Jika Benci Toleransi Jadi Epidemi

(*Sebelumnya saya mohon maaf sekaligus berterimakasih kepada teman-teman pembaca yang amat baik hati telah merespons tulisan blog ini dengan sangat apresiatif. Jarak geografis, waktu dan terlebih saat ini personal health issues, membuat saya agak kesulitan merespon komentar/saran, menerima undangan wawancara, atau hadir untuk meresensi acara-acara yang saya yakin baik sekali gunanya buat publik. Saya yakin suatu saat jika diberi rizki bernama kesempatan, maka kita akan bisa bertemu baik dalam dunia maya atau nyata. Semua tulisan di blog bangaip.org sejak awal tahun 2011 dibuat secara offline dan sesekali dipublikasikan online jika saya ada sedikit kesempatan. Terimakasih banyak atas pengertiannya*)

———————————————-

Saya membayangkan apabila semua manusia sama; berpakaian sama, berkulit sama, berideologi sama, berbicara dengan bahasa yang sama, dan selalu sama-sama lainnya, maka ajaib sekali hidup ini.

Anda tahu Smurf, makhluk biru kecil rekaan komikus Belgia Pierre Culliford (yang lebih dikenal sebagai Peyo). Kalau tidak tahu, ijinkan saya sedikit cerita mengenai mereka.

Smurf. Sejenis makhluk kecil seukuran ibu jari. Makhluk-makhluk ini selalu menganggap diri mereka sama. Kalau berbicara, pasti ada kalimat ‘smurf’ yang menyembul dari mulut mereka dalam menterjemahkan sesuatu. Mereka tinggal bersama-sama dan percaya bahwa kebersamaan adalah sesuatu yang membahagiakan.

Namun pada kenyataannya, para smurf ini tetap saja berbeda. Ada Smurf Kacamata yang suka baca buku. Ada Papa Smurf, sang pengayom. Ada Smurfettes, yang terlahir sebagai satu-satunya wanita di komunitas Smurf (*O-oh, jangan berfikir yang tidak-tidak macam gangbang misalnya. Ini komik konsumsi anak-anak*).

Ternyata, dalam kebersamaan tetap saja ada perbedaan. Dan dalam perbedaan, mereka masih tetap bersama-sama.

Walaupun satu jenis dan mengklaim satu, satu warna kulit, satu jenis topi, satu tipe celana, satu kampung hidup bersama dan menyadari pada akhirnya bahwa mereka semua berbeda, ternyata para Smurf ini toh mereka semua bisa rukun-rukun saja.

Saya jelas beda dengan Smurf. Tapi punya sedikit persamaan. Walaupun lahir dari rahim yang sama, makan-makanan yang sama, menerima warisan genetis dan pendidikan yang sama, besar di lingkungan yang sama bahkan bergaul dengan orang yang sama, tetap saja saya dan adik saya berbeda.

Aneh?

Ahh, tidak juga. Sebab ini yang dinamakan anugrah. Dalam bahasa kampung saya Cilincing, ‘barokah’. Perbedaan itu nikmat. Hehe…

Dari mana asalnya perbedaan?

Sumpah mati saya tidak tahu. Saya pikir bagi yang relijius akan berfikir bahwa ini semuanya datang dari Yang Maha Memberi. Bagi yang tidak relijius bagaimana penjelasannnya? Wah lagi-lagi saya tidak tahu. Pertanyaan ini terlalu filosofis untuk otak saya yang kecil :)

Lantas, apa semua perbedaan menyenangkan?

