Tentang Perburuan Wanita (Tujuh – Eˈdiɾne)

Pak Juki, pengganti Pak Ali, memanggil. Siang itu panas di bulan Juni. Matahari di luar pabrik memancar berwibawa. Ia berdehem memulai, “Bos saya pergi. Ia benar-benar pergi. Tidak akan kembali. Pekerjaan saya menumpuk. Saya meminta kamu untuk mewakili kita. Kamu ada waktu?”

Saya garuk-garuk kepala. Namanya buruh kecil, yaa kalau diminta mandor untuk bekerja, mau apa lagi selain menurut? “Ada beberapa prioritas yang butuh saya tangani…”

Ia memotong, “Bisa dikerjakan remote?”

Saya mengangguk. Ia menukas cepat, “Ya sudah, kamu minggu depan abroad. Ada pekerjaan kita disana yang butuh panduan. Saya tidak bisa mengirim Anna. Ia dibutuhkan sekali disini. Kamu bisa ke Istanbul dan Amman?”

Bengong, sebab ini artinya sudah serius. Saya sudah sering meminta agar tidak banyak pergi ke luar negeri. Sebab punya anak. Selama ini dituruti. Tapi ini kelihatannya serius. Maka itu saya mengangguk pelan, “Berapa lama, Pak?”

“Sampai beres. Setelah itu kamu dapat lima hari cuti tambahan. Kerjakan semua prioritas secara remote. Kamu dapat semua akses. Kalau ada apa-apa bereskan sendiri. Tapi laporan harus masuk ke saya direct. Bisa?”

Saya tahu itu pertanyaan retoris. Bukan opsi untuk menjawabnya selain iya. Tapi jantung saya berdegup kencang. Istanbul itu di Turki. Ada kontak dari Lucija di sana. Saya bisa terus riset sambil bekerja. Jadilah saya mengangguk sebagai jawabannya.

Dan pesawat ini seminggu kemudian sampai di bandara Attaturk. Sebagai WNI saya tidak perlu minta visa sebelumnya. Sebab sudah ada Visa on Arrival (VOA) untuk pemegang paspor hijau. Hanya perlu membayar 15 euro bayar uang pas untuk kunjungan satu bulan. Kelihatan sekali jika petugas duane jarang melihat WNI masuk sini ketika malam hari. Ahh memang saya berpaspor RI tapi kan bukan berarti saya harus tiba dari Indonesia.

Mereka memeriksa paspor saya lama. Itu paspor bulan Januari 2013 sudah akan habis masa berlakunya. Ia menyarankan agar saya langsung memperpanjang masa berlaku jika kembali. Saya setuju. Enam bulan itu biasanya batas minimal paspor untuk masuk perbatasan negara lain.

Beberapa hari kemudian pekerjaan saya selesai. Ada waktu libur. Ini saatnya riset.

Kontak Lucija memungkinkan saya mengetahui titik-titik lokasi perdagangan manusia. Yang pertama adalah Edirne, sebuah kota perbatasan antara Turki dengan Bulgaria. Kota kecil yang terkenal dengan Masjid Sulemaniye. Arsitektur yang didirikan megah pada masa Ottoman.

Edirne, Juni 2012

Kami sudah duduk sekitar 15 menit di taman samping mesjid bernama Selemiye Camii yang diarsiteki Koca Mi’mâr Sinân Âğâ, salah satu arsitek hebat yang pernah dimiliki oleh umat manusia.

Masjid Selimiye di Edirne. Depan masjid ini ada ibu-ibu tua penjual remah roti. Kami bingung, kenapa ia tidak menjual roti biasa, kenapa remah-remahnya? Ternyata remah-remah itu dijual untuk diberikan pada burung-burung dara yang banyak berkeliaran santai di taman masjid. Pakaian ibu itu terlihat lusuh. Saya menyesal tidak membeli remah roti darinya dan lalu memberikan pada burung. Ia perempuan tua yang walau tak terlihat kaya namun bangga dan bekerja keras untuk hidup. Semestinya dibantu. Dan memberi makan burung, bukankah itu baik? Ahh penyesalan selalu telat…

Ia duduk di samping saya, menatap anak-anak balita berambut coklat panjang atau pirang yang bermain ayunan di taman ini. Bertanya, “apa yang bisa saya bantu?”

