Ditelan Kelam Malam

Robinson Crusoe book cover imageKalau tidak ada orang di rumah, biasanya saya suka kesepian. Dalam hati berpikir, “Kemana yaa orang-orang? Kok sepi amat?”. Tapi giliran banyak orang di rumah, saya juga sering bertanya-tanya, “Kok banyak amat orang-orang? Ini kapan bubarnya?”

Bingung? Iya lah, saya saja yang menjalaninya kadang suka bingung sendiri.

Malam ini saya sendiri. Hebatnya, kalau saya sedang sendiri begini, tiba-tiba kok yaa keinginan untuk menulis dahsyat sekali. Mungkin dengan menulis, bisa membunuh sepi. Tapi kenapa pula saya hendak membunuh sepi? Bukankah bulan sepenggal di langit cerah sana kelihatannya menemani malam ini? Kenapa pula sepi harus dibunuh, apakah ia sebegitu menakutkannya? Entahlah. Yang penting biarkan saja saya tetap menulis.

Dalam karyanya yang terinspirasi dari perjalanan Ibnu Tufail, Daniel Dafoe menulis The Life and Strange Surprizing Adventures of Robinson Crusoe, sebuah fiksi autobiografi perjalanan seorang pria yang bernama Robinson Crusoe terperangkap di pulau tak berpenghuni selama 28 tahun. Dalam novel fiksi itu, Crusoe menulis catatan hariannya. Selain mendokumentasikan hidup, juga untuk menjaga ‘kewarasannya’.

Saya bukan Robinson Crusoe. Tidak pula terdampar dalam pulau tak berpenghuni selama 28 tahun. Saya hanya kesepian malam ini. Dan menemani diri sendiri dengan kalimat demi kalimat mantra jampi.

Sudah sebulan lebih saya kedatangan tamu. Tidak tanggung-tanggung, di luar tamu tetap yaitu gerombolan teman-teman dan anjingnya, saya kedatangan tamu baru hampir sekitar 30 orang lebih. Setiap hari selalu muncul orang baru, muka baru dan cerita baru. Tapi saya senang. Walaupun juga ternyata saya letih. Selama sebulan ini kedatangan banyak tamu, senang, letih dan rasa lain sebagainya jadi satu campur aduk tak terkira. Lalu saya jadi enggan menulis. Sebab di ujung hari sudah terlalu berat mengangkat tangan untuk menulis.

Malam ini, tidak ada orang. Saya pikir, walaupun masih letih selama sebulan memforsir diri dengan tamu dan kegiatan pekerjaan yang penuh deadline, ini saat yang tepat untuk menulis. Saya memang bukan Tuan Crusoe, tapi saya harus menjaga kewarasan jiwa.

Yaa sudah. Maka itu, ijinkanlah saya bercerita malam ini. Mungkin sebuah cerita drama sederhana buat banyak orang. Tapi tidak buat saya. Dan daripada saya jadi gila, lebih baik dituliskan sajalah di dunia maya.

Cerita ini dimulai ketika saya kedatangan tamu. Tamu yang datang ke rumah saya silih berganti. Kadang menginap selama dua hari atau lebih. Semuanya menarik. Semuanya ajaib. Semuanya punya khas masing-masing. Namun diantara mereka semua itu, ada sepasang anak muda berusia 22 tahun yang berasal dari Swedia. Yang laki-laki bernama Eric dan yang wanita, pacarnya, bernama Rara. Diantara semua tamu saya, mereka inilah yang paling luar biasa.

Saya kenal Rara lebih dahulu, dari sebuah website dimana para pejalan di muka bumi berbagi keramah-tamahan ketika saling berkunjung. Suatu hari ia mengirim email bertanya apakah ia dan pacarnya boleh bertamu ke rumah saya. Yang serta merta saya jawab saja tanpa banyak cing-cong dengan ‘Iya’. Sebelum ke rumah saya, belum pernah sekalipun saya mampir ke rumah Rara, apalagi ke rumah Eric. Tapi tidak apalah, toh bukankah dalam menjalin pertemanan harus ada yang memulai duluan?

