Hidup Eksak

Berkarya itu tidak mudah. Baru tahu? Tidak juga sih. Sudah lama saya tahu kalau berkarya itu tidak mudah.

Kemarin saya memotret, hasilnya buruk. Banyak kotoran terlihat di foto. Entah bisa jadi itu kotoran adalah kotor akibat lensanya kotor, bisa jadi karena memang saya yang tidak ahli. Kelihatannya sih kombinasi dua-duanya. Saya memotret wajah Reno yang duduk di sebelah Untung, kok yaa bisa-bisanya foto muka si reno coreng-moreng? Padahal sumpah mati dia sedang tidak pakai kosmetik dan saya juga tidak memodifikasi foto. Memotret itu tidak mudah. Setidaknya buat saya.

Karena memotret sudah tidak begitu pandai jadi saya coba saja lah untuk menulis. Kebetulan saya sedang dapat tugas menulis laporan. Dua tiga paragraf masih oke, sisanya berantakan. Mulai dari yang saya sudah tidak konsentrasi (maunya tidur saja) hingga music gypsy punk Gogol Bordello yang menghentak-hentak membuat ingin berdansa. Pada intinya, tugas menulis laporan itu akhirnya berantakan. Setelah empat paragraf, saya putuskan untuk berhenti menulis dan mengalihkan perhatian ke dapur untuk memasak.

Lalu saya putuskan untuk memasak sesuatu yang istimewa malam itu. Sesuatu yang dahsyat. Bukankah urusan lidah dan perut berupa makanan adalah juga karya seni? Iya, saya putuskan untuk tidak menyerah jadi seniman malam itu. Oke memang kalau saya tidak bisa memotret, tidak bisa menulis, tapi minimal kan saya harus bisa memasak. Ini karya seni saya. Makanan!

Saya mulai dengan sesuatu yang sederhana. Bukankah semua maestro memulai masterpiecenya dari sesuatu yang sederhana? Sesuatu yang sederhana yang terlintas di otak saya tentu saja tidak jauh dari sambal. Apa sih yang susah dari sambal? Ambil cabe, bawang putih, bawang merah, tomat dan garam lalu gerus bersama-sama. Mau yang lebih rumit? Tentu saja bisa dicampur terasi, atau digoreng, atau dicampur apalah hingga menghasilkan sesuatu rasa baru.

Terambillah cabe, bawang, tomat, dan kacang. Saya ulek semuanya dengan kadar gerak tangan yang mirip kesadisan pada film horror. Tentu saja sama sekali tidak menakutkan, malah cenderung romantis. Airmata saya berlinang ketika mengulek sambal. Kelihatannya uap bawang Bombay menari di pelupuk mata membuat saya menangis. Romantis kan? Hehe…

Tidak lama kemudian sambal kacang hangat jadi pula tersaji di atas meja. Saya ambil ketimun, diiris sedang hingga sepiring penuh. Pelan-pelan saya santap sajian malam ketimun sambal kacang dengan nikmat.

Yang saya pelajari malam itu ada dua. Pertama adalah; satu peristiwa adalah pemicu dari peristiwa yang lain.
Sementara yang kedua yaitu; satu kejadian adalah hasil dari kejadian yang lain.

Terlalu filosofis? Entahlah… Sebab saya tiba-tiba berfikir, “Coba kalo si Reno mukanya nggak belepotan di layar monitor, apa iya gua makan sambel kacang malem ini?”

Bisa jadi tidak.

Mari kita lanjut ke cerita lainnya

Beberapa minggu lalu saya bertemu dengan seseorang dengan pekerjaan dan jabatan yang buat saya aneh sekali. Namanya, ahh panggil saja dia Anton. Nah si Anton ini ketika berjabat tangan dengan saya mengenalkan diri sebagai, “Anton, personal trainer”.

Saya bengong. Jelas iya saya bengong. Berdasarkan kamus otak saya yang cupet ini, personal trainer terjemahan dalam bahasa Indonesianya adalah ‘pelatih kebugaran’. Menilik dari rupa si Anton yang tingginya hamper dua meter dan kurus ini, kelihatannya ia sama sekali bukan ahli kebugaran. Mana saya percaya ia adalah pelatih kebugaran badan?

Setelah ngobrol panjang lebar hampar dua jam dengan si Anton dan pacarnya yang orang Texas itu, saya baru sadar bahwa yang ia maksud adalah bahwa ia seorang pelatih kehidupan.