Saya hanya menatapnya muram. Ia tahu sekarang dan tidak marah, syukurlah. Tadi malam kami memang berniat pergi ke Edirne untuk darmawisata. Ia sebelumnya sama sekali tidak tahu bahwa saya menggunakan perjalanan ini sebagai bagian dari riset perdagangan manusia.

“Kamu bisa memulai dari daerah kamu”, jawab saya setelah tahu ia tertarik.

“Maksud kamu?”

“Baca banyak sumber, terutama soal kejahatan terorganisir internasional yang melibatkan perempuan muda. Mulai dari UNODC bagian PBB yang mengkhususkan diri ke kejahatan dan Narkoba hingga website ungift.org. Baca laporan mereka. Terus buka internet, pasti di daerah kamu banyak organisasi yang sudah membantu korban perdagangan manusia. Kamu bisa mulai dari sana”

Saya sengaja bilang perempuan muda. Walaupun saya tahu, bukan hanya perempuan muda yang diperdagangkan. Sebab berdasarkan data UNODC, banyak juga bocah lelaki yang ikut diperdagangkan dalam dunia kelam ini. Namun perempuan muda adalah komoditas yang paling banyak.

Soal perempuan muda adalah komoditas. Di daerah Puncak, Jakarta, terkenal dengan istilah kawin kontrak. Lelaki dari negara-negara asing, kebanyakan dari beberapa negara tertentu di Timur Tengah, menikah dengan perempuan muda di daerah Puncak ini. Disebut kontrak sebab mereka menikah berdasarkan kesepakatan dalam tempo waktu tertentu saja. Misalnya menikah untuk 3 bulan selama si lelaki berdinas atau berlibur di Indonesia. Setelah masa kerja atau libur usai, mereka pun bercerai.

Walaupun agak aneh, saya sebenarnya tidak peduli mengenai kawin kontrak. Itu bukan urusan saya. Namun menjadi polemik dan mulai menoleh ke sana, ketika gadis-gadis yang terlibat ternyata dipaksa oleh orang tua mereka. Umumnya karena alasan ‘desakan ekonomi’. Alasan yang katanya menghalalkan siapa saja berbuat apa saja.

Kawin kontrak di daerah Puncak bersamaan munculnya dengan menjamurnya lokasi prostitusi tak resmi di daerah tersebut sejak awal tahun 90-an. Masa itu, bahkan parahnya warga lokal hingga mampu memiliki perbendaharaan bahasa baru penamaan subjek dengan sebutan ‘Bondon Abege’.

Bondon adalah sebutan untuk para gadis penjaja tubuh dan Abege akronim dari ABG, Anak Baru Gede. Usia antara 11-16 tahun, gadis-gadis ini sudah dipaksa orangtuanya untuk melayani lelaki dewasa yang mampu membayar mereka untuk beberapa bulan. Setelah kawin kontrak usai, si bocah ingusan ini dijajakan pada siapa saja yang mampu membayar mereka semalam. Atau si Bondon Abege yang sudah merasa dirinya ‘tak suci lagi’, kabur. Dan sebagaimana cerita klise lainnya, sialnya lagi-lagi terjebak prostitusi paksaan.

Modusnya selalu begitu, si bocah yang mungkin belum pernah merasakan menstruasi ini dijual kepada lelaki pelaku kawin kontrak. Keperawanan bocah pada masa itu mampu ditukar dengan uang dua juta rupiah. Si bapak (atau ibu) sang bocah, menerima uang dua juta sebagai uang muka ketika si anak ‘diboyong’ menuju rumah barunya (biasanya villa sewa). Dengan catatan, bahwa si bocah masih perawan. Setelah si turis selangkangan ini menikmati tubuh anak kecil dan yakin dengan keperawanannya, ia menjadikan bocah ini sebagai budak seksual dan juga budak sebenarnya. Bukan hanya sebagai pemuas nafsu, melainkan juga sebagai tukang cuci piring, tukang masak, tukang kebun, tukang setrika dan tukang-tukang lainnya. Dalam proses ini, si bocah tidak menerima uang sepeser apapun. Semua uang yang masuk langsung diterima oleh ayah (atau ibunya). Di akhir kontrak, si bocah baru menerima balas jasa berupa beberapa potong baju baru sebagai ‘hadiah’.

