Tentang Perburuan Wanita (Satu- Lollipop)

Kalau tidak menulis yaa biasanya saya baca buku. Edan, buku jaman sekarang kok yaa tambah mahal. Tapi untung saja bacaan saya bukan buku serius. Saya mah baca hanya komik. Buku bergambar. Maklum lah, saya mah bukan orang serius. Maka itu bacaannya juga bukan yang serius-serius amat. Baca komik. Sambil cengar-cengir ketawa-ketiwi.

Sayangnya, komik-komik kegemaran saya ini ternyata sudah benar-benar menguras kantong. Uang jajan sebulan kadang habis cuma buat beli komik. Memang untung saja uang susu anak dan beli mainan beliau tidak sampai terganggu. Tapi kalau lihat teman-teman saya jajan, beli kacang, beli es krim, beli baju, beli gadget, beli permen, yaa saya hanya bengong saja. Kepengen sih, tapi mau apa lagi? Sampai modar dipaksa beli, saya tetap tidak mampu. Sebab uang jajan saya sudah habis buat beli komik.

Tapi sekali-kali, roda nasib jelas berputar. Hahaha…

Tidak selamanya saya, bapak-bapak kecil dari kampung pinggiran kota ini, kere dan bangkrut. Kadang-kadang saya punya sedikit uang lebih. Dan mungkin sebagaimana lelaki single, jalang dan lebih sering hidup dalam dompet tipis lainnya, kalau punya duit lebih sedikit, jelas foya-foya.

Tiap manusia punya cara berfoya-foya. Cara saya, mungkin sama. Dan kelihatannya klise buat para lelaki mata keranjang. Yaitu berburu wanita. Iya benar, Anda tidak salah baca. Dengan uang yang saya punya, saya ini memburu wanita. Tidak pandang bulu, semua wanita saya buru.

Kalau berdasarkan moral, Anda pikir saya tidak pantas. Maka saya sarankan jangan dibaca tulisan kali ini. Hidup itu tidak berjalan sekehendak moral Anda (apalagi moral saya). Tapi kalau memang memaksa mau dibaca juga, anggap saja sedang baca komik (tanpa gambar ilustrasi tangan) gratis.

Ini cerita saya tentang perburuan wanita. Di runut berdasarkan waktu agar memudahkan pencapaian yang telah saya miliki (*Oh betapa sombongnya si ‘saya’ ini*).

Pertengahan 2009
Roda mobil yang kami naiki menanjak meninggalkan Nürnberg. Hampir pukul delapan malam kami di perbatasan antara Jerman dengan Republik Ceko. Malam itu malam musim panas. Matahari belum tenggelam walaupun memang tidak terang di angkasa sana akibat langit digulung awan. Hujan rintik-rintik ketika kami tiba di Waidhaus, kota kecil perbatasan.

Saya memeriksa paspor hijau. Ini satu-satunya identifikasi sebagai WNI yang saya miliki. Sebentar lagi pemeriksaan paspor. Saya tidak begitu risau, sebagai penduduk permanen sebuah negara yang bukan bagian dari NKRI, saya memiliki hak untuk bisa kemana saja di muka bumi eropa ini tanpa harus risau akan visa. Tapi, paspor hijau ini cukup penting. Jadi saya pastikan agar ia ada pada tempatnya.

Ternyata begitu sampai perbatasan Jerman dan Ceko di Gzg (sumpah, nama daerahnya aneh sekali), kotak-kotak pos penjaga perbatasan negara yang mirip gardu jalan tol itu, kosong melompong. Saya menoleh ke arah supir. Ia hanya mengangkat bahu berkata, “Ceko sekarang sudah jadi Uni Eropa. Tidak perlu lagi periksa-periksa paspor atau visa”

Saya bertanya, “Sebentar lagi kita sampai di Rozvadov. Sebaiknya berhenti sebelum larut sekali. Saya bawa bayi. Sebaiknya ia tidur di tempat yang lebih nyaman ketimbang di jok belakang. Kasihan, sejak pagi ia terus-terusan di kursinya itu”

Supir mengangguk. Mobil membelok dari jalur tol E50 yang ke arah Kateřínské Chalupy. Tepat dibelakang Mac Donald raksasa yang berdiri dengan angkuhnya.

Perasaan saya tidak tenang. Ini kota kecil, bahkan kecil sekali. Lebih tepat disebut kampung dengan dua rukun tetangga. Kok banyak sekali motel? Apalagi, ada kasino. Saya bukan moralis dan saya sama sekali tidak peduli dengan perjudian. Tapi untuk kota sekecil ini dan perbatasan yang lengang, kok bisa-bisanya ada perputaran uang yang tinggi?

Kami putar-putar cari hotel atau penginapan. Semuanya muncul dengan nama yang aneh. Ada ‘Penginapan Sally’ dengan logu dua hati berwarna merah. Ada ‘Penginapan Lollipop’ dengan perempuan sensual terpampang besar pada baliho. Dan lebih aneh lagi, banyak orang asia. Dengar-dengar, mereka dari Vietnam.


Diambil dari gmaps. Foto asli yang diambil dari sini dan kebetulan saya miliki semuanya penuh baliho bertema dewasa

Kecurigaan saya bertambah besar ketika akhirnya pada pukul sepuluh malam saya letih berputar mencari penginapan yang cocok dan memasuki hotel apa saja yang ada di hadapan saat itu. Seorang perempuan paruh baya dengan bahasa Inggris terpatah-patah berdiri di meja resepsionis sambil memandang bayi perempuan yang tengah saya gendong, “No room. Tidak ada kamar untuk kamu” dengan tatapan mata yang sedih.

