Istirahat Dan Kecantikan

Memberi Suara Pada Yang Bisu - Dr Dede OetomoHari ini saya tidak punya banyak kegiatan. Sebab prioritas utama saya memang hanya sekedar istirahat. Idealnya, duduk, menikmati matahari dan lalu baca buku karya pak Dede Oetomo yang berjudul Memberi Suara Pada Yang Bisu, sebuah catatan cukup penting bagi pergerakan homoseksual Indonesia di luar negeri maupun dalam negeri. Tapi itu idealnya. Maksud saya, yang ideal memang begitu. Sebab kenyataan toh bilang lain.

Hari ini, saya ambil cuti. Mau istirahat. Sudah dua minggu penuh beraktifitas hingga nyaris setiap siang atau malam dihabiskan dengan hal-hal yang menyenangkan, namun juga menguras tenaga. Siapa yang bisa bilang jika pergi ke kebun binatang bersama putri tercinta adalah hal yang tidak menyenangkan? Siapa yang bisa bilang jika menghadiri pesta ulang tahun makan dan minum enak sambil menyanyi bersama teman-teman bukanlah hal yang menyenangkan? Siapa bilang pergi ke tempat jauh hingga harus bawa paspor segala hanya untuk memotret tidak menyenangkan? Semuanya menyenangkan. Tapi tetap saja toh menguras tenaga.

Saya mau istirahat. Maka jadilah saya mencoba istirahat hari ini. Tapi, ahh lagi-lagi ada tapinya. Itu jemuran sudah berhari-hari kering minta diangkat dan dilipat lalu dimasukkan dalam lemari. Ada pakaian bekas ompol anak saya membuat pesing sekamar mandi minta dicuci dan dijemur secepatnya. Ada makanan yang meminta dimasak agar memenuhi isi perut saya dan tamu-tamu. Ada lantai yang berdebu kusam minta disapu dan dibersihkan segera. Ada foto-foto hasil perjalanan yang minta diedit dan dikirimkan pada mereka yang semestinya mendapatkannya. Ada… Ada… Ada-ada saja lainnya yang membuat akhirnya saya baru bisa beristirahat mulai pukul tiga sore. Dan saya yakin tidak bisa bertahan lama. Sebentar lagi, tiga jam lagi, tamu-tamu saya juga sudah akan datang.

Akhirnya pukul tiga sore ini saya bisa beristirahat. Saya duduk di depan monitor. Lalu mulai menulis. Aneh? Bukankah menulis juga butuh tenaga? Ya jelas iya. Bukan hanya tenaga, tapi juga pikiran. Tapi kenapa masih menulis? Jawabnya sederhana; itu istirahat. Setidaknya buat saya. Dalam tiga jam ini saya akan istirahat. Saya akan menulis.

Sore ini, ketika akhirnya saya bisa sendiri, saya pun menulis. Seperti biasa, catatan-catatan saya hanya sekedar remah kehidupan sehari-hari. Tidak begitu penting buat siapa-siapa. Tapi ijinkanlah saya menulis dan berbagi cerita, sebab hanya dengan begini saya bisa istirahat. Hehe. Egois banget saya. Tapi cuek aja lah. Hehehe…

Jadi begini ceritanya;

Teman saya, panggil saja Mas Don, seorang putra Jawa aseli, baru saja putus cinta. Kejadiannya belum lama, kira-kira baru dua bulan lalu. Itu cinta, sebegitu putusnya, membuat beliau uring-uringan (“Pernah jatuh cinta yang sedemikian jatuhnya sehingga enggan untuk bangkit lagi?“). Bagaimana tidak uring-uringan, sebab dia bilang semua orang baik dari keluarga pasangan hingga ke keluarganya sendiri, menyalahkan Mas Don. Seakan putusnya pertunangan mereka, salahnya Mas Don.

“Coba Bang, masak sih aku yang disalahin? Padahal kan dia yang menerima ajakan kencan dari cowok lain. Masak dia kalo dapet SMS dari cowok lain terus diajak makan abis itu ngasih tau aku? Siapa yang nggak panas coba?”

Saya diam saja. Cengar-cengir seperti biasa. Sambil bertanya, “Trus?”

