Menjadi Tua Itu Pasti

Sooner or later they all will be gone
Why don’t they stay young
It’s so hard to get old without a cause
I don’t want to perish like a fading horse

(Alphaville – Forever Young – 1984)

Dekade berasal dari bahasa Yunani Kuna ‘Dekas’, artinya sepuluh. Dekade sendiri adalah ungkapan yang berarti masa dalam sepuluh tahun. Jadi kalau anda kenal orang yang bernama Deka, bisa jadi ada kemungkinan punya hubungan dengan angka sepuluh :)
(*Walaupun bisa jadi Deka itu singkatan dari Adek Kakak, hehe*)

Indonesia dua dekade lagi, seperti apa?

Itu yang ditanya oleh teman-teman saya pada suatu siang di bawah matahari yang bersinar dengan amat bagusnya.

Saya tidak tahu. Hanya itu jawaban yang terlontar dari mulut saya. Bagaimana yaa Indonesia dua puluh tahun lagi. Apa perkembangan budayanya sama dengan Indonesia era tahun 70-an pindah ke 90-an? Atau loncatan teknologinya mirip antara Indonesia era 80-an ke tahun 2000?

Apa politisinya makin gila? Apa sudah berhasil menerbangkan astronot ke bulan atau ke antariksa? Apa sudah paham bagaimana bersikap ketika menghadapi bencana? Apa masih banyak kekerasan terhadap kemanusiaan? Atau malah kita semakin toleran? Apa isi laut dan hutannya masih ada? Bagaimana sistem pendidikannya, apa layak buat anak cucu kita? Bagaimana perilaku kesehatan warga?

Entah kenapa saya jadi tambah banyak pertanyaan. Saya pikir ada baiknya saya tidak jawab apa-apa.

Tapi karena semua mata melihat ke muka saya, jadi saya jawab juga pertanyaan berat itu. “Saya tidak tahu, tapi saya pikir, orang Indonesia sih makin banyak saja”, sambil garuk-garuk kepala.

Mereka tidak kaget ketika saya bilang Indonesia sudah memiliki lebih dari 200 juta jiwa penduduk di dalam negeri saja. Kata mereka itu wajar, sebab Indonesia memiliki letak geografis lumayan besar.

“Kamu ada rencana pulang ke Indonesia?” tanya Mbak Ita sambil membetulkan letak gagang kacamata hitamnya.

“Iya. Tapi nggak tahu kapan. Anak saya masih kecil, Mbak”

“Kalau kamu pulang orang Indonesia yang di Indonesia jadi tambah banyak dong?”

Saya tertawa. Ya memang benar. Kalau saya pulang ke Indonesia, pasti orang Indonesia tambah lagi satu. Syukur kalau kehadiran saya bisa membantu banyak orang. Kalau tidak, kan cilaka. Bisa-bisa malah jadi benalu.

Malamnya, setelah pulang ke rumah saya berfikir lama. Wah bagaimana yaa Indonesia dua puluh tahun lagi?

Kalau belum jadi meninggalnya, saya pasti tambah tua. Eh, bagaimana rasanya tua di Indonesia?

Karena saya selama ini hanyalah buruh pabrik kecil di belahan dunia lain, pertanyaan lanjutannya adalah; bagaimana rasanya jadi tua di Indonesia, tanpa tunjangan apa-apa dari pemerintah, tanpa asuransi, tanpa pensiun? Apalagi tanpa keluarga?

Cerita Dari Swedia

Di Eropa, Swedia terkenal sebagai negara yang paling menghargai penduduk senior (65+). Mulai dari akses mobilitas hingga pelayanan kesehatan, semuanya hampir dipastikan terjamin dengan baik. Para warga senior ini, kelihatannya memang mampu meminta pemerintah untuk menjamin hidup mereka.

Kenapa?

Jawabannya agak ajaib. Sebab para orang tua ini berkumpul dan membentuk partai. Namanya Sveriges pensionärers intresseparti yang kalau saya terjemahkan secara ugal-ugalan kira-kira adalah Partai Urusan Manula. Percaya atau tidak, pada tahun 2010 partai ini sama sekali tidak mendapat tempat di parlemen. Namun partai ini memiliki banyak sekali pemilih. Kalau diibaratkan di Indonesia, walaupun tidak punya wakil di DPR/MPR, wakil Partai Manula ini menempati posisi penting di tingkat kabupaten dan propinsi. Artinya; kebijakan grassroots ada di tangan mereka.

Untuk negara semacam Swedia dimana kebijakan akar rumput adalah basis dasar negara, maka para warga senior ini benar-benar amat punya suara. Jadi wajar saja kalau mereka mampu menyetir kebijakan lokal pemerintahan agar lebih menghormati para warga usia senior.

