom?”

“Udah gua cari kemana-mana. Ke kamar anak-anak semuanya juga udah?”

“Ke kamar anak-anak? Lah kok anak-anak nggak bilang ama gua? Jangan-jangan lo juga nyari ke kamar gua?”

“Di kamar lo nggak ada apa-apa, cuman triplek selembar yang lo jadiin ranjang. Apa yang mao gua cari? Yang pasti udah gua cari deh. Gue stress men. Duit dari mana nyari ganti tiga ratus ribu buat bayaran?”

“Waduh kok bisa begitu?”

Toni menyela, “Cukuran elektrik gua juga ilang, men. Hadiah dari om gua tuh yang di Amerika. Sebel banget gua”

Yayat mengangguk, “Kaos-kaos gua juga ilang. Gila itu kaos surfing. Orisinil. Gua nabung mati-matian buat beli kaos itu”

Saya pucat. “Wah lo pada kok nggak bilang-bilang ama gua men? Kalian pikir gua malingnya?”

Yayat dan Toni menatap saya, “Udah men, nggak usah ngerasa bersalah. Kita tahu elo bukan maling. Walaopun lo hobi minjem pakean orang laen, tapi lo ngomong dulu. Lu bukan maling. Lagian Heru bener. Lu kan nggak punya apa-apa. Harta lo satu-satunya paling cuman dua nomor telepon gadis di kertas kucel”

Saya bengong. Pertama berfikir, sudah semiskin itu kah saya? Tapi pikiran ini lantas saya tepis. Pikiran lain yang muncul adalah, siapa yang setega itu menyikat barang-barang sahabat-sahabat saya?

Kami duduk termangu di kantin sekolah selama hampir dua jam lebih. Hari semakin beranjak sore. Heru masih merenggut-renggut rambut di kepalanya. Seakan dengan begitu semua masalah akan hilang.

Dan ketika hari sudah beranjak sore, sesosok bayangan masuk ke dalam kantin. Duduk di samping kami sambil berkata, “Hoi apakabar?”

Saya senyum. Itu Bob datang. Saya senang melihatnya. Ia terlihat sehat. Pasti kami akan ditraktir seperti biasanya. Tapi… Ahh tapi saya lalu garuk-garuk kepala. Kebingungan.

Yayat melongo. Toni dan Heru pun ikut melongo.

Sebab Bob memakai kaus surfing seperti yang dimiliki oleh Yayat. Dan dari resleting tas atasnya yang setengah terbuka, menyembul sebuah alat cukur elektrik dengan stiker bertuliskan Toni.

Apapun yang akan terjadi, saya belajar satu hal baru petang itu; ternyata untuk beberapa gaya, seseorang pasti butuh biaya. Yang jadi pertanyaan, siapa yang akan membayarnya?

*Omong-omong, bagaimana ‘syle’ hidup Anda?*

This entry was posted in bangaip, sehari-hari and tagged , . Bookmark the permalink.

10 Responses to Ganteng Itu Menular

  1. jardeeq says:

    cara membiayainya???

    halah,,, kan ada ungkapan cari yang haram aja susah apalagi cari yang halal…

    bukan begitu???

    bukan ya!!!

  2. itikkecil says:

    soal gaya ini saya termasuk orang yang sebal kalau ada orang yang sok bergaya padahal sebenarnya tak punya apa-apa dan bahkan rela menipu orang lain.
    Apa salahnya jadi diri sendiri?

    Dan kalau saya pribadi sih tidak terlalu memaksakan diri kalau sedang tak punya uang. dan juga tidak sudi pake barang kw sekian itu bang. biar miskin yang penting jujur 😀

  3. adipati kademangan says:

    pokoknya saya minta dibelikan baju dari sono, kalau pas mampir ke Endonesah. itu gaya saya.

  4. edratna says:

    Jangan-jangan Bob ini kleptomani…soalnya kalau dia mencuri, kan barangnya tak diperlihatkan pada orang yang dicurinya. Atau dia ada “kelainan yang lain?” Soalnya kalau kleptomani, kan hanya senang barang, tapi nggak dipakai..kebetulan ada teman satu asrama, yang kleptomani..akhirnya terpaksa dikeluarkan.

