Tentang Perburuan Wanita (Lima – Nanas)

(*Beberapa pelaku informasi yang ada dalam seluruh tulisan Tentang Perburuan Wanita bukanlah nama sebenarnya dan tidak bertujuan untuk merepresentasikan institusi/negara/korporasi sebenarnya. Beberapa informasi, termasuk foto atau gambar, kali ini tidak ditampilkan secara menyeluruh atas alasan keamanan pelaku informasi. Jika informasi yang ada dalam tulisan seri Tentang Perburuan Wanita ini terlalu mengganggu, anggap saja ini fiksi*)

Dalam beberapa artikel mulai dari koran kuning Jakarta hingga buku laris manis Moammar Emka, “Jakarta Undercover”, tersebut berkali-kali perempuan Uzbekistan dan perempuan Rusia serta aksi ‘kegirangan’ yang menyertainya. Yang jadi pertanyaan, apa benar mereka dari Uzbek dan Rusia? Jika bahkan jamak anak-anak kecil desa Indonesia memanggil wanita kaukasian dengan sebutan mister, mengapa kita tidak bisa memanggil wanita-wanita itu sebagai “perempuan uzbek atau cewek Rusia”?

Apa benar mereka dari Uzbekistan dan Rusia? Lebih penting lagi, apa benar mereka datang ke bumi pertiwi ini dengan sukarela?

Awal 2012

Mandor pabrik kami, Pak Ali memanggil saya ke ruangannya. Wajahnya keruh. Ada seberkas map di meja hadapannya.

You know, kamu punya banyak hari libur tahun ini. Tahun lalu kamu tidak ambil cuti barang sehari pun. Kebijakan kantor malah akan memberi kamu tambahan sepuluh hari cuti tahun ini. This is disaster, ini laporan dari human resource” sambil menggenggam map di telapaknya. “Kita tidak bisa membiarkan ini terjadi. Kalau kamu pergi total 60 hari berturut-turut, artinya kita empat bulan hari kerja tanpa kamu. Ini masalah besar. Kamu harus libur. Cepat pergi. Kamu bisa ke Bahama kalau mau cari matahari, atau ke Maine kalau mau main ski. Saya akan tanggung jawab”

Saya bengong. Baru kali ini dalam seumur hidup dipaksa berlibur. Sambil garuk-garuk kepala saya berkata lirih, “Okay, I’ll think about it

Dia membanting map ke meja, “Jangan lama-lama. Bulan depan atau dua bulan lagi, kamu harus berlibur. Gimme a favour. Saya nggak mau liat muka kamu di disini dalam beberapa minggu”

Saya cengar-cengir. Hidup ini aneh. Dulu waktu kerja di Bali, mati-matian saya cari waktu untuk berlibur di tempat yang katanya jadi lokasi favorit liburan semua orang di muka bumi. Sekarang pas sudah tidak di Bali, saya malah mati-matian disuruh berlibur.

Jadi karena itulah pada sore yang panas ini saya ada di bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Begitu keluar pesawat, serasa kulit mau meleleh. Kelihatannya tubuh ringkih Cilincing saya ini tidak kuat berpindah tempat dari suhu lima derajat celcius ke konstan 32 C dalam jangka waktu beberapa jam saja.

Ibu dan Odoy, dua orang ajaib itu, menunggu di depan gerbang bandara.

Seperti biasa, saya dicium-ciumi dan dipeluki. Kata Odoy ada pabrik ban terbakar di Pluit, jadi kami lebih baik naik bus saja. Sebab akan macet. Tapi pilihan itu berubah, ketika Ibu mengetahui bahwa saya sudah kangen berat makan makanan Padang. Odoy lalu menyarankan naik taksi ke Kelapa Gading. Disana ada warung makan kegemarannya. Selera makan saya dan Odoy memang tidak jauh beda. Kalau dia bilang enak, saya pasti mengamini.

Di taksi menuju Kelapa Gading, kami melewati sebuah hotel besar di pinggir jalan tol. Odoy bilang, “Bu, itu kan hotel cewek-cewek kelas atas”

Ibu saya, seperti biasa, apatis dan ngeselin, menjawab, “Lah kamu tau dari mana? Paling denger doangan. Nyoba mah mana pernah. Kamu sih kayak dia, kere” kata Ibu sambil menunjuk saya.

