Cerita Kecil Tentang Hal Sederhana: Maut

Sudah lama saya tidak menulis. Ternyata tidak menulis itu enak juga. Hahaha. Yang tidak enak itu ketika suatu hari diperkenalkan oleh seseorang ke publik, “Kenalin nih bangaip, blogger”. Saya bengong dan memaki dalam hati. Edan, saya sudah lama tidak nulis di blog kok yaa masih saja di-sok-akui sebagai blogger.

Dalam beberapa bulan terakhir ini, saya dapat banyak surat dari teman-teman saya. Bertanya kenapa saya tidak menulis dan ada apa dengan saya. Sumpah mati saya jadi jadi terharu. Serius, terharu. Bukan becanda. Biasanya mah saya terharu, tapi becanda. Nah kali ini, saya serius, terharu.

Bagaimana tidak terharu, dari antara teman-teman saya ada beberapa orang yang benar-benar belum pernah bertemu sebelumnya. Dan mereka bertanya mengapa saya tidak menulis dan apakah saya cukup sehat untuk menulis.

Sumpah mati saya kaget, ternyata ada yang menunggu tulisan saya. Ada rasa belagu (iya lah, saya juga manusia) karena dirindu. Ada rasa bersalah karena menumpuk cerita dalam otak. Ada banyak rasa yang yang sebenarnya bisa dituang dalam tulisan.

Ya sudah, ini saya cerita deh. Kenapa saya beli bumbu pada tulisan terakhir sampai berbulan-bulan.

Jadi begini, suatu hari seorang ibu-ibu berkata, “Wah kalo kayak kamu mah paling lama sekitar pertengahan musim panas ini” ujarnya merujuk pada siklus hidup saya.

Saya jelas bete. Masa sih cuma gara-gara komplikasi radang pada jantung dan bonus benda kecil di otak yang namanya kanker, umur saya tidak akan bertahan lama melampaui Agustus 2012? Dan sumpah pocong, saya jarang percaya omongan orang. Jangankan pada manusia, pohon beringin saja yang lebih sakti dari manusia, saya jelas-jelas tidak percaya. Tapi karena si Ibu-ibu ini punya banyak gelar dari depan hingga ujung belakang namanya, diantaranya ahli medik spesialis. Terpaksa lah saya harus percaya.

Di saat yang sama, saya dapat kabar yang luar biasa sekali. Sahabat baik saya kehilangan rumah dan jadi gelandangan. Menginap dari satu rumah teman ke teman yang lain. Satu teman lagi, lebih parah, kehilangan pekerjaan dan sama sekali tidak mampu menyewa kamar paling murah sekalipun hingga kesulitan makan. Dua manusia itu, sering dan boleh dibilang hampir tiap hari menumpang di rumah saya. Luar biasa? Ahh belum. Itu belum seberapa. Yang bikin luar biasa adalah akibat krisis melanda, gaji saya dipotong dan saya juga terancam kehilangan tempat tinggal. Jadi selain terancam kehilangan nyawa, saya juga terancam kehilangan tempat berteduh ketika sedang menunggu ajal dijemput. Dan kalau kehilangan rumah, saya bisa kehilangan hak asuh anak, satu-satunya cinta yang tersisa di muka bumi ini.

Kehilangan teman, kehilangan rumah, kehilangan cinta dan kehilangan nyawa. Hehe, itu baru luar biasa.

Saya tidak begitu cerdas, tapi yaa jelas tidak bloon-bloon amat. Dalam taksiran hitung sementara, kunci yang bisa diputar untuk membuka masalah kehilangan diatas ini hanya satu, yaitu tempat tinggal. Jika saya masih punya tempat tinggal, maka saya masih bisa membantu teman, berteduh, main sama anak, dan melenggang menuju sakaratul maut dalam ruangan yang hangat.

Ok, kalau begitu rumah harus saya pertahankan. Tapi bagimana caranya? Jaman lagi susah begini, bagaimana mau bayar kontrakan?

