Istirahat

Karena menjelang akhir minggu, saya mau cerita yang sederhana saja lah hari ini.

Beberapa hari lalu, saya mengantuk sekali. Tidur kurang. Maksudnya tidur kurang, yaitu kurang dari 12 jam perhari. Iya, saya memang sedang banyak-banyaknya tidur akhir-akhir ini. Biar saja lah. Nikmati saja selagi bisa.

Karena mengantuk, di pabrik saya ditegur teman-teman. Kok yaa mulut tak berhenti menguap terus. “Udah kamu pulang aja gih sana, istirahat. Parah sekali muka kamu itu. Capek yaah?”

Saya mengangguk. Sambil menguap, berjalan pulang menuju stasiun kereta api. Pabrik saya memang di sebelah stasiun kereta api. Tidak jauh. Paling jalan kaki hanya sekitar satu menit.

Di kereta api, saya sudah tidak tahan. Untung dapat tempat duduk. Akhirnya menyenderkan kepala ke jendela. Tidur. Saya sudah lupa stasiun apa yang saya lewati, tapi biasanya setelah stasiun yang ada di bandara, saya harus siaga. Sebab sebentar lagi saya harus turun. Tapi saya sumpah mati tidak bisa siaga. Sudah mengantuk sekali euy.

Dalam suasana setengah sadar, saya dengar setiap pemberhentian kondektur menegaskan ke penumpang bahwa kami ada di stasiun anu dan akan menuju stasiun berikutnya. Wah, itu sudah bagaikan mimpi. Saya bisa dengar, tapi tidak tahu harus bagaimana.

Untungnya saya berhasil juga turun di stasiun yang harus saya turuni. Keluar pintu kereta sambil ucek-ucek mata. Masih mengantuk. Tunggu bis kota sebentar enaknya bisa menyegarkan mata. Maklum sudah musim semi. Dimana-mana banyak bunga.

Namun ketika bis kota tiba dan dapatlah saya tempat duduk di pojok, lupa pula saya musim semi dan bunga. Saya tidur lagi. Tepatnya ketiduran. Saya pikir, ahh gampang lah. Hanya empat halte dari stasiun, merem dikit kan sah saja.

Iya sah memang. Tapi begitu saya membuka mata, sumpah mati saya mendelik. Loh, ternyata saya kebablasan tidurnya. Bangun-bangun, entah saya ada di mana, kiri kanan benar-benar lahan kosong luas gundul. Waktu itu saya kaget, saya pikir “Wah kok di daerah tandus gini, jangan-jangan gua kesasar di Kalimantan?”

Bis kota berhenti. Pak supir yang tinggi besar berjanggut berjalan ke arah saya dari ruang kemudinya, “Kamu mau kemana? Nggak ada halte lagi”

Saya bengong, ‘Wah Pak, saya ketiduran. Rumah saya nggak jauh dari stasiun. Kok saya bisa sampai di sini? Puterin lagi dong bisnya Pak?“

Dia ketawa, “Yaa nggak bisa. Kamu harus naik bis lain yang ke arah stasiun. Tapi nanti, masih lama. Kalau kamu naik bis yang merah itu, kami ke bandara, dari sana ke stasiun yang kamu tuju. Lebih dekat. Kamu sadar nggak kamu udah tidur kira-kira ampir sejam?”

Saya cengar-cengir. Malu. Hehe. Habis mau bagimana lagi?

Akhirnya saya menaiki bis yang si Pak Sopir maksud. Nah bis ini pergi memang tidak lama kemudian. Begitu saya meletakkan bokong di kursi, semenit kemudian langsung jalan. Tujuan saya, bandara. Sebab dari sana bisa naik kereta lagi ke arah stasiun dekat rumah.

Saking tegangnya melihat kiri kanan daerah yang belum pernah saya lihat sebelumnya, saya capek lagi. Dan saking capeknya, tentu saja bisa ditebak… Saya ketiduran lagi.

