Apabila Pemerintah RI Yang Tidak Ganteng Itu Memblokir Atau Malah Membunuh Internet: Bagian Pertama (1)

Sebenarnya ini pertanyaan yang cukup lama ada di benak saya. Tapi sejak kebangkitan revolusi di beberapa negara di Timur Tengah, pertanyaan ini makin santer saja mengiang di kepala saya.

Saya pikir daripada saya stress sendirian bertanya-tanya. Ada baiknya saya bagi pertanyaan ini kepada publik. Siapa tahu ada yang iseng ikutan jawab. Atau, siapa tahu ada yang ikutan stress. Hehe…

Begini; daripada susah-susah. Lebih baik semua pertanyaannya saya klasifikasi menjadi beberapa bagian.

Bagian Pertama: Pertanyaan Dasar Komunikasi. “Apa yang harus kita lakukan jika pemerintah RI memblokir atau menutup semua jalur komunikasi?”

Komunikasi apa maksudnya?

Tentu saja komunikasi elektronik. Misalnya: telepon, email, radio dan semua yang ada hubungannya dengan jalur eletronik. Tapi mengapa pemerintah menutup jalur komunikasi elektronik?

Bisa saja suatu hari pemerintah ‘agak iseng’ (dan mereka memang sudah terkenal keisengannya) lalu mengeluarkan sebuah kondisi darurat bahaya untuk semua manusia RI dan sialnya selain mengeluarkan jam malam dan status operasi militer mereka juga mengeluarkan larangan berkomunikasi para WNI kepada dunia luar (local or worldwide). Apa yang harus kita lakukan?

Menurut? Sambil bertanya-tanya dalam hati: kenapa mbok yaa ndak menurut saja pada pemerintah, kalau sudah dilarang berkomunikasi mengapa masih mau melanggar?

Kalau Anda mau begitu, yaa silahkan. Kalau menurut saya, jangan! Jangan menurut kalau hak Anda dicabut.

Jawaban satu pertanyaan di atas sekaligus pertanyaan baru: Perkembangan masa membawa perubahan baru. Yaitu bahwa hak dasar manusia bukan hanya sandang pangan papan saja. Melainkan juga komunikasi. Tahun 1969 Jean D’Arcy dari Perancis membawa konsep ini dan lalu dilegalisasi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa pada akhir tahun 80-an. Konsepnya sederhana, yaitu bahwa komunikasi berhak dinikmati oleh siapa saja. Maka jika pemerintah, penguasa atau rezim atas nama apapun melarang atau memberangus saluran komunikasi, maka bisa dipastikan bahwa mereka ikut pula menghancurkan hak dasar manusia. Jika sebuah rezim tengah menjalankan politik penghancuran hak dasar warganya, bukankah artinya pemerintahan tersebut sedang lebih dari sekedar ‘agak iseng’?

Jadi jawaban apa yang tepat jika pertanyaannya adalah “Apa yang harus kita lakukan jika pemerintah RI memblokir atau menutup semua jalur komunikasi?” yaa gampang: Lawan!

Bagian Kedua: Saluran Dasar Komunikasi Elektronik Dan Efeknya Pada Pemerintahan

Saluran dasar komunikasi elektronik dalam kategori transmisi terbagi menjadi beberapa macam. Umumnya yang dikenal publik luas adalah kabel, nirkabel dan internet. Itupun dibagi-bagi lagi menjadi semakin luas seperti; telepon, email, sms, fax, radio, unduh, live streaming, dan lain sebagainya. Kalau mau spesifik, kita akan mengenal proses signal seperti enkripsi (penyandian), digitalisasi, multipleksi dan lain-lain. Dan masih banyak lagi pembagiannya. Tapi ini kan bukan wacana kuliah yang perlu spesifik. Saya hanya akan menelaah sedikit dalam kekuatan komunikasi elektronik dan pengaruhnya pada pemerintahan atau rezim yang tengah berkuasa.

Ini contoh-contohnya:

Telepon: Kekuatan penggalangan massa (people power) dalam menuntut pengunduran Presiden Philipine Joseph Estrada tahun 2001 adalah ketika para pemrotes mengirimkan SMS satu sama lain sebagai berikut:

  1. Pakai hitam-hitam untuk melayat demokrasi yang telah mati
  2. Siap-siap jika ada kerusuhan
  3. Militer perlu melihat 1 juta manusia yang mau menurunkan Erap besok. Ayo bergabung!