Karena saya dituduh kere (dan itu benar) terang dong saya menyangkal, “Bu, kita ini kaga kere. Tapi cewek-cewek itu aja yang udah nggak mempan lagi kena gombalan”

Sopir taksi yang dari tadi terdiam, kini terkekeh-kekeh mendengar kami bicara dengan logat yang mungkin sudah asing ia dengar. Logat orang betawi pinggiran.

Ia buka suara, “Bener bu. Itu emang hotel cewek-cewek nggak bener. Tapi untungnya mah bukan orang kita. Katanya sih dari Bangkok ama Rusia”

Saya sudah akan mendebat mendengar, “untung bukan orang kita”. Apa itu maksudnya? I ain’t politically correct human being but it’s effin absurd, ‘kalo bukan orang kite mangnye kenape?’.

Tapi mendengar kalimat ‘cewek Rusia’, kuping saya tiba-tiba langsung pasang radar sensitif. Tapi saat ini, jelas saya tidak bisa mengorek keterangan lebih lanjut. Ibu dan Odoy, walaupun orang kampung pinggiran, sudah tahu terlalu banyak trik Cilincing saya. Maklum satu tongkrongan. Mereka pasti curiga kalau saya tanya-tanya lebih jauh.

Di rumah makan Padang, saya berhasil mengalihkan perhatian Ibu. Ketika beliau terkaget-kaget bertanya, “Kamu lapar, kesetanan apa khilaf, makan ampe ludes 12 piring begitu?”

Ketika Ibu dan Odoy masih terkagum-kagum sambil menghitung jumlah nasi dan lauk yang berhasil saya embat masuk ke perut, saya diam-diam menghampiri supir taksi. “Pak, saya bukan orang bener. Besok anterin saya yaa ke hotel yang ada cewek rusianya”

Pak supir menatap saya terheran-heran bertanya apakah saya tidak bosan bermain kuda putih (idiom beliau dalam menganalogikan perempuan berkulit putih). Dan semakin terheran-heran ketika saya jawab, “Dude, you don’t want to know

Esoknya, benar Pak Supir membawa saya ke hotel terkenal yang bahkan sering terbaca dalam akun linimasa twitter teman-teman saya.

Begitu masuk lounge mewah, seorang pemuda yang belakangan saya kenal bernama Ayung datang menghampiri. Bertanya dengan ramah, “Boss, mau mandi dulu?” Saya mengangguk. Agak gamang. Tidak sering saya masuk tempat semewah ini. Hidup saya bukan bergelimang kemewahan. Jadi agak canggung.

Ayung mengambil jas mandi berwarna hitam. Membuka loker untuk menyimpan pakaian dan peralatan saya. Katanya ada dua kunci, satu ia pegang. Satu lagi, chip kunci yang menempel di gelang yang saya kenakan. Gelang itu didapat ketika masuk check-in ke tempat ini. Harus ada dua kunci untuk membuka loker itu. Atas alasan keamanan, saya tidak membawa paspor atau sarana apapun yang mampu mengidentifikasi saya secara personal. Ini Jakarta, bukan hanya pada preman berjubah saja yang harus saya khawatirkan, melainkan juga pada preman berseragam. Harus hati-hati.

Saya lalu mandi. Setelah itu, menuju spa dan berendam di jacuzzi.

Menyenangkan sekali. Sudah ada kira-kira satu jam saya disini. Ayung bertanya, “Boss, nggak ganti dan ke atas. Bidadarinya ada di atas. Disini mah cuma sekedar bilas aja”

Saya ketawa, “Nggak Yung. Saya mau nongkrong aja”

Ayung terperanjat. “Wah nggak bisa, Boss. Disini kalau bilas-bilas aja mah gratis. Nanti saya dimarahi sama yang punya kalau Boss nggak ke atas milih bidadari”

Kali ini gantian saya yang terperanjat, “Gratis? Lah kalo begini mah tiap hari aye nongkrong disini, Yung”

Ayung tertawa. Saya beri ia uang agar membiarkan saya lebih lama berendam di jacuzzi. Tapi sialnya tidak lama kemudian ia datang, “Boss bidadarinya mau mandi. Lokasinya dikosongin dulu. Sori yaa”

Saya sebal, untuk menutup mulutnya lagi, saya beri ia uang. Ia menolak. Katanya ini ‘kebijakan hotel untuk kemaslahatan bidadari-bidadari’.