Saya akhirnya bangun, setelah dicolek bahunya oleh Bu Supir (supirnya ibu-ibu ternyata). “Kamu mau kemana? Sudah halte terakhir nih. Ini bis mau masuk pool”

Ini pertanyaan kedua yang saya jawab hari ini. Saya jawab dengan memelas, “Mau pulang, Bu”

“Rumah kamu di mana?” (*Entah kenapa, saya tiba-tiba merasa seperti anak kecil yang hilang di Mall lalu tengah ditanya Satpam*)

Ketika saya jawab dimana lokasi rumah saya dan kenapa saya bisa sampai di bis itu, si Ibu Supir senyum-senyum, “Kamu sudah kejauhan turunnya”. Dia meneruskan sambil memberitahu bahwa dari tempat kami berada, saya harus naik kereta ke bandara. “Nggak jauh kok. Ke stasiun kereta hanya jalan sekitar satu menit saja dari sini”

Saya mengerenyit. Satu menit? Setelah mengucap terimakasih dan keluar pintu bis saya terbengong-bengong. Benar rupanya si Ibu Supir kalau stasiun hanya jalan kaki satu menit dari sini. Sebab di depan muka saya terpampang jelas-jelas pabrik tempat kerja sehari-hari yang saya tinggalkan dua jam lalu.

Dari lobby, seorang resepsionis keluar. “Loh bukannya tadi sudah pulang, ngapain masuk kerja lagi? Ada yang ketinggalan?”

Saya cengar-cengir. Tidak tahu harus jawab apa.

Yang pasti, saya tahu apa yang harus saya lakukan di akhir minggu ini. Istirahat. Mumpung masih dikasih kesempatan, yaa ada waktu dipakai istirahat.

Selamat berakhir pekan. Selamat istirahat :)

This entry was posted in cerita_kerja, sehari-hari and tagged , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Istirahat

  1. manusiasuper says:

    terpaksa koment, setelah baca: “Wah kok di daerah tandus gini, jangan-jangan gua kesasar di Kalimantan?”

    He…

    Sepertinya masih dalam pemulihan ya bang Aip? Parah sangat kah kemaren itu sakitnya? Saya doakan setulusnya agar segera sehat dan berjaya kembali bang..

    Soal tidur itu, alangkah senangnya bisa tidur 12 jam sehari.,. Saya masih punya tumpukan tugas kuliah yang mesti dikerjakan selama 2 minggu ini… *puter Star Wars marathon*

    –0–

    Terimakasih Mansup. Iya, lumayan ini sakitnya euy. Syukur banget saya masih ada waktu buat tidur.

    Soal Kalimantan, kami baru dapat foto terbaru yang diambil beberapa minggu lalu. Sadis euy, laju penggundulan hutan makin parah. Ada sih yang masih asri, namun tidak jauh dari perbatasan RI-Malaysia saja. Sisanya, kalau tidak beberapa clustur kecil, kelapa sawit, yaa gundul.

  2. aRuL says:

    numpang ngakak dikit bang 😀

    wah seru juga perjalanan akibat ketidurannya, bisa kembali ke perputaran awal. Ajaib 😀
    Kalo masalah kesasar saya pernah di salah satu kota besar, pertama kali jalan pengennya coba-coba eh tapi salah naik bus, busnya lewat tol dan tentunya melewati rumah yg ingin saya datangi…. untungnya pulangnya searah, kalo beda wah bisa berabe, ngak ngerti kota saya 😀

    Oh iya, semoga lekas sehat se sehat-sehatnya bang :)

    –0–

    Terimakasih yaa Rul :)

  3. nita says:

    sampe gak tau mo komen apa.
    tapi bang, katanya kalo tidur yang sampe kayak gitu itu emang nikmat banget tuh.
    gimana wiken kemaren? udah tidur sepuasnya?

    –0–

    Aduh malah tambah lemes. Sebab ada beberapa kawan datang dan bawa info penting. Jadi malah kurang tidur Mbak :)

  4. adipati kademangan says:

    Semoga cepat pulih kondisi badannya bang
    Istirahat kan gak harus tidur di rumah bang. Jalan-jalan sambil ketiduran di kendaraan pun bisa menggantikan rasa tidur di rumah. Ketiduran itu rasanya lebih enak daripada tidur yang dipaksakan.

    –0–

    Terimakasih Adipati. Iya bener, enak banget itu tidur di bis. Mantep.

Leave a Reply