Jum and Jack: Tiga

Nasib memisahkan kami berdua. Saya pergi semakin jauh dan terus menjauh dari Cilincing. Mengunjungi semua pelosok yang ada di muka bumi seperti yang pernah saya cita-citakan sebelumnya. Jumari terus bergulat dengan keseharian Cilincing. Dengan orang-orang Cilincing. Dengan tanah, laut dan udara Cilincing yang panas.

Kami mencintai Cilincing dengan cara yang berbeda. Buat dia, menjadi guru dan mengamalkan ilmu di Cilincing adalah pencapaian tertinggi yang bisa dicapai manusia. Setidaknya, jika manusia yang dia maksud adalah kami setongkrongannya. Dan ia pun lalu jadi guru. Sesuai dengan idealismenya.

Buat saya, mencintai Cilincing adalah menyebarkan sebanyak-banyaknya pada dunia. Bahwa resistansi masih ada. Bahwa kami, manusia yang disisihkan secara terstruktur baik dari segi ekonomi, budaya, strata sosial dan macam-macam lainnya, masih bisa melawan.

Dan akhirnya ketika sama-sama beranjak dewasa, kami sepakat untuk tidak saling sepakat. Yang kami tahu cuma satu, kami sama-sama mencintai air, tanah dan udara bumi kelahiran.

Lalu di pagi itu, kami bertemu kembali. Setelah sekian lama hingga entah berapa purnama.

Sembil menggendong bocah berusia tiga tahun ia memeluk saya, “Gua senang lu pulang kampung, Jack. Kenalin nih jagoan gua pertama, Ravi”

“Gua juga seneng pulang kampung ketemu lu ama keluarga lo. Apakabar Ugi, sehat?”

“Lagi hamil lagi anak kedua kami. Insya Allah deh, lancar-lancar aja”

“Amiinn…”

Ibu masuk ke ruang tamu membawa teh manis dan kua nastar. Hari itu masih dalam suasana lebaran. Jumari tiba-tiba sambil ketawa lebar bicara, “Bu, saya seneng banget nih ngeliat dia. Wah sumpah mati. Dulu mah siapa sih yang nyangka dia bakalan jadi begini. Pasti nggak ada! Hidupnya nih anak pan blangsak banget. Bangga saya bu anak Ibu jadi begini”

Ibu mulutnya merucut, “Jangan dibilangin gitu di depan dia, Jum. Nanti idungnya yang gede jadi tambah megar”

“Hehe, biar aja Bu. Kasian nih anak, dari dulu kita hina-hina terus. Sekali-kali lah, mumpung lebaran, kita angkat sedikit. Biar kita masuk sorga”

Saya tertawa mendengar canda mereka, “Muji aja pake ngitung segala. Haha”

Jumari mendudukkan Ravi di sampingnya, “Anak sekarang, Jack. Nggak kayak jaman kita dulu”

Lagi-lagi saya ketawa, “Jum, lo ati-ati ah men kalo ngomong mulai pake kalimat ‘anak sekarang’. Itu tandanya lu udah mau uzur, men. Hahaha. Yaa anak sekarang beda ama jaman kita. Teknologinya beda, budayanya beda, maka outputnya juga beda”

“Bukan itu maksud gua, Jack. Kalo itu mah gua juga tau. Maksud gua gini. Lu tau lah kita bukan orang kaya. Orangtua kita juga mah kan idup seadanya. Tapi kita sih pan dulu mao kaya. Trus usaha. Anak sekarang gawat, Jack. Kalo masalah miskin, semua orang Cilincing miskinnya sih masih sama ama dulu. Lebih miskin malah. Tapi anak sekarang ini, udah susah banget begeraknya”

Jumari cerita tentang pembangunan pelabuhan peti kemas Cilincing baru yang menghancurkan rumah-rumah warga. Sebab rumah warga miskin katanya tidak layak huni. Bikin rusak kesehatan. Tapi kalau memang tidak menyehatkan, kok digusur? Bukannya disehatkan?

Jumari cerita tentang laut Cilincing yang semakin hari semakin ditimbun minyak buangan bekas solar nelayan miskin yang rendah pendidikannya dan bahkan tidak menyadari persoalan lingkungan.

Jumari cerita tentang anak-anak perempuan yang kami ketahui dulu masih bau kencur kini jadi pelacur-pelacur desa yang datang ke perbatasan Cilincing sejak beberapa raksasa multinasional ternyata menemukan fakta bahwa ada cadangan minyak di sana serta mendirikan semacam kilang.

Jumari cerita tentang bahwa kini sudah tidak ada lagi kambing dan sapi berkeliaran di jalan raya. Sebab lahan beternak sudah habis. Danau digusur. Hutan bakau menghilang. Banjir menghadang. Dimana-mana raja-raja kecil baru bermunculan minta upeti. Selalu saja ada ikan yang lebih besar. Dan dalam rantai makanan, warga kecil miskin lemah lah yang selalu jadi korban. “Kita tumbangin satu Soeharto besar, kini muncul lebih dari seribu Soeharto-soeharto kecil”, katanya lesu sambil mengusap kepala Ravi.

