Wawancara

Saya diwawancarai untuk tulisan ilmiah personal, mengenai latar belakang penulisan blog. Karena tulisan ilmiah personal itu sudah jelas bukan bersumber dari saya dan hanya untuk kalangan tertentu saja (si pewawancara dan civitas akademikanya) maka sang pewawancara telah setuju apabila saya membagi hasil wawancara saya dengan beliau di tulisan blog kali ini. (*Ini gara-gara saya sering diwawancarai tapi kok yaa belum pernah baca hasil maupun ulasannya. Hehehe…*)

Ini beberapa cuplikannya. Beberapa bagian bahasa penulisan telah disempurnakan sesuai EYD yang saya ketahui (*dan percayalah kalau saya terakhir berurusan dengan pelajaran bahasa Indonesia sudah belasan tahun lalu. Jadi kalau berantakan, harap maklum. Hehe*)

Bagaimana Anda menulis?

Kalau cara secara teknis; biasanya semua tulisan di blog ini saya ketik pakai perangkat lunak komputer pengolah kalimat seperti Gedit/Notepad++/TextEdit tergantung sistem operasi yang ada di monitor depan muka saya. Lalu disimpan di folder khusus bernama ‘tulisan’. Apabila saya tidak berhadapan dengan komputer di rumah, biasanya semua tulisan dibuat dengan perantara bantuan Google Documents, perangkat lunak berbasis web buatan Google.

Tapi sejak beberapa bulan terakhir ini, semua tulisan kadang ditulis tangan di atas buku atau kertas corat-coret lalu baru diketik melalui papan keyboard jika bertemu komputer. Saya malah biasa menulis di atas secuil kertas koran bekas yang masih tersisa ketika di kereta menuju pabrik di pagi hari. Kertas-kertas itu dikumpulkan lalu dijadikan satu tulisan. Kalau sudah selesai tulisannya, kertas itu saya buang. Mau dikumpulkan? Ahh, saya bukan Leonardo Da Vinci yang tulisan tangannya akan laku jutaan dollar dan dibeli Bill Gates, salah satu orang terkaya di dunia menurut catatan dunia di awal abad 21.

Semua tulisan-tulisan saya di sketch itu masih mentah. Umumnya opini saya pribadi. Kadang-kadang malah lebih banyak daripada secuil prasangka. Jadi daripada saya hidup dengan penuh buruk sangka pada orang lain, biasanya tulisan-tulisan tersebut dikonfrontasi data bahkan hingga dimentahkan oleh saya sendiri. Daripada dibantai orang lain di muka publik, lebih baik saya bantai dulu sendiri itu tulisan.

Apa latar belakang tulisan Anda?

Saya menulis biasanya yang ada di dalam kepala saya. Topiknya tidak tentu. Kadang topik terkini, kadang juga hal yang lawas. Sama sekali tidak menentu. Artinya sederhana, isi kepala saya ternyata sama sekali tidak menentu.

Paling banyak tulisan di blog bangaip dot org biasanya berisi mengenai orang-orang Cilincing. Penghuni desa tempat saya paling banyak menghabiskan masa kanak-kanak dan remaja. Cilincing adalah sebuah lokasi geografis yang menurut saya (sejak saya sering bepergian meninggalkannya) sungguh begitu buruk fasilitas kesehatannya, menyedihkan, miskin, kotor, bau, tinggi angka kriminalitas namun sekaligus tempat yang paling membahagiakan selain di sisi anak perempuan saya. Di banding tempat-tempat lain di muka bumi yang pernah saya kunjungi.

Di blog lain, biasanya menulis mengenai hal-hal yang berhubungan dengan teknis dan keamanan sistem. Tapi ada juga sih yang hanya membahas mengenai objek-objek foto yang saya buat saja.