Sambil bersungut-sungut, saya pindah ke spa. Saya tahu saya tidak bisa lama di spa. Paling 30 menit sebelum badan saya hangus. Ajaibnya, belum sampai lima menit, ternyata para bidadari itu sudah memenuhi spa. Rupanya mereka mau spa dulu sebelum mandi dan berendam.

Bokis Cilincing mulai beraksi. “Err, I don’t know how to spa. What is that?” (*Eh spa itu kata kerja? Whatever, ini kan cuma trik*). Saya tanya pada yang berambut pirang tinggi dan mengenakan bikini merah menyala. Dia jawab itu scrub. Gunanya untuk menghaluskan kulit. Ia ambil sejumput di tangannya, diusapkannya ke lengan saya. Pura-pura mengerenyit saya bilang, “Ehh ini kasar”

Dia menjawab sambil tersenyum, “Tapi nanti kamu jadi halus setelah mengenakannya”

Saya senyum. Saya hitung, empat orang diantara mereka caucasian. Kulit putih rambut pirang. Sisanya, asian. Melihat perawakannya, bukan orang lokal. Ahh, saya dikelilingi delapan bidadari berbikini seksi malam itu.

Tiba-tiba membayangkan hidup sebagai seorang sultan.

Ketika saya akhirnya pergi tanpa banyak bicara pada, mereka menatap dengan pandangan mau tahu. Beberapa orang berbisik dan saya dengar ketika bilang, “mungkin dia gay”.

Sambil senyum-senyum saya meninggalkan ruang spa. Saya beri lagi uang pada Ayung agar jangan ia bilang pada pemilik hotel kalau saya tidak memilih bidadarinya.

Kejadian di atas, saya ulangi terus sampai tiga hari berturut-turut.

Ayung senang. Dapat tip terus dia. Kalau saya datang, “Boss, apakabar?” sambil senyum sumringah. Saya ketawa-tawa membalasnya. Ahh Ayung, anak Pontianak yang mencoba bertahan hidup di Jakarta dengan memanggil semua langganan bidadari dengan sebutan Boss. Yang ia pikir akan melenakan telinga pendengarnya. Ahh Ayung, kamu tidak tahu sedang berhadapan dengan gembel kere yang terobsesi riset mencari jawaban keresahan mimpi buruk di malam hari.

Hari ke empat Ayung akhirnya curiga. Ia tanya, “Boss, sori banget yaa disini kita nggak nyedian brondong. Tapi kalo Boss mau saya bisa cariin”

Brondong itu sebutan untuk lelaki muda.

Saya kali ini tidak mampu menahan tawa. “Ayung… Ayung.., terimakasih atas perhatian kamu. Saya kebetulan belum suka cowok. Entah besok entah lusa. Tapi hari ini saya masih tertarik sama bidadari kamu”

Ayung membelalak, “Ohh sori Boss… Soriii… Saya kira”

Sambil senyum saya jawab, “Saya mau dua perempuan. Satu orang Indonesia, satu lagi Rusia. Saya tahu semuanya cantik-cantik. Tapi saya cari dua perempuan yang benar-benar kenal”

Ayung mau buka mulut. Saya tahu ia pasti penasaran kenapa saya cari dua perempuan yang bersahabat di tempat seperti ini. Tapi lagi-lagi saya bungkam mulutnya pakai lembaran rupiah dari dompet.

