Pilih Mana? Percaya Atau Tidak?

Saya memang agak-agak kurang beruntung hati beberapa hari belakangan ini. Masalahnya dimulai dari hal-hal yang mungkin beberapa orang terlihat sederhana sampai yang membingungkan.

Saya kehilangan tulisan. Tulisan berseri mengenai sosial media dan perubahan yang melingkupinya. Isi totalnya ada empat tulisan. Eh… Hilang! Dicari kemana-mana tidak ketemu. Aduh, hati ini kok yaa gimana rasanya begitu mengetahui bahwa tulisan itu memang benar-benar hilang.

Kedua, saya kehilangan mood untuk menjumpai praktisi medis yang biasanya membantu kelangsungan hidup sehari-hari. Alasannya sepele, bosan. Bosannya juga ternyata sepele sekali, yaitu akibat rasa kepercayaan yang semakin merosot karena mereka menasihati saya untuk meminum paracetamol ketika saya sakit kepala. Edan, setiap hari saya kadang bisa 4-5 kali sakit kepala sebelah. Masak sih saya harus minum itu obat terus-terusan? Lah bagaimana kalau saya nanti jadi painkiller junkie?

Ketiga, saya kerap bertemu orang yang mati-matian mempertahankan argumen bahwa karena agamanya ia jadi tidak perlu belajar.

Masalah pertama walaupun makan waktu riset, saya bisa usahakan solusinya dengan cara menulis ulang. Begitu juga dengan problem kedua, saya tinggal cari spesialis dan penasihat medis yang lebih mumpuni. Jadi pada intinya, bisa ditanggulangi dengan optimis.

Yang bikin saya kebingungan, yaa bagaimana ini dengan masalah saya yang ketiga.

Akhir-akhir ini saya memang kerap bertemu kenalan yang menganggap bahwa apa yang ada dalam agamanya adalah sebuah kebulatan superior yang tidak bisa diubah-ubah.

Sumpah mati, saya tidak benci agama. Sebagaimana saya pribadi tidak pernah membenci pemeluk agama dan keyakinan tertentu (apapun agama atau keyakinannya). Saya akui saya memang punya jarak dengan agama, tapi bukan berarti saya bebas mencelanya. Dalam hidup ini, ada beberapa manusia tertentu yang dalam kondisi hidupnya, tidak punya apa-apa selain agama, dan hanya agama yang membuat mereka akhirnya bertahan untuk tetap hidup dan menyemangati orang lain agar tetap hidup. Saya menghormati mereka dan menghormati jalan hidup yang sengaja atau tidak sengaja telah mereka pilih tersebut. Termasuk, jalan hidup beragama.

Tapi, akhir-akhir ini saya mungkin memang sedang kurang beruntung. Saya bertemu dengan orang yang mati-matian menolak teori evolusi dengan alasan bahwa itu hanya teori tanpa bukti. Ada yang menolak bahwa umur bumi lebih tua dari 6 juta tahun sebab menurut beliau bumi dalam kitab sucinya diciptakan dalam enam hari (jadi kalau bahasa kitab suci adalah perumpamaan dalam penciptaan bumi, maka harus ada angka enamnya. Tidak peduli bahwa ilmu geologi bisa membuktikan bahwa umur bumi sekitar 54 milyar tahun). Hingga menolak untuk percaya bahwa manusia pernah mencapai bulan dengan alasan kalau guru fisikanya dulu semasa SMU pernah bilang bahwa manusia tidak mungkin mendarat di bulan sebab manusia tidak bisa melampaui kekuatan magis yang meliputi bumi yang membuat bumi kita terlindungi dari serangan meteor (*Guru Fisika macam apa itu coba?*)

Dari sekian banyak orang yang saya temui dan menolak fakta ilmu pengetahuan hampir semuanya bilang bahwa agama yang ia peluk yang membuatnya tidak percaya (*Satu orang alasannya cukup ajaib, dia bilang “Males ahh tau yang begituan. Ga penting!” yang saya langsung balas dengan tersenyum manis*).

Hampir semuanya bilang bahwa fakta ilmu pengetahuan sama sekali tidak sesuai dengan ajaran keyakinan yang ia percayai sejak kecil. Jadi, tidak perlu dipercaya. Sebuah argumen yang benar-benar ajaib. Bukankah fakta ilmu pengetahuan itu tidak pernah memaksa untuk dipercayai? Bukankah mereka hanya sekedar fakta? Yang bicara apa adanya sesuai bukti.