Suatu malam, ketika Eric sudah tidur. Teman-teman saya sudah tidur. Bahkan seekor anjing yang kebetulan bertamu di balkon saya pun sudah tidur. Saya duduk di dapur. Sambil senyum-senyum menatap foto putri saya, Novi Kirana. Malam itu, sebagaimana malam lainnya, saya rindu sekali kepada bocah perempuan berusia tiga tahun itu. Rara datang, mengambil kursi duduk di depan saya sambil berkata, “Cantik sekali putri kamu”

Saya jawab dengan senyum mengangguk, “Terimakasih”

Ia batuk-batuk sebentar. Katanya, sudah seminggu ini radang tenggorokan. Kurang nyaman. Saya berdiri sebentar, mengambil jeruk sitrun di kulkas, menyeduhnya dengan air panas dan lalu mencampur dengan madu dalam sebuah gelas berukuran sedang. “Silahkan diminum Rara. Kami orang Cilincing percaya bahwa sitrun mampu meredakan sedikit batuk. Semoga kamu bisa tidur nyaman malam ini”

Dia menatap saya heran, “Kamu baik sekali?”

Saya terkejut sambil tertawa, “Baik? Aneh, saya tidak punya maksud apa-apa selain berpikir jika suatu hari anak saya seusia kamu dan ia bepergian ke negeri jauh dan lalu batuk-batuk, ada orang yang memberinya sitrun hangat”

Ia menatap saya lekat, “Kamu bapak yang baik…”

Kali ini saya merasa agak kurang nyaman. Entah kenapa saya tidak begitu suka dinilai oleh orang lain cara ketika saya melakukan interaksi antara bapak dengan anak. Baik atau buruk, yang saya tahu saya memberikan semua kasih sayang saya sebagai bapak kepada putri semata wayang. Sebut saya egois. Sebut saya narsistis. Atau bahkan gila sekalipun. Tapi saya tidak peduli sebab saya merasa tidak ada orang lain yang perlu memberitahu betapa cintanya saya kepada putri saya.

Jadi saya jawab dengan agak enggan, “Baik? Perspektif siapa? Saya hanya menjalankan kewajiban sebagai seorang ayah”

“Buat saya kamu baik. Kamu beda dengan ayah saya”

Alis saya mengerenyit, “Bukankah semua ayah itu baik?”

Ia tersenyum getir ketika menjawab, “Ayah menyuruh saya les piano sejak saya berusia enam tahun. Ia selalu berharap anaknya adalah seorang jenius musik. Tapi saya bukan. Saya fals. Ketika saya umur delapan tahun lalu menekan tuts yang salah, dan ia benci mendengarnya, ia mengajak saya keluar rumah. Di halaman depan, ia mengambil Vidi, kelinci saya. Menyembelihnya di hadapan mata saya. Esok hari ketika saya menekan tuts yang salah lagi, ia mengambil Momo, kelinci peliharaan saya satu-satunya yang tersisa. Tangan kiri memegang kedua kuping Momo dan tangan kanan menyembelihnya. Di depan mata saya. Pesannya sederhana, jangan main tuts salah lagi”

Saya berhenti mengunyah permen karet. Menatapnya kaget dan tidak bisa bicara apa-apa. Ketika akhirnya kami diam selama beberapa menit, saya beranikan diri buka suara, “Tidak pernah terpikir di otak saya ada manusia… Apalagi seorang ayah, melakukan begitu kepada anaknya…”

Rara menunduk, membetulkan syal di lehernya. Kedua tangannya memegang bibir meja makan. “Bukan cuma itu. Waktu umur saya tiga belas tahun, ia pulang mabuk di akhir minggu. Sebagaimana hari-hari lainnya, ia suka pukul mama dan adik-adik saya. Malam itu ia mabuk sekali. Lalu datang ke kamar saya. Ia melakukan hal buruk sekali kepada saya”

Seluruh bulu kuduk di tangan saya merinding. Sedih, kecewa sekaligus marah jadi satu.