Saya pikir, belum tentu. Sebelum bicara lebih lanjut, ada baiknya saya memberi contoh sederhana kenapa saya bisa bilang begitu. Dan agar tidak susah, saya ambil dari contoh terdekat. Yaitu apa yang saya alami (dan jelas subjektif). Ini contoh pertama;

Setiap hari umumnya saya berurusan dengan mikrobiologi. Khususnya, dengan semua penyakit-penyakit yang berbahaya buat binatang peliharaan manusia di muka bumi. Setiap hari bergelut dengan semua itu, setiap hari pula saya sadar bahwa ada virus yang berevolusi dan bermutasi. Ada virus HIV yang merubah diri lalu loncat dari manusia ke kucing. Ada virus SIV dari babi yang berkembang dengan canggih lalu loncat ke manusia. Ada virus lingkaran patogenis yang berkembang di burung lalu menyebar di anjing, kucing hingga kuda. Dan setiap hari, kadang saya jadi saksi lahir dan munculnya perbedaan di antara virus-virus tersebut.

Semakin banyak tipe virus itu muncul, semakin berbeda tipe mereka, semakin besar pula bahayanya terhadap ras hewan dan manusia. (*Tapi jangan takut, sebab masih ada Bangaip dan temen-temennya yang ngelawan abis-abisan. Hehehe, sok jago banget nih saya*).

Jadi perbedaan itu belum tentu menyenangkan. Apalagi jika itu perbedaan yang muncul dari virus-virus yang membahayakan kehidupan.

Masih belum puas dengan satu contoh? Nih saya kasih lagi satu bukti bahwa perbedaan itu belum tentu menyenangkan:

Hari Sabtu lalu dengan mata kepala sendiri saya lihat seorang lelaki muda dihina, dipermalukan, dicemooh dan diperlakukan buruk secara verbal oleh temannya. Si lelaki ini santai saja menanggainya. Saya kaget. Dan lebih kaget lagi ketika ia menjawab, “Kami berbeda pendapat soal hidup. Beda kan boleh. Dia boleh ngamuk, saya boleh cuek”, ketika saya tanya kok kenapa ia kalem saja menanggapinya.

Berbeda soal pandangan hidup ternyata bisa membuat seseorang berang, marah, emosi dan melontarkan brutalitas di depan publik. Dan sebagai saksi mata, saya bisa bilang bahwa menyaksikan itu sama sekali bukan saat yang menyenangkan.

Jadi kata siapa perbedaan itu selalu menyenangkan?

Jelas tidak. Perbedaan tidak selalu menyenangkan. Tapi setidak-menyenangkannya perbedaan, ia tetap saja fakta.

Dulu ada seorang menteri dari Indonesia yang bilang bahwa Flu Burung dan Flu Babi itu rekayasa di depan publik dan media. Aduh gombalnya! Padahal beliau jelas bukan orang bodoh. Malu sekali saya mendengar hal itu. Apalagi keluar dari sesama orang Indonesia (*yang membuat berhari-hari saya ditanya rekan-rekan kerja bagaimana standar penelitian di RI*). Kok yaa mengingkari fakta? Virus bermutasi, virus berevolusi, dan itu adalah salah satu bentuk kehidupan bahwa perbedaan itu ada. Itu realita. Itu fakta. Mengapa dinegasi?

Lelaki dan perempuan itu berbeda. Kalau senang atau menguntungkan, mereka bercinta. Melakukan adegan reproduksi. Kalau sukses, ada hasil dari adegan reproduksi tersebut. Yang pasti, lelaki dan perempuan itu berbeda. Itu fakta. Walaupun lebih jauh lagi bahwa lelaki dan perempuan bisa jadi saling menyebalkan akibat perbedaan yang mereka miliki, tetap saja perbedaan antara mereka adalah fakta. Realistis saja lah.

Saya dan Anda berbeda. Saya punya pendapat sendiri. Anda punya opini pribadi. Sah? Yaa jelas sah. Konstitusi telah melindungi kita untuk tetap bisa berbeda. Lambang negara dengan gagah mengibarkan panji “Walaupun Berbeda Kami Adalah Satu”.

