Tentang Perburuan Wanita (Sembilan – Asia dan Perpisahannya)

Istanbul dibagi menjadi dua bagian. Bagian barat dikenal sebagai kawasan bernama ‘Eropa’ dan bagian timur yang disebut dengan ‘Asia’. Pembelahnya adalah sungai besar bernama Bosphorus.

ferry membelah senja di selat bosphorus

ferry membelah senja di selat bosphorus

Lucija akan datang hari ini. Setelah cerita kasus Harry, ia bilang bahwa ia sungguh khawatir akan perkembangan riset dan berminat membantu. Dalam hati saya mengeluh, menjaga diri saja saya kesulitan, apalagi kalau ada ia datang. Masak sih saya harus menjaganya? Tapi percuma mengeluh, ia datang hari ini. Di daerah Asia. Di sana ada bandara low cost carrier. Bandara untuk penerbangan murah.

Umumnya pesawat-pesawat di Eropa bisa menjual tiket murah karena mereka tidak mendarat di bandara utama yang terletak dengan pusat kota. Di Istanbul, pesawat-pesawat berharga tiket umum mendarat di bandara Attaturk. Sementara pesawat bertiket murah, mendarat di bandara Sabiha Gökçen International Airport. Disana Lucija akan mendarat dan disana pula kami akan bertemu.

Jadi pagi itu, dari Topkapi saya menuju Asia, dengan jasa ferry penyebrangan selat Bosphorus. Makan seadanya di pinggir jalan menuju lokasi penyebrangan. Banyak penjual makanan murah. Saya tidak tahu apa namanya, yang pasti vegetarian dan murah. Itu penting.

pedagang sate produk vegan

Anak muda pedagang makanan vegan/vegetarian bakar di tepi penyebrangan ferry menuju daerah Asia di Istanbul

Dan ketika sampai bandara, saya lihat Lucija sudah menunggu disana. Pemandangan wajar, ia menunggu. Dengan muka jemu. Dikelilingi laki-laki. Mulai dari sopir taksi hingga don juan dadakan. Saya senyum-senyum sambil berjalan ke arahnya. Ia tidak membalas senyuman saya.

“Selamat datang di Istanbul. Bagaimana perjalanan kamu?”

Ia tidak menjawab. Mukanya merengut. “Saya tidak suka senyum kamu…”

“Lah, apa salah saya?”

“Dasar lelaki! Pura-pura terus”

“Lah saya kan cuma senyum”

“Kamu tahu, gara-gara senyum Marie Antoinette dipenggal kepalanya”

“Yaelah saya cuma senyum doang… Itu kan bagus. Nyebar kebaikan”

“Di bandara banyak orang. Banyak perempuan”

“Saya senyum doang, buset dah. Itu juga sama kamu”

“Tapi perempuan laen kan liat juga. Kamu ati-ati kalo senyum”

Saya ketawa terbahak-bahak. Tapi kemudian diam, saya ingat sesuatu. “Kamu kan… Eh… Kamu sendiri, dikelilingi laki-laki. Saya santai aja tuh”

“Kalau perempuan dikelilingi laki-laki, itu biasa. Kalau kalian laki-laki dikelililngi perempuan, pasti ada yang aneh sama lelakinya”

Saya bingung. Ini logikanya aneh sekali. “Tapi saya kan nggak dikelilingi wanita”

Ia mendelik, “Halooooo…. Look who’s talking?”

Saya diam sambil garuk-garuk kepala. Ini obrolan tambah absurd. Lebih baik mundur sejenak daripada makin absurd.

Bingung mau bicara apa akhirnya ia mau diajak makan. Kami menuju Kadikoy.

Kadıköy adalah salah satu tempat tertua di daerah bagian Asia dan merupakan distrik provinsi Istanbul, Turki. Sebuah distrik yang terpisah sejak tahun 1928 melalui perang saudara. Saat itu memisahkannya dari Üsküdar, Kartal, Maltepe Umraniye dan kabupaten tetangga. Kadıköy terletak di Laut Marmara, bagian Asia dari Istanbul. Dengan berbagai bar, bioskop dan toko buku, Kadıköy bisa disebut sebagai pusat budaya Asia Istanbul. Tinggi distrik ini rata-rata 120 meter di atas permukaan laut. Penggalian arkeologis antara tahun 1942 dan 1952 menemukan banyak tulang, kerangka, vas, patung, dan lainnya. Benda-benda tersebut berasal dari sekitar tahun 3000 SM. Hal ini menunjukkan bahwa Kadıköy daerah berpenghuni itu jauh sebelum Istanbul (atau Byzantium) didirikan. Pada zaman kuno tempat itu dikenal sebagai Chalcedon.

