Gado-Gado Pak Heru

“Lapar nih, makan siang yuk? An, kita makan dimana?” Tanya Girda sambil mengusap kepalanya yang botak licin.

Aan menjawab, “Di kebon aja. Si Arip pasti belum pernah nyobain gado-gado Pak Heru”

Saya terbengong-bengong menatap dua manusia itu yang entah bagaimana sibuk diskusi mengenai bumbu gado-gado diantara rerimbunan tumpukan naskah karya Chomsky. Perut saya keroncongan. Lapar. Maka itu memberanikan diri bertanya, “Hey bung, gua nggak punya duit nih. Gimana gua bisa makan siang dong?”

Girda menatap Aan, “Kau yang bayarin yaa An siang ini, besok gua lah. Gua juga lagi kantong tipis nih hari ini”

Aan menatap saya dan Girda bergantian, “Gila kalian bedua. Sampe makan siang aja kasbon sama gua”. Yang dijawab Girda dengan tawanya yang mirip kekehan tokoh Bert dalam serial anak-anak Sesame Street. Saya sih, seperti biasa hanya cengar-cengir saja sambil garuk-garuk kepala.

Akhirnya kami bertiga keluar dari kantor itu menuju tempat makan siang. Yang mengagetkan saya, ternyata yang mereka maksud dengan ‘gado-gado kebon Pak Heru’ adalah benar-benar di kebun depan kantor mereka. Sepuluh meter dari pintu keluar, ada warung cukup menampung orang sekitar 20. Ternyata, itu warung makannya. Terletak di dalam halaman depan rumah Pak Heru yang cukup luas.

Dan kantor mereka, menempel dengan rumah Pak Heru.

Kami bertiga lalu duduk takzim di bangku kayu panjang. Menatap meja kayu panjang dan beberapa kaleng kerupuk di atasnya. Sambil malu-malu kucing, cengiran saya dilihat Aan. “Nih Rip, kerupuk udangnya. Da, kau mau kerupuk kulit?” kata Aan sambil melemparkan sebungkus plastik kerupuk berwarna putih berbentuk bundar lebar ke hadapan saya.

Setelah diberi kerupuk, jiwa saya tenang kembali (*Iya, saya kalau lapar memang kebingungan. Maunya melamun saja. Entah kenapa? Misterius sekali ini penyakit.*). Lalu mulailah saya mengoceh kiri kanan. Girda dan Aan menoleh. Mungkin tertarik mendengar beberapa dongeng saya. Tidak lama kemudian, gado-gado dan es teh manis datang. Saya berhenti mengoceh dan makan dengan lahap. Jiwa saya makin tenang. Hahaha.

Habis makan, dengan santainya saya berteriak pada bapak-bapak yang kelihatannya tadi mengulek sambil kacang, “Pak Heru! Enak banget bumbu gado-gadonya. Apa rahasianya Pak?”

Si tukang gado-gado diam saja. Menoleh pun tidak. Girda dan Aan melongo memandang saya. Aan menimpali, “Lu ngomong ama siapa, Rip?”

Dengan tanpa dosa saya menjawab, “Ama Pak Heru, tukang gado-gadonya. Kok dia nggak nyahut yaah?”

Girda tertawa tebahak-bahak (yang sumpah mati mengingatkan saya pada Bert). “Gila lu Bung. Pak Heru itu yang punya rumah dan kebon ini. Yang dagang gado-gado sih bukan Pak Heru!”

Saya kaget. Tersipu. Lantas cengar-cengir malu akibat sok tahu.

Itu pertama kali saya dengar nama Pak Heru. Kalau ingat nama Pak Heru, saya pasti ingat ‘tragedi gado-gado sok tahu’. Hehehe.

Kejadian ini sudah berlangsung tahunan lalu. Entah pastinya kapan saya lupa. Saya pikir sekitar lima atau enam tahun lalu. Waktu itu saya ada di Jakarta. Tinggal untuk sementara. Singgah dalam beberapa bulan saja.

