Lola – Lonte Lanang

orandum est ut sit mens sana in corpore sano.
fortem posce animum mortis terrore carentem,
qui spatium uitae extremum inter munera ponat
naturae, qui ferre queat quoscumque labores,
nesciat irasci, cupiat nihil et potiores

Sudah lama saya tidak menulis. Terutama menulis kelanjutan tulisan yang dahulu soal privasi. Secara literal memang tidak menulis. Biasanya jika saya tidak mempublikasikan sesuatu di blog, saya tetap menulis.

Alasan tidak menulis sebenarnya sepele, yaitu Faktor K, singkatan dari “Kesehatan”. Kata teman-teman saya, itu bukan ‘Faktor K’, melainkan ‘Faktor U’ alias “Usia”. Katanya, kalau umur bertambah, kesehatan menurun.

Saya tertawa mendengarnya. Masa sih begitu? Ada tetangga saya makin berumur malah makin sehat dan berotot. Habis kerjanya olahraga terus. Bukan hanya sembarang olahraga, melainkan lari berlari.

Olahraga saya yah apa? Paling push-up kalau bangun tidur. Itu pun bukan gara-gara biar sehat, melainkan agar tidak mengantuk lagi setelah buka mata. Sebab saya ini parah. Sudah pasang jam weker, sudah minta dibangunkan, sudah niat bangun pagi, nah ketika bangun buka mata bukannya segera sigap mandi dan ganti baju, malahan tidur dan mimpi mandi dan ganti baju. Nah si push-up itu cukup membantu biar bangun dan terjaga.

Olahraga lain? Naik sepeda? Aduh, sejak kunci sepeda saya hilang, itu sepeda dengan bangganya berdiri mematung jadi bagian dari lapangan parkir stasiun kereta. Hebat dia, ada hujan ada angin, ada badai ada terik, tetap saja berdiri dengan anggun. Tidak ada yang berani menungganginya. Jangankan para junkie yang hobi mencuri sepeda, saya sendiri sebagai tuannya tidak bisa mengayuh itu sepeda. Lah bagaimana bisa, wong digembok habis-habisan pakai tiga utas rantai kapal. Lalu kuncinya, semua hilang! Waladalah…

Sejak sepeda hilang dan musim dingin makin menggila yang membuat matahari terbit pukul sembilan pagi dan lelap pada tiga sore, saya jadi jarang olahraga. Lebih tepatnya, jarang gerak badan. Bisa jadi gara-gara itu, badan jadi kurang sehat.

Di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Itu semboyan yang mencuat di plang papan kotak dari triplek di lapangan upacara SDN 25 pagi, tempat saya sekolah dulu. Saya boro-boro percaya bahwa dalam hidup ini ada jiwa yang kuat. Jiwa mah sama saja dimana-mana, pakai dikuat-kuatkan segala? Manusia terlalu pandai mencari-cari alasan dalam hidupnya. Padahal sungguh hidup itu sederhana. Anda tidak percaya? Ini saya kasih bukti. Kebanyakan pembunuh, pemerkosa, koruptor dan kriminal lainnya itu punya badan yang sehat. Apa lantas jiwa mereka ikut sehat? Omong kosong!

Saya push-up bukan gara-gara ingin sehat, tapi biar mata tidak mengantuk lagi. Atau malah, agar putri semata wayang bicara serius mengenai kesehariannya (yang tentu saja ia lakukan sambil duduk di atas punggung saya yang sedang push-up). Saya naik sepeda bukan gara-gara ingin sehat, tapi karena itu cara termudah, termurah, dan tercepat untuk berangkat kerja ke pabrik. Saya panjat itu dinding dan tebing bukan gara-gara ingin sehat, melainkan karena sedang dapat diskon untuk melanjutkan sekolah memanjat lagi.

Sesungguhnya kita bergerak karena alasan yang sangat pragmatis.

Percaya atau tidak, teori diatas ini sering dibantai habis-habisan oleh banyak orang, alasannya; karena tidak ada integritas dan idealisme disana.

Tidak punya integritas? Tidak memiliki idealisme? Ajaib, bagaimana seseorang bisa mengalamatkan kalimat itu pada orang lain ketika ia menjalani hidup yang berbeda?

Sahabat saya Aji, sering dipanggil Lola oleh teman-teman yang lain. Itu singkatan. Diambil dari profesinya, salah satu cabang pekerjaan paling tua di muka bumi; prostitusi. Lola, singkatan dari lonte lanang, pelacur pria.