Saat ini, kawin kontrak sudah berbeda modus dan jumlah rupiah yang terlibat. Namun masih belum jauh-jauh dari konteks perdagangan manusia yang dilegalkan. Bogor, Indonesia, terkenal (infamously) sebagai salah satu rute perdagangan manusia bertipikal kawin kontrak ini.

Setelah cerita begitu ia bertanya, “Mana mungkin ada di daerah saya?”

Beliau di depan saya adalah dokter sekaligus wanita muda. Profesional di bidangnya. Hobinya jalan-jalan. Pendapatannya yang lebih dari cukup, membuatnya bisa memfasilitasi hobi ini. Ia pikir hidupnya sungguh berisi petualangan. Romantika yang menggelinding dari satu jalan ke jalan yang lainnya. Dan romantisme itu berakhir ketika kembali ke Taipei, kampung halamannya sana. Untuk bertugas menjadi dokter pelayan masyarakat.

Kami bertemu tadi malam di rumah seorang sahabat di Istanbul. Teman saya namanya Aban. Teman dia namanya Lombard. Aban dan Lombard itu sahabat akrab dan tinggal di apartemen yang sama. Jadi ketika Aban dan Lombard sama-sama sibuk, mereka dengan santainya meninggalkan si dokter ini kepada saya.

Si dokter muda ini, suka jalan-jalan. Tadi malam mengajak saya ke lokasi wisata di beberapa pelosok Turki. Hampir semuanya saya tolak. Kecuali Edirne di bagian barat. Saya tidak bilang saya disana karena riset. Apalagi bilang bahwa saya akan menyeberang sebentar ke Bulgaria. Tidak. Sama sekali tidak. Maka itu, sekarang saya cerita. Lebih baik sekarang. Sebab beberapa jam lagi saya sudah harus ada di bis menuju Haskovo. Salah satu kota perbatasan yang disinyalir jadi pusat lalu lintas perdagangan manusia di Bulgaria.

Ia lebih suka di jalan. Katanya, bisa jadi diri sendiri. Saya bertanya dalam hati; Memangnya kalau di rumah tidak bisa jadi diri sendiri?

Saya pikir, ia hanya seorang perempuan muda yang bosan. Dan mencoba untuk membunuh rasa bosannya.

Tapi mengapa tidak? Mari kita bunuh bosannya. Membuat wanita menangis itu dosa. Namun membuatnya bosan, itu neraka.

Salah satu sudut kota edirne. Diambil dari warung yang menjual Ayran, yogurt cair sedikit asin. Biasanya diminum sebagai pengantar makan. Sebab makanan kota ini cukup pedas. Agak mirip makanan di Indonesia. Walaupun jelas beda rasa.

Jadi di sudut kota, kami mulai mencari wanita bernama Fatma. Dari beberapa kontak, Fatma wanita separuh baya ini mengetahui seluk beluk titik perdagangan perempuan dari Bulgaria. Dibawa ke Turki melalui jalan darat dan paspor palsu.

Lalu di bawa kemana?

Fatma menggeleng menjawabnya. Bahkan ketika uang 100 lira dilambaikan depan matanya, ia tetap menggeleng. (*Pada kejadian ini berlangsung, 100 Turkish Lira kira-kira sama dengan Rp 530K*)

Setelah beberapa lembar ratusan lira berpindah tangan ia cerita bahwa ia bertugas sebagai ‘pembantu bayi’. Istilah yang timbul karena tugas Fatma adalah membantu para pelaku pedagang manusia mengantarkan perempuan-perempuan muda yang hamil diperkosa menuju tempat aborsi. Sebuah tempat yang kelihatan sebagai klinik kesehatan biasa, namun sebenarnya beroperasi sebagai tempat aborsi. Ia membawa gadis-gadis itu ke sana dan lalu pulangnya merawat mereka di lokasi khusus untuk beberapa hari. Sebelum akhirnya para perempuan malang itu ditransfer ke Irak atau Israel. Tergantung daerah tujuan.

