Tentang Perburuan Wanita (Enam – Nothing Else Matter)

April 2012

Amsterdam masih dingin. Setidaknya dibandingkan Jakarta. Saya kembali ke kota dingin ini, untuk urusan pekerjaan.

Ada SMS masuk. Ajakan makan malam.

Jadilah malam itu saya makan bersama Lucija. Di sebuah restoran vegan favorit. Murah, meriah, enak dan pemiliknya bersahabat.

Kami duduk di hadapan meja kecil bundar yang menghidangkan tapas vegetarian. Meja itu sedemikian kecil sehingga Lucija dapat menggenggam tangan sambil menatap bertanya, “Kenapa kamu tidak mau menikahi saya?”

Itu air minum masih ada di mulut dan saya sumpah mati tersedak ketika mendengar pertanyaannya. Saya mau jawab, “You know, kita bisa cari lain waktu untuk bicara”. Sialnya, ini bukan pertanyaan beliau yang pertama. Tapi oke lah, mungkin kamu bisa ngobrol sekarang. Tapi bilang apa?

Saya garuk-garuk kepala sambil cengar-cengir. Mau apa lagi coba? Itu satu-satunya cara yang saya punya ketika mendengar pertanyaan ajaib. Dan pertanyaan seperti ini, ahh jelas bukan pertanyaan biasa.

Ia menatap tajam, “Kenapa kamu ga jawab. Toh saya sudah nggak di prostitusi lagi”

Saya diam. Ia benar. Ia sudah berhenti jadi pelacur profesional. Kini ia adalah aktris. Pemain film. Khususnya, film dewasa.

Bingung mau jawab apa. Kalau teman saya Odoy, kalau adik saya Gugun, kalau rekan kerja saya Toni, ditanya dengan pertanyaan seperti ini. Apa jawaban mereka? Serius, saya mau tahu.

Ia bilang, akan meninggalkan semuanya demi saya. “Saya akan menjadi perempuan terbaik untuk kamu”

Saya diam. Matanya, ahh sorot itu meminta jawaban. Ia akan jadi semuanya untuk saya. Semuanya? Dalam dunianya saat ini, ia adalah bulan atas riak ombak. Ia adalah bintang di atas gelombang. Meninggalkan semuanya? Untuk apa? Untuk saya? Untuk jadi segala apa yang saya inginkan? Untuk apa? Supaya saya bahagia? Gimana dia bisa bahagia kalau kebahagiannya hanya bersandar pada saya?

Dalam diam saya bertanya-tanya dalam hati. Apa yang diinginkan Lucija dari saya?

Setelah lama diam, saya jawab “Saya tidak bisa. Saya punya banyak tanggungan. Hidup saya sepi. Sunyi. Kamu hidup dipuja oleh para mata-mata lelaki. Kamu terbiasa dalam gemilang lampu sorot. Saya bukan laki-laki itu. Saya cuma seorang bapak-bapak biasa yang mencintai putrinya setengah mati. Buruh kecil dengan penghasilan pas-pasan yang hanya cukup untuk bayar tagihan bulanan. Apa yang kamu mau harapkan dari saya? Saya tidak mampu membiayai hidup kamu dan membiayai hidup kita berdua. Jangan bilang, cinta akan membayar semuanya. Kamu jauh lebih tahu dari saya bahwa itu tidak benar. Saya ga mungkin beri kamu harapan palsu”

Malam itu, ketika kami pulang, ia terisak di tengah jalan. Saya rangkuh pundaknya dan bilang minta maaf jika saya menyakitinya. Ia bilang saya tidak memberinya duka, tapi egonya memang terluka. Selama ini, ia berjuang. Dari diperlakukan sampah oleh para lelaki, hingga mereka berbalik memujanya. Semua lelaki berniat menjamahnya, melumatnya dan rela melakukan apapun untuknkya. Namun, ia tidak pernah membuka diri.

Dan ketika membuka diri, ada pintu diseberang sana yang tertutup.

“Saya merasa tertolak. Rasanya sedih sekali”

kanal kota amsterdam dari arah amstel station

Jordaan terkenal sebagai tempat teromantis se-Amsterdam bagi pasangan. Umumnya mereka berjalan menyusuri kanal ketika matahari mulai tenggelam. Makan malam di cafe pinggir kanal sambil menikmati kapal-kapal kecil lalu lalang menyusuri kanal. Umumnya mereka yang memiliki rumah di sekitar sini memarkirkan mobil tepat seberang jalan, dan kapalnya langsung di kanal.

Angin musim panas berhembus diantara kanal-kanal Jordaan. Temaram lampu jalan dan pantulannya di atas air menerangi wajahnya. Ada airmata bergulir disana.

Saya tidak punya konsep dosa. Tapi malam itu, saya pikir bahwa dosa adalah membuat wanita mengalirkan air mata.

