Manusia Yang Menyebalkan

Saya tidak punya akses internet sejak lama, maklum baru pindah rumah. Tanpa internet hidup jadi lebih susah tapi bahkan juga lebih mudah. Tergantung situasi dan sudut pandangnya saja sih.

Untuk orang seperti saya yang menggantungkan cari nafkah melalui internet, situasi ini boleh dibilang menyebalkan. Serba susah.

Susahnya kalau mau bayar ini itu jadi repot. Akhirnya bisa di duga, tagihan menumpuk. Aduh. Beberapa kali saya sampai ditelpon oleh orang/perusahaan yang harus saya bayar hutangnya. Ada tagihan kontrak rumah, tagihan listrik dan tagihan bla-bla-bla lainnya. Kok yaa hidup jadi seperti dikejar-kejar. Yang menyedihkan, dikejar hutang pula. Alamak. Mau tidak mau harus menguatkan badan yang sedang lemah ini beranjak ke bank untuk membereskan tagihan.

Enaknya tanpa internet, saya bisa jadi lebih banyak istirahat. Maklum kondisi kesehatan yang memburuk sejak satu setengah bulan terakhir ini memang mengharuskan saya banyak istirahat. Saya bisa tidur non-stop jam sembilan malam dan lalu bangun esok paginya pukul enam pagi.

Saya pikir, dengan adanya internet saya tidak akan mampu tidur sepanjang malam seperti ini. Bukan karena sambungan internetnya, tapi lebih ke arah psikologis kejiwaan di mana saya butuh informasi terkini dengan cepat (*Iya, ini buruk. Saya kecanduan. Kecanduan informasi terkini*). Walaupun badan butuh istirahat, tapi kalau keinginan sudah memuncak untuk mengecek email atau mempublikasikan tulisan di blog, mau tidak mau yaa kadang tangan jadi nakal untuk login.

Efeknya?

Wah efek hidup tanpa internet banyak rupanya. Selain tidak punya koneksi internet, saya pula tidak punya televisi, radio maupun saluran komunikasi lainnya kecuali telepon genggam yang dipakai pada saat darurat saja. Ternyata semua itu berakibat banyak. Tapi efek yang paling terasa adalah, kalau saya mengobrol dengan rekan ataupun sahabat saya lebih banyak membuka mulut. Melongo. Haha. Mirip manusia purbakala dari goa batu tiba-tiba terlempar ke masa kini. Benar-benar ketinggalan berita.

Saya tidak tahu kalau di Mesir, Yaman dan Bahrain ada pergolakan panas menyusul Revolusi Tunisia. Saya tidak tahu kalau ada heboh di blogsphere Indonesia tentang sinetron yang sama sekali tidak pernah saya dengar sebelumnya. Saya tidak tahu… Saya benar-benar tidak tahu.

Yang saya tahu, saya terbaring di tempat tidur. Dengan badan yang luar biasa letih. Makan. Bangun. Ke toilet. Minum obat. Dan lalu hingga 14-15 jam setelahnya.

Untung saja sejak beberapa hari lalu badan saya sudah lebih baik dan tidak bermasalah lagi. maka mulailah saya beraktivitas kembali.

Suatu hari di bis kota saya bertemu teman lama dan lalu ditanya apa kabar update terbarunya. Kok tidak ada berita tanya beliau. Saya jawab apa adanya. Sibuk ini, sibuk itu. Sakit ini, sakit itu. Pokoknya macam-macam lah.

Habis cerita, saya tertawa. Dia heran malah tambah bertanya, “Kenapa ketawa?”

Saya jawab saya tertawa karena senang bisa cerita semua itu. Memang semuanya belum berlalu, tapi setidaknya, saya sudah bisa cerita dan ia mendengarkan. Dan itu membuat saya senang.

Dia kebingungan. Biarlah.

Di akhir pertemuan, ia menjabat erat tangan saya. Ia bertanya, “Kalau sudah selesai semua masalah kamu, sudah siap kembali menghadapi dunia ini?”

Saya tidak menjawab. Pertanyaan yang aneh. Rasa senang saya terusik.

Bagaimana caranya menyelesaikan masalah? Setahu saya, tidak ada solusi jitu menyelesaikan masalah. Masalah A selesai, maka masalah B akan muncul. Lalu ketika suatu saat agak reda, maka di hari kemudian masalah C akan timbul. Masalah itu tidak akan selesai. Selama manusia ada, ia akan tetap ada.

Terlalu filosofis jawaban saya?

