Jika Kemewahan Itu Bernama Sakit

Bagian Satu: Satu Dollar Kriminal

Umurnya tidak muda lagi, sudah 59 tahun. Terakhir bekerja, di Coca Cola, mengabdi di sana selama 17 tahun sebagai pengantar botol ke warung-warung. Tidak pernah membuat musuh, bekerja dengan keras dan rajin dan selalu patuh memenuhi jadwal pengiriman. Itu etos kerja James Richard Verone.

Tahun 2008 badai krisis ekonomi melanda Amerika Serikat. Badai yang sama, melanda pula Coca Cola. James pun diberhentikan paksa. Ia pikir akan cepat dapat kerja, duduk dibelakang kemudi sebagai supir truk pengantar barang. Namun apa daya, tak ada lowongan pekerjaan yang sama untuk manula.

James lalu jadi kasir di warung kecil dekat kotanya. Tidak lama. Nyeri tulang punggung yang dideritanya, radang di kaki, (tentu saja, usianya sudah tidak muda lagi) membuat ia berakhir duduk di rumah beristirahat tanpa bisa meneruskan kerja. Mengandalkan hidup dari uang tabungan dan kerja sporadis serabutan.

Hingga suatu hari dadanya terasa nyeri. Hendak ke rumah sakit, meminta pengobatan. Tapi hukum Amerika Serikat yang hingga saat ini masih bersitegang akibat jaminan sosial kesehatan warganya, membuat James tidak mendapatkan kesempatan untuk berobat. Intinya, apapun warna kulitnya, warga miskin memang tidak dapat hak yang sama di mata dewa medis di Amerika sana.

Suatu hari ia menyadari bahwa uang tabungannya habis, hasil dari kerja serabutan tak lagi mencukupi. Ia jual seluruh perabotan rumah dan membayar uang sewa kontrak bulanan terakhir. Dan lalu menjadi gelandangan mengandalkan hidup dari satu yayasan kemanusiaan ke yayasan lainnya hanya untuk sekedar makan minum dan bertahan dibawah dinginnya malam.

Tuan Verone tahu benar akan hal itu.

Dadanya semakin nyeri.

Hingga akhirnya pada tanggal 9 Juni, di siang yang cerah ia mandi, menyetrika pakaian, lalu memanggil taksi. Merampok bank pertama yang ia lihat.

Di depan kasir bank, ia menyodorkan secarik kertas yang isinya meminta uang satu dollar Amerika dan layanan pengobatan.

Kasir panik, Bank mereka belum pernah dirampok. Meskipun tanpa membawa senjata, kasir masih panik ketika dirampok dengan tuntutan satu dolar (kira-kira saat tulisan ini diturunkan adalah setara dengan Rp 8.620,-) dan permintaan medis.

Kasir memijit bel alarm dan polisi pun datang.

James tanpa rasa takut, bilang kepada si kasir wanita, “Saya akan duduk di lobi ruang tunggu sampai polisi datang”. Tak lama kemudian, polisi dengan kesatuan yang bagaikan anti-teroris datang menyergap dan menggelandang James ke penjara.

Ketika ditanya alasannya mengapa merampok dan hanya menuntut satu dollar saja, “Kalau saya masuk penjara, saya harap saya bisa dapat pengobatan gratis dari negara” jawab James dengan pelan.

Tuan Verone pun dipenjara. Entah sampai berapa lama. Di dalam bui, ia hanya makan pagi dan siang saja. Tidak makan malam. Katanya, pada saat makan malam ia akan bergabung dengan hampir semua narapidana. Ia takut. Ia tahu, penjara Amerika itu buas. Jadi lebih memilih saat makan pagi dan makan siang saja yang biasanya hanya diikuti oleh pesakitan yang telah lanjut usia.

Hingga saat ini, belum ada kabar apakah ia akan dapat pengobatan untuk nyeri dadanya.

Ketika berita ini akhirnya dimuat surat kabar gastongazette dan lalu melesat ke boingboing, hampir semua orang Amerika berteriak kecewa dan sedih. Menuntut keadilan atas kebutuhan pelayanan medis untuk warganya.