“Yaa iyalah, masak aku dituduh psikopat. Gara-gara putus pertunangan kita, aku dituduh psikopat. Aku dituduh main gila. Main gila apa aku, Bang? Aku kerja banting tulang mati-matian di sini mengumpulkan uang supaya tahun depan bisa pulang ke Indonesia biar bisa kawin sama dia. Kok dia begitu? Kencan sana kencan sini. Dia yang minta putus eeh malah status fesbuknya bilang kalo aku yang mutusin… Siapa yang nggak panas coba?”

“Yaa udah lah. Kamu tenang aja, Mas Don. Masih banyak gadis-gadis di muka bumi ini yang mau sama kamu”

“Tapi aku kan jelek, Bang… Gigiku maju begini. Banyak orang yang bilang aku mirip Dono”

Saya terperanjat, “Siapa yang bilang kamu jelek. Mas Don, semua manusia itu sama. Soal cantik atau tidak, itu masalah selera. Omong-omong soal Dono, almarhum itu senior saya loh. Dan dibalik karirnya sebagai komedian, pejuang dia itu. Ganteng. Punya kepercayaan diri”

Dia sambil cengar-cengir bilang, “Yang bilang aku jelek sudah banyak, Bang. Kalau aku kondangan terus bawa mantan cewekku, orang-orang pada tanya, apa rahasianya cowok macam aku bisa dapat secantik begitu”

Saya melamun. Sedih. Saya bilang, “Mas Don, kalo ada yang bilang kamu jelek kamu inget-inget aja lagu Christina Aguilera liriknya yang bilang ’kamu cantik, walau apapun yang mereka bilang. Tidak ada kalimat yang mampu menjatuhkanmu’. Biar sukses, nih saya kasih amalan”

“Amalan apa Bang, sejak kapan situ jadi dukun?”

“Udah jangan berisik. Nih amalannya. Tiap bangun pagi kamu usahakan liat kaca. Kamu senyum. Senyum sama diri kamu sendiri. Trus kamu bilang, ‘Eh kamu manis banget sih’ pada diri kamu sendiri. Ini amalan mujarab. Kalo dipraktekkan tiap hari kamu bisa jadi ganteng”

“Buktinya mana?”

“Saya dong! Loh kamu nggak ngeliat betapa saya manis banget nih!”

Kami berdua tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban saya. Mas Don menganggap jawaban canda saya dengan hati senang.

Saya tidak tahu apakah Mas Don mengikuti nasihat ajaib saya itu. Tapi saya pribadi mah (eh jangan bilang-bilang, ini rahasia kita bedua saja yaah) setiap bangun tidur lihat kaca lalu senyum dan berkata pada diri sendiri, “Bangaip, kamu cute banget sih” atau “Bangaip, kamu topdeh” atau “Bangaip ketika kamu jalan-jalan, dunia jadi ceria”.

Agak gila memang, tapi saya tidak peduli. Meskipun di luar hujan deras dan saya harus genjot sepeda termehek-mehek melawan angin pergi ke stasiun berangkat kerja ke pabrik, saya sudah sarapan dengan senyum. Kalau tidak bisa senyum, saya pakai dua jari tarik ujung bibir ke atas. Supaya kelihatan senyum. Yang ada malah kelihatan aneh. Dan saya lalu ketawa-ketiwi sendirian di kamar mandi pagi-pagi.

Gokil? Hahaha, biarlah. Yang penting senang! Haha…

Beberapa hari lalu saya ketemu Mas Don lagi. Ia bilang, “Bang tadi aku ketemu cewek Brazil di bis. Aku dikasih nomor telpon ama fesbuknya. Waduh senang aku, Bang. Kita sudah kontak-kontakan, mau ketemuan”

Saya lihat fesbuk perempuan yang ia bilang. Ya benar, Mas Don tidak salah. Cantik itu wajah sang wanita. Dengan penampakan lain pirang, tinggi dan seksi. Saya bilang, “Mas Don, mungkin ini jalan kamu. Tiap orang kan ada jalannya masing-masing. Moga-moga aja ini perempuan baik hatinya. Kamu ini orang baik, sepantasnya dapat perempuan baik. Kalau dia hatinya baik dia juga sangat pantas dapat kamu”

Mas Don cengar-cengir malu, “Ahh bisa aja kamu, Bang”

“Hehe, ngomong-ngomong kamu praktekin ga amalan dari saya”

Ia senyum membalas pertanyaan saya. Saya tidak peduli sebenarnya apakah ia benar-benar mengikuti anjuran saya. Tapi saya sudah bahagia melihat ia akhirnya senang dan punya secercah harapan dalam melalui hari-harinya yang penuh kerja keras dan patah hati selama ini.