Saat ini Anda tidak tinggal di Indonesia tapi menulis mengenai Indonesia. Dari mana asal data? (*Latar belakang pertanyaan ini adalah si pewawancara sudah saya beri alamat lengkap dalam beberapa tahun terakhir sebagai bagian dari pengumpulan kesahihan penelitian beliau*)

Tiap hari kontak dengan orang Cilincing. Fasilitas sosial media macam facebook, twitter, youtube, flickr, skype, Buzz dan macam-macam lainnya memudahkan kami saling tukar menukar data (sekaligus cerita-cerita ajaib mengenai hidup sehari-hari). Karena media untuk publik saat ini sudah sangat sedemikian kompleks menarik dan menyediakan sarana cross-check data, maka lebih mudah mengkonfrontasi dan mengecek ulang kebenaran cerita masing-masing.

Indonesia negara besar secara geografis dan populasi penduduk. Tidak bisa sembarangan menulis mengenai negara ini dan pernak-pernik menyertainya. Apalagi terutama soal batas wilayah dan yang sering disebut sebagai ‘harga diri bangsa’, sebab sebagian besar masyarakatnya memiliki nasionalisme yang tinggi. Selain itu, akibat luas geografisnya, terdapat keragaman budaya yang amat menyolok. Itu juga sering membuat saya hati-hati dalam menulis. Tidak bisa menyeragamkan manusia Indonesia dalam satu kategori klasifikasi saja. Begitu banyak ragam manusia dengan atribut mereka di Indonesia (yang biasanya disebut SARA). Pengaruhnya ke data adalah, harus ada pembanding sebagai penguat dan pembantah data yang telah masuk. Kalau tidak ada data pembanding, lagi-lagi tulisan saya bisa dibantai habis-habisan di muka publik.

Takut dikecam pembaca karena tulisan Anda?

Tidak juga. Saya bilang takut dibantai sebenarnya adalah lebih menjurus ke saya pribadi. Saya pikir sama sekali tidak adil menyebarkan berita bohong atau fitnah. Saya takut jadi penyebar dusta. Hidup ini sudah penuh dengan hal-hal yang kadang tidak masuk di akal. Tidak perlu ditambah-tambahi hal yang aneh-aneh. Apalagi menyebarkannya melalui internet.

(*Wawancara pertama habis. Ini wawancara lanjutan. Lewat chat room*)

Sering dikecam karena tulisan di blog Anda?

Sering banget. Dulu mah parah, ada yang ngancem ngebunuh lah lewat email. Trus ada yang ngancem mao nyamperin ke rumah lah. Bahkan ada yang ngebom lewat email. Inbox saya di yang Yahoo penuh isinya sampah semua. Saya trace IP address pengirim email itu ternyata alamatnya sama dengan orang yang sedang beradu argumen di blog saya. Hehehe… Tapi saya mah santai aja sih. Kalo mao dateng, ayuh sini mampir. Kalo perlu sekampung sekalian. Dia dateng bawa tinju, saya hadapi dengan teh manis. Saya punya banyak teh di rumah. Ayo minum dulu… Hehehe.

Apakah Anda dapat uang dari menulis di Blog?

Nggak tuh. Eh sori, iya sih. Tulisan-tulisan saya pernah dibikin buku judulnya cilincing Brotherhood. Trus bukunya dijual. Saya dapat uang dari jual buku itu. Semua uang penjualan+modalnya masuk ke program beasiswa/mikrokredit Cilincing Brotherhood yang dikelola sama teman-teman di SERRUM, Kayumanis Jakarta. Semua uang dari pembaca/pembeli buku itu jadi dipakai buat memberi bantuan pada pengusaha kecil untuk menambah modal mereka atau membangun usaha mereka. Diantaranya bantu buka usaha tambal ban pinggir jalan. Mereka bayar bantuan dengan cara mencicil sesuai kemampuan waktu dan memberi profit semampu yang mereka bisa beri. Dari profit itu, digunakan untuk anak-anak lokal belajar. Ada yang belajar Linux, belajar pembibitan jamur, belajar masak, belajar ngebengkel, pokoknya belajar deh. Tapi nggak bisa bantu banyak, sebab uang yang didapat dari penjualan buku dan profit yang masuk juga memang tidak banyak sih. Tapi nggak apa-apa lah, yang penting kita semua senang-senang aja. Yang penting memang begitu itu… Senang. Hahaha

Suka duka menulis di Blog?