Ia senyum, “Boss, duitnya kayak aer. Ngalir terus”

“Santai aja Yung. Saya tinggal metik kok di pohon belakang rumah. Kamu udah nggak usah banyak tanya. Siapin kamar yang bagus ama dua perempuan. Inget, dua-duanya harus kenal baik. Kalau kamu kasih saya sembarangan perempuan, saya komplain sama yang punya hotel”

Ayung menatap ragu. Ia tidak mau kehilangan pekerjaannya. Dan saya pikir ia juga tidak mau kehilangan pelanggan macam saya yang memberinya ratusan ribu rupiah hanya untuk tertawa bersama.

Sebentar kemudian saya sudah di kamar cukup besar. Kira-kira 45 meter persegi. Bahkan ada kolam renang kecil di dalamnya. Ada ranjang antik madura berkelambu putih. Ada pohon palem setinggi 1,5 meter. Ada cahaya matahari yang menerobos masuk dari jendela kamar yang besar. Ruangan ini wangi. Bau cendana.

Saya sendiri. Lah kemana perempuan-perempuan itu?

Setalah menunggu sekitar 10 menit dua orang perempuan datang. Ayung senyum simpul, “Boss, dijamin permainan akan mantap. Hebat lah bisa ngegoyang dobel”

Saya tidak menjawab. Begitu Ayung pergi, saya mencoba mengenalkan diri menjabat tangan mereka. Dua orang itu kelihatannya canggung. Mereka tidak mengenalkan diri ketika saya menjabat tangan mereka.

Sebentar kemudian saya diminta terlentang. Dua perempuan ini rupanya mau memijat.

Saya pasrah. Ikhlas. Jika begini memang perjuangan harus dilakukan dalam riset, mau bagaimana lagi? Hehehe…

Lima menit saya biarkan mereka menjamah tubuh ini. Tapi tidak bisa lebih. Sebelum masuk kamar saya sudah mentransfer sejumlah dollar kepada pemilik hotel agar dapat fasilitas selama dua jam. Iya, bukan rupiah, saya sampai kaget sendiri mata uang dalam hotel ternyata lebih banyak didominasi dollar amerika. Yang pasti, sebagaimana dollar yang dimiliki, waktu saya sedikit.

Saya berlomba dengan waktu.

Tapi harus atur strategi, jangan sampai Ayung dan dua bidadari cantik yang ada dia atas saya ini curiga.

Saya mulai pembicaraan dengan Kiki. Katanya janda muda dari Subang. Umur 16 sudah jadi janda. Sekarang ketika baru usia 22, anaknya sudah berumur 5 tahun.

subang jakarta image

Jarak antara Subang dengan Jakarta sekitar kurang lebih 130 kilometer. Dalam jalur perdagangan manusia tingkat lokal, Subang tidak masuk ke dalam areal yang disebut Pantura Jawa (rute transportasi darat Pantai Utara Pulau Jawa). Namun Subang terkenal (infamously) sebagai pemasok perempuan yang dijadikan komoditi menuju Pamanukan, Indramayu hingga Cirebon. Modus yang sama digunakan juga oleh para pedagang manusia yang beroprasi memperjual-belikan perempuan Sulawesi Utara ke beberapa pulau Maluku dan Timika (dikenal juga sebagai PortSite bagi para pekerja tambang)

Subang? Hmhh, apa yang terkenal dari Subang. Tahu?

“Kiki, tahu subang itu kan enak-enak yaa. Gimana bikinnya?”

“Ahh biasa aja kok Oom…”

Buset dah, saya dipanggil Oom. Sudah setua itu kah saya?

“Apa dong yang terkenal dari Subang selain tahu?”

“Nanas Oom…”

Saya menyela, “Masak sih nanas doang?”

Dia tampak bersemangat dari suaranya, “Nggak Oom. Ada kapur juga. Bapak saya bukan tani, tapi ambil kapur”

“Bapak kamu di Subang?”

“Masih Oom. Sama mama…”

Saya jengah dan kembali menyela, “Kamu jangan panggil saya Oom dong. Temen-temen manggil saya bangaip. Panggil aja bangaip”

“Ini temen kamu siapa. Kok diem aja?”

“Ini Tatiana Oom…”

Saya menoleh menatap gadis berambut coklat sebahu itu, “Hi Tatiana, nice to meet you”. Ia senyum membalas sapaan saya.

