Perbuatan Tercela (Balada Tomi Sang Polisi)

Akibat dulu sempat tinggal di kompleks perumahan polisi dan beberapa anggota keluarga bekerja di kepolisian RI, stok cerita saya soal polisi Indonesia yaa cukup banyak. Mulai dari yang heroik dalam menjalankan tugas hingga yang aneh-aneh bahkan sampai ke yang memalukan.

Anehnya, diantara sekian banyak cerita hanya yang heroik dan yang memalukan saja yang tetap membekas di otak saya hingga saat ini. Hehe, entah kenapa.

Sampai saat ini para pelaku di kejadian heroik masih teringat. Saya dan teman-teman masih hormat dengan mereka. Ada yang pincang karena kakinya ditembus peluru ketika menggagalkan perampokan. Ada yang mukanya penuh luka-luka bekas bacokan sebab tetap tegar menghadapi massa ketika harus berjuang membela minoritas. Polisi-polisi ini sudah tidak muda lagi. Ada yang sudah tidak dinas karena kondisi tubuh. Ada pula yang masih dinas namun sudah tidak di lapangan lagi. Tapi kalau nongkrong bareng, mereka selalu dapat tempat duduk bangku dan dapat gelas bersih. Tanda hormat.

Tapi… Tapiiii… Haha, tentu saja ada tapinya. Para polisi heroik ini tidak banyak. Jika ada, ia akan lalu jadi legenda. Dan ketika ia jadi legenda, posisinya tinggi nun jauh di langit sana. Jadi mitos. Jadi panutan, bagaimana polisi muda harus bersikap. Gagah berani meski dihantam gaji kecil dan kebutuhan sehari-hari yang makin tinggi.

Para polisi gagah berani itu, bukan teman pergaulan saya sehari-hari. Iya saya kenal, tapi tidak dekat.

Jadi jangan salahkan saya kalau teman-teman saya adalah para polisi yang …err.., begitu deh.

Teman-teman saya itu bukan orang jahat. Itu perlu saya garis bawahi, karena hampir tiap hari saya bersama mereka. Namun biar bagaimanapun mereka manusia. Kadang kekuatan yang mereka miliki digunakan untuk … err.., begitu deh.

Diantara teman saya yang ‘begitu deh’, Tomi sama sekali dapat dikategorikan alim. Di saat yang lain malam jumat ikut pengajian dan malam minggu ikut saya mabu-mabu’an, Tomi lebih memilih main dengan adik saya. Sementara track record adik-adik saya lumayan bersih ketika malam hari tiba.

Jadi kagetlah saya pada suatu malam minggu menjumpai Tomi tiba-tiba datang berkumpul dengan saya dan teman-teman sambil memegang botol miras Topi Miring yang sudah kosong. Ia sudah mabuk sebelum sampai ke sini. Ada apa gerangan?

Dalam kebingungan Rahman yang nampaknya mampu membaca raut muka di samping saya berbisik, “Bang, minggu depan seragamnya di copot”

Saya kaget. Saya tahu peristiwa ini. Pencopotan seragam polisi secara fisik di depan upacara adalah hal yang memalukan. Selain artinya ia di pecat dari keanggotaan, juga merupakan pelajaran bagi rekan-rekannya agar tidak melakukan tindakan yang sama. Pada proses ini seorang polisi yang melakukan tindakan indisipliner akan di panggil di tengah lapangan. Di bacakan alasan pencopotan seragam oleh komandannya. Lalu komandan akan mencopot baju seragamnya. Hingga si naas hanya akan terlihat memakai pakaian dalam saja. Setelah itu, ia diminta meninggalkan lapangan. Pada saat ia meninggalkan lapangan, semua rekan-rekan (atau tepatnya; mantan rekan) akan diperintahkan untuk membalikkan badan. Tanda tidak hormat.

Tomi seragamnya di copot? Kenapa? Masa sih begaul sama adik saya jauh lebih parah daripada bergaul sama saya? Ini para bajingan di samping-samping saya yang hobi mabuk dan kadang memeras rumah judi, kok yaa aman-aman saja dan tidak pernah dicopot seragamnya?

Rahman dan Boy ganti-gantian membela diri, “Gua mah abis malak nyetor bang ke komandan” atau “Kalo mabok kan duit sendiri bang, bukan duit komandan. Yang penting mah pas jam masuk, kita ada di sono sebelom komandan dateng”

“Lah terus si Tomi ngapain? Ngerampok terus nggak bagi-bagi?”

Rahman menggeleng, “Istrinya hamil, Bang”

Saya menyerenyitkan kening, “Istrinya hamil kok dipecat? Bukannya dinaikin pangkatnya atawa dinaikin gajinya biar bisa ngasih makan anak kok malah dipecat? Emang yang ngebuntingin siapa? Komandan?”

