Tukang Cak

Masa sekolah dulu, boleh dibilang saya sama sekali tidak memiliki prestasi yang memadai. Nilai saya untuk semua mata pelajaran adalah rata-rata. Sementara yang ada dalam kategori di bawah rata-rata, jelas semua mata pelajaran yang berbau norma moral dan agama. Entah kenapa segala sesuatu yang berhubungan dengan norma moral dan agama, nilai saya selalu merah.

Satu mata pelajaran yang nilainya di atas rata-rata, mungkin hanya matematika. Dan itu pun tidak semua matematika, sebab saya hanya menyukai cabang keilmuan matematika yang bernama teori kemungkinan (probability theory).

Mengapa saya menyukai teori kemungkinan dalam matematika? Sebelum saya jawab ini, ada baiknya jika saya menerangkan apa itu teori kemungkinan dalam matematika.

Menurut kamus, teori kemungkinan dalam matematika adalah;

Cabang matematika yang bersangkutan dengan analisis fenomena acak. Objek utama dari teori kemungkinan adalah variabel-variabel yang terlihat acak atau kejadian-kejadian tertentu. Peristiwa matematis dapat dengan jelas terlihat dalam kejadian yang berkembang dari waktu ke waktu dalam mode yang tampaknya acak. Misalnya jika seseorang melemparkan koin atau dadu dianggap peristiwa acak, maka jika ia berulangkali mengulangi urutan kejadian acak tersebut maka akan menunjukkan pola-pola tertentu, yang dapat dipelajari dan diprediksi. Teori kemungkinan adalah dasar statistik. Ia berlaku untuk deskripsi sistem yang kompleks seperti misalnya digunakannya pada mekanika statistik untuk menjelaskan banyak hal

Waktu pertama kali Bu Atu (pengajar matematika teori kemungkinan) menjelaskan hal ini, saya langsung konsentrasi. Di otak saya hanya dua kata kunci yang tertangkap. Satu ‘dadu’. Satu lagi bagian ‘menjelaskan banyak hal’.

Gila! Gua bisa kaya kalo begini. Itu satu-satunya hal yang ada di otak saya. Bagaimana tidak, judi yang selama ini saya anggap misteri, ternyata bisa dipecahkan dengan matematika!

Waktu zaman saya belajar teori ini, Indonesia sedang keranjingan judi namanya Togel. Singkatan dari Toto Gelap. Judi Toto sendiri katanya datang dari Malaysia/Singapura. Entah saya tidak tahu pastinya, yang pasti di di kampung saya Cilincing manusia berlomba-lomba pergi ke bandar setiap malam untuk bertaruh pada sepasang angka (atau lebih) pada beberapa carik kertas yang disediakan bandar judi lokal. Ada embel-embel gelap, yaa karena memang bukan resmi binaan pemerintah.

Warga keranjingan Togel. Murah sih, seribu lima ratus rupiah sudah dapat bertaruh untuk dua angka. Kalau menang, bisa dapat puluhan kali lipatnya. Mulai dari tukang becak hingga bos kapal nelayan, semuanya hobi pasang judi togel.

Togel lalu jadi epidemi. Di poskamling tempat warga berkumpul, pasti selalu ada sebuah kertas berukuran A4 fotokopi yang isinya adalah gambar-gambar binatang atau benda yang tertera dalam kotak-kotak kecil. Di bawah icon-icon tersebut ada angka, biasanya dua huruf. Ketika akhirnya sudah jadi wabah, bahkan tiang listrik pun ditempeli oleh kertas-kertas tersebut. Yang pasti, kampung saya berubah bagaikan masa pemilihan lurah. Dimana-mana ada kertas promosi. Isinya icon dan angka.

Apa sebenarnya isi kertas fotokopi tersebut? Sederhana. Katanya itu penafsir mimpi. Kalau suatu malam Anda bermimpi diterkam macan, lihat saja kertas itu. Pada icon macan dibawahnya tertera angka 15. Maka pergilah ke bandar, pasang angka 15 sambil berharap mimpi Anda jadi kenyataan. Lalu lantas jika suatu hari bermimpi bertemu ular di sungai, maka pasanglah angka 23. Jangan 32, sebab itu artinya ular laut, bukan ular yang hidup di air tawar.

Mengapa warga kampung saya sudah sedemikian percayanya pada mimpi?