Bagian Dua: Satu Bangsa Satu Penjara

Beberapa minggu lalu saya kedatangan tamu, namanya Bas. Kawan-kawan Mexico yang ia bawa memangilnya ‘El Gringo’, terjemahan ugal-ugalan dalam bahasa Indonesia kira-kira ‘bule’.

Bas lahir di California, lebih mewarisi gen mamanya yang berambut pirang dan bermata biru ketimbang papanya yang asli dari Mexico City. Walaupun punya kewarganegaraan ganda, Amerika dan Mexico, ketika saya tanya apa isi dadanya ia jawab dengan senyum, “Saya Mexican”.

Bas tinggal bersama papa mama dan adiknya di Nogales, sebuah desa di Arizona yang benar-benar terletak di perbatasan antara US dan Mexico.

“Saya bingung tinggal di Amerika. Hampir semuanya serba ilegal. Kamu tahu, saya pernah dipenjara gara-gara nyetir mobil tanpa alas kaki! Sebab di Nogales, itu ilegal. Bajingan, masa sih saya dua hari di kantor polisi sampai papa mama saya jemput ketika mereka pulang dari liburan!”, keluh Bas.

“Jadi kamu suka di Mexico saja?” tanya saya sambil senyum-senyum. Vik, sahabat Bas yang berasal dari Hermosillo tertarik mendengar jawaban dari Bas. Ia mendengarkan dengan seksama.

Bas mengangguk. “You know, dua malam sebelum saya ke rumah kamu ini saya bangun jam dua pagi. Gila ada helikopter di atas rumah saya”

Saya bengong. Kaget. Hah! Masa sih ada helikopter di atas rumah. Memang rumahnya pakai helipad?

“Kamu tahu ga? Itu polisi Arizona yang sedang mencari pengungsi ilegal dari Mexico. Mereka pakai alat pencari infra merah untuk mengidentifikasi para pengungsi itu”

Vik menimpali, “Orang kampung Sebastian gila-gila. Di sana bahkan ada milisi yang bersenjata. Kerja mereka memburu orang-orang Mexico yang miskin dan lalu menyebrang ke Amerika untuk mencari pekerjaan. Itu manusia, dikejar-kejar, trus kalau sudah dalam jangkauan tembak, yaa ditembak”

Saya makin bengong. “Jangkauan tembak. Maksud kamu seperti berburu? Loh bukannya di Amerika apa-apa itu ilegal. Masa berburu manusia tidak ilegal?”

Bas ketawa-tawa, “Yaa ilegal, tapi yaah namanya juga manusia gila.”

Saya ternganga, “Trus orang-orang gila itu ditangkep ga?”

“Yaa ditangkep”

“Trus gimana orang mexiconya?”

“Yaa ditangkep juga. Dipenjara sama-sama”

“Lah terus kalo dipenjara bareng-bareng, apa nggak bunuh-bunuhan?”

“Yaa bunuh-bunuhan lah. Itu mah biasa. Kamu lihat film hollywood mengenai perang antar gang di dalam penjara? Yaa seperti itulah kejadiannya”

Melihat saya diam seakan seperti tidak percaya, Bas bilang. “Rakyat kami dalam ketakutan. You know, bukan hanya pada teroris tapi juga pada pencari kerja tanpa dokumen, pada cuaca yang makin panas dan banyak lainnya”

“Kalian hidup dalam ketakutan dong?”

“Yaa nggak semua orang sih. Tapi menurut saya, hampir semua orang hidup dalam ketakutan di sini. Kalau tidak takut, yaa ditakut-takuti biar takut. Hehe. Saya pikir kok mirip hidup dalam penjara. Satu bangsa, satu penjara.”

Saya manggut-manggut. Tapi jelas tidak berani cengar-cengir. Sebab kelihatannya ia serius.

