Tentang Perburuan Wanita (Delapan – Gate of Felicity)

 

Gerbang Kebahagiaan (Bâbüssaâde atau Gate of Felicity. Dapat diartikan pula sebagai gerbang perdamaian) adalah pintu masuk menuju peristirahatan sultan yang dikenal sebagai Enderun.

Gate of Felicity. Full credit to Daum as the original photographer

Gate of Felicity. Full credit to Daum as the original photographer

Gerbang ini adalah terusan menuju daerah pribadi dan perumahan istana. Pintunya memiliki kubah yang didukung oleh pilar-pilar marmer. Tidak ada yang bisa melewati gerbang ini tanpa kewenangan Sultan. Bahkan pelaksana harian negara hanya diberikan otorisasi pada hari tertentu dan dalam kondisi tertentu. Bâbüssaâde adalah tempat dimana Sultan menikmati harinya tanpa merasa perlu diganggu oleh siapapun jua. Jika diluar ia harus menjelma menjadi sesuatu yang lain, maka disini.., ia berhak menjadi manusia.

Pintu gerbang itu mungkin dibangun di bawah Mehmed II pada abad ke-15. Didekorasi ulang dalam gaya Rococo pada tahun 1774 di bawah Sultan Mustafa III dan selama masa pemerintahan Mahmud II. Pintu gerbang dihiasi dengan ayat-ayat Al Qur’an di atas pintu masuk. Langit-langit sebagian dicat dan dihiasi daun-daun emas, dengan bola emas tergantung dari tengah. Selain Rococo, style arsitektur yang bisa ditemukan disini adalah Barok. Cukup unik, ini berarti ada pengaruh dari banyak belahan budaya dan geografis di rumah pribadi Sultan. Menandakan sultan-sultan Turki mengerti multi kultural dan memiliki kecerdasan budaya yang tinggi.

Istana ini berada di daerah Topkapi, Istanbul. Turki. Di dekat istana ini tinggal teman saya, Alban.

Beberapa hari lalu, dari kontak Lucija dan Alban (dua orang ini tidak saling mengenal, tapi anehnya kenal orang yang sama), saya dijadwalkan bertemu dengan seorang pelaku perdagangan manusia. Nama samarannya, Harry. Kami dijadwalkan bertemu di depan hotel tertentu.

Ini pertama kali saya berinteraksi dengan seorang pelaku pedagang manusia. Notes di saku sudah penuh berisi pertanyaan-pertanyaan yang akan dilemparkan. Tas sudah terisi dengan perlengkapan tempur semacam perekam, kamera dan komputer jinjing untuk segera mengedit. Saya yakin akan sukses.

Jadi malam itu, pukul sepuluh, saya berjalan pelan dari Topkapi menuju Fatih.

Fatih adalah salah satu pusat keramaian di Istanbul. Keramaian yang ada mirip dengan daerah Mangga Besar, Jakarta. Penuh dengan hotel bertarif dalam jam dan lokasi hiburan malam. Di jalan besar, saya lihat malam itu dipenuhi polisi yang merazia penumpang. Benar-benar mirip area slum Jakarta.

Setelah menunggu sekitar 10 menit Harry datang. Ia seorang pria dengan perawakan kecil. Setidaknya tidak lebih tinggi dari saya. Rambutnya lurus pendek agak coklat klimis disisir ke samping kiri. Sebagaimana tipe sisiran rambutnya, saya pikir ia kidal (menurut penelitian sebuah institut di Maryland, 95% orang yang putaran rambutnya searah putaran jarum jam adalah right-handed, dominan menggunakan tangan kanan ketika melakukan kegiatan. Informasi semacam ini umumnya sama sekali tidak berguna. Tapi sebentar lagi bisa diketahui bahwa useless information seperti ini, lagi-lagi, menyelamatkan nyawa saya)

Begitu bertemu Harry menjabat erat tangan saya lemah dengan senyum yang dipaksakan. Saya benci menilai manusia, tapi tatap matanya licik. Wajahnya sama sekali tidak memiliki kesan natural. Dan semakin menambah buruk suasana ketika ia bertanya, “Kamu mau perempuan apa? Kalau Georgia 300. Kalau turki 500. Dolar amerika yaa”

Saya termangu. Harry ini sungguh menyebalkan.