Wooow… Saya tambah melongo. Pelatih kehidupan. Saya pikir selama ini, jika Anda adalah seekor anjing yang memiliki tuan seorang manusia yang hidup dalam tatanan masyarakat dimana anjing harus sekolah, maka hidup Anda harus dilatih. Ternyata saya salah. Ternyata manusia juga harus dilatih untuk hidup.

Dari Anton, saya dapat informasi. Bahwa di dunia ini ada manusia yang hanya bisa hidup jika punya masalah. Jadi, kalau tidak ada masalah, hidupnya hampa. Buset dah. Di sisi lain, ada manusia yang sama sekali tidak bisa hidup dengan masalah. Inginnya selalu lari dari masalah. Entah sembunyi, entah menghindari. Yang penting lari. Tugas Anton, menyeimbangkan hidup orang-orang seperti itu. Kata dia, nama kerennya ‘coaching’.

“Begini Ip, kamu tahu ga konsep kebahagiaan?”

Saya menggeleng. Mana saya tahu konsep kebahagiaan.

“Kamu bahagia ga?”

Yaelah pertanyaanya aneh sekali. Tapi daripada saya tambah bingung, saya jawab saja “Ton, kalo saya makan enak, terus kenyang terus abis itu bisa duduk selonjoran, saya bahagia. Atau maen sama anak saya atau temen-temen saya sambil ketawa-tawa. Saya mah udah senang. Idup saya segitu mah udah cukup”

Dia bengong. “Kamu nggak butuh mobil eksotis, rumah?”

Saya mengerenyitkan alis, “Yaelah Anton, saya kaga bisa nyetir. Mao dikasih mobil satu pabrik juga percuma. Saya lagian udah tinggal di rumah kontrakan. Apa yang kurang?”

Dia bengong lama. Abis itu dia bilang begini, “Oke sori… Kita balik lagi ke topik kebahagiaan. Kamu tahu ga kalau definisi kebahagiaan itu adalah sederhana. Jika kamu dikelilingi oleh orang yang bahagia, maka kamu akan bahagia. Begitu pula dengan kerjaan saya. Saya coba membuat orang-orang yang mulai mempertanyakan hidup mereka untuk menggali kebahagiaan mereka sendiri”

Saya bengong. Njelimet sekali ini penjelasan si Anton. Maksudnya gimana sih?

“Maksudnya, kamu akan bahagia jika dikelilingi oleh orang yang juga satu pemahaman dengan kamu”

“Jadi kalo nggak sepaham nggak bahagia, Ton…?”

“Bisa, tapi susah. Harus saling memahami agar mudah”

“Trus gimana caranya agar bisa saling memahami?”

“Nah itu lah gunanya pekerjaan saya. Ini bisnis booming looh. Orang-orang sekarang sedang hobi mencari pemahaman atas dirinya sendiri”

“Ooh kamu psikiater dong?”

“Buuuukaaaan… Kamu gimana sih? Dari tadi nggak ngerti-ngerti juga”

Sumpah saya tidak mengerti. bahkan ketika Anton bilang bahwa manusia berjenis kelamin pria itu mengambil keputusan satu kali per setiap tujuh detik dalam waktu sadarnya dan wanita tiga kali kelipatannya agar mereka bahagia, saya masih tetap tidak mengerti.

Saya bloon?

Bisa jadi.

Tapi dari dua cerita di atas, saya malah belajar satu hal yang baru. Dua-duanya berbuntut pertanyaan dengan jawaban yang memiliki kemungkinan. Jawabannya bisa benar, bisa juga salah. Tapi itu sama sekali bukan baru toh. Yang baru adalah, bahwa peristiwa runtutan hidup dan kebahagiaan (atau apapun definisinya) itu sama sekali tidak eksak. Bahwa kadang-kadang ada saja dalam kejadian sehari-hari yang terjadi di luar nalar dan logika.

Baru? Mungkin buat Anda tidak. Tapi buat orang-orang yang terbiasa (karena terpaksa) punya rencana B, C dan seterusnya jika rencana A gagal ini macam saya, tentu saja ini hal yang baru.

This entry was posted in bangaip, sehari-hari and tagged , . Bookmark the permalink.