Sekarang. Girda entah kemana dan Aan juga entah ada dimana, saya tidak tahu. Yang pasti, saya sudah hampir lupa kejadian itu.

Dua minggu belakangan ini, tiba-tiba gado-gado Pak Heru muncul lagi di benak saya. Beberapa surat kabar Indonesia memberitakan bahwa Pak Heru makamnya dibongkar. Sekelompok orang berjubah reliji meminta agar jenazah Pak Heru dibongkar dari peristirahatan terakhirnya di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Kata si penuntut, Pak Heru terlibat gerakan PKI. Tak layak jadi pahlawan.

Oh ya, yang saya bilang dari tadi soal gado-gado dan Pak Heru, memang tidak lain dan tidak bukan adalah bapak Letnan Kolonel Udara Heru Atmojo almarhum yang meninggal akhir Januari 2011 lalu. Yang hingga hembusan nafas terakhirnya, tidak pernah terbukti bahwa beliau terlibat G30SPKI. Beliau hingga akhir hayatnya dituduh, distigma, dikotori namanya tanpa pernah sedikitpun dibela oleh negara yang pernah dibelanya dengan seluruh butir-butir keringat dan darah dalam masa revolusi kemerdekaan.

Iya benar, Pak Heru yang itu.

Mendengar berita itu, saya kaget. Dan lebih kaget lagi ketika membaca bahwa Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono berkata bahwa pemindahan jenazah Pak Heru sesuai dengan aturan.

Aturan dari mana? Adakah aturan di Republik Indonesia bahwa:

  1. Panglima Tentara Nasional Indonesia berhak memindahkan makam?
  2. Panglima Tentara Nasional Indonesia berhak menentukan dimana pahlawan dimakamkan?
  3. Panglima Tentara Nasional Indonesia mendengar dan menuruti ide sekelompok kecil manusia ekstrim berjubah reliji, seperti kerbau dicocok hidungnya?

Kalau iya, layak berdukalah kalian para tentara. Wahai teman-temanku, saudaraku, tetanggaku, dan para brotherhood yang sudah ada maupun akan tiba dalam jajaran satria TNI; aku sedih atas nasib kalian. Sebab jika suatu hari negeri ini akan dilumat oleh kekuasaan gelap dan kalian mati-matian membelanya, dan lalu kalian pun akhirnya meninggal dan kami mengangapmu pahlawan. Maka untuk mengubur jasad kalian pun kami harus pikir-pikir dulu sebelum mengali lubang. Yang lebih sedih lagi, jika sekelompok fasis bahkan meminta jenazah kalian dikubur di tempat sampah maka bos kalian, si Panglima TNI itu mungkin akan diam dan menurut saja.

Memanggil seseorang dengan kata pengecut adalah sebuah kalimat keras yang perlu alasan amat kuat untuk menggunakannya. Namun sebagai seorang tentara, mungkin sang Panglima perlu belajar lagi apa artinya mati.

Atau mungkin, perlu belajar lagi apa definisi seorang pahlawan.

Jika kita bahkan gagal membela mereka yang mati untuk kita, bagaimana kita bisa membela mereka yang berupaya sekuat tenaga untuk tetap hidup… untuk kita?

This entry was posted in Orang Indonesia, Republik Indonesia, sehari-hari and tagged , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Gado-Gado Pak Heru

  1. stein says:

    dulu waktu pecah G 30 S Pak Heru ini sudah nyaris dibunuh lho Bang, beliau dikirim dengan pesawat ke Papua dengan alasan diperintah untuk menginterogasi personel-personel TNI AU yang diindikasikan terlibat pemberontakan, padahal tujuan sebenarnya adalah untuk dihabisi. untung saja waktu lagi transit ban pesawatnya bocor, trus beliau dianter sama komandan pangkalan dari Biak ke jakarta.