Kiki si janda muda bahenol, dengan cepat bersosialisasi. Ia cerita semuanya. Cerita tentang pacarnya yang hobi naik motor kebut-kebutan, anak kepala desa. Cerita bahwa ia adalah istri ketiga sebelum si anak lurah pergi dengan perempuan lain dan meninggalkannya sendiri dengan seorang putra tanpa uang sepeserpun.. Cerita bahwa ia simpanan seorang pengusaha Jakarta dan Tatiana adalah langganan bos tanah Singapur. Cerita bahwa ini pertama kali ia berduet dengan Tatiana.

Dari Kiki saya korek keterangan. Setengah jam berlalu, dan saya mulai tahu bahwa Tatiana berasal dari Latvia. Untung semua pembicaraan terjadi dalam bahasa Indonesia. Ini penting. Saya harus tahu asal Tatiana dan apa yang ia bicarakan dengan Kiki sebelum bertemu saya. Sekali lagi, ini penting. Perempuan Latvia itu tidak mudah terbuka. Setidaknya berdasarkan pengalaman saya selama ini.

Saya butuh Kiki. Dan saya butuh Tatiana untuk konfirmasi ceritanya.

Setelah setengah jam berlalu, sesi pijat hampir selesai. Saya tahu, aksi saya akan cepat terbongkar. Setelah sesi pijat, apa lagi selain sesi bergumul?

Saya bukan orang suci, tapi saya datang dengan misi. Apa yang harus datang dan diselesaikan, harus diselesaikan saat itu juga.

Mari mengulur waktu.

Saya panggil Ayung. Minta minuman. Ia datang tergopoh-gopoh membawa tiga botol air mineral. Saya tidak ingin memabukkan dua gadis ini. Itu judi. Dan saya tidak ingin berjudi dengan informasi. Setidaknya tidak untuk malam ini.

Ketika sesi minum, semua orang terlihat lebih lega. Sialnya, mereka minum dengan cepat. Saya harus membeli waktu lagi.

Otak licik Cilincing kembali beraksi. Saya tanya Kiki, “Kamu kelihatannya capek? Mau pijit?”. Ketika ia kelihatan kebingungan mau menjawab, saya menoleh ke Tatiana, “Kamu mau bantu saya memijit Kiki?”

Sambil memijit saya berbincang dengan Tatiana, “So, kamu dari Latvia”

Ia menunduk menjawab, “Ahh buat kalian sama saja kami dari Rusia”

Saya senyum, “Salah. Saya pernah ke Riga loh”

Ia membelalak. Tambah lebar ketika saya tanya, “Ko tu darat Indonesiza?” (*Apa yang kamu lakukan di Indonesia? – dalam bahasa Latvia*)

Ia makin membelalak, “Kamu berbahasa Latvia?”

“Nggak, cuma sedikit saja untuk bertahan hidup antara hotel ke hotel di Riga hingga kerjaan saya selesai”

“Kamu, kerja di Riga? Oh my god. Kerja apa?”

Lah kok ini gantian saya yang ditanya-tanya. Setelah memberi jawaban sekenanya, kali ini gantian ia cerita.

Tidak ada teman selain Kiki dan ekstasi. Ia dan Kiki pecandu ekstasi. Gunanya sederhana, menumpulkan rasa ketika mencumbu dan dicumbui lelaki yang menjamahnya. Datang dari sebuah desa kecil di Latvia. Kisah klise sebagaimana gadis budak lainnya. Bermimpi jadi pengasuh anak di Eropa Barat. Sebab dengar-dengar, hidup di sana jauh lebih baik. Sayang seribu sayang, ia disiksa dan lalu dikirim ke Shanghai. Sebelum ke RRC ia dilempar dulu ke Bulgaria lalu ke Jerman. Diperkosa. Digebuki. Diancam. Disiksa lagi. Diekspor ke Cina. Disana juga sama. Diancam, disiksa, diperkosa, dipermalukan dan begitu terus. Hingga suatu hari dilempar ke Jakarta.