Vijay Goel

Vijay Goel

Cerita Dari India

Di India, lain lagi ceritanya. Vijay Goel, seorang mantan anggota parlemen dari New Delhi akhirnya membuat semacam federasi. Namanya Federasi Warga Negara Senior. Isinya yaa para manula.

Agak aneh memang dengan kultur seperti India yang amat menghargai orangtua dan keluarga (setidaknya seperti yang ada di kitab Bharatayudha atau film-film Bolywood) dimana orangtua membesarkan anak dengan penuh cinta kasih dan ketika si anak dewasa akan menjaga orangtua mereka hingga akhir hayatnya.

Mengapa harus membuat sebuah perserikatan para manula?

Kata mereka; Saat ini penduduk India sudah membengkak jadi 1,2 miliar. Populasi penduduk yang menggelembung gila-gilaan ini berakibat pada problematika sosial. 30% orangtua usia lanjut, saat ini ditelantarkan oleh keluarga mereka. Hampir setengah dari mereka yang ditelantarkan bahkan pernah diperlakukan semena-mena oleh keluarga mereka. Yang paling parah adalah, lebih dari 70% dari para warga India yang berusia lanjut memperoleh masalah dengan masalah hidup yang basis seperti makanan, pakaian dan tempat tinggal.

Jadi, karena itulah mereka membuat sebuah perserikatan.

Cerita Dari Jepang

Lalu bagaimana dengan Jepang?

Begini, semenjak tahun 1980’an ada istilah yang berkembang di masyarakat Jepang. Istilah ini adalah kodokushi. Sebuah istilah yang sekali lagi kalau saya terjemahkan secara ugal-ugalan adalah ‘mati sendiri’.

Kenapa ada istilah ‘mati sendiri’?

Begini, pemerintah Jepang sejak pasca perang dunia ke II. Tepatnya pada tahun 1947. Mencanangkan sebuah program diet nasional. Namanya Kokkai (terjemahan ugal-ugalannya kira-kira artinya hari beras). Fungsi program ini adalah untuk menyehatkan pemerintah. Terutama untuk merestorasi keuangan mereka yang hancur total akibat mendanai perang.

Apa hubungannya dengan warga negara senior?

OK. Ternyata program pula diikuti oleh program-program nasional lain. Diantaranya adalah menyehatkan badan manusia Jepang. Logika akal sehatnya, di dalam tubuh yang sehat mampu menjaga negara agar tetap sehat. Nah sejak saat itu pula digalakkan program kesehatan manusia Jepang.

Logika lanjutannya; jika manusia hidup sehat maka tingkat harapan hidup makin tinggi.

Lalu apa yang terjadi jika manusia semuanya sehat dan makin panjang umur?

Jawabnya sederhana; makin banyak populasi manula. Saat ini, di Jepang satu dari lima orang berumur lebih dari 65 tahun. Menurut prakiraan pemerintah Jepang, jika kondisi seperti ini berlanjut maka tahun 2030 satu dari tiga orang di Jepang adalah manula.

Jika manula semakin banyak, maka kebutuhan akan perawatan medis, psikologis, sosial dan obat-obatan makin tinggi. Di kota padat seperti Tokya dimana suami istri benar-benar harus bekerja amat keras agar bisa hidup yang untuk bikin anak saja tidak ada waktu, mengurus orangtua mereka adalah sebuah hal yang berat. Kini semakin sering para orangtua tinggal jauh dari anak-anak mereka. Hidup sendiri.

Dan ketika meninggal mereka menjadi kodokushi. Mati sendiri. Ada yang meninggal terbaring di samping tumpukan baju yang baru diambil dari mesin cuci, ada yang meninggal karena terantuk dinding ketika mengganti seprei kasur ada pula yang meninggal sambil menonton televisi. Ironis. Akibat pola hidup yang serba otomatis dan individual, mayat mereka biasanya baru ‘ditemukan’ setelah berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun setelahnya. Bahkan ada yang ketika ‘ditemukan’ sudah jadi tulang belulang.
Pada tahun 2008, di Tokyo, di satu kota saja, lebih dari 2200 manula menjadi kodokushi. Sejak saat itu bisnis healthcare manula pun menjadi booming. Sebuah bisnis yang cukup rikuh dalam budaya Jepang; mempercayakan orangtua mereka di tangan orang yang tak dikenal. Namun mau bilang apa lagi, toh lebih baik daripada orangtua mereka tidak ‘mati sendiri’. Jadi alam bawah sadar yang terpola oleh kulturnya masih bisa bilang bahwa ia bukan anak durhaka.

Cerita Dari Amerika

Tapi, ternyata masih lebih baik ketimbang manula Amerika.