Waduh… Banyak yaah. Dulu malah ada yang ngajakin kawin. LOL.  Tapi yang bikin klimaksnya ajaib adalah, pas saya balas emailnya, “Mbak, saya ini cowok berkeluarga loh. Ditambah lagi kelakuan dan muka saya berantakan”. Dia jawab, “Iya udah tau!”. Buset dah.

Saya dapat kenalan lewat blog. Beberapa penulis luar biasa yang saya kagumi melalui tulisan-tulisannya syukurlah akhirnya sempat ketemu walaupun hanya beberapa saat saja. Waktu kopdaran di Indonesia, saya kaget. Ternyata mereka memang luar biasa. Online maupun offline ternyata mereka punya magnet tersendiri. Saya pikir saya belajar dari mereka melalui tulisan-tulisannya. Mereka orang baik.

Kapan waktu menulis di Blog?

Kan udah dijawab di wawancara yang dulu. Hehe, situ lupa yaah. (*Apa saya kali yaah yang lupa, hahaha*). Biasanya menulis tidak kenal waktu. Kalau ada kertas dan pensil yaa langsung menulis. Yang sebel sih kalau mau tidur dan banyak pikiran. Kalo udah dalem selimut itu males banget ngambil pensil ama buku tulis. Apalagi sudah gelap. Mata sudah biasa dalam remang. Tapi kalo nggak dituliskan, saya malah nggak bisa tidur. Uh, mau tidur saja bisa jadi paradoks begitu.

Bagaimana pendapat pembaca melalui komentar?

Wah saya buruk sekali soal komentar ini sejak awal 2011. Saya sudah susah balas komentar. Saya sibuk sekali. Lebih parah lagi, sering sakit dan nggak bisa online. Balas komentar pembaca itu buat saya nggak bisa sembarangan. Saya nggak berani sembarangan bales. Mereka itu sudah menyediakan waktu khusus buat baca tulisan-tulisan saya. Jadi harus saya hormati dengan sebaik-baiknya.

Wah ini pertanyaan bagus. Seharusnya saya harus lebih rajin membalas komentar. Anyway, saya baca komentar pembaca dengan teliti loh. Pembaca saya itu canggih-canggih. Pinter-pinter yaah. Saya senang sekali kalau dikritik atau didebat argumen mengenai tulisan. Kalau saya kebetulan lagi online mereka suka tanya-tanya. Yang saya bingung jawabnya. Hehe. Tapi umumnya silent reader. Lebih sering kirim email/chat daripada menulis komentar di kolom komentar.

Banyak blogger yang kini jarang menulis, katanya mereka sibuk update melalui twitter atau facebook. Anda bagaimana?

Haha, saya mah malah jarang update lewat twitter atau facebook. Buat saya, sosial media biasanya jadi alat bantu dan bukan tombak utama penyampaian ide. Jadul yaah saya? Hahaha. Tapi yaah, tiap orang kan beda-beda. Saya tipikal orang yang suka nulis panjang terus capek, abis itu istirahat dan baca buku sebagai amunisi bertahan hidup. Saya yakin banget nggak semua orang kayak saya. Kalo iya, sedih banget saya. Hahaha…

Saya pikir sah-sah saja sih kalau para blogger malas menulis kalau alasannya ada media lain yang lebih seksi. Itu manusiawi deh. Bahkan kalau mereka memutuskan untuk tidak menulis dengan alasan apapun, buat saya yaa sah-sah saja. Tiap orang kan punya keinginan masing-masing. Selama tidak merugikan publik, yaa kita terima aja ikhlasin.