Hebatnya, SMS ini sukses besar. Setelah lima hari demonstrasi secara kontinyu oleh warga, Erap (panggilan untuk Joseph Estarada) pun akhirnya turun dari singgasananya.

Ahh dia tidak begitu dicintai warga rupanya.

Sisi lain yang cukup negatif. Selain alat penggalangan massa, telepon (terutama telepon genggam) di beberapa negara juga bisa dipakai sebagai sebagai anjing pengendus penguasa. Seseorang dapat dengan amat mudah diketahui posisinya hingga isi ‘daleman’ telepon mereka oleh pihak penyedia telekomunikasi. Setahu saya, saat ini di RI beberapa provider telepon secara diam-diam bahkan diketahui menyuplai data konsumen mereka untuk pemerintah maupun pihak ketiga (misalnya korporasi besar penawar tertinggi) walaupun baru sekedar nama dan nomor. Alasannya beragam, aneh-aneh dan macam-macam mulai dari war on terror hingga kampanye marketing ringtone. Yang pasti semuanya secara pasti telah melanggar wilayah pribadi si pemegang telepon.

Email: Kekuatan email dibanding pos surat kertas dan amplop umumnya terletak pada sisi kecepatan, reliabilitas dan praktis. Sisi lemahnya, tanpa jaringan elektronik maka kekuatan email memang tidak ada apa-apanya.

Pada Januari 2011, Menteri Komunikasi Mesir Tareq Qamal menutup jaringan internet. Sebagai langkah pencegahan munculnya gerakan penentang pemerintah Presiden Mubarrak. Yang menarik, bahkan ketika para penentang Mubarrak bisa memperoleh jaringan internet melalui dial-up modem (yaitu modem jaman dulu yang masih memakai saluran telepon kabel sebagai penghubung dan kata Sahroni teman saya, “bunyinya kayak burung merpati disembelih”) ternyata mereka tidak bisa mengakses web based email service seperti GMail, YahooMail, Hotmail dan lainnya. Ternyata, pemerintah Mesir memblok semua website-website email dan layanan mereka.

Internet mati yaa email juga ikut mati.

Sebelum internet dibunuh pada musim dingin Kairo, setahun sebelumnya, lebih tepatnya Juni 2010, senator Amerika Serikat Joe Lieberman (yang sialnya juga ketua Homeland Security) mengusulkan undang-undang tombol merah untuk internet. You know, semacam tombol yang kalau Presiden Obama (atau penerusnya) pencet maka internet seluruh US akan modar seketika. Yang berarti, layanan macam Twitter, Facebook, Google, iCloud dan bla-bla-bla lainnya yang berbasis di US dan saat ini kita pikir ada di genggaman (ponsel) kita, juga akan mampus seketika tombol itu dipencet.

Sosial Media: Kalau tidak salah, semua layanan sosial media memang berbasis internet. Logika sederhananya; kalau internet mati, yaa sosial media juga mati. Di Korea Selatan dan RRC sudah ada sosial media yang berbasis web intranet (*ini mah basi, pabrik aye juga punya bang*) dan/atau mobile berbasis AR (augmented reality, canggih banget nih service. Sayang masih rahasia pengembangan). Jadi jika internet almarhum, para aktifis sosial media masih bisa berbagi info melalui jaringan telepon.

Banyak bukti yang sudah jelas menunjukkan bahwa Facebook atau Twitter memang bukan pemicu atau sponsor utama pergerakan di dunia Arab (Arab Spring 2011). Jadi, sebenarnya ada tidaknya sosial media di Libya, rakyat sana memang sudah sebal dengan (alm) bos mereka yang bernama Muammar Muhammad Abu Minyar Gaddafi aka Muammar Qaddafi. Revolusi itu tidak bisa hanya berdiri diatas sosial media di dunia maya, ia juga harus didukung oleh pergerakan sosial (atau biasanya malah, massal) di dunia offline. Bukti sudah jelas menunjukkan bahwa untuk menumbangkan Qaddafi memang butuh amunisi, bukan hanya kelincahan jempol mengetik di atas layar sentuh telepon genggam.