Saya panggil Aji yaa tetap Aji. Tidak pernah mau saya panggil ia sebagai Lola. Dan itu membuat Aji bingung, sehingga suatu hari ia bertanya.

“Lo kenapa sih manggil nama gua pake nama gua?”

“Lah emang gua harus manggil lo apa?”

“Anak-anak manggil gua Lola. Lo kan betemen ama gua bukan setaon dua taon men. Lo kayak ga tau gua aja. Lo nggak suka gua mecun, men?”

“Ji, gua hargain profesi apa aja men. Lo mao mecun, mau apa kek itu urusan lo. Tapi kalo lo masuk abri trus lo jadi mayor, masa lo gua panggil mayor? Tiap lo naek pangkat lo punya nama baru dong? Emang kita tinggal di mess tentara?”

Aji diam. Lama. Saya juga diam. Habis mau apa lagi? Trik ad hominem saya terambil olehnya.

Akhirnya ia buka mulut, “Anak-anak taik juga sih. Gua dipanggil Lola sejak dapet ama si Lia. Lo tau kan Lia, yang waktu itu gua ngeluh nggak bisa bayar kost-kostan trus pas dia pulang pagi ada duit dua ratus ribu dia atas meja gua. Pas gua cerita, anak-anak ketawa trus manggil gua Lola. Anjing banget ga sih! Padahal waktu gua cerita, anak-anak gua traktir pecel lele. Trus duitnya yaa duit si Lia itu. Anak-anak kan tau. Tapi gua dipanggil Lola. Kalo gua dipanggil lonte lanang, trus mereka apaan? Palo? Parasitnya lonte? Taik lah!”

Saya diam. Adiknya Aji itu autis, biaya sekolahnya mahal. Cerita belum usai sebab papanya kabur dengan perempuan lain ketika anak-anaknya balita. Dan masih ditambah plot ala sinetron Indonesia ketika mamanya, bertahan hidup jadi tukang jahit yang buka praktek di beranda depan rumah. Semuanya bergantung ke Aji untuk bisa tetap hidup. Klise? Mungkin iya. Sama seperti drama hidup lainnya, klise.

Semua orang punya dramanya masing-masing. Dan hampir semuanya klise. Tapi apa sih yang baru di bawah matahari? Apa sih yang baru di muka bumi ini ketika hidup di bawah garis kemiskinan?

Ini cerita tentang hidup yang sederhana. Sesederhana survival of the fittest. Tentang Aji. Tentang banting tulang sedekah sperma kepada siapa saja yang mampu membayar.

Aji sering cerita soal hidupnya. Malam-malam. Hanya kepada saya? Ooh iya. Ini jelas cerita eksklusif. Memulai karir dari sauna dan klab fitnes untuk penyuka sesama. Kata dia, “cepet duitnya tapi nggak banyak sih”. Tanpa merinci lebih lanjut apa maksudnya. Membiarkan saya menerawang sedih tidak bisa tidur membayangkan dia mengangkang dan lalu berbaring di kamar kost tidak bisa masuk kelas karena kesakitan.

Aji bilang Lia menginspirasi. Membuatnya belajar di sebuah forum internet dan mulai memasarkan diri. Sayang tidak laku. Gimana mau laku, dia tidak berani pasang foto? Aji masih malu buka-bukaan. Tapi hari berganti hari. Dia punya klien tetap sekarang. Laki-laki, perempuan, dan bahkan katanya kalau rumput yang bergoyang bisa bayar, pun ia sedia mengangkang.

Suatu hari, Aji pulang ketika saya mau masuk kelas pagi. Lemas. Kausnya kotor, banyak bercak darah. Saya buatkan mie instan dan teh manis ketika ia mandi. Keluar dari sana, badan pemanjatnya yang kukuh liat bagai terbuat dari susunan batu bata rumah kokoh terlihat banyak guratan luka memanjang. “Gua dicambukin, men”

“Dicambuk? Ama siapa?”

“Ama nenek-nenek…”

“Ama nenek-nenek? Kok lu bisa disiksa ama nenek-nenek?”. Saya bengong. Mau ketawa. Tapi tidak bisa. Sedih juga ada didalamnya. Ironi.