Akhirnya saya hutang.

Gila memang. Mau mati kok hutang? Masa mau mewarisi hutang? Manusia macam apa saya ini?

Tapi setelah dihitung-hitung, kelihatannya saya bisa bayar hutang rumah jika saya selama dua bulan bekerja gila-gilaan. Pada waktu ini, saya terus berpikir-pikir, kok yaa saya mau mati harus kerja mati-matian. Apa gunanya hidup saya? Harusnya kan saya senang-senang saja sebelum ajal menjemput. Kok mau mati saja repot amat?

Lantas saya berfikir. Panjaaaang sekali.

Setelah beberapa hari dalam gundah gulana, untunglah saya dapat jawabannya. Ternyata jawabannya sederhana. Yaitu apa arti maut buat saya.

Setelah saya pikir-pikir apa arti maut, ternyata saya benci jadi tua. Sebab menjadi tua itu dekat dengan usia yang hampir habis masa batasnya. Dan itu masa yang saya benci. Masa ketika saya harus meninggalkan dunia fana.

Tapi kenapa saya harus benci? Setiap orang akan jadi tua. Lalu mati setelahnya. Kenapa harus takut mati? Bukankah ia alami? Hidup sekali. Hidup berani. Sebab hanya pengecut yang mati berkali-kali. Setiap orang pasti akan merasakan maut mengecup. Yang jadi pembeda hanya cara menerima bibirnya, dengan malu terhina atau bangga mulia?

Atas dasar itu saya menerima bantuan hutang sahabat yang baik sekali. Lalu bekerja mati-matian berbulan-bulan setelahnya untuk bayar cicilan. Demi sebuah tempat yang bernama ruang berteduh. Dimana saya, anak dan teman-teman bisa berteduh sementara. Sementara? Ya iyalah, memang mau hidup selamanya? Hehe…

Jadi akhirnya saya dan teman-teman yang homeless ini syukurlah bisa punya tempat bernaung. Dan itu jelas syukur, di ambang batas waktu yang makin menipis, masih diberi kesempatan bantu-bantu teman sambil cengar-cengir bersama mereka. Nikmat.

Di saat yang sama, saya tambah bersyukur masih dapat kesempatan bertemu dengan cinta saya. Seorang bocah perempuan berusia tiga tahun. Setiap hari bertemu beliau, selalu saya jadikan ‘hari terakhir’. Yaitu hari yang saya akan kenang sebagai hari terbaik dalam hidup saya. Main dan tertawa bersama putri tercinta. Hari bersama dia, kami lalui dengan luar biasa. Sepenuh hati, saya beri semua perhatian terhadapnya di hari itu. Seakan saya sudah di tunggu maut dari balik tirai jendela. Jadi semua cinta, semua kasih sayang, semua apa yang seharusnya putri saya terima sebagai haknya menjadi seorang anak, ia terima lunas semuanya di hari-hari itu.

Dan ‘hari-hari terakhir’ itu, adalah hari yang benar-benar membahagiakan buat saya.

Hidup yang sederhana ini ternyata indah rupanya.

Suhu di luar sudah mendekati minus 14 celcius. Buat kulit orang Cilincing macam saya ini, itu artinya hanya satu kata; dingin. Tapi dalam rumah, tempat saya berteduh, selalu hangat. Sebab disana ada hati yang dicintai dan mencintai.

Tapi kadang saya jalani hari-hari ini dengan penuh tanda tanya. Diantaranya adalah, kalau saya memang iya mau mati, kok yaa saya senang-senang saja? Di sisi lain, masih banyak pertanyaan seperti, wah kalau maut menjemput tapi hutang belum lunas gimana yaaa? Nanti anak saya siapa yang jaga kalau saya pergi?