Para pendiri bangsa pun manusia berbeda. Ada yang playboy, ada yang alim, ada yang hobi dansa, ada yang penyendiri dan hobi berkelana. Dan macam-macam lainnnya. Namun seberat apapun bedanya mereka, masih tetap memikirkan sebuah cikal bakal nusa yang saat ini bernama Republik Indonesia. Dalam pergulatan kelas, pergulatan ras bahkan hingga pergulatan jati diri, bangsa ini didirikan atas berjuta-juta manusia yang sama sekali berbeda.

Maka perbedaan itu jadi begitu berarti. Begitu bermakna. Pondasi bangsa ini didirikan oleh manusia yang berbeda, dari manusia yang berbeda dan untuk manusia yang berbeda. Negeri ini tidak berdiri hanya untuk orang Islam saja. Tidak untuk orang Jawa saja. Tidak untuk laki-laki dewasa saja. Melainkan untuk semua manusia Indonesia. Dan mereka lah ruh Indonesia, berbeda-beda dalam segala keragamannya tapi tetap satu saling menyayangi, menghargai dan mencintai antar sesama.

Jika saya doyan makan sambel oncom dan kamu suka sambal terasi, apakah layak kita saling benci?
Jika si Nina suka gonta-ganti tas belanja dan si Amir suka gonta-ganti klub sepak bola idola, apa mereka layak saling menghina?
Jika Anda menyembah pohon beringin dan tetangga menyembah botol obat kuat, apakah kita layak saling menyikat?
Jika dia percaya bahwa Tuhan ada 17 dan pacarnya bahkan tidak percaya Tuhan sama sekali, apa mereka layak saling menggurui dalam emosi?

Tidak!

Sejarah telah membuktikan, bahwa kita berbeda. Negeri ini, bangsa ini, para manusia ini didirikan dalam perbedaan dan itulah kekuatan mereka. Sehari-hari kita dihantam perpecahan, dirongrong provokasi, dihancurkan kepercayaannya bahwa kita manusia dan layak hidup sebagaimana manusia, diagitasi bahkan hingga iman terhadap perbedaan hampir mati.

Tapi toh kita tetap hidup. Kenapa?

Jawabnya sebenarnya hanya satu. Karena masih ada toleransi.

Lantas bagaimana jika toleransi pun sakaratul maut dirajam oleh sekelompok manusia berideologi kejam. Yang rela membunuh manusia lain hanya karena berbeda agama. Yang rela menghalalkan darah saudaranya hanya karena merasa pemilik sah republik dan surga.

Lantas bagaimana jika anti toleransi jadi epidemi. Menyebar lebih busuk dari hati satu manusia ke manusia lainnya. Membisikkan dendam-dendam pribadi. Pelan-pelan menghasut telinga, “Mereka sesat, harus diluruskan, jika tidak kita tidak mungkin dapat surga”. Lalu akhirnya pada suatu malam pendemi ini begitu berbahaya dan darah para minoritas pelan-pelan mengalir membeceki tanah. Merefleksikan bulan yang begitu gelap dan muram.

Di negeri ini, sekali lagi meleleh darah di muka bumi. Dibaliknya, tersebar rumor bahwa itu adalah darah manusia sesat yang layak dibunuh. Dibaliknya, tersebar cerita bahwa secara diam atau terang-terangan bahkan orang yang mengaku paling demokratis pun tak banyak upaya untuk buka suara. Di negeri ini, pernah dan telah terjadi kekerasan terhadap kemanusiaan.

Dan kemungkinan, masih akan terus terjadi.

Dulu tahun 65, jadi PKI artinya mati. Mayatnya dibuang di Bengawan Solo dan tidak ada penyelidikan, penanggung jawab bahkan rehabilitasi nama atas para korban.
Dulu awal 1990-an, jadi petani di sebuah desa di Lampung dekat pantai artinya mati. Sebab jika mereka meminta hak atas tanah yang sudah digarap sejak oleh nenek moyang mereka pada tangsi tentara yang tiba-tiba berdiri, mayatnya akan dibuang di hutan dan mungkin jadi santapan binatang.
Dulu pada 2004, jadi Munir artinya mati. Terlalu vokal banyak bersuara mengkritik para bajingan di atas mahligai sana, diracun hingga tewas dan semisterius alasan pelaku pembunuhnya.

