Jum and Jack: Satu

Dia anak paling pintar di kampung kami. Selalu jadi idola saya. Rambutnya ikal, badannya gelap, kurus dan tinggi. Anak kuliahan. Setiap hari pulang pergi ke kampus. menyandang tas ransel berangkat pagi. Kadang pulang sore, kadang pulang malam. Kelihatannya, hidupnya bebas dan bahagia. Saya berharap, suatu hari jadi sepertinya. Dewasa, cerdas, bebas dan bahagia.

Kami berteman akrab. Ibu setiap mengomel selalu membawa-bawa namanya. “Kamu ini nakal banget sih. Nggak mau nurut kata orangtua. Tuh liat si Jumari. Biar kata bapaknya tukang mie ayam, emaknya ibu rumah tangga, tapi liat tuh sekolahnya tinggi. Sekolah guru di IKIP. Kamu udah bapak enggak punya, masih aja belagu. Contoh noh si Jumari!”

Saya selalu melengos lesu kalau Ibu bawa-bawa nama Jumari dalam percakapan kami. Yaelah, masa sih bandingin Jumari ama saya? Dia mah pan anak paling pinter se-Cilincing. Temen-temannya aja, mantep-mantep semua. Dulu di Jakarta ada radio SK (Suara Kejayaan). Saya sering menginap di sana, di studio siaran itu. Sebab yang siaran itu teman-temannya Jumari semua. Banyak yang jadi artis. Gile, si Jumari, walaupun kucel dari Cilincing, tapi kok bisa bergaulnya sama artis ibukota. Itu yang selalu ada di benak saya kalau diajak melihat temannya siaran.

Suatu hari yang naas, saya tertangkap basah oleh warga sedang melakukan perbuatan yang tidak semestinya dan lalu diserahkan pada Ibu. Tentu saja Ibu marahnya bukan main. Saya pikir, gelegar suara kemarahannya bisa terdengar di dua puluh rumah tetangga-tetangga sekitarnya. Saya diam saja. Saya tahu saya salah. Saya diam namun bersyukur langsung diserahkan pada Ibu, sehinigga tidak dihakimi massa. Omelan Ibu saat itu seperti biasa, pasti bawa-bawa nama Jumari. Anehnya, saat itu kebetulan Jumari sedang datang ke rumah mau mengajak saya main bola.

“Salamlekum, waah ada apa nih Bu rame banget?”

“Biasa nih bocah. Kaga ngerti adat. Bikin malu orang banyak”

“Ya udah Bu, ntar saya bilangin”

Lengan saya diapit Jumari. Kami lalu ke lapangan sepakbola di seberang sawah yang saat itu belum jadi pabrik industri. Jum menyelamatkan saya dari omelan Ibu yang nampaknya tidak putus-putus itu.

“Lu kenapa, Jack? Ngisengin anak perempuan orang lagi? Mabok terus maling lagi? Apa berantem lagi gara-gara iseng? Ahh lu mah iseng banget sih Jack. Apa lu tumben ngerampok?”  Tanyanya ramah.

Ahh ia selalu ramah. Dan ia, anehnya, selalu memanggil saya dengan sebutan ‘Jack’.

Saya membuang muka sambil menjawab, “Yaah gitulah…” malas menerangkan lebih lanjut.

“Lu digebugin, Jack?”

“Nggak Jum” kata saya sambil menghela nafas. “Untung aja gua nggak digebugin. Capek gua digebugin orang terus Jum. Sampe seminggu kadang susah tidur, ngilu-ngilu”. Kata saya sambil mengerenyitkan muka.

Bulan lalu, saya dipukuli anak muda sekampung di Bekasi Barat. Gara-gara saya teriak-teriak nyanyi-nyanyi di jalanan. Katanya, lagu saya menyinggung mereka. Disuruh diam, saya tidak mau. Saya tantang mereka sekampung. Sebab merasa jagoan akibat pakai jimat kebal peluru (pinjeman dari si Bandi). Hasilnya, saya dikeroyok satu kampung dan memang benar saya tidak kena luka bacokan apalagi tembakan (sebab memang tidak ada dari musuh saya yang bawa pistol). Tapi muka dan badan saya bonyok-bonyok. Hehe.

Dia memberi bola sambil tersenyum, “Jack, lo kalo mao jadi bandit jangan tanggung-tanggung. Jadi bandit yaa bandit yang pinter, Jack. Kalo bego lu digebugin orang terus. Muka lu berantakan terus”

Saya diam. Main bola setelahnya pun tidak konsentrasi.

Dan tidak lama kemudian setelahnya, saya jadi lebih giat belajar. Saya ingat pesan Jumari. Kalau jadi bandit, jangan tanggung-tanggung. Maka itu harus banyak belajar. Dan sejak itu pula saya belajar banyak. Terutama baca-baca buku kriminalitas dan hukum.

Kebanyakan belajar, saya malah lupa jadi bandit.

Walaupun susah payah, saya akhirnya berhasil menamatkan pendidikan Sekolah Menengah Atas. Hari itu, walaupun saya tahu ijasah saya tidak akan mengubah muka dunia ini, tapi entah kenapa senang sekali rasanya.

Waktu saya lulus, saya ingat Jumari.

This entry was posted in bangaip, Orang Indonesia, sehari-hari and tagged , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Jum and Jack: Satu

  1. mas stein says:

    cerita bersambung ini bang?

    –0–

    Yup

  2. didi says:

    mantaps..belakangan saya jadi sering ngebaca tulisan2 bangaiptop :D. #curhat.

    –0–

    Terimakasih euy

  3. edratna says:

    Hmm…fiksi yang diambil dari lingkungan Cilincing.
    Namun juga membuatku introspeksi, memang sulit jadi ibu, saat anak beranjak dewasa..semua menjadi serba salah….

    –0–
    Jadi orangtua ternyata memang tidak mudah yaah Bu :)
    Anyway, saya selalu berharap tulisan ini fiksi belaka.

Leave a Reply