    Padahal..anaknya cantiiik banget, dan ramah…karena barang2 hilang, saat anak-anak kuliah, para senior yang sudah tak kuliah, karena mengerjakan thesis, operasi dari lemari ke lemari…menemukan barang-barang tertata dengan rapih di tempat cewek yang di duga kleptomani tadi. Dan saat ditanya, dia hanya bingung, tapi tak ada wajah berdosa, malah terlihat tak ingat apa yang pernah dilakukannya. Nahh lho!! Apa boleh buat, dia diminta keluar dengan baik-baik dari asrama putri.

  5. dary says:

    asik juga cerita na, saya suka banget gaya kamu menceritakannya top deh

  6. mas stein says:

    konon kontrol terbaik itu ada di keluarga, kalo dalam cerita sampeyan ini mungkin lingkungan teman-teman deket. kadang orang tua, kerabat, bangga liat seseorang kaya raya, rumah gedong, mobil dua, dermawan, gampang keluar duit berjuta-juta, padahal (misalnya) dia cuma pegawe negeri. pada ndak mikir kira-kira dapet duitnya gimana, yang penting ketularan seneng.

    pada ndak nyadar juga bahwa kadangkala yang dipake buat bergaya, duit yang dibagi-bagi itu secara ndak langsung punya mereka-mereka juga.

    maap kalo penafsirannya sok tau. tulisan yang bagus bang, mengalir seperti biasanya

  7. Domba Garut says:

    Gaya hidup. yang dibawa sampai besar memang mengakar pada nilai dan tatanan yang diajarkan oleh orang tua (keluarga).. dan pendidikan serta pergaulan dimana si empunya diri kemudian terus merambat didalamnya.. terlepas dari tempaan masa kecil, tidak sedikit dari mereka yang kemudian ‘memaksakan’ diri untuk tetep ‘exist’ berbanding lurus dengan ‘gaya’ berprinsip kuat ‘gimana entar’ dalam hal pembiayaannya ketimbang dibalik” “Entar gimana?”

    Seneng udh bisa mampir kesini lagi.. salam hangat dari Iraq.. Ya, Iraq yang masih meledak-ledak itu :-p

  8. Mr. Hasan says:

    Butuh pinjaman pribadi dari perusahaan yang dapat diandalkan pinjaman, Persetujuan Instan, Tidak ada jaminan, Low tarif, maka perusahaan pinjaman Hasan adalah tempat yang tepat, kami menyediakan semua jenis pinjaman sebesar 2%. Jika Anda tertarik, Anda dapat menghubungi kami melalui email di: hasanloancompany@gmail.com
    salam,
    Pak Hasan Malek

  9. Mrs. Victoria says:

    halo
    Aku Victoria Sanchez dari victoria perusahaan pinjaman sanchez, kami adalah perusahaan yang terdaftar, meminjamkan uang kepada orang-orang yang membutuhkan bantuan keuangan mendesak, dan mereka yang telah ditolak kredit dari bank karena skor rendah kredit, pinjaman usaha, pinjaman pendidikan, kredit mobil , pinjaman rumah, pinjaman perusahaan dan banyak lagi, atau Anda ingin membayar utang atau biaya, atau sebelumnya Anda telah scammed oleh pemberi pinjaman uang palsu? Selamat Anda sekarang berada di tempat yang tepat, perusahaan victoria sanchez pinjaman yang handal, yang menyediakan pinjaman dengan tingkat bunga yang sangat rendah dari 2%, kami datang untuk mengakhiri semua masalah. kita menggunakan media ini untuk memberitahu Anda bahwa kami memberikan bantuan rahasia dan akan bersedia untuk menawarkan pinjaman. Jadi hubungi kami hari ini via email di: victoriasanchezloanfirm@gmail.com.
    banyak cinta
    Ibu Victoria Sanchez

Leave a Reply