“Klien gua, men. Gua diborgol, abis itu ditutup matanya. Abis itu gua ditelanjangin trus dicambukin. Gila sakit banget men. Gua ampe nangis-nangis, abis perih banget badan gua. Eh abis itu gua malah dianjing-anjingin ama dia. Abis itu dia nyuruh jilat-jilat kakinya. Abis itu pas dia puas, dia pergi dah…”

Saya kaget luar biasa, “Trus lu bisa lepas gimana ceritanya?”

“Yaa gua teriak-teriak laah. Untung di denger ama satpam rumahnya”

“Wah parah, Ji. Ayo laporin polisi?”

“Nggak men. Abis gua dikasih duit ama satpamnya. Kata satpam, emang majikannya gitu kalo maen. Gua dikasih tiga ratus ribu men. Lumayan lah buat lebaran nanti emak gua ama adek gua bisa belanja”

Cerita Aji menjual jasa prostitusi tidak lama kemudian menyeruak. Jelas gosip. Sebab banyak yang bergunjing Aji tidak punya integritas. Tidak punya moral sebagai cowok. Sebagai laki-laki, harusnya punya idealisme dan harga diri. Lalu mengukuhkan Aji sebagai Lola.

Tidak punya integritas dan idealisme? Apa yang mereka tahu tentang Aji? Sehingga berani mengalamatkan kalimat ajaib nan mewah begitu pada orang sesederhananya.

Hidup itu sederhana, sayang manusia tidak. Hingga berani-beraninya bikin puisi roman latin Juvenal di awal tulisan ini dalam bahasa latin yang isinya agar berdoa terhadap dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat. Jiwa yang tidak takut mati. Diberkahi panjang usia. Agar dapat kuat menanggung semua penderitaan yang ada, tanpa kenal marah dan keinginan untuk memiliki.

Di dalam badan yang sehat terdapat jiwa kuat? Dan dalam jiwa yang kuat terdapat integritas, moral dan idealisme? Ahh, pendapat kita pasti berbeda. Buat saya itu omong kosong. Orang yang paling banyak bicara jargon dan kalimat-kalimat mewah macam begitu biasanya orang yang paling memuakkan yang pernah saya temui.

Tapi pendapat kita pasti beda. Tidak apa-apa. Kita kan manusia yang berbeda :)

Apapun yang beda, Aji tetap jadi Lola. Tapi tarifnya jelas bukan tiga ratus ribu lagi per cambuk.

(*Aji, salam dari sini. Biar indah tubuhmu. Dijamah orang-orang. Tapi cinta tulusmu. Harus jadi milik mereka yang mencintaimu*)

This entry was posted in Orang Indonesia, sehari-hari and tagged , , . Bookmark the permalink.

9 Responses to Lola – Lonte Lanang

  1. manusiasuper says:

    Makanya ya bang, jangan menilai segala sesuatunya dari satu sisi saja termasuk terhadap pleiboi…

  2. warm says:

    selalu saja,
    cerita singkat yg bikin merenung,
    dalam

    terimakasih ceritanya, bang :)

    –0–

    Sama-sama Oom Warm :)

  3. Waks! Kehidupan di dunia ini memang kaya warna! :)

    –0–

    Begitulah mas paman. Kalau tidak kaya, bukan dunia namanya :)

  4. Amd says:

    Saya mencium bau curcol dari salah satu komentar di sini… *sniff sniff*

    –0–

    No comment. Hihi

  5. didi says:

    sepakat ada nada curhatan.

    –0–
    No comment juga. Hahaha

  6. bangaip says:

    Tidak apa-apalah. Mari kita beri kesempatan kepada beliau untuk curhat. Mungkin selama ini memang tidak ada kanal untuk melakukan hal tersebut. Dan tulisan Lola ini membuat beliau come out of the closet ‘tercerahkan’.

    *kok yaa saya ikutan membully mantan player? Hihi*

  7. genduk says:

    bangaip! salam buat aji! kalo mau imel2an ama saya juga boleh tuh si aji. hihi.

    –0–

    Haha, tarif Aji sekarang saya belum tahu Mbak. Tapi mungkin dia tertarik dengan calon clientnya kalau saya kasih dia alamat email Mbak Pito. Hihi

  8. rere says:

    Hahaha … Lola pelanggannya buruh panggul di pelabuhan kalibaru.. hitam kekar dan keras…. apa kabar bro ? sukses selalu

    –0–

    Makasih Bang Rere. Hahaha, yang melayani buruh pelabuhan mah… Hahaha….

  9. Erander says:

    Seru juga ya ternyata …

    –0–

    Yah hidup harus siap dengan yang seru-seru

Leave a Reply