Oke, itu cerita Mas Don. Cerita tentang seorang laki-laki yang jatuh cinta.

Sekarang saya coba ceritakan sebuah cerita lainnya. Ini cerita tentang wanita berusia 57 tahun. Namanya Jeanette. Perempuan aseli Brussel, Belgia.

Hari jumat lalu saya diundang makan malam di rumah Jeanette. Disana juga ada Gaby, wanita Jerman paruh baya eksekutif sebuah perusahan pengembang perangkat lunak yang super sibuk dan Rayes, perempuan Kanada yang menghabiskan separuh hidupnya untuk berkelana di muka bumi dan kali ini sedang bangkrut, patah hati, mencoba hidup menetap dan mencari kerja.

Kami makan malam bersama. Empat orang asing yang belum banyak kenal satu sama lain duduk dalam satu meja. Oh ya, jelas saya lelaki satu-satunya di ruangan itu. Jangan tanya saya bagaimana bisa kenal mereka, yang pasti ketika makan malam usai obrolan pun lalu menjadi lebih intim. Kami bicara tentang hidup kami.

Gaby bicara tentang kesibukan yang semakin hari semakin menyiksanya. Karir semakin tinggi, ia sibuk di tempat kerja. Untuk mengimbangi, ia ikut fitnes dua kali seminggu. Agar badan tetap sehat, bugar dan kencang. Di sisi lain, pacarnya yang lumpuh di Munchen sana juga ikut menyita waktu dan tenaga. Ia bicara tentang kesibukannya.

Rayes cerita tentang lelaki-lelaki yang selalu datang dan pergi dalam hidupnya. Ia cerita kalau ia separuh menyesal bertemu dengan para pria yang ia pikir akan jadi pelabuhan terakhir dan akhirnya mengecewakan. Dan kini, ia harus memulai kembali dari awal atas segalanya. Ia cerita tentang masa lalu dan penyesalannya.

Lalu jelas giliran saya. Saya cerita apa? Ahh saya jelas cerita tentang anak saya. Seorang perempuan berusia tiga tahun yang selalu membuat saya jatuh cinta. Tentang bagaimana saya mengajarinya naik sepeda dan obrolan-obrolan kami dalam multi bahasa yang selalu membuat saya tertawa. Saya cerita tentang cinta.

Jeanette, yang dari tadi hanya diam dan senyum menanggapi akhirnya mulai bercerita.

“Suatu hari ketika saya ada di India untuk berkelana, bangun tidur di pagi hari mendapatkan bahwa setengah tubuh saya tidak bisa bergerak. Dokter yang datang satu jam kemudian hampir pasti berkata bahwa saya kena stroke. Kejadian ini dua tahun lalu. Sejak saat itu saya lumpuh”

Saya dan mata-mata lainnya dalam ruangan memandang dengan tercekat ke arah Jeanette. Iya kami tahu Jeanette agak pincang ketika berjalan. Tapi kami tidak tahu kalau ia pernah lumpuh total.

“Bukan hanya stroke, saya juga kena Afasia yang membuat saya kesulitan dalam berkomunikasi. Apa yang mau saya bilang di otak keluarnya lain di mulut”

Saya benar-benar terperanjat. Saya tanya, “Kamu… Apakah kamu merasa frustasi dengan kondisi tersebut?”