Ketika kemiskinan sudah menjerat, keadilan sosial hanyalah angan-angan, siapa lagi yang bisa dipercayai selain mimpi. Maka itu, jauh lebih banyak para penggila judi Togel adalah para nelayan kecil hingga tukang becak ketimbang para bos kapal. Buat mereka, hanya mimpi yang dimiliki dan satu-satunya yang murah yang bisa terbeli.

Lalu, apakah saya jadi tergila-gila dengan judi togel pula sebagaimana warga kampung lainnya?

Tunggu dulu ahh. Cerita saya belum sampai ke sana. Mari kita balik lagi ke soal mimpi. Masih ingat cerita di atas bahwa warga mengandalkan taruhan mereka pada mimpi. Secara literal, benar-benar mimpi. Artinya mereka tidur dulu untuk mendapatkan mimpi yang lalu ditukar secarik kertas demi mendapatkan mimpi baru.

Jadi begini, jika seorang warga (mari kita sebut saja si Fulan) bermimpi bertemu lantas diterkam macan, maka ia dengan tidak segan-segan memasang angka 15 pada taruhannya. Tapi bagaimana kalau pada sebuah siang di Cilincing yang panas ia bermimpi bertemu macan di tikungan, lantas dikejar singa hingga pematang lalu ditelanjangi ular di sawah hingga setelahnya diperkosa ramai-ramai oleh gajah? Angka apa yang harus ia pasang?

Nah ini lah gunanya saya (dan gunanya teori kemungkinan). Yang pasti saya tidak akan menjelaskan disini betapa dengan ugal-ugalannya saya menggabungkan teori kemungkinan dan analisa Freud dalam mengubah mimpi para manusia malang itu menjadi angka kongkrit yang mereka pasang sebelum masa pengundian tiap malam tiba.

Saat ini, mungkin jabatan yang saya pegang bisa disebut setara dengan kalimat ‘penasihat spiritual’. Zaman itu, nama saya disebut dengan panggilan ‘tukang cak’, orang yang melihat angka-angka acak. Padahal sebenarnya, dalam zaman apapun saya pikir sebutan untuk saya saya adalah manusia yang keterlaluan menyedihkan yang mencoba mengambil keuntungan dari para manusia malang.

Setiap konsultasi, saya dibayar seribu rupiah. Lumayan. Jika sehari ada sepuluh pelanggan, then you do the math. Zaman itu, dengan uang hasil konsultasi saya bisa beli rokok sebungkus, mie instan pakai telor bahkan berbotol-botol coca-cola. Lambang pergaulan anak muda. Jadi, saat itu kebahagiaan saya berdiri di atas jemari para nelayan dan tukang becak miskin yang terus bermimpi. Sungguh mengenaskan.

Eh apakah sudah saya bilang kalau nilai moral dan reliji saya rendah? Kalau sudah, Anda mungkin bisa mahfum manusia macam apa saya itu. Sebab selama saya bisa mengkalkulasi semua angka dan kemungkinan, saat itu saya akan tetap jalan terus. Menyenangkan.

Iya, saya jalan terus. Selama karir saya sebagai tukang cak, padahal hanya tiga kali saja bisa menebak benar. Artinya sederhana, teori kemungkinan yang saya agung-agungkan ternyata tidak bisa mengalahkan judi togel. Pola angka yang saya bangun, tidak terbukti sukses. Kalau setiap malam ada dua puluh pelanggan dan dalam sebulan hanya mampu menebak tiga taruhan dalam empat digit yang benar, maka perbandingan analisa acak saya boleh dibilang sama sekali tidak berhasil.

Tapi apa lantas para nelayan dan buruh pabrik tekstil kecil itu percaya walaupun perhitungan matematis saya gagal namun saya bukan tukang cak? Hohoho… Tidak. Sama sekali tidak. Mereka tetap percaya kalau saya mampu mewujudkan mimpi-mimpi mereka. Kepada siapa lagi mereka bisa berharap. Mimpi mereka untuk hidup layak sebagai manusia normal sudah binasa. Maka jika mereka masih punya mimpi diatas mimpi, yaa harus dijaga. Maka itu saya tetap eksis.