Namun dengan segera ia bercerita tentang ‘barang dagangannya’. Cerita yang membuat saya terpesona dan langsung mengeluarkan telepon genggam untuk merekamnya.

Kami bicara belum lama, hampir 15 menit. Namun kelihatannya saya makin jauh masuk ke lorong-lorong gelap yang panjang (*Oh ya, Istanbul ini terkenal dengan lorong-lorong perumahannya yang berliku*)

Terilhat tiga orang laki-laki berjalan dari ujung lorong. Harry berteriak dan melambaikan tangannya. Seakan seperti memanggil. Saya tanya siapa mereka Harry hanya menjawab pendek, “teman”

Disini, saya kembali betul-betul curiga. Bulu kuduk meremang. Saya tidak percaya tahayul, tapi saya percaya manusia punya intuisi. Saat ini intuisi menyuruh saya untuk menyelamatkan diri.

Tiga sosok laki-laki itu semakin mendekat.

Saya tanya Harry apakah ia punya kartu nama. Saya bilang saya harus pergi dan akan menelponnya esok saja. Ia menatap saya. Wajahnya curiga dan matanya jahat. Ia bilang, “Ada nih di dompet, sebentar saya ambil”

Ia, saya pikir kidal, dan sebagaimana orang kidal, mereka biasa menaruh dompet di saku yang gampang terjangkau; yaitu saku kiri. Namun Harry, tangan kirinya menggerayangi saku belakang kanan.

Sh*t!

Ada yang menerjang dari dalam tubuh saya. Meminta untuk lekas-lekas loncat dan berlari pergi sejauh mungkin.

Malam itu malam yang tolol. Semuanya saya bawa. Mulai dari laptop, mobile devices, kamera bahkan hingga paspor. Semuanya dalam satu tas. Buat saya, itu tindakan tolol. Dan saya melakukan ketololan malam itu.

Maka dengan segara dan walaupun penuh beban berat di ransel, saya seakan seperti terbang menuju jalan raya. Secepatnya berteriak-teriak seperti orang gila meminta tolong pada polisi yang sedang memerika para pengendara mobil yang melintas Oğuzhan Caddesi. Jalan raya yang membelah Fatih area.

X = lokasi kejadian

X = lokasi kejadian

Dua orang polisi mendekat, saya bilang kalau saya bertemu orang yang mencurigakan di lorong. Mereka ikut. Kami bertemu empat orang di lorong itu yang lari lintang pukang begitu bertemu polisi. Satu orang ditangkap polisi. Yang paling kecil. Dari saku kirinya ditemukan senjata genggam sejenis pistol.

Orang itu, Harry.

Saya pulang jalan kaki ke rumah Alban. Ia dokter bedah dan baru pulang dinas malam. Ketika bertemu dan selesai bercerita ia bilang, “Men, masa sih lo benar-benar harus lari untuk nyelametin your ass? Get a life, dude. Cari hobi lain!”

Saya diam. Sebab kemungkinan besar, ia benar.

Hidup semakin panas. Harus menyingkir sementara.

Tiba-tiba saya berfikir untuk sebentar pulang ke Indonesia. Tapi ahh… Masih ada beberapa tugas yang harus diselesaikan. Berfikir keras sekali, mungkin Alban benar. Saya harus mencari hidup baru.

Tapi apa dong?

Masak saya harus kawin lagi agar bisa dibilang “selamat menempuh hidup baru”

This entry was posted in bangaip, sehari-hari and tagged , . Bookmark the permalink.

One Response to Tentang Perburuan Wanita (Delapan – Gate of Felicity)

  1. mbacanya serasa jantung ikut copot :p

Leave a Reply