Jeanette memandang saya, ada airmata di sana. “Iya, saya frustasi. Apalagi saat itu saya di India, saya tidak bisa menghubungi keluarga di Brussel. Akhirnya untung ada kedutaan yang membantu memulangkan saya. Setahun saya merasa gagal. Saya benci diri sendiri. Berjuta pertanyaan muncul. Kenapa ketika saya di India? Atau malah, kenapa harus saya? Saya merasa hidup saya sudah tidak ada gunanya lagi sebagai manusia”

Saya sadar betul. Sebagai orang yang selalu jalan-jalan dalam bekerja, lumpuh memang amat menyulitkan. Apalagi ditambah kelainan fungsi di otak.

Gaby dan Rayes bertanya hampir bersamaan, “Lalu kok kamu sekarang bisa jalan lagi?”

Jeanette tersenyum. Dia bilang, “Kalau saya menyesali hidup, pasti tidak ada gunanya. Saya pasti suatu saat akan mati. Tidak perlu lah saya percepat. Maka itu saya lawan saja. Saya pergi ke pusat rehabilitasi untuk orang cacat. Saya berjuang setiap hari berkata pada diri sendiri bahwa saya pasti akan bisa menggerakkan telunjuk saya”

Diai berhenti sejenak, ambil teh dan lalu menyeruputnya. “Dan kamu tahu… Suatu hari telunjuk saya bergerak. Setelah enam bulan saya melatih diri di depan kaca berkata pada diri sendiri bahwa saya bisa menggerakkan jari jemari, tiba-tiba ia bergerak”

Saya kaget, “Eh masa sih segampang itu?”

Dia ketawa, “Yaa tidak. Tidak semudah itu. Besoknya setelah jari saya kedut-kedut tiba-tiba, tidak ada perubahan lain. Saya sempat frustasi lagi. Tapi saya lawan. Saya bilang pada diri saya sendiri kalau saya bisa. Hari demi hari ada kemajuan. Tidak serta merta saya bisa bergerak seperti ini, tapi saya mulai bisa menggerakkan jari jemari tangan saya. Dan itu sebuah anugrah. Buat saya. Buat orang-orang bisa jalan atau bisa tepuk tangan itu biasa. Buat saya waktu itu, luar biasa. Dan kini betapa saya sangat menghargai hidup dan tubuh walaupun hanya jalan ke WC atau membuka lembaran buku”

Saya benar-benar terharu mendengarnya. Hampir menangis. Semua bulu kuduk saya merinding ketika Jeanette cerita mengenai perjuangannya untuk sembuh dari stroke dan afasia. Lebih terharu ketika ia bilang bahwa ia merasa tetap cantik walau semua urat wajahnya menjadi amat kendur hingga amat susah dibedakan dengan Jeanette yang dulu sebelum terserang penyakit-penyakit itu.

“Waktu diputuskan oleh pacar ia bilang, saya sudah tua. Saya singel, cacat dan muka saya rusak. Tapi saya tidak peduli. Saya lawan saja semua prasangak buruk dengan senyum. Ia boleh bilang apa saja, tapi saya tetap merasa wanita dan saya cantik dan bahagia”

Saya lagi-lagi terharu dan senyum mendengarnya. Saya bilang, “Jeanette, kamu perempuan cantik dan tetap akan selalu cantik. Saya bangga bisa kenal dengan kamu. Saya bangga pada perjuangan kamu dan saya bangga pada kamu”

Satu persatu, saya, Gaby dan Rayes memeluk Jeanette. Ia menitikkan air mata. Ahh iya, saya juga. Saya menitikkan airmata. Jadi lelaki yang cukup cengeng malam itu. Tapi biar saja. Ini airmata respek pada perjuangan hidup anak manusia.

Kita semua dilahirkan cantik dan akan selalu cantik hingga akhir hayat nanti. Maka jika suatu hari hidup sudah sedemikian berat himpitannya. Lihat saja ke cermin di pagi hari. Senyum dan berkatalah pada orang di seberang sana bahwa Anda mencintainya.

Selamat sore, selamat senyum dan selamat menjadi cantik (atau ganteng, atau apalah sebutannya, hehe) buat teman-teman pembaca semua.

*Terimakasih sudah membantu saya istirahat :)*

This entry was posted in bangaip, sehari-hari and tagged , , . Bookmark the permalink.