Rara sudah tersengguk-sengguk ketika meneruskan ceritanya. Setelah ia menyeruput sitrun hangat dari gelasnya. Emosinya mereda. Ia menjadi tenang kembali.

Tapi saya tidak. Entah kenapa, saya gelisah sekali. Sulit buat otak saya membayangkan seorang laki-laki yang menjadi pemabuk di akhir pekan lalu memukuli keluarganya hingga bahkan memerkosa anak perempuannya selama setahun lebih dan ketika anaknya depresi malah mengirim si anak ke rumah sakit jiwa. Dan semua itu, dilakukan oleh laki-laki yang berpendidikan cukup tinggi hingga mampu menjadi seorang dokter bedah. Astaga!

“Saya selalu menyalahkan diri saya sendiri. Apa saya yang berpakaian buruk dan membuat ayah terangsang? Atau saya berperilaku tidak baik yang membuat ayah jadi memerkosa saya? Saya selalu menyalahkan diri saya sendiri sejak pertama kali ayah memerkosa saya”

Saya raih tangannya. Menggenggam erat sambil berkata, “Rara, kamu tidak salah. Yang salah bajingan itu. Tidak semestinya ia masih hidup. Rara, kamu jangan khawatir. Dia tidak akan bisa mengganggu kamu lagi”

Matanya berlinang air dengan deras, “Dua minggu lalu, saya baru saja lulus ujian. Setelah susah payah akhirnya saya bisa menyelesaikan sekolah, saya lulus juga. Ia datang, menyelamati. Saya kira saya sudah bisa berdamai dengannya ketika akhirnya mama menceraikannya. Tapi di malam kelulusan itu, ketika ada pesta, ia coba untuk memperkosa saya lagi. Kali ini, saya sudah kuat. Saya dorong dia dan saya lari. Sejak dua minggu lalu, saya pergi dari rumah. Saya tinggalkan semuanya. Saya tinggalkan rumah. Saya tinggalkan pekerjaan. Saya tinggal semuanya! Saya benci Swedia!”

Saya tidak bisa bicara apa-apa. Saya hanya bisa memeluknya. Membiarkannya ia menangis di bahu saya. Membiarkan kaus saya basah terkena airmatanya. Saya tidak bisa berbuat apa-apa. Saya hanya bisa memberikannya perhatian melalui sepasang telinga untuk mendengar cerita-cerita perjalanan hidupnya.

Ketika akhirnya ia bisa tenang, saya tanya, “Eric tahu?”

“Saya baru pacaran dengan Eric sejak enam bulan lalu. Kamu orang pertama selain mama dan Nina kakak saya, yang tahu kejadian ini”

Saya genggam kedua tangannya, “Rara, terimakasih. Saya tahu ini cerita yang sungguh luar biasa buat saya dan sangat sedih untuk kamu. Tapi saya merasa tersanjung kamu percaya pada saya”

Ia senyum, walaupun sambil tetap menyeka air mata, “Iya, saya belum pernah cerita ini kepada orang lain. Hubungan saya buruk dengan laki-laki yang mau memacari saya. Entah kenapa saya bisa cerita pada kamu?”

Saya senyum menjawabnya, “Walaupun rambut saya jelek, tapi gini-gini saya seorang lelaki yang memiliki putri. Dan saya bukan ancaman buat kamu. Sebab kamu tahu saya cinta sekali dengan putri saya”

“Saya selalu kecewa, mengapa hidup ini tidak adil? Kenapa saya tidak bisa dapat ayah yang normal sebagaimana ayah teman-teman saya lainnya?”

Lagi-lagi saya tidak bisa jawab. Apa yang bisa saya jawab? Kalau bapaknya sakit dan berbahaya? Itu sih sudah jelas. Yang lebih tidak bisa saya jawab adalah, bagaimana masyarakat bisa membiarkan kejahatan terhadap anak-anak dan perempuan hanya karena dominasi kultur pria?