Dari beberapa kali mengobrol dengan para manusia yang menolak fakta ilmu pengetahuan dengan basis landasan utama akibat agama melarangnya, saya akhirnya mengambil beberapa sampel pola pendidikan sederhana;

  1. Bahwa tingkat pendidikan tidak berbanding sejajar dengan pemahaman terhadap ilmu pengetahuan. Belum tentu makin tinggi sekolah jadi makin memahami kompleksitas hidup
  2. Bahwa pendidikan agama di RI cukup ekstrim setidaknya hingga tahun 90-an. Beberapa pendidik bahkan kerap memberikan opini pribadi mereka mengenai agama justru ketika mereka pada saat bukanlah sebagai pengajar agama
  3. Bahwa adalah wajar mengetahui bahwa siswa WNI di RI harus memiliki agama sementara tidak wajar untuk mengetahui dan mengkritisi mengapa siswa-siswi maupun pendidiknya di RI harus beragama. Efek sampingnya, terjadi penumpulan pada daya kritis siswa
  4. Bahwa semenjak sekolah dasar pun siswa telah diberi pemahaman untuk berkumpul dan berserikat berdasarkan agama yang dianutnya
  5. Bahwa ada siswa yang sedemikian apatisnya terhadap kehidupan beragama, ia mengambil jarak dari komunitas beragama. Di sisi lain, ada siswa yang malah mengambil kesimpulan bahwa ia tidak perlu belajar lagi dengan alasan ilmu agamanya sudah cukup jadi apapun fakta terbaru ilmu pengetahuan, tidak perlu ia terima.
  6. Bahwa ada siswa yang merasa tidak penting tahu bahwa bumi itu bulat atau kotak. Yang penting sekolah nilai tinggi agar lulus kerja bisa jadi PNS atau karyawan BUMN atau menempati posisi yang membuat hidupnya nyaman (*walaupun definisi nyamannya ternyata sangat bisa diperdebatkan*)

Menarik bukan?

Yang saya kagumi adalah bahwa yang melontarkan pernyataan di atas adalah para WNI yang dulu sempat sekolah dasar hingga atas di Indonesia dan lalu melanjutkan sekolah lagi di luar Indonesia.

Balik lagi ke topik awal. Saya sempat menyesal bertemu orang-orang seperti itu. Dalam hati saya sempat merutuk, “Ini mah buang-buang waktu aja”.

Tapi… Eh tapi kok yaa saya sempat kepikiran. Jika saya bilang di awal bahwa mungkin saya kurang beruntung saya pikir saya salah. Sebab ternyata bisa jadi kalau justru ini adalah momen-momen keberuntungan saya. Bertemu dengan manusia yang berbeda.

Tidak banyak orang yang setuju dengan pola pikir saya. Dengan keputusan saya untuk tidak bisa dengan mudah mempercayai Nyi Roro Kidul. Padahal apa sih yang kurang dari si Nyai? Sudah single, cantik, seksi bahkan punya banyak kamar hotel sendiri. Apa coba yang kurang sehingga saya masih tidak percaya?

Jangankan orang-orang, Ibu dan adik-adik saya saja sempat khawatir dengan apa yang saya percayai dan dengan apa yang tidak. Tapi toh itu tidak menghilangkan kenyataan bahwa kami amat mencintai satu sama lainnya.

Mungkin, dengan datangnya manusia-manusia baru yang punya kepercayaan yang berbeda itu, saya malahan jadi bisa melihat bahwa perbedaan antara kami itu sebenarnya amat indah :)

(*Percaya atau tidak? Saya sering diundang makan-makan oleh mereka yang ajaib dan berbeda keyakinannya ini. Lah saya turuti dong undangannya, buat saya kan makan-makan dan ketawa-ketiwi itu indah. Hehehe*)

This entry was posted in bangaip, Orang Indonesia, Republik Indonesia, sehari-hari and tagged , , . Bookmark the permalink.

10 Responses to Pilih Mana? Percaya Atau Tidak?

  1. Manusiasuper says:

    “Rasulullah itu, sepengetahuan saya kalau tidak salah adalah orang Islam yang betul-betul sendirian di tengah masyarakat jahiliyah waktu pertama jadi rasul. Tapi beliau tidak mengasingkan diri dan berpisah dari masyarakat. Padahal, lebih sampah mana masyarakat jahiliyah arab waktu itu dan orang Indonesia?”

    “Lagi pula, kalaupun permata jatuh ke tempat sampah, ia tetaplah menjadi permata, tidak akan pernah berubah ia menjadi sampah. Berlian jatuh ke dalam septic tank juga tetap ia menjadi berlian, tidak berubah menjadi kotoran hasil buangan hajat manusia”.

    “Bagi saya, orang Islam yang menarik diri dari masyarakat, sekalipun yang dianggapnya sampah, lantas mengeksklusifkan diri, tak mau bergaul dengan orang lain, bahkan orang Islam selain kelompoknya dianggap kafir dan lain sejenisnya, bagiku telah melakukan pelecehan kepada Rasululllah, serta merasa lebih hebat dari Beliau.”