Bas menambahkan, “Omong-omong kamu tahu ga kalau Amerika Serikat itu negara dengan jumlah penjara ternbanyak di muka bumi? Bahkan populasi penghuninya sudah sedemikian parah, sampai-sampai lapangan basket yang harusnya jadi tempat narapidana buat olahraga dialihfungsikan jadi barak tidur loh. Saking banyaknya penghuni penjara. Tapi omong-omong penjara Indonesia bagaimana?”

Saya tidak banyak bicara. Saya bilang, “Bas, saya ngantuk. Besok ngeburuh. Saya tidur duluan yaah” sambil cengar-cengir. Yaah mau pakai trik apalagi? Saya tidak punya jawaban pertanyaannya. Lebih baik saya kabur. Hehe.

Bagian Tiga: Ketika Mamanya Nopal Sakit

Waktu itu saya masih di Jakarta. Ada sms masuk dari Nopal. Bilang minta bantuan. Katanya mamanya sakit. Sudah lama merasa nyeri. Bahkan sampai pendarahan segala. Setelah dicek, ternyata mamanya Nopal kena serviks, nama lain dari kanker leher rahim.

Kanker ini termasuk penyakit yang cukup berbahaya. Menurut WHO di tahun 2007, kira-kira setiap tahunnya sebanyak 15.000 perempuan Indonesia dihinggapi oleh kanker leher rahim dan sebanyak 7500 orang terbunuh karenanya.

Saya pikir ini masalah serius. Tapi ada lagi yang lebih serius. Pertama, kenapa Nopal mengadu ke saya? Kedua, Nopal kan dalam penjara gara-gara kasus narkoba kok dia bisa sms saya?

Penjelasannya ada di sms antara saya dan Nopal.

LO DAH DILUAR?

G.MSH DI DLM.2THN LG.TLG MEN.MAMA GW NIH.DUIT GW G CKP BWT KEMO MAMA

KEMOTERAPI?ASTAGA.PARAH AMAT MEN!

YOI MEN.TMN LO KAN BNYK.ADA DOKTER GA?

MAMA LO KAN PEGAWAI NEGRI.ADA ASURANSI

ASKES G CKP.G JAMIN FULL COVER.

LO GA KERJA DI DLM?

KERJA.GW NYETOK BRG TRUS NYEBARIN DI DLM SKRG.DPT HP PULSA MA DUIT600RB/BLN

LMYN KAN.MKN MA TIDUR KAN GRATIS?DUIT BISA LO TABUNG.

KT SIAPA?GW BYR KMR 400RB/BLN.CADONGAN ISINYA BATU.EMANG ENAK MAKAN BATU.LO KIRA PENJARA GRATIS?

SERIUS LO?

MASA GUA BOONG MEN.LO SATU2NYA YG GA RESE MA GW.ABIS LO JG BEJAT SIH :) PENJARA INDONESIA ANCUR MEN.

PARAH!YA UDAH NANTI MLM GW KE RMH LO NGOMONG AMA MAMA LO.BTW LO BRENTI DONG NYEBAR RACUN KE ORANG2!

KL GW BRENTI BKN CUMA GW YG MATI MEN.TLG MAMA GW MEN PLIS

Saya diam sejenak. Termangu. Kalau Nopal sudah bilang bahwa nyawanya terancam, itu artinya benar-benar terancam. Dia itu salah satu prajurit jalanan Cilincing yang saya kenal. Hidupnya dari dulu memang dibayang-bayangi bau kematian. Dan dia tidak pernah mengeluh apalagi takut karenanya. Namun kali ini masalahnya pasti serius.

Terjebak dalam sindikat narkoba yang melibatkan banyak orang, baik dari dunia hitam maupun berseragam dan satu-satunya orangtua yang tersisa terbaring di rumah terkena kanker, pasti masalah serius.

Penjara, kata Nopal, sudah berubah jadi rumah indekos. Narapidana kaya, yang mampu membayar tentu saja dapat fasilitas lebih. Bahkan seorang bos sepakbola di Indonesia mampu memboyong AC hingga fax ke dalamnya lalu menjadikan dua kamar jadi satu demi kelangsungan pekerjaannya ketika ia harus menjalani hidup dalam bui. Semuanya atas nama tahu sama tahu.