Saya bukan fans berat kisah cinta dua orang dewasa yang sadar akan jalan hidup mereka. Sebab biasanya gombal. Tidak semua gombal melenakan, tapi kisah cinta yang melibatkan lebih dari satu (atau dua) dewasa, umumnya gombal dan membosankan. Dan pasti lebih gombal dan membosankan lagi jika saya terlibat di dalamnya. Jadi mungkin lebih baik menyingkir dengan segera.

Sebelum menunggu trem untuk pulang ia memberi secarik kertas. “Ini kontak saya di Turki. Seorang polisi yang dulu pernah jadi client saya. Saya sudah bilang soal kamu dan janji mau bantu. Saya akan ada di sana dalam beberapa hari. Mungkin kita bisa bertemu”

Malam itu kami berpisah. Ketika pintu trem tertutup, ia masih menunggu di luar sana. Malam tak mampu menyembunyikan masih air matanya.

Saya gelisah. Tak mampu menghalau semua cerita yang terjadi malam ini. Lalu berjalan pelan menyusuri kanal menuju Bilderdijkkade. Disana tinggal Otti, sahabat saya yang berasal dari Hungaria.

Otti ada di rumah. Sedang memainkan gitar lagu-lagu Metallica kegemarannya. Setelah memainkan dan menyanyikan bersama hymne suci Nothing Else Matter, saya cerita tentang Lucija.

Setelah cerita selesai ia bertanya, “Kamu tidak mau sama dia karena dia bekas pelacur? Atau gara-gara ia artis dan bekerja dalam film dewasa?”

Saya menggeleng, “Bukan semua itu. Saya hanya khawatir tidak bisa mengatur hidup jika bersamanya”

“Setiap orang punya jalan hidup masing-masing. Kenapa kamu takut tidak bisa menerimanya?”

Saya diam. Mungkin Otti benar. Saya takut tidak bisa menerima Lucija. Saya takut jika saya cemburu dengan masa lalunya. Atau cemburu dengan jalan hidup yang dipilihnya saat ini. Mungkin ia benar, saya hipokrit. Bisa dengan seluruh jiwa menerima kenyataan hidup objek penelitian, namun tidak bisa hidup dengan total dengan kenyataan tersebut. Ternyata masih ada jarak di sini.

Atau mungkin, ini hidup saya?

Dalam lirih saya menggumam, “… hidup ini aneh”

Otti sambil terus memetik gitar membalas, “Hidup nggak aneh. Kita aja yang bikin aneh. Kalau kamu nggak percaya ama diri kamu sendiri, siapa lagi yang kamu percayai?”

Malam semakin larut. Metallica mengalun di udara. Saya pikir saya harus melupakan Lucija.

Tapi apa bisa? Ia manusia. Ia memang bagian dari riset, dalam bahasa sederhana; objek. Tapi ia, tetap manusia.

So close no matter how far
Couldn’t be much more from the heart
Forever trusting who we are
And nothing else matters

(Nothing Else Matters – Hetfield/Ulrich 1992)

(*Dalam penelitian ini, dipakai pendekatan ilmiah pengembangan kognitif Piaget. Dimana menurut Piaget, objek adalah objek. Meski tidak bisa dilihat, didengar bahkan hingga disentuh. Objek harus dipahami dan dikembangkan berdasarkan fundamental pemahaman ini. Pengembangan kognitif Piaget biasanya dipakai dalam memahami bayi dan binatang. Saya tahu, para pelaku ini bukan bayi juga bukan binatang, namun para pelaku perdagangan manusia hidup dalam dunia yang berbeda dengan dunia manusia biasa. Cara ini, saya pikir cukup efektif dalam memahami dan menjelaskan dunia mereka. Tapi apa iya saya pahami? Jika iya saya paham, mengapa malam ini saya merasa tersesat? Ia manusia, saya juga manusia. Ahh, di pengembaraan negeri asing ini pada pintu siapa hendak mengetuk? Malam ini, saya pikir saya hilang bentuk*)

This entry was posted in bangaip, sehari-hari and tagged , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Tentang Perburuan Wanita (Enam – Nothing Else Matter)

  1. rere says:

    sangat wajar sekali lelaki cemburu dengan masa lalu pasangannya …… itu ciri khas lelaki timur juga Indonesia … saya pernah tanya ke beberapa teman saya yang tau istrinya pernah berhubungan sex dengan pria lain sebelumnya …dan itu tetap jadi problem baginya :)

  2. aini says:

    Bang Aip sufi ya?

  3. andridarmawan says:

    orang baek untuk orang baek, orang tak baek untuk orang tak baek. kalo jodohnya sama mantan pelacur, ya mungkin kualitasnya sama bang. kalo dapetnya mantan ustadz, ya kualitasnya juga sama. hihihi…

  4. Istikharah aj bang….pelacur atau bukan, yg penting mau kembali dan bertobat. Lalu serahkanlah pengaturan hidup pada DIA Yang Maha Mengatur. Dikisahkan bawa tobat yang sungguh-sungguh dari seorang pelacur, kemudian menikah dengan seorang abid, dari pernikahan mereka di anugerahkan keturunan 6 orang Nabi dari kalangan Bani Israil.

Leave a Reply