Menurut riset ahli bunuh diri Dr. Yeates Conwell dari University of Rochester di Minessota sana, katanya bunuh diri di kalangan warga manula saat ini terjadi hingga batas angka yang mencengangkan. Setiap sekitar 90 menit terjadi upaya bunuh diri dikalangan warga manula di Amerika Serikat. Entah sukses atau tidak, yang pasti 13% warga negara AS adalah manula dan seperlima dari mereka meninggal gara-gara bunuh diri.

Penyebab bunuh diri para manula Amerika itu antara lain adalah kekurangan hubungan sosial dengan keluarga atau kerabat, kekurangan tidur, masalah yang berelasi dengan memori dan hal-hal acak lainnya.

Cerita Dari Indonesia

Tapi itu kan di luar Indonesia. Di Indonesia dong sih mah beda :)

Jadi kalau ditanya apakah saya mau pulang ke Indonesia, maka akan saya jawab bahwa keinginan itu ada dan besar sekali adanya.

Tapi kalau ditanya apakah saya mau menghabiskan masa tua saya di Indonesia, maka saya pikir jawaban saya adalah, “emangnya masih mau jadi tua?”

Ahh, tapi itu kan saya. Tidak usah diperhitungkan deh. Anggap saja angin lalu. Toh saya bukan siapa-siapa.

Anda bagaimana? Punya keluarga yang senior? Bagaimana Anda memperlakukan mereka? Anda pikir, Anda akan diperlakukan sama pada 20 tahun mendatang?

Eh omong-omong… Masih mau jadi tua?

This entry was posted in Orang Indonesia, Republik Indonesia and tagged , . Bookmark the permalink.

7 Responses to Menjadi Tua Itu Pasti

  1. itikkecil says:

    nenek saya sudah berusia sekitar 90 tahun bang, tak ada umur pasti karena tidak ada akte kelahiran. Kalau maunya anak-anak dan para cucu termasuk saya, nenek lebih baik tinggal di kota bersama kami dengan alasan untuk mendekati fasilitas kesehatan mengingat usia nenek yang semakin menua. dan meskipun dibujuk untuk tinggal bersama kami, terkadang beliau tidak betah sehingga saat ini berpindah-pindah.
    tetapi sebenarnya nenek lebih suka tinggal di desa asal karena alasan sentimentil, makam kakek ada di sana dan rumahnya ada di sana.
    jadilah setiap beberapa bulan sekali ibu saya pulang untuk menjemput atau mengantar nenek.
    Dan soal mau menjadi tua, bukankah kita pasti akan menua bang? meskipun kita mati-matian melawan alam dengan cara operasi plastik misalnya. alam toh akan menang juga.
    dan kalau boleh memilih, saya lebih suka menjadi tua dengan sewajarnya saja.

    –0–

    Terimakasih sudah berbagi Mbak :)

  2. aRuL says:

    4 pertanyaannya pertama menohok banget. Senior, yah orang tua saya, sayang untuk saat ini masih berkutat dengan kerjaan di daerah yang berbeda dg mereka. Semoga cara ini dapat membahagiakan mereka :(

    –0–

    No worries. You are :)

  3. stein says:

    jadi pengen pulang kampung :sad:

    –0–

    Kalau masih sempet dan ada rejeki, pulang Mas.

  4. jardeeq says:

    saya membayangkan indonesia 20 tahun ke depan adalah indonesia yang bangkit,,
    indonesia yang punya kesadaran untuk maju,,
    indonesia yang mulai sadar hukum
    indonesia yang,,,,

    kalau itu cuma mimpi, jangan bangunkan saya dari kenyataan

    menurut abang sendiri??? hehehehe

    –0–

    Menurut saya: Saya nggak bakalan bangunin kamu. Hehehe

  5. didi says:

    pertanyaan terakhir perihal masih mau jadi tua? kalo di kait2kan ujungnya..gimana perawakan kalo sudah tua ya?…aha…*berfikir mulai.. berfikir dalam diri masing-masing

    –0–

    Pasti akan beda fisiologinya kalau tua nanti

  6. sufehmi says:

    Wah, mudah2an masa tua saya nanti tidak menyusahkan anak-anak saya sendiri, amin….

    Dari sekarang ini saya belajar nulis & ngeblog, harapannya adalah ketika nanti sudah tua & lemah fisiknya, pikiran saya masih tetap tajam & bisa bermanfaat untuk banyak orang. Amin…. :)

    –0–

    Amiiin Pak Harry :)

  7. edratna says:

    Saya berharap saat tua tak merepotkan anak-anak saya. Ehh tapi jika 20 tahun lagi, masih adakah saya?
    Ayah meninggal 56 tahun dan ibu 60 tahun…..

    –0–

    Saya turut berduka cita atas kehilangan orangtuanya, Bu.

Leave a Reply