Mereka percaya kalau saya ‘sakti’. Dan sebagai orang sakti tentu saya punya previlige khusus. Mirip ambtenaar atau keturunan darah biru pada masa kolonisasi dahulu. Jadi ketika perhitungan saya salah, tentu saja mereka menyalahkan diri sendiri dengan kalimat, “Ahh emang udah gini kali nasib gua malem ini”. Sama sekali tidak pernah menyalahkan saya. Sebab besok malam kami akan berkumpul kembali di poskamling untuk sibuk menganalisa mimpi dan menebak angka. Tentu saja dengan sukarela uang seribu rupiah berpindah tangan setelahnya.

Suatu hari di poskamling, sudah bisa ditebak. Ada yang bertanya, “Kenapa lu ga masang?” pada saya.

Saya jawab, “Ilmu gua luntur nanti”

Seorang bapak-bapak yang mengepulkan asap rokok kreteknya duduk berselonjor ke dinding pos. Baru pulang dari laut. Masih bau amis, bertanya lanjut “Emang belajar di mana dulu gituan”

Saya jawab sekenanya, “Pak Ramli pan tau ndiri, engkong aye orang Banten. Kalo liburan sekolah aye mah ke sono, Pak. Ngelmu. Di sono di Kasemen. Deket mesjid agung. Ini ilmu putih, Pak. Dapetnya aja dari kiyai”

Mendengar itu, biasanya warga kampung saya jauh lebih percaya daripada alasan-alasan lainnya. Ketika hidup sudah tidak lagi logis, rasionalitas bukan sebuah jawaban yang layak terdengar. Apalagi kalau sudah bawa-bawa simbol agama. Seakan jawaban apapun yang tersampaikan sudah direstui oleh langit. Dukungan pembenaran atas mimpi mereka.

Saya malas menjawab kalau saya lebih percaya upaya dagang dengan transaksi jual beli jauh lebih signifikan menguntungkan daripada judi. Pertama, akibat desakan ekonomi sehari-hari mereka biasanya sudah mulai mual duluan apabila mendengar kata ‘modal’. Kedua, saya sering adu argumen yang berakhir absurd ketika mereka menjawab, “dagang kan urat. Cuman yang punya urat dagang doangan bisa dagang”. Ketiga, sebab beberapa orang menganggap bisnis itu tidak lebih dari judi dalam bentuk lain. Keempat dan sekaligus yang terakhir, saya pernah memicu perkelahian karena bilang, “Judi itu ibarat kata naek haji. Buat nyang mampu aja lah. Orang susah ngapain pake judi segala!”

Jadi, maka itu saya lebih memilih menjawab sekenanya.

Namun jawaban sekenanya itu tentu saja tidak berlaku di depan muka Ibu saya yang curiga anaknya sudah berbulan-bulan tidak minta uang jajan. Dan cerita ini pun akhirnya berakhir dengan anti klimaks. Seorang anak yang masih tinggal di rumah orangtua, tidak sanggup melawan meneruskan bisnis di area perjudian demi menjaga nama baik keluarga.

Saya berhenti jadi tukang cak. Profesi yang rendah dimata para agamawan karena membantu suburnya industri judi. Sekaligus profesi yang hina di mata moralis, karena sama sekali tidak etis ikut menghisap darah para manusia yang berada dalam jaringan rantai makanan paling rendah.

Tidak lama setelah saya berhenti, pemerintah dan para cendikiawan agamis memaklumkan perang terhadap judi togel. Tiap malam di kampung kami ada razia polisi. Bandar yang kebetulan buka lapak, disergap dan ‘dibina’. Para nelayan dan buruh kecil tidak lagi duduk bersandar di poskamling menanti semilir angin laut yang membawa kantuk mereka mendulang mimpi. Semua orang takut berhubungan dengan judi togel. Di koran-koran muncul fatwa bahwa togel lebih menakutkan daripada HIV.

Semua orang bekerja. Perjudian dimusnahkan.

Setelah judi musnah, pajak televisi kok yaa jadi murah. Dimana-mana warga ramai-ramai memborong televisi. Ada yang ditaruh di ruang tamu jadi pelengkap perabotan pajangan. Ada yang ditempatkan di ruang makan, seakan bagian dari lauk pauk. Ada yang ditaruh di kamar tidur, mungkin untuk jadi saksi ketika mereka melakukan adegan reproduksi.

