Tentang Kelas Dan Hipokrasi Orangtua

Saya berniat berhenti menulis. Alasannya agak bodoh, yaitu capek. Tapi kenapa saya tidak juga berhenti? Agak aneh memang, kalau letih, yaa berhenti. Ambil jeda. Rehat. Lalu pikir ulang apakah mau terus lanjut atau ganti kemudi.

Tapi toh saya tetap menulis. Dalam galau, dalam sedih, dalam senang, dalam bahagia, dalam badai, tetap saja menulis. Haa, aneh kan? Iya jelas aneh, sudah beberapa kali saya sudah memutuskan berhenti menulis. Tapi toh tetap saja lanjut terus. Mungkin ada yang salah dalam otak saya.

Oke, mungkin iya ada yang salah dalam otak saya, jadi walaupun letih, masih tetap maju terus. Haha. Tapi, di sisi lain. Di saat saya gamang dan kadang memikirkan untuk terjun bebas ke dunia lain yang sama sekali beda, eh biasanya datang surat. Kadang dari orang yang sama sekali tidak disangka. Suratnya pun aneh, kadang isinya sederhana dan singkat sekali. Misalnya, “Bang, nulis, Bang. Jangan berenti!”

Minggu ini, hari-hari yang amat berat sekali buat saya. Tapi saya pikir tidak saya ceritakan dulu disini. Saya bukan tipe impulsif. Namun saya akan tetap menulis. Cerita lain. Nah tulisan kali ini, saya persembahkan buat para mereka yang menulis (dan memaksa :) ) agar saya tetap menulis.

Begini ceritanya:

Saya ini manusia yang gila sekolah. Agak komplikatif dan paradoksial memang. Untuk orang yang sama sekali tidak percaya akan institusi pendidikan masa kini karena dianggap berbasis pada komersialisasi dan hanya menciptakan lulusan sebagai baut pelengkap mur industrialisasi, kok yaa doyan amat sama sekolah.

Jawaban filosofisnya; sebab sekolah, sayangnya-hingga-saat-ini, adalah cara termudah dan tercepat memperoleh keilmuan tertentu. Jawaban pragmatisnya; sebab saya biasanya selalu punya cara mengakses sekolah murah (bahkan biasanya, gratis). Sebagai fakir miskin dan anak terlantar yang dipelihara negara (entah negara mana), saya memang tidak pernah bayar uang iuran sekolah sejak kelas 5 SD. Dibiayai terus oleh negara (entah negara mana, saya tidak begitu peduli).

Sejak tahun lalu, saya hobi banget keluar masuk kelas. Mulai dari kelas yang ada hubungannya dengan pekerjaan sehari-hari, seperti kelas penguasaan perangkat lunak manipulasi vektor digital hingga bahasa-bahasa baru seperti HTML5, hingga kelas-kelas yang tidak ada hubungannya dengan hidup sehari-hari, seperti kelas memanjat, kelas menari hingga kelas bermain harmonika jamaah.

Boleh dibilang, hidup saya sejak tahun lalu hingga saat ini tidak jauh dari seputar pintu kelas ke pintu lainnya. Dan dari pintu ke pintu itu, saya bertemu orang-orang yang menarik, lucu, luar biasa, hingga yang sakit jiwa, aneh dan menyebalkan. Pada intinya, menarik. Dinamis.

Satu kelas yang paling membekas dalam otak saya adalah kelas parenting. Sekolah untuk menjadi orang tua yang lebih baik.

Loh apa saya bukan orang tua yang baik? Kalau saya orang baik dan menganggap diri sebagai orang baik lalu tentu saja otomatis menjadi orang tua yang baik, buat apa saya sekolah menjadi orang tua yang lebih baik? Bukankah kebijaksanaan datang dari pengalaman? Makin lama saya berpengalaman sebagai orang tua, kan tentu saja saya akan jadi orang tua yang lebih baik? Lalu kenapa saya, yang menganggap diri orang tua yang baik, masih saja sekolah untuk jadi orang tua yang lebih baik?

