Sekedar Cerita Tentang Citra

Indonesian President Susilo Bambang Yudhono and Australia Prime Minister John Howard at 2006 (*Source: theage.com.au *)

Anda pikir hanya Pak Beye saja presiden kita yang terhormat yang punya politik pencitraan? Salah. Bukan ahh… Bukan hanya beliau yang pakai make-up kalau muncul ke publik. Sebab saya juga loh. Hahaha.

Sebenarnya masih banyak orang lain selain saya (atau Pak Beye misalnya) yang punya politik pencitraan. Namun daripada kita ngomongin orang, mendingan bicara diri saya sendiri saja lah. Sebab andaikata membicarakan orang bukanlah sifat yang baik, maka saya dihindarkan untuk tidak berbuat hal yang tidak baik pada orang lain.

Oke, balik lagi ke pencitraan diri saya.

Begini, saya paling tidak suka diekspos ke publik selain oleh diri saya sendiri dan dengan cara saya sendiri. Egois? Ya iyaa lah. Itu mah jelas. Terserah orang mau omong apa, yang mau saya tampilkan pada publik adalah apa yang saya pikirkan selayaknya tampil. Di tulisan-tulisan saya, atau di karya-karya saya lainnya, saya sangat memperhatikan pencitraan diri ini. Saya mau jadi tukang makan beling kek, mau jadi ninja kek, mau jadi nenek-nenek bangkotan yang sakaratul maut mau mati kek, semuanya bisa saya lakukan di tulisan-tulisan saya.

Tapi apa perlu?

Buat saya, perlu dan tidak perlu. Untuk menulis mengenai keseharian hidup yang sudah amburadul ini, saya tidak merasa perlu mencitrakan diri saya. Saya pikir, apakah dunia akan kiamat saat ini juga kalau saya bilang bahwa saya manusia yang badannya penuh bekas luka yang menghitam. Saya pikir juga, apakah semua manusia akan bertransformasi menjadi kupu-kupu setelah membaca opini-opini saya. Tidak kan? Jadi apa yang perlu saya citrakan dari masalah keseharian hidup? Jawabnya sederhana; tidak ada.

(*Masih baca? Kalau iya mari bermain sejenak, coba ganti semua kalimat ‘saya’ di paragraf atas dengan kata ‘Anda’. Asik deh. Hahaha*)

Tapi kenapa perlu?

Percayalah, saya belum segamblang itu untuk mengungkapkan brutalitas yang saya alami sehari-hari dan lalu memajang foto saya atau foto-foto tokoh yang ada dalam tulisan saya, kepada publik. Satu-satunya saat saya memajang foto adalah ketika putri saya lahir di tahun 2008. Fotonya, foto keluarga di rumah sakit. Satu minggu kemudian, tulisan itu saya proteksi. Saya tidak merasa butuh membagi publik lama-lama. Sebab saat itu targetnya memang keluarga dan sahabat-sahabat yang menanyakan bagaimana proses kelahiran putri kami. Dan menulis blog mengenai proses tersebut dan memajang foto pada-saat-itu kelihatannya jauh lebih sederhana daripada mengirim email kepada ratusan orang.

Jadi jawab pertanyaan di atas apakah perlu mencitrakan diri, saya jawab perlu. Maksud saya dengan perlu adalah, bahwa saya tidak merasa perlu memajang foto-foto personal pada publik. Sebab dengan begitu, saya bisa menulis tanpa perasaan malu.

Apakah saya anonim? Tidak juga sih. Ada banyak cara yang dengan mudah mampu mengungkapkan siapa saya. Jadi saya pun sebenarnya tidak terlalu anonim. Tapi setidaknya, dengan tidak menunjukkan wajah pada publik saya akan lebih leluasa dalam bergerak. Bercerita. Berkarya.

Ya sudah, itu pengantar di atas sudah cukup. Hari ini saya mau cerita yang hanya karena anonim lah saya bisa berbagi kepada publik.