    Dikutip dari blognya seorang kawan baik, di http://mwahyunz.com

    –0–

    Thanks buat sharenya, Mansup

  2. aRuL says:

    kalo pendapat Stephen Hawking gimana om?

    –0–

    Walaupun pendapat beliau sangat logis (buat logika saya yang cupet ini), Om Hawking kadang terlalu sering menyerbu benteng terakhir teman-teman yang beragama. Di satu sisi saya sependapat dengan ide-idenya, di sisi lain saya kurang sependapat dengan cara beliau menyampaikan idenya.

  3. penafsiran yg salah, terutama jika dilakukan oleh pemuka agama (ulama, bukan Rasululloh SAW lho ;-) yg punya pengaruh, akan berakibat buruk karena akan ‘meracuni’ orang2 yg mengikuti jejaknya.

    seperti halnya pendapat seorang ulama yg ngotot bahwa matahari-lah yg mengelilingi bumi!

    what a pity ;-)

    –0–

    kadang-kadang memang banyak dari teman-teman yang sedemikian ngotot mempertahankan argumen-argumen bias tersebut :) Sedihnya, bukannya mereka sukses meyakinkan bahwa bumi adalah pusat segalanya, kita malah melihat mereka sebagai troll.

  4. Wijaya says:

    Hahaha,
    memang ironis bang…
    Saya juga sering ketemu dengan orang seperti itu (gak nyangka ternyata mereka diekspor keluar Indonesia juga yak)

    –0–

    Eh mereka banyak, Mas Nuky. Manusia sejenis adalah manusia yang sama yang menyumbang lebih dari Maluku 2 Euro.
    BTW Udah denger acara Maluku 2 Euro?
    Kalau belum, saya coba bisikin nih Gan nettnya. Hehe.
    Jadi begini, dalam acara kumpul-kumpul berbasis reliji. Entah dari agama yang mana yang bertikai di Maluku. Yang pasti sih dua-duanya. Para jamaahnya mengumpulkan uang sebanyak 2 Euro sebagai sumbangan. Jelas sekali uang pengumpulan dana itu untuk beli senjata. Sebab di pintu ditempel kertas ukuran A4 dengan kalimat ‘Dana Peluru’. Uang itu, pada akhirnya memang untuk membeli senjata dan mendanai milisi-milisi relawan yang makin menambah kisruh perang saudara Ambon 1999. ‘Dana Peluru’ itu pertanggungjawabannya adalah video yang diambil dari atas helikopter milik T**-A*. Videonya berisi penembakan antar milisi Acang dan Obet. Anyway, ini link buat salah satu tambahan bisik-bisiknya.

  5. `”Mungkin, dengan datangnya manusia-manusia baru yang punya kepercayaan yang berbeda itu, saya malahan jadi bisa melihat bahwa perbedaan antara kami itu sebenarnya amat indah”
    Jawab: Dalam teori sembah-menyembah ada banyak ragamnya. Contoh: Ada sembah “Langit”, ada sembah “Bumi” tapi lihatlah langit dan bumi, tetap pada garis edarnya, tak bersentuhan saling cemburu juga ogah. Persoalannya adalah: Banyak embah langit yang bertinggi2 atau juga berpura2 tinggi, entahlah. Mengherankan, mengapa sembah langit yang ditinggikan. sedangkan sembah bumi di-enteng-kan. padahal kita sekarang tengah bertinggal di bum, tapi sayangnya nyaris semua orang tak pandai menjaga bumi. Bumi malahan di gundul dan digundal gandulkan. Lihat itu hutan2 berantakan. Kesimpulan: mengapa tidak berdamai saja, sebagai mana “BUMI” dan “LANGIT” dan Langit tidak pernah sombong dan tidak pernah angkuh dengan ketinggiannya. Begitu pula “Bumi” tak pernah mengeluhkan kenapa selamanya dikerendahan. Sembah langit, sembah bumi, sembahku, sembahmu adalah sembah kita semua. dan hidup ini sangat indah, sungguh sangat indah.

    –0–

    Iya Mas. Kalau sama-sama saling menghargai, pasti hidup kita jadi lebih indah.

  6. sufehmi says:

    @M.Fahmi – maksudnya, “ulama” yang ini ya ? *siul-siul-inosen*

    :D

  7. dodo says:

    maaf saya tidak terlalu faham dengan ikatan kimia, gambar di atas itu gambar apa ya?