Jawabannya panjang. Bertele-tele dan cukup memusingkan. Saking memusingkannya bahkan bisa-bisa menyeret beberapa nama dalam dosa digital yang tak berampun ini. Maka itu, lebih baik disingkat saja. Saya sekolah menjadi orang tua yang baik karena: harus!

Suatu hari di akhir musim panas, mulailah saya daftar di sekolah ini. Sebagaimana sekolah-sekolah saya lainnya terdahulu, untung saja sekolah ini murah (bahkan bisa dibilang hampir gratis). Dan sebagaimana sekolah-sekolah saya lainnya, ini sekolah malam. Menyesuaikan jadwal kerja saya yang mencari nafkah dengan memburuh dari pagi hingga sore hari.

Kelas pertama parenting, saya ingat sekali. Kami mengenalkan diri satu sama lain. Dan sebagaimana acara pengenalan basa-basi ini; saya cepat lupa (*Duh, ingatan saya memang parah*). Uniknya, setelah mengenalkan diri, kami diminta menulis nama anak dan umur mereka di sebuah kertas besar yang dilipat segitiga agar bisa terpampang jelas di meja belajar kami.

Kami diminta bukan untuk mengenal siapa kami, tapi kami diminta untuk saling mengenal siapa anak-anak kami.

Kami, dua belas orang duduk memutar. Dengan meja belajar ukuran 1 x 1 meter di hadapan masing-masing. Diberi buku. Isinya semacam kalendar. Tapi kosong. Dua orang dosen duduk diantara kami. Memberi tahu beberapa poin-poin yang akan mereka berikan dan harus kami capai sebelum sekolah usai.

Apa poin-poin itu? Menarik, sebab mereka jawab bahwa kami lah yang harus mengisi sendiri poin-poin itu. Saya bengong. Ini gila! Sekolah macam apa ini? Saya, sang pelajar, kok yaa harus bikin sendiri kurikulum? Apa gara-gara beasiswa, saya jadi diperlakukan begini?

Tapi ternyata, bukan hanya saya yang harus mengisi poin-poin itu. Ternyata semua orangtua juga harus mengisi poin-poin tersebut.

Saya lalui kelas pertama dengan cukup galau. Sebagai satu-satunya single father di kelas, boleh dibilang saya semacam makhluk yang hampir punah. Teman-teman sekelas saya biasanya perempuan. Ibu dengan dua atau tiga anak dengan suami pemalas atau malah tidak peduli. Satu-satunya lelaki yang lain adalah seorang suami beserta istrinya yang hamil besar anak kedua. Saya dapat perhatian cukup besar dari para pembimbing. Karena saya satu-satunya lelaki yang datang tanpa pasangan dan mengisi jawaban kosong pada lembar pertanyaan-pertanyaan “Apa Yang Anda Ketahui Mengenai Pasangan Anda?”

Dosen menatap saya. Itu tatapan pertama dia sejak kelas dimulai. Ketika dia buka suara, saya tahu masalah saya baru saja mulai.

“Kamu tidak mengisi lembar ini, kenapa?”

“Saya tidak punya pasangan”. Jawab saya dengan tatapan hampa ke arahnya. Kalau dia tanya kenapa saya tidak punya pasangan, pasti akan saya jawab bahwa itu bukan urusannya. Untung ia tanya lain.

“Kenapa kamu ikut kelas ini?”

“Putri saya masih dua tahun ketika orangtuanya bercerai. Sekarang sudah satu setengah tahun sejak peristiwa itu terjadi, ia sudah lebih bisa mengungkapkan perasaannya. Dan ia masih bertanya-tanya soal perpisahan orangtuanya. Ia pasti masih sedih kehilangan orangtua lengkap. Saya harus melakukan sesuatu agar dia bahagia lagi. Saya pikir saya ikut kelas ini agar lebih bisa membantunya melewati masa-masa itu”

“Kamu pikir ia sedih?”

“Kalau ia tanya soal kenapa orangtuanya pisah, iya. Saya pikir ia sedih…”

“Kamu bahagia?”