Ternyata saya baru sadar, orang kalau mau mati, kebanyakan tanya-tanya. Hahaha…

Karena tidak dapat jawaban atas semua pertanyaan, maka saya putuskan untuk kembali ke khittah. Yaitu saya harus makan-makanan enak sebelum maut menjemput. Istilah saya, ‘jamuan terakhir’. Dan karena ini jamuan terakhir, yaitu makanan yang akan saya ingat-ingat sebelum maut datang. Maka ia harus sempurna dan luar biasa.

Tentu saja sempurna dan luar biasa itu beda buat setiap definisi manusia. Buat saya, makanan luar biasa sempurna adalah nasi, potongan ketimun, rendang dan kerupuk. Plus sambal dan teh manis hangat, tentu saja.

Jadi suatu malam, setalah seharian penuh main-main dengan putri saya tercinta dan bahagia luar biasa, saya undang teman-teman untuk makan malam. Tentu saja makan rendang. Plus sambal dan kerupuk tepatnya. Saya tidak cerita apa-apa pada mereka. Saya tidak mau cerita apa yang tengah saya alami dan apa perasaan saya saat itu. Sebagaimana saya tidak cerita pada putri semata wayang kalau papanya akan pergi sebentar lagi.

Saya tidak mau cerita susahnya hidup. Saya tidak mau melihat raut muka mereka khawatir. Tidak enak melihat wajah orang lain khawatir karena cerita saya. Yang saya mau lihat, mata mereka bahagia melihat rendang dan ketimun. Sebagaimana mata saya yang berbinar-binar ceria ketika bisa makan seenak jidatnya.

Malam itu, ketika semua orang pulang dan hanya tinggal teman-teman yang sehari-hari ada di rumah, saya masuk tidur ke kamar. Sebelum mata tertutup pulas, saya cengar-cengir senang sekali menatap dinding langit-langit yang ditutup cat putih dan lampu kertas murahan.

Ahh kelihatannya saya bahagia. Tidak perlu uang banyak rupanya untuk bahagia.

Nah, besoknya. Pagi. Sekitar jam sepuluh. Saya dikagetkan suara telpon yang membuyarkan mimpi. Ternyata itu suara Ibu-ibu ahli medis spesialis. Kata beliau, “Mohon maaf ada kesalahan di alat kami. Kamu ternyata tidak apa-apa”

Saya bengong. Ini jangan-jangan saya masih mimpi. Maka itu saya tanya, “Maaf yaa, ini benar telpon untuk saya?”

Suara ibu-ibu itu bilang, “Ya benar. Kamu bisa datang ke rumah sakit untuk mengeceknya”

Setelah terdiam cukup lama, lirih saya tanya, “Jadi… Jadi saya nggak jadi mati, Bu?”

Dia diam lama, tapi lalu menjawab, “Eh, kamu tidak di diagnosa seperti sebelumnya. Soal mati, errr.. Saya tidak bisa jawab. Pada intinya, kamu sehat”

Saya bengong. Lama. Ya iya lah, benar memang maut mah tidak bisa dikira. Tapi lumayan lah kalau setidaknya saya bisa menikmati musim panas ini sampai tuntas.

Kelihatannya, saya masih bisa main-main terus sama putri tercinta.

Oh ya, satu lagi; Kalau saya nggak jadi mati, saya masih bisa makan enak dong. Kan kalau mati, susah makan.

Namanya orang hidup, pasti banyak maunya. Apalagi dikasih kesempatan untuk hidup lagi. Saya pernah bertanya-tanya, kalau saya mati dan lalu dihidupkan lagi, apa yang akan saya lakukan.

Jawabannya ternyata mudah; saya mau jalan-jalan naik sepeda ke kebun binatang bersama putri saya dan makan ikan bakar bersama teman-teman saya sambil main gitar menyanyi ceria.

Hidup yang sederhana ini ternyata indah rupanya.

Tapi kan itu hidup saya. Hidup Anda? Errr.., :)

This entry was posted in bangaip, sehari-hari. Bookmark the permalink.