Kini, jadi Ahmadiyah hampir mirip dengan mereka yang tersebut dahulu. Diburu, dicemooh, dibantai, dibunuh, bahkan ketika sudah meninggal pun sempat digali lubang kuburnya hanya untuk dihinakan. Di era digital ini Bandung tahun 2011 kuburan  seorang warga Ahmadiyah dibongkar dari Taman Pemakaman Umum. Jasadnya dibuang ditelantarkan hanya untuk dinistakan.

Kenapa ada di negeri ini? Negeri yang mengaku penduduknya ramah dan mudah senyum. Kenapa? Kenapa harus di negara yang mengaku ber-Bhineka Tunggal Ika?

Kalau memang pada ujungnya kita harus menghancurkan dan menistakan perbedaan, mengapa negeri ini tetap harus ada?
Jika hanya bisa diam melihat kekerasan terhadap perbedaan, mengapa masih mau (pura-pura) jadi orang Indonesia?
Yang lebih parah lagi, jika melihat semua kekejaman terhadap perbedaan dan keragaman manusia sudah lagi tidak menyinggung hati, apa memang iya kita masih punya hati?

Perbedaan itu anugrah. Walaupun tidak selalu menyenangkan, ia adalah fakta. Sehari-hari kita bergulat didalamnya. Jika tidak sadar bahwa perbedaan adalah realita lalu menafikkan perbedaan, jangan-jangan hati kita pelan-pelan hampir mati. Sebab telah dijangkiti virus hasad bin dengki.

Idiih, amit-amit jabang bayi.

This entry was posted in bangaip, Orang Indonesia, Republik Indonesia, sehari-hari and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

5 Responses to Jika Benci Toleransi Jadi Epidemi

  1. Fortynine says:

    Kalau memang pada ujungnya kita harus menghancurkan dan menistakan perbedaan, mengapa negeri ini tetap harus ada?
    Jika hanya bisa diam melihat kekerasan terhadap perbedaan, mengapa masih mau (pura-pura) jadi orang Indonesia?

    Saya sudah lama menyatakan diri sendiri pensiun jadi orang Indonesia bang.

    Saya sudah muak dengan orang orang yang memperbesar dan mengexploitasi perbedaan atas nama kemakmuran.

    Saya juga mau muntah liat orang yang mencibir suara kaum minoritas tertindas

    Saya sudah sangat jenuh dengan perampokan berkedok NASIONAL dan PUSAT.

    Dan…saya hanya bisa sampai situ…belum bisa sedahyat para pemimpin revolutioner…

  2. nita says:

    “Perbedaan itu anugrah. Walaupun tidak selalu menyenangkan, ia adalah fakta. Sehari-hari kita bergulat didalamnya. Jika tidak sadar bahwa perbedaan adalah realita lalu menafikkan perbedaan, jangan-jangan hati kita pelan-pelan hampir mati. Sebab telah dijangkiti virus hasad bin dengki.”

    makasih ya, bang atas pelajaran yang hari ini aku terima. kebetulan paaaaas banget sama yang baru2 ini aku alami. semoga bang aip sudah semakin sehat walafiat. amiiiiiin…

  3. aRuL says:

    kita jadi domba2 yg siap diadu kapan saja sih

  4. mas stein says:

    tidak semua poin yang disampaikan di sini saya sepakati, tapi tulisan ini disampaikan dengan sangat menarik.

  5. edratna says:

    Baca komentar mas Stein di atas…semakin kita sadari bahwa perbedaan selalu ada….bahwa kita berbeda, setiap orang punya pendapat, yang bisa pro dan kontra.

Leave a Reply