Saya terkesiap. Ini pertanyaan yang aneh. “Err… Maksud kamu?”

“Kamu bahagia dengan hidup kamu?”

Dalam hati saya merutuk. D@3n! Saya salah masuk kelas! Tapi setelah diam sejenak, sambil menghela napas panjang saya jawab, “Kalau putri saya sedih, saya tidak bahagia”

Ia berhenti menatap saya. Saya menarik nafas. Ahh untunglah. Sepertinya ia sudah tidak punya perhatian lagi ke saya. Sial sekali, ternyata itu hanya ilusi di otak saya. Sebab ia memalingkan muka ke seluruh kelas dan berkata pada hadirin, “Mohon kalian perhatikan baik-baik sesi saya dan dia bicara. Ini contoh yang bagus bagaimana kalian membuat poin”

Benar-benar sial, kali ini semua mata yang sumpah mati saya pikir setengah mengantuk karena kelas malam, kini menatap saya. Si dosen kampret menatap saya lagi, “Kalau kamu tidak bahagia, bagaimana kamu bisa membahagiakan putri kamu?”

Saya mau jawab, ‘Eh kampret, lo tau ga sorga itu bukan cuman di telapak kaki ibu, tapi juga di telapak kaki anak gua. Urusan amat lu ama gua bahagia apa nggak!’. Tapi karena saya yakin ia belum pernah mendengar kalimat surga di bawah telapak kaki ibu, maka saya putuskan untuk cengar-cengir sambil garuk-garuk kepala dan menjawab dengan kalimat ,”Yes, itu pertanyaan yang bagus” (*jurus pamungkas bangaip keluar sudah. hehe*).

Dia bilang, “Saya lihat di daftar list kegiatan” sambil memegang sebuah list yang saya pikir saya harus isi untuk menjelaskan kegiatan harian saya sebelum masuk ke kelas ini. Oh no! Lalu lanjutnya, “Kelihatannya kamu sibuk. Astaga, bahkan saya pikir kamu sibuk sekali. Kamu tidur sedikit. Sisanya bisnis, anak dan belajar. Kamu harus meluangkan waktu buat diri kamu sendiri. Kapan terakhir kamu berlibur?”

Saya yang seperti sudah merasa di knock-out di depan publik hanya bisa melempar handuk putih ke arena, menjawab pelan, “Tiga tahun lalu…”

“Ok, itu poin pertama kamu…”

Saya mengangkat alis. Heh apa-apaan ini? Masak saya masuk kelas hanya untuk disuruh berlibur. What the…! Tapi belum sempat saya tanya, ia sudah bertanya duluan. “Untuk apa kamu masuk kelas ini?”

Saya tahu, ia tidak mengharapkan jawaban yang sama. Kali ini, saya seperti petinju yang baru saja dijatuhkan di ring dan masih harus memberi klarifikasi di depan pers akibat kekalahan. Ok, saya akui malam ini saya kalah. Saya harus menerimanya dengan lapang dada. Saya jawab dengan ikhlas, “Putri saya tidak mau membersihkan kamarnya. Saya mau ikut kelas ini agar memberi tahu caranya disiplin”

Ia gantian mengangkat alis, “Apa definisi kamu dengan membersihkan?”

Saya termangu, iya ia benar. Apa definisi dengan membersihkan? Menyapu dan mengepel kamarnya? Menaruh semua mainan pada tempatnya? Menata kembali semua yang ia berantaki sesuai dengan urutannya? Astaga, disini saya sadar bahwa saya memberi ekspektasi terlalu berlebihan pada anak berusia tiga setengah tahun. Sekarang saya tahu kenapa saya ada di kelas ini, jadi tersangka sebagai orang tua yang… Ahhh, saya sendiri tidak bisa mendeskripsikan diri saya sebagai ayah yang baik.

Selalu saya tulis di sosial media, di blog, di twitter, di mana-mana; bahwa saya seorang ayah. Seorang bapak yang amat bangga dengan putrinya. Tapi apa benar saya ayah yang baik? Apa benar semua kebanggan yang saya tulis di depan publik dimanifestasikan dengan sejujurnya dihadapan sepasang mata seorang anak perempuan berusia tiga tahun?