Dimana-mana orang punya televisi.

Ketika televisi jadi budaya baru, muncul serial-serial yang tiba-tiba membuat ibu-ibu jadi pecandu. Lalu menular ke anak-anak mereka. Lalu tentu saja para suami mulai ikut-ikutan.

Bedanya dengan judi togel, kini dapur jauh lebih ngebul. Uang yang biasanya dihamburkan para bapak di secarik kertas berisi angka, kini bisa untuk beli makanan dan seragam sekolah anak. Ibu-ibu mulai bisa bersolek. Sales keliling menjajakan kosmetik. Tentu saja biar cantik. Biar mirip bintang yang mereka lihat di televisi. Gaya bicara pun mulai berubah, anak-anak SD bahkan pernah teriak kalimat “Oooh tidaak!!” ketika melihat temannya jatuh dari sepeda. Meniru gaya bicara para artis sinetron. Bapak-bapak mulai bermimpi bisa naik mobil dan bahkan memiliki kendaraan roda empat. Sebab itulah tipikal bapak ideal yang mereka lihat di televisi.

Iya, televisi membuat perbedaan.

Sungguh beda dengan ketika judi togel masih ada.

Sebagaimana teori kemungkinan, jika ada perbedaan maka pasti ada persamaan. Loh apa persamaannya antara televisi dan judi togel?

(*Empat paragraf sisa dipotong. Selain kepanjangan isinya kelihatan seakan saya mau menceramahi para pembaca budiman yang cerdas dan sudah tahu jawabannya apa. Ahh memang saya siapa sok-sokan mau menceramahi warga kampung. Saya kan cuma tukang cak yang kehabisan ladang garapan*)

This entry was posted in bangaip, cerita_kerja, Orang Indonesia, Republik Indonesia and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

11 Responses to Tukang Cak

  1. jardeeq says:

    sama-sama menjual mimpi kah???

    yah,,, daripada harus terus menerus dihajar kenyataan bang,,
    yang entah kenapa nggak pernah semanis mimpi,,

    hahaha

    –0–

    Well, mungkin itulah hidup :) Realita

  2. mas stein says:

    bukan televisi mungkin bang, lebih tepatnya sinetron :mrgreen:

    ngomong-ngomong soal judi, judi itu mbikin kecanduan, kalo menang pengen menang lagi, kalo ndak dapet penasaran. apalagi misalnya tebakannya nyerempet nyaris, kayak temen saya, mimpi angkanya 42 ternyata keluar 41. 😆

    –0–

    Nggak cuma sinetron, iklan juga dong :)

  3. manusiasuper says:

    Mau dikirimin 4 paragraf sisa itu ke email bang, dari pada saya kebawa mimpi penasaran…

    Ngomong-ngomong nilai moral dan agama, pas kuliah juga, semester pertama sudah kena azab pedih karena gagal lulus mata kuliah Agama dan Pancasila…

    –0–

    4 paragraf sisa: no comment :)

    Soal mata pelajaran yang gagal… welcome to the club. Hehehe

  4. nrinaldi says:

    nikmat ceritanya, jadi inget kena togel 2 kali dari 3 kali pasang 2 angka semasa sma dulu

    –0–

    Dapet berapa mas?

  5. itikkecil says:

    waktu saya kecil, tukang cak itu diburu-buru orang bang…
    cuma sekarang memang mereka lebih percaya pada sinetron 😀

    –0–

    Sinetron, iya. Iklan, iya. Kibul para politisi, iya 😀

  6. Wah, saya penasaran dengan 4 paragraf terakhir. Boleh dong dikasih petunjuk?
    Terima kasih

    –0–

    Nggak ahh dong sih deh. Hihihi

  7. Payjo says:

    Bukannya nomer 23 itu monyet Bang? Waktu jaman saya SMP suka ngeledekin temen yang nomer absennya 23 karena sama dengan urutan togel, monyet. Dulu mah bapaknya temen saya yang guru, paman saya sampe temen saya yang calon ustadz di pesantren ikutan masang. Yang terakhir malah jadi bandar :mrgreen:

    –0–

    Hehe, togel kan macam-macam :) Hasilnya juga membentuk manusia yang macam-macam. Termasuk sang calon ustad (dan saya ini) 😀

  8. didi says:

    hooh..penasaran dengan 4 paragraf terakhir.