9 Responses to Hidup Eksak

  1. aRuL says:

    tapi tetap saja orang butuh motivasi dari orang lain, mungkin itu hal biasa… tapi bagi orang2 yg sedang (entah) bermasalah atau lagi buntu berfikir dengan diberikan solusi (yang mungkin sudah lumrah atau umum) mereka jadi bersemangat.

    –0–

    Oh tentu saja saya amat sangat mengerti, Rul. Walaupun bukan itu yang saya maksud. Yang saya maksud adalah, kadang-kadang ada beberapa orang yang menempelkan dirinya dengan atribut ‘life coach’. Tidak masalah sih. Tentu saja siapa saja berhak menempelkan atribut apapun ke tubuhnya. Walaupun saya kadang agak bingung sebab beberapa orang keluar dari seminar-seminar ‘life coaching’ biasanya hanya sehari dua hari jadi semangat. Agak ajaib, sebab biasanya hidup mereka lebih banyak daripada sekedar sehari atau malah seminggu. :)

  2. hahah…
    saya kirain si Anton orang MLM dg selimut ‘personal trainer’ karena pertanyaan awalnya ya standar…”apakah anda bahagia?” “ga pengen mobil dan rumah bla 3x” :-))

    btw, ada teman saya, pinter banget (pernah meraih medali di olimpiade Fisika dunia) membuat rumusan dan grafik hubungan uang dan kebahagiaan.

    dan saya ngakak2 kalo ingat penjelasan dia serta segala rumusan hasil temuannya :-))

    –0–

    Hehe, kebahagiaan memang tidak sepenuhnya eksak.

  3. didi says:

    jadi ingat percakapan saya dgn teman lama. kata kakeknya..kebahagiaan hakiki itu kebahagiaan yg bukan krna apa2 dan siapa2. kalo krna sesuatu, bgitu sesuatu itu hilang maka hilanglah kebahagiaanya.
    and
    sama kayak Mas M. Fahmi Aulia..di awal sempet mikir jangan2 MLM tapi ujar hati nanti dulu..lanjutkan baca tulisannya.

    –0–

    Yup, bukan MLM kok. Tapi life coaching. Bisnis yang juga lagi booming.

  4. jardeeq says:

    hmmm membangun kebahagiaan dengan saling memahami memang menyenangkan..

    bagi orang yang easy going seperti saya melihat rumput berbunga indah di tepi jalan saja sudah membuat saya gembira,,,

    bagi saya, tetap bisa menjalani hidup saja adalah kebahagiaan walaupun hidup itu sulit.

    –0–

    Amen brother. Well said.

  5. dnial says:

    Bagian ini:
    “Maksudnya, kamu akan bahagia jika dikelilingi oleh orang yang juga satu pemahaman dengan kamu”

    Sangat menganggu buatku. Karena aku masih ada perasaan, kekayaan pemahaman, perbedaan, sebagaimanapun tidak nyamannya, adalah perlu untuk hidup yang kaya.

    –0–

    Jangankan untuk kamu. Buat saya juga mengganggu kok. Hehehe

  6. bangaip says:

    whuaa ini bangaip yang beberapa orang salah sasar ke saya -_-‘ salam kenal bang, saya tanpa sengaja juga menyebut diri bangaip ;p ini beneran gak sengaja loh hehe. Karena kebetulan sama, jadi beberapa orang ngira saya bangaip yang ini, blogger yg konon sudah populer 😉 *duh jd bingung jelasinnya* yaa pokoknya gitu hehehe.. nah repotnya, saya ini baru belajar ngeblog bang *telat bgt emang* semoga blog saya yg msh culun gak dikira cabang bangaip.org, soalnya kasian bangaip.org-nya hehehe.. btw, blognya kuerreennn, tulisannya bagusss! aku izin taro di blogroll-ku ya bang :) terima kasih

    –0–

    Terimakasih sudah dikunjungi oleh orang yang bernama sama. Hihihi. Mas, saya ini belum populer kok. Halah. Hahaha. Anyway, blog saya juga masih culun dan masih belajar nulis. Mari kita sama-sama belajar, bangaip. Hooray!

  7. edratna says:

    Hidup eksak itu sebetulnya melelahkan…awalnya saya hidup seperti ini, ada target yang dikejar…dan rasanya sedih jika tak tercapai. Padahal banyak hal di luar kemampuan dan perhitungan kita.