Klinik aborsi, menurut ceritanya beroprasi sebagai klinik kesehatan biasa pada umumnya. Namun sebenarnya, klinik ini didirikan oleh geng sindikat para pedagang manusia. Para biadab itu, aslinya juga manusia. Bisa luka kalau tertembak peluru geng sindikat lawan. Mereka tidak bisa pergi serta merta ke rumah sakit. Sebab tentu saja dokter curiga kamu datang penuh luka tembak. Maka daripada dicurigai rumah sakit, kenapa tidak membuat rumah sakit sendiri?

Klinik-klinik kesehatan ini kecil. Bukan tipikal rumah sakit besar. Namun berisi dokter yang bisa bekerja sama. Nah karena tidak semua orang bisa bekerja sama, maka tidak banyaklah klinik ini berdiri.

Klinik kesehatan ini memiliki banyak fungsi. Namun tetap dibagi dalam klasifikasi khusus. Jika ada anggota gang sindikat yang butuh transfusi darah atau operasi khusus, mereka akan datang ke klinik khusus. Namun umumnya, klinik ini berfungsi sebagai tempat aborsi. Bagi para perempuan yang diperkosa dan dijadikan budak seksual. Ketika mereka harus menghilangkan janin benih pemerkosanya, maka klinik-klinik inilah yang jadi jawabannya.

Kata Fatma dengan bangga, paling lama tiga hari. Maksudnya, tiga hari setelah aborsi, para perempuan muda malang itu sudah kembali harus mengangkang melayani tamu-tamu majikannya.

Tangan saya gemetar menahan emosi.

Uang saya habis. Fatma bungkan ketika ditanya lokasi klinik itu berada.

Saat itu terdengar roda kendaraan roda empat mencicit berhenti depan rumah. Saya melirik ke jendela, berbisik kepada dokter muda yang kelihatannya mual mendengar cerita betapa Fatma terlibat dalam kejahatan ini, “Ada dua orang turun dari mobil, saya lihat wajahnya tidak terlalu ramah”

Si dokter menatap saya senyum, “Kamu takut?”

Ahh, rupanya ia kecanduan adrenalin sore itu. Bosannya hilang dan ia tidak ingin pergi dari lingkungan ini. Saya tidak senyum menjawabnya, “Iya saya takut. Saya punya anak. Iya saya takut, saya yang ajak kamu ke sini. Iya saya takut, peluru pada pistol di sela jaket sopir itu, membolongi jidat kita”

Si dokter membelalak. (*Saya bosan melihat orang membelalak. Entah kenapa saya selalu bertemu orang yang begini. Sok berani menghadapi semua marabahaya tapi begitu di depan realita, takutnya setengah mati*)

Kami tidak tahu siapa mereka yang datang tergesa-gesa ke rumah Fatma. Kami tidak tahu dan tidak mau tahu. Yang pasti, tidak ada salah satupun dari kami yang kebal peluru. Gagang pistol yang menyembul di sela jaket mereka sudah cukup membuat kami secepat-cepatnya pergi melalui pintu belakang. Masuk ke dalam keramaian pasar, menyelinap di belantara turis. Lalu pergi meninggalkan kota ini.

Sore itu, nyawa selembar ini rupanya masih bisa diselamatkan dalam genggaman.

Entah besok. Entah lusa.

This entry was posted in bangaip, sehari-hari and tagged , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Tentang Perburuan Wanita (Tujuh – Eˈdiɾne)

  1. Sondang says:

    Bang Aip, sometimes I wonder how you can live like this….and still alive…

  2. noni says:

    bangaip, ik kan maar alleen zeggen: ik ben trots op je. vier duimpies!!!!!

Leave a Reply