Singkat kata singkat cerita, mamanya Nopal akhirnya beristirahat dengan tenang di pemakaman umum Cilincing setelah enam bulan bergulat dengan kanker leher rahim yang mengerikan. Semua tenaga medis yang saya hubungi menyerah sambil mengatakan bahwa harapan hidup beliau sudah semakin menipis.

Tidak berselang lama, Nopal menghidup udara bebas. Dia jadi big shot. Ternama karena kinerja kerja. Prestasinya sebagai bandar narkoba di dalam lembaga pemasyarakatan memberinya semacam previlige yang mampu mengantarkan surat sakti agar dapat keluar lebih cepat.

Tapi tidak lama. Hanya beberapa bulan setelah bebas, ia meninggal karena tabrak lari. Bisik-bisik rumor jalanan berkata bahwa sebelumnya ia tidak mampu closing deal sebuah perjanjian bisnis dengan pesakitan kelas kakap. Kata kabar burung, Nopal harus membayar dengan nyawanya.

Dibandingkan dengan Nopal, Tuan Verone tidak akan lama bertahan hidup jika ia dalam penjara Indonesia.

Tuan, ini negeri dimana orang miskin diharamkan sakit!

This entry was posted in bangaip, Orang Indonesia, Republik Indonesia, sehari-hari and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

15 Responses to Jika Kemewahan Itu Bernama Sakit

  1. [Gm] says:

    Sakit itu ilegal
    :-(

    –0–

    indeed

  2. cih,lagi2 artikel bang Aip membangkitkan naluri superhero saya!
    sayangnya, sebagai superhero, saya hanya bisa beraksi di angan2 saja :-(

    –0–

    Sabar Mas. Toh di RI semua teman-teman akhirnya berhasil ‘membebaskan’ Ibu Prita.

  3. itikkecil says:

    Sakit di Indonesia memang mahal bang. apalagi di penjara. kalau tak salah jatah biaya pengobatan tiap napi per tahun sekitar 3000 rupiah atau semacam itulah…. dapat apa dengan uang segitu?

    –0–

    Ugh, pertanyaan yang berat, Mbak.

  4. dodo says:

    saya juga pernah bang, berkunjung beberapa saat di kamar penjara yang ada ac, home teather, dan spring bed. Dan bapak petugas punya alasan yang agaknya membuat saya tidak melanjutkan pertanyaan saya yang mulai macam2..

    –0–

    Kabar burung mengatakan dengan 2,5 juta ke komandan jaga (*tarif JKT dsk 2007*), bisa bawa masuk apa saja atau siapa saja di akhir minggu. Jangankan bawa masuk, mmebawa badan keluar penjara pun bisa 😉

  5. Manusiasuper says:

    Sistem penjara ini memang jadi perdebatan ya bang sekarang? Katanya hukum di USA justru lebih melindungi penjahat-nya daripada korbannya. Kalau di Indonesia, semacam whistle blower yang justru jadi tumbal, mungkin?

    –0–

    Soal hukum di USA wah agak berat Mansup, sebab saya sendiri tidak begitu mengerti UUD dan KUHP sana. Kalau di RI, selama ini katanya para whistle blower itu memang bukan karena pilihan… tapi kepepet. Tapi itu baru rumor, saya sendiri hanya baru bisa mengkonfirmasikan satu-atau dua kasus saja. Itu juga gara-gara kenal sama para tersangkut.

  6. Wijaya says:

    Miris….
    Ngeri…
    Prihatin :(

    –0–

    Tapi realitas 😉

  7. jardeeq says:

    ahh jadi pengen kembali tidur melihat kenyataan yang seperti ini,,

    don’t wake me up, please!!

    –0–

    Ashabul kahfi atau sleeping beauty, pilih mana? Hehe

  8. Amd says:

    Bos sepakbola yang dimaksud itu… apakah si..