    Ada pendapat yang bagus, yang mengatakan bahwa bahagia itu pilihan, kita hidup bukan di atas realitas, tetapi penafsiran atas realitas. Bahagia itu harus dipelajari. Orang yang arif akan bahagia, karena mampu menghadirkan Allah dalam setiap segi kehidupannya.

    Dan kenyataannya, saya lebih bahagia setelah memahami bahwa segala sesuatu ada dalam rencana Tuhan, namun manusia wajib mengusahakannya.

  8. sufehmi says:

    bahagia itu pilihan, kita hidup bukan di atas realitas, tetapi penafsiran atas realitas

    Quote yang luar biasa bu. Setuju 100%

    Saya selalu bilang ke semua orang yang mau mendengar; “create your own happiness”
    Buat apa cari kebahagiaan? Bisa kita bikin sendiri, kok malah dicari kemana-mana :)

    Satu lagi ilmu yang saya dapatkan dari beberapa kawan adalah “managing expectations”.
    Secara ringkas, do your best, expect nothing. Maka, apapun hasilnya, jadi tidak membuat kita merasa susah.

    Harapan, atau, perasaan bahwa kita berhak untuk mendapatkan sesuatu; seringkali malah akan menyusahkan kita sendiri.

    Contoh: anggapan / mitos bahwa “kasih ibu tak terhingga” = ekspektasi curahan cinta selamanya.
    Ketika suatu hari terjadi sebaliknya, tentu akan sangat membuat syok & sedih.

    Manusia itu tidak sempurna. SEMUA orang bisa mengecewakan & menyusahkan kita – bapak, ibu, istri, anak, kawan, dst.

    So, expect nothing from others. Maka tidak ada sesuatupun yang bisa membuat kita kecewa.

    But give (love) to others in abundance. Karena, selain membuat orang lain bahagia, ini justru juga akan membuat kita sendiri bahagia.

  9. sufehmi says:

    Dan kenyataannya, saya lebih bahagia setelah memahami bahwa segala sesuatu ada dalam rencana Tuhan, namun manusia wajib mengusahakannya.

    Saya percaya bahwa Tuhan menganugerahkan free will kepada kita. Banyak orang yang tidak sadar bahwa ini adalah anugerah yang luar biasa.

    Binatang hidup berdasarkan insting. Malaikat itu sudah jelas hanya akan berbuat baik. Seperti robot yang sudah diprogram secara sempurna. Tapi, manusia diberi sedikit sifat Tuhan – Iradah, “berkehendak”. Manusia diberi kemampuan untuk memilih.

    Di lain sisi, hadiah dari Tuhan ini seperti pisau bermata dua. Dia bisa menjadi sumber kemuliaan seseorang. Atau, bisa menjadi sumber kehinaannya selamanya.

    Sebagai Penguasa ruang & waktu, Tuhan sudah tahu apa saja pilihan-pilihan yang akan kita lakukan di sepanjang hidup ini. Dan kadang Dia memutuskan untuk melakukan intervensi disana & disini – dan itu adalah hak Nya sebagai Penguasa segalanya.
    Namun, tetap pada intinya adalah manusia yang melakukan pilihan-pilihan hidupnya sendiri.

    Kisah paling berkesan bagi saya tentang soal “free will” ini adalah hikayat tentang 2 malaikat, Harut & Marut.

    Alkisah, para Malaikat itu sering heran melihat kelakuan manusia yang banyak merusak disana sini. Maka kemudian Tuhan mengirimkan Harut & Marut ke Bumi, dan memberikan mereka kemanusiaan. Termasuk diantaranya adalah free will (mereka jadi bebas berkehendak) dan nafsu.

    Dalam waktu yang tidak terlalu lama, mereka ternyata malah menggunakan free will mereka untuk memenuhi nafsunya 😀 berzina, mabuk, membunuh.

    Padahal, ini adalah Malaikat. Yang SUDAH tahu bahwa ada Surga. Ada Neraka. Dan ada Tuhan, Penguasa segala yang ada.
    Tapi, tetap mereka tidak mampu menjalani kehidupan kemanusiaan dengan baik.

    Maka karena itu para Malaikat amat sangat kagum jika ada manusia, yang penuh nafsu, namun tetap mampu untuk memilih (choose) & menjalankan kebaikan. Padahal manusia itu belum pernah melihat surga, neraka, dan Tuhan.

    Mereka anggap manusia seperti itu lebih mulia daripada mereka sendiri / malaikat.

Leave a Reply