Tiap tiga bulan ia ganti ijin tinggal. Visanya sosial budaya. Ahh imigrasi negeri fasis ini punya selera humor juga rupanya. Sosial budaya? Hoho… Dapat visa gampang kata dia. Sudah ada yang urus. Fasilitas dari hotel.

Kiki bilang, pelanggan mereka banyak dari para penegak hukum. Bahkan diantara para pengacara yang sering tampil di televisi. Kiki menyebut nama beberapa pejabat publik. Cukup terkenal para pelanggan Tatiana.

Kiki menyahut bahwa langganan tetapnya banyak dari kepolisian.

Saya tanya, apa ada menteri Indonesia yang pernah bercinta dengannya. Tatiana tidak menjawab.

Malah bertanya, “Kamu polisi?”. Saya menggeleng menjawabnya.

“Kamu wartawan?”. Saya makin menggeleng.

“Kamu mau culik saya?”. Kali ini saya jelas-jelas menggeleng.

Ia berhenti memijit Kiki. Saya tiba-tiba kebingungan, berhenti dan mengambil air untuknya.

Kiki memeluknya. Ini adegen yang absurd. Jika saya tega, pasti saya ambil momen ini masuk ke dalam lensa kamera. Dua gadis hampir telanjang, berpelukan. Dalam tangis isak perlahan.

Saya merasa berdosa.

Tak baik meninggalkan dua perempuan dalam sedih. Lalu saya cerita soal sepupu saya yang diculik dan akan dijual paksa. Cerita soal Lucija dan kedekatan kami akhir-akhir ini.

Setelah mendengar cerita saya Kiki berbisik, “Bang, jangan dateng lagi ke sini. Bahaya buat abang. Bahaya juga buat kita”

Satu hal yang pasti malam itu ketika saya meninggalkan daerah Ancol adalah, Indonesia pun terbelit perdagangan manusia internasional. Dan beberapa aparat hukum papan atas hingga imigrasi, mengetahuinya dengan jelas dan pasti. Tapi tetap menutup mata demi kemaslahatan dompet dan selangkangan mereka.

Sejak malam itu, Ayung akan kehilangan salah seorang ‘Boss’.

Saya sadar saya pengecut. Saya bukan zorro yang mendobrak pintu-pintu kamar hotel dengan pedang anggar membebaskan gadis-gadis itu seorang diri. Saya tidak seberani itu.

Dan malam ini, dalam udara Cilincing yang panas. Saya cerita pada Anda.

Cerita tentang kepengecutan dan ketidak-berdayaan.

This entry was posted in bangaip, sehari-hari and tagged , . Bookmark the permalink.

8 Responses to Tentang Perburuan Wanita (Lima – Nanas)

  1. Menarik sekali pengalamannya meski ngeri juga membayangkannya, apalagi harus melakoninya (melakoni riset maksudnya). Seperti yang dikatakan bangaip, saya yang membaca juga tidak berdaya–hanya bisa membaca, dan bilang menyedihkan.

  2. aini says:

    Sampe ga sadar, saya menahan napas selama membaca seluruh tulisan diatas. Wadduh duh duh!!! Apresiasi sebesar2nya untuk Usahamu, top banget. Jempol empat buat bangaip! ini toh salah satu projectmu pas pulang ke tanah air kemarin. Semoga seluruh kebaikan dan kemudahan hidup selalu menyertai jalanmu Bang, selalu ditunggu tulisan berikutnya..

  3. kunderemp says:

    Hotel ‘A’ ya?
    Emang udah terkenal tuh.

    Jangankan abang. FPI aja waktu ditantang nggrebek hotel itu mereka ngeles.

  4. Saya baru sadar tentang human trafficking ini. Entah kenapa sebelumnya saya berpikiran bahwa pekerjaan tersebut at their own will. Oh, silly me.

  5. Kika says:

    Termotivasi untuk ikut melakukan hal yang sama, hanya saja ketakutan masih besar.

  6. Wah,,,jadi nggak ngeh saya buat tulisan tentang hari kebangkitan nasional :(

  7. pustun says:

    emang hotel alexis ada jacuzzi nya?
    ups

  8. lumayan bagus juga ceritanya

Leave a Reply