Sebagai laki-laki yang pernah berelasi, saya tahu saya gagal. Andai semua perempuan yang pernah saya singgahi adalah ahli samurai, mungkin saat ini repih-repih tulang badan sudah jauh lebih halus daripada daging cincang dalam kaleng. Iya, disitu saya gagal. Kenyataan itu pahit. Dan menerimanya, jauh lebih pahit. Tapi mau apa lagi, terima saja kenyataan ini.

Melihat saya bengong seperti kehilangan pegangan, Pak Dosen seakan-akan tidak mau tahu. Kali ini, ia melontarkan jab terakhirnya ke ulu hati, “Apa kamu membersihkan kamar kamu?”

Benar-benar seperti halilintar menghantam isi perut. Saya tersengat habis-habisan. Menghela napas pun terasa berat. Bagaimana saya mau meminta sang putri Novi Kirana membersihkan kamarnya jika papanya sendiri sangat-sangat jarang membersihkan kamar. Hipokrasi orang tua yang selama ini saya cemooh, saya benci dan saya maki-maki, ternyata bersemayam di dalam diri saya.

Saya berharap putri saya melakukan yang terbaik dalam hidupnya. Tapi bagaimana mungkin jika saya sendiri tidak melakukan itu. Bagaimana ia bisa mendapatkan contoh yang baik?

Saya selalu bercita-cita melakukan revolusi. Tapi taik kucing lah semua itu, jika saya sendiri tidak melakukan revolusi dalam hidup sendiri.

Singkat kata, malam itu, malam pertama masuk kelas parenting, saya sadar. Sepenuhnya sadar lirik lagu Chris Young; “Any fool can make a baby But it takes a man to raise a child”. Iya semua orang bisa bikin anak, tapi membesarkannya, itu jelas harus manusia yang berotak.

Beberapa bulan berikutnya saya lulus. Katanya, dengan nilai terbaik. Anomali. Tapi saya tidak peduli. Saya tidak masuk kelas itu untuk jadi yang terbaik diantara para orangtua. Saya tidak masuk kelas itu untuk jadi juara. Saya bahkan tidak peduli berapa jumlah angka yang telah tercapai. Yang saya peduli, bahwa ada satu bocah perempuan di bawah umur yang mencintai saya apa adanya dan itu luar biasa. Saya harus bertanggung jawab atas cintanya. Dan hanya itu, dan cuma itu yang saya pedulikan.

Di malam kelulusan, semua sahabat baik saya berkumpul. Bersulang atas apa yang telah saya capai. Mereka bertanya, “Apa setelah ini kamu pikir kamu ayah yang hebat?”

Saya diam. Dengan lirih saya jawab, “Tidak ada orangtua yang sempurna. Yang ada hanyalah orangtua yang melakukan yang terbaik untuk anaknya”

Mereka setuju dalam diam. Bersulang sambil menatap bulan.

This entry was posted in bangaip, sehari-hari. Bookmark the permalink.

11 Responses to Tentang Kelas Dan Hipokrasi Orangtua

  1. warm says:

    bang aip. makasih atas tulisan ini :)
    sampeyan ayah yg hebat

    –0–

    Terimakasih Oom

  2. mantebz tulisaneeeee…!! :-)

    –0–

    Terimakasih Mas Fahmi

  3. Amd says:

    Makanya, Bang, saya kalau ditanya pendapat soal ‘pendidikan karakter’ yang tengah hip di sini itu hanya menjawab kalau pendidikan karakter itu bisa dikerucutkan dalam satu kata: keteladanan…

    *dan saya juga hanya baru bisa bilang, berteori, belum sampai tahap menjadi teladan itu sendiri…*

    –0–

    Anyway, kamu kan sedang mencoba Men, jadi teladan :)

  4. aini says:

    “Yang saya peduli, bahwa ada satu bocah perempuan di bawah umur yang mencintai saya apa adanya dan itu luar biasa. Saya harus bertanggung jawab atas cintanya. ” Terharu dan sedih baca kalimat ini. semoga kamu dan putrimu selalu berbahagia Bang.