    saya cuma baca sekilas, kalo ndak salah beliau ini perwira intelijen ya? lupa-lupa inget. cuma kalo ndak salah (kalo ndak salah ya bener) beliau ngakunya memang ndak kenal sama pentolan-pentolan PKI macem Sjam atau Pono. ikut wira-wiri kesana kemari ketemu sama anggota militer yang bersimpati sama PKI karena memang ditugaskan untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dan juga memastikan keselatan presiden Sukarno. beliau apes karena disebut sebagai salah satu pengurus dewan revolusi bentukan Untung.

    seseorang bisa masuk TMP Kalibata pasti ada sebabnya, kalo memang dianggap ndak layak masuk situ mbok ya bintang gerilyanya dicabut dulu. saya yakin beliau juga ndak ngebet pengen dikubur di TMP, ndak ngidam pengen disebut pahlawan. yang jelas mbongkar kuburan itu kejam, orang yang sudah meninggal kok masih dihina-hina.

    –0–

    Terimakasih atas infonya, Mas.

  2. sufehmi says:

    Sejak dulu saya sudah tahu kenapa Rasulullah saw bersabda bahwa “fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan”, tapi baru beberapa tahun yang lalu saya paham kenapa — karena fitnah itu jadi menutupi kebenaran yang sesungguhnya.

    Beberapa tahun yang lalu itu kami & kawan-kawan sukses (alhamdulillah) membuat sistim penghitungan suara yang :

    berskala nasional

    sudah bisa menampilkan hasilnya hanya dalam waktu 2 jam saja (ketika sistim lainnya gagal setelah dioperasikan selama 30 hari)
    direct dari TPS langsung ke sistem tanpa intervensi manusia (asas LUBER)
    dibangun dari nol hanya dalam waktu 2 minggu (!), dan
    membutuhkan biaya hanya 1 / 1000 (!!) dari sistim serupa yang dibuat oleh vendor lainnya DAN itupun tidak menggunakan uang rakyat sepeser pun.

    Tapi, nyaris semua orang di Indonesia mengira bahwa sistem tersebut gagal – karena kompetitor kami tersebut tidak senang & merasa terancam, sehingga kemudian melancarkan kampanye fitnah melalui berbagai media massa.
    Kami adalah sekumpulan geek / kutu buku yang mungkin jago dalam soal teknis – tapi dalam soal relasi publik, kami benar-benar hopeless 😀 akhirnya kami biarkan saja.

    Sistem tersebut kemudian dipuji-puji di berbagai forum di luar negeri sebagai teknologi penghitungan suara yang tepat guna (murah, powerful, capable, accurate).
    Tapi di negerinya sendiri dianggap sebagai sistem yang gagal. Demikianlah kekuatan fitnah :)

    –0–

    Iya Pak, saya juga mengikuti drama penghitungan suara ini. Sedih membacanya di media mainstream. Tanggapan publik yang beragam sih biasa, tapi ketika berita mulai diarahkan ke penggalangan opini negatif, gerah juga saya bacanya. Saya sendiri bingung ketika salah seorang praktisi akademis diwawancarai dan menolak sistem penghitungan tersebut tanpa mengetahui bagaimana sistematika caranya. Agak aneh.

    Fitnah memang kejam.

  3. sufehmi says:

    Oh ya membaca posting ini jadi teringat kakek saya, yang dulu melindungi & membantu kawannya yang difitnah sebagai PKI.

    Selama bertahun-tahun, beliau membantu menghidupi keluarga kawannya tersebut, dan berbagai bantuan lainnya yang mereka butuhkan. Termasuk menolak percaya bahwa kawannya tersebut adalah pengkhianat republik ini.

    Sampai sekarang, 16 tahun setelah kakek saya wafat, keluarga mereka masih terus berterimakasih kepada kami. Anak-anak mereka semua sekarang alhamdulillah telah sukses di dunia, dan beberapa menjadi ilmuwan yang luas wawasannya.

    Mudah-mudahan saya bisa meniru teladan kakek saya tersebut juga di suatu hari nanti….

    –0–

    Terimakasih sudah berbagi Pak. Menarik sekali pengalamannya

Leave a Reply