    –0–

    No comment 😉

  9. nita says:

    semua pada penasaran akan 4 paragraf terakhir (saya jugaaaa…)
    bang aip sengaja, ya kan? ya kan? ya kan? :-)

    –0–

    Hehehe, no comment… no comment… no comment… hehehe

  10. sufehmi says:

    Tentang iklan, saya jadi ingat keluhan salah satu kepala toko saya.

    Saban ada sales menawarkan produk baru, dia terpaksa bertanya dulu, “produknya ini sudah pasang iklan apa belum?”.
    Kalau belum, maka terpaksa dia tolak. Karena bisa dijamin tidak akan laku. :)

    Saya mendengar cerita itu sambil nyengir, mengingat 2 produk yang paling gencar di iklankan di TV – susu formula & rokok. Yang kedua-duanya itu sudah dimarjinalkan di luar negeri.

    Saban saya cerita bahwa di luar negeri itu susu formula cuma bisa dibeli di apotik, pasti lawan bicara saya jadi bengong 😀 lha saya juga bengong waktu pertama kali ke supermarket di Birmingham & tidak berhasil menemukan satu kotak pun susu formula 😀 jadi, sekarang giliran orang lain untuk ikutan bengong juga 😀

    Sedangkan rokok…. well, marijuana sekarang sudah di legalkan di beberapa negara, sedangkan rokok malah akan dipunahkan. Sehingga wajar saja jika mereka kabur ke negara-negara lainnya yang masih bersahabat dengan mereka, seperti Indonesia :) eh mustinya :(

    –0–

    Benar Pak Harry, ini memang masalah iklan. Kita di RI mati-matian bikin lembaga sensor ini itu (*terutama sensor paha, hihi*), tapi kok yaa nggak mati-matian bikin lembaga sensor produk yang merugikan konsumen? Saya sempat mengobrol dengan beberapa teman yang bergiat di perlindungan konsumen, kata mereka saat ini produk-produk tak layak jual dan tak layak pakai sudah kuat sekali pengaruhnya. Iklan tidak lagi ditayangkan lewat fill diantara film, melainkan sudah di film itu sendiri (baca: sinetron). Jadi katanya, warga RI sudah semakin parah saja setiap hari dijejali iklan.

  11. sufehmi says:

    Tentang sinetron – saya masih ingat seorang sepupu saya yang masih kecil, tapi bahasanya sudah sangat berwarna-warni; maksudnya, penuh sumpah serapah 😀 gara-gara babysitter nya rajin menonton sinetron bersama-sama yang diasuhnya. Ampun deh.

    Saya juga jadi ingat ketika sedang bertugas ke Timor Leste, mengajarkan Linux & Open Source kepada teman-teman disana. Semua slide presentasi sudah saya siapkan dalam bahasa Inggris – iya lahhh karena saya tidak tahu bahasa Portugis, kalau tahu tentu saya pakai itu saja :)

    Bayangkan betapa kagetnya saya ketika kami disambut dengan bahasa Indonesia yang fasih,

    Saya : “Lho, kok pada bisa bahasa Indonesia ??”
    Teman : “Iya, siaran TV Indonesia sampai kesini….”
    Saya : *nyengir bangga*
    Teman : “…..kita suka sekali nonton sinetron Indonesia disini”
    Saya : **malu beraatttttt** 😀

    Anyway, kabar gembiranya, di Dili ada Slank Fans Club 😀

    (dan saya pun ditendang Bang Aip ke bulan, karena ngomongnya mendadak melantur jauh sekali) 😀

    –0–

    Huahahaha….

    Pak, saya ngobrol dengan beberapa teman dari Oz dan Skandinavia yang dulu bertugas di Timor Leste sekarang jadi residen di sana. Waktu chat, ada istilah-istilah yang benar-benar teknis yang saya tidak ketahui. Saya bingung, terus saya tanya apa artinya dalam plain english. Mereka malah menjelaskannya pakai bahasa Indonesia. Trus saya kaget dan saya tanya bukannya mereka harusnya lebih fasih bahasa Tetun. Tapi mereka jawab, “Yang bisa Tetun itu mah ABRI yang dulu dinas di sini. Orang sekarang sih pakai bahasa Indonesia kalau bicara dengan orang Indonesia”

Leave a Reply