Begini ceritanya, saya kelihatannya sedang kesal. Masalahnya sepele, saya akan dapat training baru. Apabila diterjemahkan training ini berjudul “Bagaimana cara menggunakan email dan internet dalam masa kerja”.

Loh bukankah edukasi itu baik. Kesalnya dimana?

  • Menurut pernyataan resmi pabrik: “Email dan internet tumbuh pesat dan menjadi sarana penting sebagai alat untuk bekerja dan interaksi sosial, begitupula penyalahgunaannya. Dan karena komunikasi elektronik meninggalkan jejak yang tampaknya tidak pernah hilang, konsekuensi dari penyalahgunaan tersebut dapat berakibat drastis bagi karyawan dan pemberi kerja” (*Sejak kapan saya menyalahgunakan email dan internet tempat kerja? Tersinggung saya*)
  • Beberapa minggu lalu, saya mengirim email kepada administrator pabrik. Saya meminta blok firewall pengaman sistem pada port tertentu dibuka agar memudahkan kerja. Dengan sederhana saya bilang bahwa membuka blokade dapat dilakukan dengan cara tertentu dalam jangka waktu yang tidak lama, tapi saya menghormati pekerjaan mereka dan berharap mereka dapat membantu secepatnya. Rupanya mereka tersinggung. (*mungkin sanksinya, saya harus belajar cara kirim email dan belajar menghormati admin. Tersinggung saya, bukannya dia toh yang harus bantu saya kerja lebih efisien dan efektif?!*)
  • Saya harus ikut training ini. Diselesaikan minimal dalam jangka waktu 7 hari. (*Tersinggung dong, memangnya yang ngasih tugas ini ga mikir kalau saya punya kerjaan lain yang sedang berjalan?*)
  • Saya mulai bertanya-tanya apakah ini diskriminasi
  • Pertanyaan lanjutan semakin mengerikan: “Memangnya saya bloon? Jadi harus belajar lagi cara kirim email dan berinternetan?”

Anyway, karena kesal maka konsultasilah saya soal masalah ini pada Mbak Ita seorang rekan kerja.

Matanya membulat ketika menjawab, “Eeeh, bukan cuma kamu kok yang sering kerja dengan internet harus ikut kursus itu. Saya juga loh. Padahal saya mah kan jarang pakai internet kalau kerja. Apalagi saya mah kan cuma ibu-ibu biasa”

Saya tercenung. Wah kelihatannya saya terjebak dan membiarkan diri dijebak salah sangka. Kekesalan saya ternyata dipicu oleh arogansi sepihak. Yaitu diri saya sendiri. Ternyata bukan hanya saya yang harus ikut pelatihan tersebut.

Apa salahnya sih terus belajar. Apalagi jika itu berlajar memperbaiki mengetahui sesuatu yang setiap hari dikerjakan. Bukankah belajar menulis surat elektronik dengan lebih baik dan berinternet lebih bijak adalah sesuatu yang bagus. Ada pepatah mengatakan ‘God has mercy. Internet don’t’. Artinya, apa yang kita buat di ranah maya ini, jejaknya lebih mudah ditelusuri oleh siapapun yang mampu menelusurinya. Dan, sama sekali tidak bisa dihapus (*kecuali jika Anda sakti. Saya mah, pasti bukan orang sakti*).

Lalu kenapa pula saya harus kecewa pada administrator pabrik. Dia kan juga punya prioritas dan jadwal dalam pekerjaannya. Saya yang datang begitu saja tanpa pemberitahuan sebelumnya tiba-tiba memaksa agar diprioritaskan, kok yaa kelihatannya seperti pejabat jaman Orde Baru. Apa-apa minta diprioritaskan. Tidak tahu diri menunggu untuk antri. Mentang-mentang merasa besar dan melihat ada yang lebih kecil, main sikat sembarangan. Seharusnya saya kecewa pada diri sendiri yang sempat-sempatnya berfikiran serendah itu terhadap orang lain.