Boy diam, garuk-garuk kepala sebentar. Lalu menjawab, “Bukan gitu. Waktu nikah dia emang sih bilang komandan kalo mao kawin lagi. Terus komandannya ngamuk, Bang. Kalo kawin lagi, bisa-bisa dia dikeluarin. Tapi si Tomi kan anaknya mantep. Prestasi terus tuh anak. Jadi komandan diem-diem aja akhirnya. Nah pas itu istri mudanya yang hamil ketauan deh ama istri tuanya. Sebab si Tomi rupanya ngebagi jatah belanja bulanan. Istri tua marah, trus lapor komandan. Malah pake ngancem segala, kalo si Tomi nggak ditindak dia bakalan lapor ke Pusat. Sial dah nasib si Tomi”

Saya bengong. Melihat Tomi yang menatap gelasnya sambil mengunyah kacang pelan-pelan. Saya jadi terbayang wajah komandannya. Komandan yang sehari-hari tugas bersama. Yang sudah seperti ayah, kakak dan teman sekaligus sahabat hingga pastur tempat kita mengadu dosa.

Saya lihat wajah Tomi muram. Semuram lampu lapo tuak yang tengah kami singgahi.

Singkat cerita, Tomi dipecat. Benar-benar dilucuti seragamnya. Setelah itu bagaimana? Kelihatannya tidak perlu saya ceritakan di sini. Tragis sih. Adik-adik saya sudah melarang saya untuk cerita lebih lanjut soal Tomi pasca pemecatannya.

Life goes on. Tahun berlalu. Kali ini, apabila ada cerita soal polisi saya tidak lagi hanya teringat para pahlawan yang pincang atau yang codet tercabik belati. Tapi saya juga ingat Tomi. Entah dia ada di bagian mana.

Dan masih segar ingatan saya tentang Tomi ketika beberapa hari lalu, ada berita soal polisi yang bernama Edmond Ilyas melakukan tindakan tercela. Tentu saja Edmond bukan Tomi dan Tomi bukan Edmond. Tapi judul headline berita ‘Brigjen Edmond Terbukti Lakukan Perbuatan Tercela’ membuat saya semakin tergelitik.

Apa itu tercela? Tindakan tidak terpuji seperti polisi yang mabu-mabu’an dan memeras rumah judi macam teman-teman saya?

Ahh bukan rupanya.

Di sana tertulis;

Mantan Direktur Direktorat Ekonomi Khusus Polri, Brigjen Pol Edmond Ilyas terbukti melakukan perbuatan tercela karena tidak melakukan pengawasan terhadap anak buahnya dalam kasus Gayus HP Tambunan…
Edmond terbukti tidak melakukan kontrol terhadap penyidikan yang dilakukan oleh anak buahnya terkait pengusutan kasus pencucian uang, korupsi, dan penggelapan yang diduga dilakukan Gayus…
Edmond tidak melakukan kontrol sehingga penyidik kasus Gayus seperti Kompol M Arafat Enani dan AKP Sri Sumartini melakukan pertemuan dengan pengacara Gayus dan jaksa…
…Edmond juga diwajibkan meminta maaf kepada institusi Polri. Permintaan maaf tersebut disampaikan langsung oleh Edmon di depan komite komisi kode etik dan disiplin…

Saya tahu apa yang mereka bilang soal komandan dan sebenarnya tidak mau ikut campur lebih lanjut. Walaupun ada yang janggal. Tercela akibat tidak mengawasi anak buah? Tuduhannya agak ajaib, kalau ia tidak mengawasi anak buah, jadi apa sebenarnya yang beliau kerjakan? Ini kantor polisi loh. Yang hierarkis dan sistematis. Bukan pasar kaget yang berantakan dan awut-awutan.  Di mana setiap orang bisa transaksi di mana saja. Ini kantor polisi. Divisi khusus. Tempat orang-orang cerdas yang terbiasa menangani kasus luar biasa pelik. Kok bisa ‘melakukan sesuatu tanpa diawasi’. Aneh kan?

Di tambah lagi  kalimat ‘tercela’ dalam tuduhan. Wah itu lebih dahsyat daripada kalimat ‘tidak terpuji’ atau ‘indisipliner’.

Tapi whatever lah. Sebab tiba-tiba makin saya baca tulisan itu makin pula saya ingat Tomi. Ahh di mana ia sekarang? Mungkin kalau pangkatnya tinggi, tidak akan di copot seragamnya di muka publik. Mungkin ia hanya perlu meminta maaf saja.

Sebab jika korupsi yang sudah mampu menghancurkan hidup orang banyak saja bisa dimaafkan, mengapa punya istri hamil tiba-tiba menjadi dosa yang tak berampun?

This entry was posted in Orang Indonesia, Republik Indonesia and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Perbuatan Tercela (Balada Tomi Sang Polisi)

  1. warm says:

    tuduhan tercela itu, menjadi semakin absurd, setelah saya membaca uraian abang..

    tapi, makasih ceritanya, bang :)

  2. rere says:

    Masalah si Tomi menurut saya adalah perbuatan tercela juga, karena di polisi tidak diperbolehkan poligami sesuai PP10 yang masih berlaku sampai sekarang. Sebenarnya bisa saja aman memang… kalau dua istrinya tidak ada yang melaporkan dan banyak hal itu terjadi dari yang pangkat rendah sampai yang tertinggi.. :)

  3. mas stein says:

    ini yang namanya melokalisasi kerusakan bang, harus ada yang dikorbankan untuk kepentingan yang lebih besar, entah kepentingan siapa.

Leave a Reply