    Ah, biarlah itu tetap jadi misteri ya, Bang…

    –0–

    Haha, no comment saya, Med… hehehe

  9. aRuL says:

    sampai kapan kita hanya bisa memiris? hmm…

    –0–

    Sampai akhirnya kita punya keberanian untuk melakukan perubahan

  10. edratna says:

    Ga usah dipenjara, sakit di alam bebas aja mahal…asuransi kesehatan tak bisa menjamin sepenuhnya….
    Saat masih muda, kantor membayar penuh biaya sakit..tapi tak pernah sakit.
    Saat tua, kantor membayar melalui asuransi dan tidak penuh…..
    Sepertinya itu memang risiko yang harus kita panggul…bukankah kita hidup di dunia yang penuh risiko?

    –0–

    Saya jadi ingat tulisan Bu Enny soal Manajemen Resiko :)

  11. yudhi says:

    hehehe.. penjara di sini mah identik dengan penjara bukan manusia, abang. ketauan punya duit dikit aja di kantong, dijamin game over. alih2 kepengen nyimpen duit, tau sendiri kan di mana nyimpennya ? antara duitnya dimakan masuk perut sama (maaf) diuempetin dipaksa masuk ke dubur

    –0–

    Confirmed.

  12. Hahaha ketawa baca cerita si Bas, soalnya dulu di atas rumah saya juga sering kelewatan helikopter polisi 😀 lagi enak-enak tidur, tahu-tahu helikopter polisi keluyuran di atas rumah, dan kedengaran polisi berlarian di sekitar rumah dengan anjing pelacak mereka. Ampun deh 😀

    Rumah saya dulu di Fentham road, di daerah yang bernama Aston. Yup, tidak jauh dari stadium klub bola Aston Villa. Daerah Aston itu mayoritas Muslim. Jadi saya pikir saya akan hidup tenang, di tengah “saudara” / brothers & sisters :)

    Ternyata, daerah Aston itu, secara statistik, adalah daerah paling rawan se-Inggris. Siwalayan ! :)

    Malu juga euy…. :) tapi mata saya jadi terbuka, bahwa PR kita masih sangat banyak. Masih sangat banyak saudara kita yang membutuhkan pencerahan – bukan cuma sekedar khutbah & ceramah.

    Anyway, untunglah sakit di Inggris itu gratis, hehe…. hidup NHS ! 😀

    –0–

    Temen-temen Inggris saya kalau sakit malahan mereka pikir lebih baik pulang kampung ketemu dokternya di sana, Pak. Haha. NHS memang top. Soal Aston, wah kalau di London setahu saya malah Brixton, Pak. Dan ajaibnya, muslimnya juga banyak. Dulu ada temen yang pernah disuruh pulang waktu buka puasa bareng di Ibn Tameeyah Brixton. Karena dia pakai sarung dianggapnya perempuan. Haha

  13. Ria says:

    well…

    orang miskin dilarang sakit orang kaya Kalo sakit bisa istirahat, orang miskin bisa mati 😀

    –0–

    Moga-moga kita bisa punya asuransi yang ditanggung negara, Mbak. Walaupun mungkin tidak sepenuhnya, IMO, pemerintah harus tanggung jawab atas kesehatan warganya

  14. sufehmi says:

    Dulu ada temen yang pernah disuruh pulang waktu buka puasa bareng di Ibn Tameeyah Brixton. Karena dia pakai sarung dianggapnya perempuan. Haha

    Bwahahahaha 😀 baru dengar pakai sarung = menyerupai perempuan 😀

    **guling-guling ngakak di lantai**

    Untung saya tidak pernah kesitu pakai kilt…. 😀

    –0–

    Kalau pakai kilt nanti disangka mau upacara atau maen bagpipe, Pak. Hehe

  15. galeshka says:

    “Sampai akhirnya kita punya keberanian untuk melakukan perubahan”
    atau
    “Sampai akhirnya kita punya kepedulian untuk melakukan perubahan”
    atau
    “Sampai akhirnya cukup banyak orang punya keberanian dan kepedulian untuk melakukan perubahan”
    atau entahlah …

    kadang saya gak abis pikir aja sih Bang, beneran, sampe kapan kita mau diam saja dibodohi para petualang itu …

Leave a Reply