Lagi-Lagi Soal Harga Diri

Kadang kalau sedang bersama anak, saya suka melihat-lihat siaran televisi yang isinya kehidupan flora maupun fauna. Enaknya, kalau di televisi, saya dan putri bisa melihat dan mendengar langsung topik siaran. Misalnya ada acara mengenai gajah di Afrika, maka kami dengan jelas bisa tahu kalau jenis-jenis gajah itu rupanya bermacam-macam di muka bumi dan Afrika adalah satu produsen gajah terbesar bagi planet ini.

Tapi siaran di layar tivi maupun komputer memang saya batasi buat anak saya yang hampir berusia tiga tahun ini. Sehari, paling banyak dua jam saja melihat tabung/layar menyala. Dalam waktu sesingkat ini saya usahakan mengenalkan kepada putri saya mengenai kehidupan alam bebas (wild life), diantaranya melalui tangkapan kamera tanpa awak di pedalaman hutan melalui Smitsonian Wild. Untung saja putri saya tidak gila televisi/komputer. Jadi dua jam sehari itu kadang terlalu banyak untuknya menyantap tayangan melalui layar kaca.

Sisanya, informasi kami dapatkan melalui buku. Putri saya bukunya banyak. Saat ini saja sudah hampir satu lemari penuh. Dia belum bisa baca. Tapi sebagai orangtua, kami selalu membacakannya cerita setiap hari. Setiap bulan sebisa mungkin saya membelikannya buku. Kadang saya rela memotong uang belanja bulanan agar ia dapat membeli buku baru.

Di satu sisi, saya merasa bersalah. Sebab dengan membeli buku baru artinya ada lagi pohon yang ditebang untuk membuat kertas. Eh tapi, buku yang saya beli memang baru buat dia. Tapi itu sih sebenarnya buku bekas (*Ok, saya mengaku bukan bapak-bapak yang top. Di depan anak bilang itu buku baru untuk dia. Padahal mah belinya di toko buku bekas*). Tapi di sisi lain, kasihan juga mata anak saya kalau disuguhi ebook reader terus kalau hendak membaca buku (*Ah mungkin saya bapak-bapak yang ketinggalan jaman kali yaah*).

Balik lagi ke soal buku. Rupa-rupanya, akibat setiap hari disuguhi buku berisi gambar-gambar binatang hutan, pepohonan, serangga, kondisi alam dan lain sebagainya, anak saya rupanya sudah mulai bertanya macam-macam. Suatu hari, dia bawa buku ke hadapan saya. Itu buku ada foto binatangnya. “Papa ini binatang apa?”

Saya mau jawab, “Cari aja halaman selanjutnya, baca”. Tapi itu jelas jawaban bodoh. Putri saya belum bisa baca. Dan saya tidak pernah mengajarkannya membaca (*tapi saya ajarkan berhitung, maklum saya kan orang Betawi perhitungan terus, hihihi*).

Saya lihat gambar itu dengan santai. Tapi kok yaah, saya tidak tahu itu binatang apa. Itu buku saya dekatkan ke dekat mata. Jangan-jangan mata saya yang buram. Ternyata masih juga belum bisa menjawab itu binatang apa. Saya putar itu buku ke kiri, tidak sukses. Ke kanan, juga tidak sukses. Bahkan dibalik atas bawah pun masih tidak jelas itu binatang apa. Itu mirip kadal. Tapi kok yaa bukan kadal. Mirip komodo tapi bukan komodo. Meskipun warnanya begitu aneh saya yakin pasti bukan bunglon.

Dengan lemas saya menatapnya dengan pandangan malu, “Papa nggak tahu, Nak. Nanti papa cari tahu yaah di internet atau tanya teman papa yang orang Biologi. Mungkin mereka tahu”

Di titik ini, saya merasa harga diri saya sebagai laki-laki dewasa kelihatannya jatuh berantakan. Saya tidak pernah bermimpi jadi manusia super yang mampu melakukan apa saja di muka bumi. Saya tidak pernah bermimpi jadi lelaki lelaning jagad yang jadi idola seluruh kawula di planet ini. Tidak. Sumpah mati tidak pernah. Saya sadar saya lelaki biasa saja. Dengan segala apa yang saya miliki, baik lebih atau kurang. Saya sadar saya orang biasa saja. Tapi, saya selalu ingin jadi ayah yang baik. Seorang bapak yang memiliki pengetahuan cukup, dimana ketika anaknya bertanya, minimal mampu menjawab. Sekarang, lah apanya yang hebat? Jawab pertanyaan mengenai nama binatang itu saja tidak bisa menjawab.