Cuma yaa emang sayang juga sih. Kadang saya kangen sama tulisan-tulisan tetangga-tetangga dan teman-teman saya itu. Tulisannya cerdas-cerdas. Sayang sekali kalau punya kemampuan lebih untuk berbagi kepada publik, tapi nggak dipakai. Iya yaah, sayang.

(*Wawancara selesai. Kami saling berterimakasih. Setelah wawancara usai saya berfikir ulang. “Tadi saya ngomong apa yaah? Apa pantes jadi kajian akademis”. Tapi saya cuek saja sih. Hehe. Yang penting memang wawancaranya cukup menyenangkan. Fun. Anyway, saya coba yaah untuk balesin komentar. Sori untuk teman-teman yang selama ini saya ‘cuekin’ komentarnya *)

This entry was posted in bangaip, sehari-hari and tagged , . Bookmark the permalink.

8 Responses to Wawancara

  1. itikkecil says:

    Saya salah satu groupies nya bang Aip lho.. *eh*
    soal blogger yang jarang menulis. saya juga merasakannya bang. mereka lebih suka nulis di twitter.
    tapi memang soal cilincing yang kata bang Aip ajaib itulah yang sepertinya menjadi perekat pesan-pesan yang hendak disampaikan oleh bang Aip :d

  2. aRuL says:

    “Cuma yaa emang sayang juga sih. Kadang saya kangen sama tulisan-tulisan tetangga-tetangga dan teman-teman saya itu. Tulisannya cerdas-cerdas. Sayang sekali kalau punya kemampuan lebih untuk berbagi kepada publik, tapi nggak dipakai. Iya yaah, sayang.”
    saya suka dengan point yang ini bang 😀 hehe.. mantap…. kangen masa2 dulu yang pada heboh debat sana sini 😀

  3. bangaip says:

    @Mbak Ida: Iya Mbak, wajar sih. 140 karakter memang lebih menggemaskan. Mirip SMS, tapi dibagi ke seluruh dunia. Hehe.

    @Arul: Iya saya juga kangen. Pada kemana yaah? Malas debat atau sudah bosan? Bisa jadi sih bosan. Dulu kan ada kesan protagonis dan antagonis, jadi lebih dramatis gitu. Hehe. Kalau sekarang mah, sudah susah cari blogger yang full melawan arus. Saya pikir, para penulis yang berfikiran bumi itu rata atau bumi adalah pusat tata surya sebaiknya memang harus dilestarikan. Biar seru… hahaha (*Jahat banget ini saya :) *)

  4. Amd says:

    Saya pikir, para penulis yang berfikiran bumi itu rata atau bumi adalah pusat tata surya sebaiknya memang harus dilestarikan. Biar seru… hahaha

    This! :mrgreen:

  5. [Gm] says:

    Agak OOT:
    “…namun sekaligus tempat yang paling membahagiakan selain di sisi anak perempuan saya…”

    Huh… udah punya anak, langsung lupa istri.
    Moga-moga saya gak kayak gitu.
    Hihihihi…

  6. mas stein says:

    sepertinya ini petuah dan ajaran tentang bagaimana menjadi blogger yang baik tapi dibungkus dengan wujud wawancara imajiner ya bang? 😆

  7. Bangaip says:

    @amed: hehe,inget jaman dulu yaa med.

    @Gm: ceritanya panjang tuh. Tapi tunggu saja tanggal mainnya :)

    @Mas Stein: ga mas, ini memang wawancaranya.ada beberapa pertanyaan yang dipotong akibat berisi personal data. Selebihnya sih asli jawaban yang saya beri. Mohon maaf kalau kesannya menggurui. Sama sekali tidak bermaksud ke arah itu.

  8. mas stein says:

    kalopun bukan menggurui tetep banyak yang bisa saya pelajari di sini kok bang 😀

    –0–

    Waah terimakasih Mas. Walaupun sebenarnya saya malah sih yang belajar pajak RI dari tulisan sampeyan :)

Leave a Reply