Saya kaget. Dalam letih dan hampir kehilangan harapan dapat tempat tidur nyaman untuk putri semata wayang, saya kehilangan keseimbangan menjaga emosi. Sambil membentak saya bilang, “Ma’am, kami datang dari jauh. Anak saya ini baru saja berusia satu tahun dan butuh istirahat. Kalian jelas punya kamar. Ini memang bukan hotel besar tapi tidak ada satu orang pun di lounge kecuali kita. Apa salahnya jika kamu memberi kami tempat untuk istirahat malam ini!”

Dua laki-laki besar dari sudut yang remang tiba-tiba berdiri. Si ibu-ibu resepsionis ini matanya dari sedih berubah jadi takut. Sambil berbisik ia mengambil map dari mejanya dan berkata, “Tuan, harga kamar kami beserta paket tiga jam… blablabla… Dan pada paket eksklusif harganya sudah termasuk dua perempuan dan… blablabla…”

Saya terperangah. Sebab sambil menerangkan, ia membuka map plastik yang didalamnya berisi foto-foto perempuan cantik yang kelihatannya berasal dari seluruh penjuru muka bumi. Dan foto semua gadis-gadis muda itu.., telanjang dalam pose yang menantang.

Astaga, jadi ini..?

Ibu-ibu paruh baya itu mengangguk. Ketika melipat map, sambil berbisik ia bilang, “Kamu bawa bayi, makin cepat pergi dari sini makin aman untuk kalian”

Ketika saya menukas bahwa pasti ada penginapan lain yang cocok untuk keluarga, ia tidak menjawab. Dua laki-laki besar di pojok remang kali ini jalan mendekati. Saya tahu, ini saatnya untuk pergi.

Malam itu untunglah kami berhasil menuju Plzen, hampir di tengah Republik Ceko dan menginap di pusat kota. Saya tidak bisa tidur. Masih terngiang di otak saya peristiwa tadi sore. Dari room boy saya dengar bahwa Kateřínské Chalupy, Rozvadov terkenal sebagai distributor dan pasar daging.

Si Room boy bilang, “Iya Pak, mereka ada yang lokal atau dibawa dari Slovenia, Hungaria atau Rumania. Pasar dagingnya di dekat Košice di Slovenia sana. Trus kalau mau masuk Jerman, yaa lewat Rozvadov. Salah satunya, di hotel yang mau bapak tumpangi itu. Disitu juga banyak orang Vietnam, Pak. Katanya kalau mau masuk Eropa dan menyebrang ilegal ke Jerman, yaa lewat situ. Mereka bayar mahal supaya bisa pergi dari Vietnam”

Saya curiga, dari mana ia tahu informasi sedetail ini. Ia jawab, bahwa itu rahasia umum. Sebagai orang hotel, ia tahu dan sering memergoki tamunya. Bahwa perempuan itu sering disekap tanpa diberi kebebasan ruang gerak ke luar. Mereka menginap berhari-hari dalam kamar saja. Semua perlengkapan bahkan makanan, dipesan dari dalam dan dimakan kamar. Ia bilang pasar daging adalah pasar yang buka di malam hari di daerah tertentu, sepi dan kecil dan hanya menjajakan perempuan telanjang. Itu perempuan, yaa mirip daging di pasar. Dilelang. Ditawar. Dijual ke pemilik barunya. Pasar daging adalah lokal transaksi jual beli budak di manusia zaman modern ini.

polisi plzen

Tidak boleh memotret polisi di kota ini. Saya jadi ingat di RI. Di kampung saya, katanya hanya polisi yang boleh memotret polisi. Selain polisi, haram hukumnya memotret polisi. Apalagi memotret polisi yang sedang menilang anda di jalan raya dengan semena-mena. Katanya, Anda bisa masuk neraka kalau memotretnya

Ia menjawab, “percuma”, ketika saya tanya, kalau ia tahu bahwa perempuan itu dipaksa menginap, kenapa tidak lapor polisi?.

“Tahu sama tahu, Pak. Semua orang kebagian. Duitnya besar sih”

Ia menjelaskan, di pasar daging, harga bayi yang apabila dirupiahkan paling sekitar 4-5 juta. Hingga harga tak seberapa untuk anak-anak laki dan perempuan yang berusia empat tahun yang dijual beli untuk film konsumsi paedofili.

Dan saya pun menggumam marah.

This entry was posted in bangaip and tagged , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Tentang Perburuan Wanita (Satu- Lollipop)

  1. Kimi says:

    Astagaaa… *speechless* 😥

    Waktu itu aku pernah nonton di tivi soal human trafficking ini. Nonton acara itu aku cuma bisa sedih, marah, tanpa bisa ngapa2in. 😥

  2. Amd says:

    Bingung mau komentar apa, tapi saya menangkap kesan kok negara-negara eks blok timur ini seolah mengalami kesulitan ekonomi atau apa, gitu, sampai solusi paling mudah ya harus jualan daging gitu… Atau ini tuntutan pasar bebas ya, Bang? Karena saya yakin konsumen utamanya mestilah om-om tajir dari eropa sebelah barat…

  3. didi says:

    stragis, juga miris. ditunggu lanjutannya bang.

Leave a Reply