Malamnya setelah putri saya jauh tertidur saya belum bisa tidur. Saya berfikir, selama ini saya kok yaa sok tahu banget. Cari semua informasi dan menenggak sebanyak-banyaknya agar bisa dimuntahkan kembali dari mulut ketika orang bertanya. Seakan saya punya jawaban untuk semua orang. Biar apa? Biar dianggap pintar? Terus kalau dianggap pintar mau apa? Mau sombong? Mau memberi tahu pada semua orang bahwa reputasi saya sudah terkenal dimana-mana? Halah! Reputasi! Reputasi itu bayangan yang diciptakan oleh otak kita sendiri, karakterlah yang membuat kita manusia nyata. Buat apa semua itu jika sebuah pertanyaan simpel dari seorang bocah belum genap tiga tahun yang amat saya cintai pun saya tidak bisa menjawabnya?

Disini saya menyadari dua hal pokok yang ternyata sudah memudar dari otak saya selama ini:

  1. Jangan egois. Anak saya bukan saya. Sesering apapun saya melihatnya, membesarkannya dan bersamanya, tetap saja ia bukan saya. Ia punya jiwa sendiri, punya kecerdasan sendiri. Saya hanya bisa memberi sebanyak-banyaknya kasih sayang, pengertian dan perhatian yang ia butuhkan
  2. Jangan menganggap remeh siapapun, bahkan terhadap orang yang kita anggap kita amat kenal. Akibat saya pikir saya sering bersama anak, saya jadi tahu seperti apa dia. Apalagi umurnya belum tiga tahun. Padahal itu salah. Anak itu penuh kejutan. Saya harus selalu siap menyediakan diri dengan informasi terkini. Terutama informasi mengenai anak-anak :)

Saya pikir sudah saatnya otak saya ini harus di-refresh kembali. Harus belajar untuk hidup tanpa egoisme yang ketinggian. Belajar untuk tidak menganggap remeh siapapun. Sebab dengan begitu, mungkin harga diri yang kepalang jatuh berantakan ini dapat terjalin utuh kembali.

(*BTW, nama binatang yang ditanya putri saya adalah Sunda Pangolin a.k.a Manis javanica dalam bahasa Indonesia… Trenggiling*)

This entry was posted in bangaip, sehari-hari and tagged , , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Lagi-Lagi Soal Harga Diri

  1. Fortynine says:

    Jadi? Beneran belum pernah nemu Trenggiling sebelumnya Bang?
    *bersyukur, karena sudah pernah menemui, bahkan menyentuh langsung binatang tersebut*

    BTW: Katanya tuh binatang gaib, dikurung di dalam drum dan ditutup saja bisa lepas tanpa jejak. Konon penangkalnya adalah daun pisang.

    Hal ini terbukti, ketika kami dulu dapat menangkap Trenggiling. Kami kurung rapat pakai pagar buatan dari bambu. Trenggilingnya sendiri dimasukkan ke kain sarung. Kejadian penangkapan dan pengepungan malam hari. Esok paginya binatang tersebut hilang tanpa ada bekas kerusakan di kain sarung pembungkus maupun pagar bambu buatan

  2. Amd says:

    Di hadapan anak, saya justru tak merasa perlu mengagungkan harga diri, Bang. Saya justru akan sangat senang ketika anak saya bisa tahu lebih banyak dari bapaknya. Sampai sekarang pun, harapan utama saya terhadap Dira itu cuma agar dia bisa jadi anak yang cerdas, jauh melebihi kemampuan orang tuanya…

  3. Bee Jay says:

    Ayah yg baik bukan ayah yg tau segalanya, bang. Saya juga sering nggak bisa njawab pertanyaan anak2 saya. Tapi saya mah nyantai aja. *dasar muka badak, kali ya! Hehehe…. Buat saya, yg penting bukan bisa njawab, tapi bisa memberikan solusi. Kalo anak saya nanya sesuatu yg saya nggak tau, ya saya ajak bareng2 cari jawabannya, ntah dari buku atau dari internet (anak umur 4 th dan udah bisa baca). Untungnya, kalo lain kali anak saya pengen tau sesuatu, gak perlu nanya ke saya lagi, soalnya udah bisa nyari sendiri. Saya memang bapak yg buruk, nggak suka direpotin sama anak. Hehehehe…

  4. edratna says:

    Anak saya biasa kalau sang ibu menjawab…”Nanti ya Nak, ibu tanya dulu pada ahlinya…..” hehehe.
    Akibatnya dia bilang sama ayahnya (saat itu kami masih tinggal di kompleks rumah dinas)..”Yah, di kompleks ini yang paling pinter tante R. Soalnya kalau ditanya dan nggak bisa jawab, tante R langsung mencari dari buku-buku…”.
    Dan tante R ini memang bukunya banyak…hahaha….dan pantas kalau pada akhirnya dia menjadi salah satu Direksi di perusahaan tempat saya bekerja.

Leave a Reply