Ia mengajak duduk di teras rumah sambil berkata lagi, “Dulu kalo ngerampok, ditangkep aparat. Sekarang, aparat yang ngerampok. Siapa yang nangkep kalo duit rampokan dibagi rata antar para perampok yang ternyata punya kuasa?”

Saya tidak bisa membantahnya. Saya ingat beberapa hari yang lalu ketika beberapa orang teman kerja dari Italia yang pernah mengunjungi Jakarta bertanya keheranan, “Mengapa Jakarta dengan penduduk luar biasa banyak, tapi angka kriminalitas rendah dibanding kota megapolitan dunia lainnya?”. Saya jawab lesu, “Sebab semua preman nya saling bagi jatah wilayah rampokan dan hasilnya. Mulai dari gerombolan fasis berjubah relijius, gang anak kampung bekas wilayah jajahan RI yang dibeking oknum militer atau polisi, bahkan hingga bos-bos aparat itu sendiri. Semuanya bagi-bagi jatah. Jadi yaa di jalanan kriminalitas rendah. Tapi dibalik itu, pencurian uang dan fasilitas rakyat amat tinggi”.

Iya, saya tidak bisa membantah Jumari. Anak Cilincing, sesial-sialnya terpaksa jadi rampok. Paling jadi rampok ojek. Hina banget itu. Jadi rampok kok ngerampoknya ke orang susah? Tapi ngapain juga ngerampok ojek kalau kredit motor sudah sedemikian mudahnya? Dulu orang beli motor tadahan, gara-gara murah. Di bawah harga standar. Sekarang, beli motor curian, resikonya tinggi. Polisi semakin hari semakin canggih. Belum lagi kepercayaan lokal yang menganggap beli motor maling bisa bikin sial.

Saya sedih. Tidak tahu harus bilang apa lagi.

Di luar rumah Ibu, anak-anak yang dulu saya tinggal masih SD dan ceria sekali bermain bola, kini beranjak dewasa. Duduk luntang-lantung  di Poskamling yang sudah sedemikian tidak terawatnya. Tampak menatap nanar orang-orang yang lalu lalang di jalan raya. Hari itu siang. Mereka tidak sekolah tidak pula bekerja.

Menurut rumor lokal, hanya si miskin yang luar biasa cerdas kini bisa lanjut ke perguruan tinggi untuk dapat beasiswa. Bagi yang otaknya rata-rata, sekolah itu mimpi. Bagi yang otaknya rata-rata, kecil sekali kemungkinan untuk maju. Anak Cilincing, sama seperti anak-anak Indonesia lainnya. Ditambah gizi buruk dan lingkungan kumuh, belum tentu otaknya jadi rata-rata. Ahhh…

Ia gendong lagi Ravi sambil terus berkata, “Lo liat tuh Jack. Bentar lagi malem, tuh anak -anak yang nongkrong di Poskamling juga paling mabok, maen gitar, terus bacok-bacokan. Paling-paling ngebacok temennya atau orang lewat. Marah ama idup tapi nggak tau mau marah ke siapa”

Sejak saat itu, setiap melihat ada anak muda yang berwajah letih nongkrong di pinggir jalan menatap nanar hingar bingar manusia dan seakan tidak tahu harus berbuat apa-apa, saya selalu merasa tidak bangga pada diri saya. Entah kenapa.

Tapi, mereka selalu mengingatkan saya pada Jumari.

This entry was posted in bangaip, Orang Indonesia and tagged , , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Jum and Jack: Tiga

  1. galeshka says:

    Marah ama idup tapi nggak tau mau marah ke siapa

    Rasanya ga cuma anak muda berwajah letih yang nongkrong di pinggir jalan aja, Bang. Para preman berjubah itu juga kroco-kroconya sebagian besar seperti itu, marah sama hidup tapi ga tau mau dilampiasin kemana. Terus dikasih penyaluran deh sama preman berjubah ulama…

    Dan rasanya kadang saya juga seperti itu, marah sama keadaan tapi ga tau mau marah sama siapa *curcol*

    –0–

    Yo got the point, Mas Galesh. Itu bukan curcol kok. Sebab memang banyak orang mengalami hal yang sama. Khawatirnya sih ini mirip bom waktu, tinggal menunggu kapan meledaknya

  2. mas stein says:

    rupanya cilincing ini indonesia versi kecil 😆

    manteb banget tulisannya!

    –0–

    Terimakasih Mas. Saya pikir kampung saya Cilincing dan sebagaimana kampung-kampung kecil lainnnya, memang miniatur dari Indonesia. Sebab dari kampung-kampung inilah jiwa perilaku bangsa sebenarnya ada. Bukan dari tingkah para wakil kita di Senayan sana

  3. edratna says:

    Sepakat untuk tidak sepakat…..sudah lama saya tak mendengar kata ini, dulu nyaris setiap hari mendengar kata ini.

    Unanimous consent….hahaha…akhirnya malah nggak putus-putus…lha rambut sama hitam, pendapat berbeda-beda….

    –0–

    Itu baru yang rambutnya sama hitam Bu. Sudah pusing. Saya sendiri malah lebih pusing lagi memang kalau mengakomodasi para buruh di pabrik kami yang rambutnya sudah beda warna, budayanya beda, latar belakang beda, kelas beda dan lain-lainnya beda. Hehehe…

Leave a Reply