8 Responses to Istirahat Dan Kecantikan

  1. alhamdulillah, saya tidak perlu sampai mesti ngaca utk mengetahui dan mengatakan saya ganteng *LOL*

    betul sekali bang Aip. cantik dan ganteng itu pada dasarnya hal ABSOLUT yg dimiliki semua orang yg lahir, hanya saja perbedaan cara pandang yg membuatnya menjadi RELATIF. :-)

    –0–

    Setuju sekalii!

  2. sufehmi says:

    Istilah ilmiah dari kebangkitan Jeanette adalah “Neuroplasticity”

    Istilah awam dari kebangkitan Jeanette adalah “the power of mind”. The power of belief. It’s possible if you can imagine it.

    Tentang kecantikan – saya SELALU menolak jika dikatakan “cantik” oleh anak-anak saya. Enak sajah…. saya ini ganteng, tauk ! 😀
    Mosok malah dibilang cantik, huhuhu…. **nangis darah**

    Kids…. 😀

    –0–

    Terimakasih untuk infonya soal “Neuroplasticity” dan “the power of mind”, Pak. Saya ada bahan baru untuk bacaan :)
    Soal anak, waah saya mah walopun mengaku ganteng, tetep aja harus main salon-salonan sama dia. Dan semacho-machonya saya, yaah nurut aja waktu rambut dilumuri sampo sama anak umur tiga tahun. Apalagi pas main tamu-tamuan, masih untung kalau saya jadi tamunya. Kalau saya jadi tuan rumahnya, saya harus menghidangkan teh-tehan dan kue-kuehan di bak mainan…. sambil pake rok.

  3. saya_juga_top_deh says:

    baiklah…..
    mulai sekarang setiap pagi saya akan berkata ke cermin :

    “kamu cute bangets, kamu kece deh, kamu cakep deh……….”

    –0–

    Selamat menjalankannya :)

  4. wira says:

    Saya pernah diberi tips dari seorang pemateri tentang sugesti diri ini. Prakteknya ya dengan meyakinkan diri sendiri di depan kaca. Ah, sudah lama sekali saya ngaca hanya untuk membereskan rambut. Sekarang kalau ngaca lebih lama rasanya ada manfaatnya 😀

    PS: Dari dulu saya sudah nyadar kalau ganteng 😀

    –0–

    Saya senang Mas Wira sudah sadar. Mohon saya disadarkan. Hihi

  5. didi says:

    kalo ng salah..ada sekolahnya deh yang berbau – bau ke arah sugest begitu. tapi apa ya namanya?..*tepokjidat-lupa
    yang jelas.. saya cantik 😀 ehehe..
    Mari sugest diri dengan kalimat2 positif. yuu

    –0–

    Kalo saya mah susah, disegesti bahkan dihipnotis sampai gimana pun, tetep aja susah. Bawaan orok ini kali yaah? Hihihi

  6. sufehmi says:

    sambil pake rok…

    psst….. eh, anu… boleh minta fotonya itu ??? 😀 janji gak saya sebarin kok. Untuk arsip pribadi saja **lhooo** 😀 😀

    Mantab Bang Aip. Kalau lagi mampir ke Jakarta, ketemuan bareng anak-anak kita yuk. Tapi berhubung disini jarang ada taman bermain yang memadai untuk anak-anak, mungkin ketemuannya misalnya di KFC Kemang (playground 4 lantai, buka 24 jam) atau semacamnya, heh.

    –0–

    Sip, Pak. Tawaran yang sangat menggiurkan nih :)

  7. edratna says:

    Padahal bagi seorang cowok, tampak nomor kesekian..yang penting jujur, baik hari, ramah dan tidak sombong..serta punya penghasilan. Kalau penghasilannya gude banget, itu mah bonus.

  8. edratna says:

    Dan saya suka membaca cerita tentang Jeanette ini…yang tak patah semangat….
    Soal cantik…..kita sendiri harus yakin kalau kita cantik dan menarik….sepakat dengan Bangaip.

    Saya kenal orang yang wajahnya biasa aja, namun dia berani tampil, dan orang melihatnya sebagai seorang wanita yang dinamis, dan menarik. Bahkan pada umurnya yang sudah di atas 70 tahun masih terlihat menari…

Leave a Reply