Dan dituntut untuk menyelesaikan waktu belajar dengan lebih cepat, bukankah itu juga lebih baik? Makin cepat selesai berarti makin cepat pula saya tidak terlihat bodoh di depan orang yang saya kirimi surat.

Lantas apa pula gerangan yang membuat saya merasa didiskriminasi kalau semua orang mendapat jatah belajar yang sama. Andaipun tidak. Semestinya saya bersyukur masih diberi kesempatan untuk belajar lagi.

Terus mengenai saya bodoh, lah kok yaa saya malu mengakui diri kalau saya tidak pintar. Dulu saya sering di ‘bloon-blooni’ oleh teman-teman. Rasanya tidak enak. Sakit hati. Sedih. Tapi kali ini, ketika saya ‘dibloon-blooni’ oleh diri sendiri, rasanya ternyata jauh dari sakit. Apalagi sedih. Sebab saya ternyata mampu bilang pada diri sendiri, “Iya gua nggak pinter. Umur makin nambah, tapi ilmu segini-gini aja. Malu yaah. Makanya itu harus belajar. Supaya pinter”

Barangkali saja, apabila belajar menulis email dan internetan dengan lebih baik dan lebih berguna, saya bisa punya ilmu baru.

(*Soal balon kata di foto, itu saya ngarang sendiri. Maap kalo tersinggung. Apresiasi terhadap bibir presiden tercinta yang makin lama makin seksi mirip Angelina Jolie. Beda antara dua manusia sakti ini nggak banyak sih. Yang satu terbang ke perbatasan Libia ketika perang tahun 2011 untuk membantu pengungsi. Yang satu lagi, terbang ke Sidoarjo tahun 2006 ketika Lapindo merusak alam untuk mengasihani pengungsi, Eh maaf saya salah, ternyata beda antara membantu dengan mengasihani banyak juga yaah. Eh maaf, saya kok ngomongin orang lagi. Hehehe. Soriii…*)

This entry was posted in bangaip, Orang Indonesia, Republik Indonesia, sehari-hari. Bookmark the permalink.

3 Responses to Sekedar Cerita Tentang Citra

  1. Bang Aip, jangankan Abang, orang yang udah 20 tahun pinter bikin kue aja tetap kudu ikut seminar kok. Kalo nggak memperbaharui ilmu, mungkin kepandaiannya bikin kue ya cuman segitu-gitu aja, nggak tahu trend apa yang dibutuhkan masyarakat, nggak tahu gimana cara bikin kue yang lebih cepat tapi rasa tetap enak.

    Semoga pelatihannya berguna, Bang. :)

    –0–

    Terimakasih Mbak, ini informasinya berguna sekali buat saya. Iya memang, kita dalam kondisi apapun harus tetap belajar euy

  2. itikkecil says:

    soal privasi yang perlu dibagi ke publik saya memang perlu belajar lagi bang… apalagi selama ini saya agak susah untuk menutup mulut *maksudnya mencela* di twitter… padahal, jejak digital agak susah untuk dihilangkan dibandingkan dengan jejak kaki saya sendiri…

    etapi, foto novi kirana beserta bang aip dan istri masih saya simpan lho…

    –0–

    Hehehe, soal foto: jadi tersanjung saya nih :) Kalau soal jejak, iya euy. Hati-hati, Mbak :)

  3. mas stein says:

    jadi berpikir untuk menghilangkan poto dari blog, tapi percuma kayaknya, sudah kadung ada jejaknya di mana-mana.

    ngomong-ngomong soal tugas dari atas yang sering kita pikir ndak cocok sama apa yang sebenernya dibutuhkan anak buah sepertinya di mana-mana sama, paling ndak itu yang kadang saya rasakan sebagai buruh kecil.

Leave a Reply