13 Responses to Cerita Kecil Tentang Hal Sederhana: Maut

  1. hedi says:

    kata orang, kalo ada yg tahu mau mati suka repot sendiri. Itu juga kalo dia seneng merepotkan diri sendiri hehehe

    –0–

    Bener. Ini saya sedang belajar melepaskan repot. Hehe

  2. hmmppffttt…
    gelar memang tidak menjamin 😀

    –0–

    Indeed!

  3. warm says:

    alhamdulillah kalau sampeyan sehat bang
    saya salah satu yang termasuk selalu menunggu tulisan2 ajib bang aip
    makanya tadi pas liat feedreader, blog ini apdet saya seneng sekali

    dan kisah di atas
    ah saya jauh harus lebih beljar ttg syukur ama sampeyan
    titip salam sama putri tercintanya :)

    –0–

    Saya sudah sampaikan slaamnya Om Warm. Titip salam juga buat Ai :)

  4. noni says:

    selamat datang kembali, bang aip… alhamdulilah wa syukurilaaaaaah…

    –0–

    Terimakasih Mbak :)

  5. aini says:

    Wah Bang, kayak di Film ya ceritamu :) Ternyata ada juga ya realitanya kisah yang begini. Selamat ya Bang, sudah pernah mengalami kondisi “seperti menjelang mati”. Kondisi yang sangat jarang dialami orang2. Dan caramu mengatasi situasi tersebut, bisa menginspirasi orang lain yang juga divonis tak bisa hidup lebih lama lagi

    –0–

    Saya juga bingung Mbak bisa dapet kayak begini. Tapi yaah disyukuri saja lah. Setidaknya masih bisa bernafas dan lalu menulis

  6. Sondang says:

    Gak jadi mati, tapi jadi ke Maluku gak? Ku tunggu.

    –0–

    Kalau itu jadi. Hehe

  7. manusiasuper says:

    The World Without BangAip itu lebih mengerikan dibandingkan The World Without Superman. Selamat sehat bang!

    –0–

    Terimakasih Mansup :) Sampai jumpa di Jogja

  8. Lumiere says:

    Syukurlah bang Aip sehat :) seenggaknya bang Aip punya alasan untuk hidup, untuk bahagia 😀

    Pengen ikut ketemuan euy.. bang, kalo ke Indonesia bawain fotonya Novi Kirana ya :mrgreen:

    –0–

    Iya suatu hari. doakan saja yaa

  9. edratna says:

    Hmm…ada beberapa temanku yang sehat-sehat aja, begitu medical check up, dan didiagnosis punya penyakit, malah langsung jadi sakit.
    Jadi, kadang malah banyak yang tak mau check up dibiayai kantor.

    Di satu sisi, kita harus selalu menyadari bahwa suatu ketika kita pasti mati, tapi tak tahu cara bagaimana kita akan mati. Semoga caranya lebih simple, tidak menyakitkan dan tak membebani yang ditinggalkan….ini doa saya….terutama tak membebani yang sehat, jadi ya jangan ninggali hutang.

    –0–

    Benar sekali, Bu. Setuju euy

  10. Erander says:

    Terharu dan malu saya membacanya … Terharu karena disini saya bisa ketemu lagi dengan tulisan para blogger yang saya kenal sejak lima tahun yang lalu. Malu nya, saya koq ya ga nulis nulis lagi. Alasannya agak stupid … Ga punya waktu. Emang waktu bisa dimiliki. Seperti halnya dengan usia. Mumpung masih bernapas dan bisa nulis … Jadi saya ngomen deh disini sebagai langkah awal buat nulis lagi … Gggrrrrhhhh …

    –0–

    Sip yeah ayo Bang, nulis lagi :)

  11. agoyyoga says:

    kurang lebih pernah mengalami diagnosa yang salah seperti Bang Aip. saat itu mungkin waktu terproduktif saya, setelah tahu keliru malah. manusia…

  12. agoyyoga says:

    malah kurang produktif..

    itu kekurangan komentar saya sebelumnya. thanks.

Leave a Reply