Ketika pria tergoda, apa mereka bisa berbuat apa saja? Merenggut kehormatan bahkan hingga secara brutal paksa, apa apologinya?

Rara pergi dua hari kemudian setelah malam itu. Bersama Eric. Kata mereka, tujuannya adalah selatan. Saya tidak bisa memberi apa-apa kepada pasangan muda yang sudah beranggapan bahwa dunia sudah sedemikian tidak adilnya selain selimut dan kasur angin. Hari sudah sedemikian dingin, musim gugur hampir tiba. Mereka tidak punya banyak uang. Mungkin hanya bisa menumpang pada supir truk mengharap belas kasih tranportasi atau malah menginap di taman kota.

Saya kira, drama asal Swedia usai sudah.

Tapi ahh… Tentu saja selalu ada tapi. Dan sebagaimana cerita-cerita hidup lainnya, saya jelas salah.

Hari selanjutnya, Mamanya, Dora dan Nina, datang ke rumah saya. Setelah menjebol akun email Rara (dibantu oleh kepolisian lokal), mereka menemukan bukti bahwa Rara dan Eric menginap di rumah saya. (*Entah kenapa, tiba-tiba nama saya jadi sedemikian terkenalnya di sebuah kota kecil di sudut Swedia sana*)

Jelas saya kaget ketika suatu hari satu orang ibu-ibu dan dua orang anak perempuannya berkendara selama 17 jam non-stop memencet bel rumah. Wajah mereka letih dan pucat ketika saya buka pintu pertama kali melihatnya. Mereka khawatir nasib Rara.

Saya ajak mereka makan malam. Sebab saat itu sudah jamnya. Mereka pasti lapar. Lalu setelah itu ke bar yang pernah dikunjungi Rara dan Eric, mencari kedua sejoli itu. Mamanya Rara terlihat paling stress. Ia sedih sekali. Ini pertama kali ia kehilangan kontak dengan anaknya. Saya tidak bisa bilang apa-apa selain bilang bahwa saya juga orang-tua dan amat mengerti perasaannya.

Malam itu di bar, saya traktir mereka bir. Ada gitar. Saya ambil dan mainkan lagu-lagu raggae dan dangdut ala Cilincing untuk menghibur mereka. Walaupun jelas bukan hanya mereka yang terhibur, tapi ternyata juga tamu-tamu lainnya. Sepasang gadis Spanyol yang duduk di sudut tergoda dan akhirnya ikut bermain gitar menyanyikan balada gembira Flamenco.

Malam itu, sebelum pergi, Mamanya Rara memeluk saya. Beliau bilang, “Kami tidak mampu menemukan Rara, tapi saya bersyukur akhirnya saya bisa senyum lagi setelah dua minggu letih tak terkira”

Saya pulang ke rumah dini hari. Jalan kaki. Setelah sampai rumah, rencananya mau mandi. Lalu tidur karena besoknya harus presentasi.

Di tengah jalan dapat SMS dari teman. Katanya ia dalam kesusahan dan butuh bantuan. Sudah cari kiri kanan namun belum juga ada yang membantunya.

Saya bingung mau jawab apa. Makin lama, seret langkah makin jauh ditelan kelam malam.

This entry was posted in bangaip, sehari-hari and tagged , , . Bookmark the permalink.

5 Responses to Ditelan Kelam Malam

  1. loly fitri says:

    Thanks aip :) what a birthday gift, as always.. shocking, hehe

  2. nice story.
    dunia ‘barat’ selalu penuh dg kejutan mengenai pendidikan dan keluarga ya?
    *atau saya yg kuper?xixixi…*

  3. Hidup itu cuma saling memandang, tidak bisa langsung saling merasakan

  4. manusiasuper says:

    Kalau sekali waktu ada jalan ke Banjarmasin, nginap di rumah saya ya bang, janji ya?

  5. jardeeq says:

    pertemuan pertemuan yang mengesankan,

    btw nyanyi lagu dangdut apa bang disana??

    bang thoyyib kah?

Leave a Reply