    –0–

    Terimakasih Ai

  5. Wijaya says:

    Lebih gampang bikin anak daripada mendidik-membesarkan anak.
    Orang boleh punya titel panjang berderet, tapi belum tentu bisa mendidik anaknya dengan baik. Butuh lebih dari sekedar pintar, untuk mendidik anak di jaman sekarang ini :)
    Komunikasi yg baik, keteladanan, konsistensi, empati dan meluangkan waktu bersama…rumus ajib yg selama ini berhasil, Bang :)

    *salam dari sesama bapak*

    –0–

    Terimakasih banyak Mas Nuky. Iya salam juga euy :)

  6. choro says:

    Bang, baru kemarin rasanya ngomongin masalah komunikasi anak-dan orang tua sama temen-temen di sini.. eeh, kok kebetulan bang aip nulis juga. dan dari perspektif yang luar biasa.
    Novi pasti bahagia dengan ayah seperti bangaip :)

    –0–

    Terimakasih banyak yaa Mbak Choro atas supportnya

  7. Sondang says:

    Walaupun gurumu menjungkir-balikkan kamu, still, the most touching part for me: “Kalau putri saya sedih, saya tidak bahagia”

    –0–

    That’s how I feel

  8. Erander says:

    *diam sejenak, merenung, baru komentar*

    rasanya masih seperti kemarin, ternyata waktu sudah berlalu lima tahun, saat aku bersentuhan dengan maya ops dunia maya … untuk urusan tulis menulis … dan salah satu blogger favorite saya, ya ini, ini … bang Aip.

    tulisan ini, seperti pepatah buat saya .. pada waktu yang tepat, pada tempat yang tepat, pada moment yang tepat .. dimana kondisi yang hampir mirip sedang ku hadapi. Kemalasan, kehiprokitan dan keharusan tanpa alasan …

    Btw … kemarin sepertinya bang Aip liburan ke Indonesia ya? Mungkin merupakan resolusi dari hasil sekolah parenting itu … Good … Sayang, saya ga sempat ketemuan sama seleb blogger yang satu ini .. Whatever … Salam buat bidadari kecil bang Aip ..

    –0–

    Iya sayang kita nggak ketemuan yaa Bang. pasti suatu saat akan tiba saatnya

  9. adipati kademangan says:

    Pada tulisan-tulisan sebelumnya saya hanya menebak-nebak saja. Saya masih ragu bahwa bangaip sudah tidak bersama lagi dengan pasangannya, hanya samar-samar. Mengapa Novi Kirana siang bersama ibunya, kemudian malam diserahkan ke ayahnya Namun dalam tulisan ini jelas sudah, bahwa bangaip menjadi single father bagi Novi Kirana.

    –0–

    Yeah begitu lah adipati. hidup kadang dibawah kadang diatas. Tapi yaah pasrah aja, dibawah diatas, kita terima apa adanya

  10. sandalian says:

    Pelajaran yang sangat berharga dan harus saya rekam dalam otak :)

    –0–

    Terimakasih Mas Sandal

  11. edratna says:

    Tidak ada sekolah untuk menjadi orangtua yang baik….yang ada adalah diskusi dengan berbagai orangtua lain…jadi saya pikir kelas yang diikuti Bangaip sangat bagus. Sebetulnya yang benar…. orangtua yang bahagia, akan membuat anak-anaknya bahagia.

    Dan kita harus mendefinisikan dulu seperti apa bahagia itu..karena bahagia tak bisa dicari, tapi dari diri kita sendiri. Dan hidup kita memang seperti naik rool coaster, naik turun…keadaan tak selalu seperti yang kita inginkan…namun kita harus bisa menikmati semua itu agar bisa bahagia, sehingga lingkungan sekitar kita bahagia.

    Semangat Bangaip….saya percaya Bangaip bisa mengatasi semua kesulitan yang ada..dan membuat Novi Kirana bahagia.

Leave a Reply