    –0–

    Pain killer a.k.a. paracetamol a.k.a. acetaminophen

  8. adipati kademangan says:

    Rumusan kimia di atas adalah sebuah fakta yang saya yakin tidak ada petunjuk apapun di dalam kitab suci manapun. Lha kalau rumusan kimia itu diminum kalau faktanya bisa membuat anda tertawa dan semaput, maka tidak ada kewajiban bagi agama untuk membantahnya. Maka langit dan bumi diceritakan penciptaannya dalam 6 hari, apakah kita harus percaya bahwa 6 hari itu adalah senin sampai sabtu? atau harus ada perhitungan yang lain?
    Saya tidak menyalahkan pendidikan agama jaman SD dulu, karena pelajaran jaman SD dulu itu telah memberikan pengertian kepada kita sekarang bahwa ada yang salah. Kalau kita tidak pernah mengalami sekolah SD itu, mana mungkin kita tahu letak kesalahannya. Sekarang bagaimana kita memberikan perbaikan sekarang agar tidak terjadi kesalahan berikutnya.

    –0–

    Saya pribadi tidak menyalahkan, Adipati. Tapi setidaknya memberikan ke saya gambaran bahwa ada satu generasi (atau mungkin lebih) yang mempunyai pemahaman yang ajaib soal agama. Waktu ada penelitian bahwa hampir setengah pelajar RI menyetujui bahkan mendukung radikalisme (di kaskus banyak banget yang komentar) akhir-akhir ini, setidaknya semakin menjadi indikator bahwa telah terjadi dan mungkin akan terjadi sesuatu yang ajaib lagi dengan pendidikan agama di RI.
    Soal langit dan bumi 6 hari, hehe, saya kenal baik loh orang-orang yang percaya bahwa bumi itu tercipta 6×24 jam. Sebagaimana mereka percaya kalau ‘kun’ tersebut, maka bumi hancur dalam kurang dari 1 detik (secara pengertian literal). Hehehe.
    (*Kelihatannya saya salah gaul. Hihihi*)

  9. jardeeq says:

    orang yaang menolak ilmu pengetahuan, biasanya takut untuk menghadapi kenyataan,,,

    tapi saya pernah punya teman yang cuek terhadap sesuatu yang nggak berhubungan langsung dengan hidupnya. ketika saya tanyakan tentang teori evolusi darwin dia langsung bilang “nggak tahu gw, percumna tahu juga nggak bikin gw kaya”

    hahahaha..

    –0–

    Percaya atau tidak. Saya bisa memahami teman kamu itu. Sebagaimana saya memahami (sekaligus mengagumi) Sherlock Holmes yang punya prinsip sama (walaupun ‘kaya’ pada karekater Sir Arthur Conan Doyle itu diganti dengan ‘menyelesaikan kasus’). :)

  10. Manusiasuper says:

    Bang Aip..

    Membaca link abang tentang ModusAmbon di atas itu, saya jadi teringat kerusuhan mei 1997 di Banjarmasin. Mungkin secara nasional sudah banyak yang lupa karena tertutup dengan kerusuhan Jakarta pada tahun sesudahnya.

    Namun saya melihat ada kesamaan modus seperti yang dituliskan relawan di link yang abang berikan itu. Sentimen agama (satu partai dituduh melakukan konvoi kampanye saat sholat jumat masih berlangsung), pengumpulan massa (mendadak ratusan massa yang tidak jelas dari mana asalnya sudah berkumpul lengkap dengan senjata dan atribut pembeda), tidak jelasnya tindakan aparat keamanan, distorsi informasi, dan pengaburan fakta setelah peristiwa.

    Pertanyaan saya bang, kenapa?

    jika memang ada, kenapa ada pihak tertentu yang merancang kerusuhan semacam itu? untuk apa?

    –0–

    Pertanyaan kamu mancing banget, Mansup. Haha.

    Jawabannya banyak. Dari yang simpel macam pengalih perhatian. Hingga yang mulai agak rumit macam cara prototipe ganti rezim secara berdarah. Yang pasti, metode sistematika ini sudah ada sejak orba berkuasa. Dulu sempat ada istilah terkenal banget di kalangan anak-anak JKT (terutama yang salah gaul, hehe) pra referendum, yaitu “Dili adalah api dalam sekam”. Artinya, tinggal tiup dikit langsung menyala. Ada isu di JKT yang melibatkan hal sensitif, biasanya kartu Dili langsung dimainkan. Kan banyak orang nih yang mengaku nasionalis dan bahkan hampir buta karenanya, yaa sudah, ketika ada masalah yang berkaitan dengan hal tertentu maka mata mereka harus dialihkan atau malah ‘dibutakan oleh nasionalisme’. Hehe.

    Dili habis, maka Aceh yang jadi kartu trufnya. Aceh habis, Papua jadi bantingan kartu As. Sekarang kan isu Papua masih seksi. Bapak Muchdi Pekerjaan Rumah saja main lagi disana. Yang jadi masalah, kalau Papua sudah tidak laku lagi dijual sebagai pengalih, lalu apa lagi dong?

    Masa sih negeri jiran? Hahaha

Leave a Reply