Tapi, juga tidak bisa dimungkiri, bahwa kekuatan sosial media internet mempengaruhi jalannya pergerakan sosial fisik yang tengah terjadi.

Suatu malam setelah lelah bertempur seharian, seorang pemuda pejuang dari al-majlis al-wattanī al-intiqālī (NTC, pemerintah transisi pengguling rezim Qaddafi) ditanya oleh stasiun televisi Al-Jazeera, “Apa yang kamu lakukan pada malam begini?”

Ia menjawab santai, “Update status fesbuk, liat share komik lucu dari twitter dan baca-baca wikipedia”.

Sampai sini, dari jawaban si pemuda itu sebenarnya kita sudah bisa menyimpulkan sejauh mana sosial media berperan dalam penggulingan Qaddafi.

Ngomong itu gampang: Lawan! Tapi bagaimana melawannya?!

Di Indonesia, internet belum jadi hak asasi WNI untuk bebas dinikmati. Percaya atau tidak, dalam sebuah dokumen undang-undang RI yang berisi usulan anti terorisme, pemerintah berhak mengintervensi atau bahkan mencabut internet. Bahkan jika itu bukan soal terorisme, malah hanya ketika ‘merongrong keutuhan NKRI’ (yang-entah-apa-maksudnya-oh-betapa-LEMHANAS-bahasanya-RUU-gombal-itu), pemerintah berhak mencabut atau menguasai internet. Di sisi ini, pemerintah negara kita tercinta jauh-jauh lebih inferior ketimbang Nigeria yang sudah memberikan hak penuh warganya untuk menguasai internet.

Secara simpelnya, jika suatu hari presiden kita saat ini SBY dimaki-maki publik lewat internet karena suaranya sudah tidak aduhai lagi ketika mengamen, dan sialnya, presiden yang terkenal ajaib ini mengamuk lalu mencabut internet… Ya sudah deh. Menurut UU anti terorisme dan keutuhan NKRI itu, kita semua yang tinggal di RI tinggal gigit jari manyun harus mengikhlaskan wafatnya internet.

Jadi, apa yang harus kami lakukan?

(*Sabar… Sabar… panduannya banyak di internet. Bisa diterjemahkan oleh saya secara ugal-ugalan. Tapi karena sore ini saya harus beli bumbu dapur buat masak nanti malam, jadi saya belanja dulu dan tunggu saja tulisan selanjutnya. Hehe*)

This entry was posted in Republik Indonesia and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

9 Responses to Apabila Pemerintah RI Yang Tidak Ganteng Itu Memblokir Atau Malah Membunuh Internet: Bagian Pertama (1)

  1. Sondang says:

    Hehehe, aku setuju kalo bangaip ikut jadi anggota hacker sedunia untuk memulai gerakan bawah tanah, kayak di film “Gamer” dan film lainnya yg aku lupa judulnya di mana para hacker sedunia bersatu melawan kesemena-menaan penguasa.

  2. guh says:

    Beli bumbu lama amat ya? mana kelanjutannya nih…

  3. dodo says:

    Bangaip beli bumbunya di maluku ya?

  4. bee says:

    Buset, udah sebulan nih bang. Lama amat beli bumbunya? Beli ke timbuktu ini pasti ya? 😀

    –0–

    Hehe, iyaa

  5. sondang says:

    Bangaip, udah beli bumbunya? Sambil ngantri beli bumbu, check this one out:
    http://martoart.multiply.com/journal/item/146/Kepada_Tiran_Kita_Mengaji_

    –0–

    Makasih Sondang

  6. honeylizious says:

    ditunggu tulisan selanjutnya, menarik nih pembahasannya :)

    –0–

    Makasih yaa. Iya, nanti, sedang ditulis nih. Hehe

  7. didi says:

    akhirnya muncul juga

    –0–

    Yaa begitu deh. Haha

  8. didi says:

    ralat: kesalahan pada enter. komen seharusnya untuk ‘tulisan feb” setelah sekian lama menanti tulisannya bangaip

    –0–

    No worries, Mbak. Ini sudah beberapa draft akan dipublish. Rencananya selama saya di RI akan dipublish.

  9. didi says:

    Wah, bisa jumpa penulis di Indonesia ni.hehe.

    –0–

    Maaf sayang sekali saya tidak bisa. Maaf yaa Mbak

Leave a Reply