Oh sori. Kalau begitu mari kita implementasikan jawaban abstrak ini ke dalam peristiwa nyata. Begini; saya punya telpon genggam yang suatu ketika sistem operasinya rusak. Dengan bingungnya, saya setengah mati cari cara untuk memperbaiki. Di sini, ada suatu titik yang dimana kita semua setuju, bahwa ‘saya punya masalah dengan telepon genggam’.

Setelah instal kanan kiri, akhirnya ketemu solusi telepon genggam yang saya miliki. Saya pun senang kembali.

Tapi apa lantas masalah saya tuntas? Tentu saja tidak. Selama saya masih memiliki telepon genggam, maka masih akan sangat terbuka kemungkinan telepon saya itu pada suatu hari akan rusak.

Loh kalau begitu, buang saja telponnya. Bukankah masalah akan selesai?

Hei, kata siapa. Kalau saya buang lalu bagaimana orang akan menghubungi saya? Kalau saya buang, siapa yang akan menggantikan dengan telpon baru? Kalau saya buang, siapa yang akan bayari tagihan bulanan?

Di titik ini (walaupun amat bisa diperdebatan) nampaknya ada sedikit gambaran. Yaitu; jika saya buang telpon genggam, saya akan lebih banyak punya masalah.

Oke, sudah jelas sampai di sini? Kalau sudah, mari kita balik ke pertanyaan teman soal hidup itu.

Saya pikir pertanyaannya terlalu filosofis retoris. “Kalau sudah selesai masalah, akan hidup lagi?”

Pertanyaan apa itu? Saya curiga dengan segala syak wasangka yang saya miliki bahwa itu adalah pertanyaan snob yang dilontarkan tanpa perlu jawaban. Padahal saya sama sekali tidak butuh pertanyaan filosofis. Saya tidak butuh pertanyaan retoris. Setelah satu setengah bulan sakit terisolasi dari publik dan hidup terasing sendiri, saya tidak butuh semua pertanyaan itu. Saya tidak butuh pertanyaan dan pernyataan seperti; ‘Diinstal ulang susah? Kalau gitu buang dan ganti saja hidup kamu’.

Aneh. Saya kan bukan telepon genggam. Apabila hang bisa di-restart. Atau kalau kena virus dan lalu amat menyebalkan, bisa diganti sistemnya. Lah kalau manusia? Memang semudah itu?

Pada intinya, seharian setelah bertemu teman lama itu saya berlaku uring-uringan. Padahal tidak perlu. Tapi, mood saya memang amat mengijinkan untuk senewen. Cuaca buruk di luar bahkan seakan memberi saya peluang untuk ikut menyalahkan hujan yang turun seakan tiada berhenti.

Besoknya di pabrik saya curhat pada Mbak Ita. Semua saya ceritakan dari A hingga Z pertemuan saya dengan teman lama dan kejadian setelahnya.

Mbak Ita hanya menatap saya termangu ketika saya bilang, “Masa sih dia nanya begitu sama saya? Emangnya dia nggak mikir apa sebelum nanya?”

Mbak Ita menyahut pelan, bahkan bisa dibilang lirih. Ia bilang, “Pertanyaan kamu terlalu filosofis. Mungkin… Retoris”

Saya diam dalam ketakutan. Jangan-jangan.., saya latah terobsesi hingga ketularan jadi orang yang menyebalkan.

Eh definisi menyebalkan itu apa sih? Jangan-jangan, selama ini saya tidak sadar bahwa saya sudah jadi sedemikian menyebalkan.

This entry was posted in bangaip, sehari-hari and tagged , , . Bookmark the permalink.

5 Responses to Manusia Yang Menyebalkan

  1. itikkecil says:

    pantesan bang aip tidak kelihatan. sakit rupanya…
    err.. soal definisi menyebalkan, mari kita kembali ke kamus bang πŸ˜€
    kalau berdasarkan kamus menyebalkan sama dengan mengesalkan hati dan bukankah itu adalah sesuatu yang relatif?
    dan IMHO, bang aip tidak menyebalkan, tapi tidak tahu kalau menurut orang lain πŸ˜€

  2. aRuL says:

    sudah sehat kan bang?

    kapan2 pengen ketemu bang aip di bus kota πŸ˜€ hehe

  3. nita says:

    sakit apa, bang aip???
    semoga gak ada yang serius ya…
    cepat sembuh en nulis blog lagi.
    salam…

  4. sondang says:

    Jadi, lebih milih mana: Sakit saja tanpa perlu menghadapi banyak masalah ‘ di luar sana ‘ atau sembuh, lalu siap dihadang masalah? Hehehe… Selamat bertempur.

  5. Amd says:

    Ignorance is bliss, kadang-kadang, Bang…

Leave a Reply