Masa ini Kadıköy adalah perumahan dan ekonomi penting di distrik Istanbul. Disana terdapat stasiun kereta api Haydarpasa , stasiun bus Harem, Universitas Marmara, Universitas Yeditepe, Stadion sepakbola Sukru Saracoglu, masjid kuna, pelabuhan, pusat perbelanjaan untuk lokal, rumah-rumah bersejarah, dan lainnya. Karena lokasinya (Asia) Kadıköy tidak diketahui banyak turis.

Saya bisa ada disini karena Kadıköy adalah kampungnya Alban.

restaurant kadikoy tempat awal drama

Sebuah rumah makan di Kadikoy tempat drama itu dimulai

Dan saat ini, sebuah meja bar di sebuah senja di ujung Kadıköy adalah saksi ketika seorang perempuan membawa dua paspor dengan uang berbundel-bundel dari salah satu negara di bekas eropa timur. Di salah satu paspor tersebut, terdapat foto saya. Nama beda, tempat tanggal lahir beda dan yang pasti, kewarganegaraan bukan lagi sebagai WNI.

Mata saya membelalak, “Lucija, ini keterlaluan. Gila kamu. Ini paspor palsu. Kenapa kamu harus melakukan ini? Kenapa saya harus pakai identitas palsu?”

Dia tersenyum, santai, “Look who’s talking”

(*Saya geleng-geleng kepala. Iya saya mengaku salah. Sebelum Maret 2012, saya punya empat KTP. Dengan empat nama berbeda. Dan tentu saja dengan empat agama yang berbeda. Cuma satu yang sama, dalam semua status tertulis ‘Belum Kawin’. Hehe. Dari semua KTP, yang lebih sering saya pakai adalah nama Agus. Asal Sragen, Jawa Tengah. Tepatnya, Desa Masaran Jati. Desa ini masuk ke dalam radar riset saya sebab ternyata diam-diam memiliki prosentase sebagai desa pengekspor manusia Indonesia ke luar negeri terbanyak ketimbang desa-desa lainnya di nusantara. Dari desa ini pula terkenal snakehead Indonesia /-Snakehead adalah sebutan umum kepala mafia sindikat perdagangan manusia. Diambil dari nama gang human trafficking asal China dengan kasus terbesar yang bernama Golden Venture di Amerika Serikat-/. Dan kenapa harus Agus? Sederhana jawabnya; sebab di semua pulau di nusantara, dari Sabang sampai Merauke, pasti ada manusia yang bernama Agus. Bulan Maret lalu ibu saya marah-marah, karena DKI akan dilakukan pendataan untuk KTP elektronik. Jadi pada bulan itu, salah satu kepulangan saya adalah karena Ibu meminta saya untuk menjadi warga negara yang patuh mengikuti petunjuk Pak RT dan Pak Lurah*)

“Tapi sekarang saya sudah punya ID tetap. Satu nama tetap. Dan satu kewarganegaraan tetap”, saya bersikukuh belagak sok hidup jujur.

“Kalau saya bilang kamu dalam bahaya, pasti kamu cuek saja. Kamu itu sok tahu. Sok bisa ini lah, sok bisa itu lah. Sok gaya bisa hidup selama-lamanya. Sok mau jadi bapak yang baik dan benar padahal punya hobi memburu manusia, yang luar biasa tidak masuk akal. Kalau kamu masih mau ingin ketemu anak, segera pergi dari sini!”

Ia membanting paspor dan uang di atas meja. Buang muka. Menatap laut.

Ada air mata bergulir di pipinya.

Ahh perempuan, sungguh luar biasalah kemampuan kalian berdrama yang membuat kami para pria akhirnya tak tahan dan lalu lumer dalam kata-kata. Itu airmata hanya setitik, tapi mampu akhirnya membuat saya buka suara, “Terimakasih. Tapi ini barang mahal. Berapa saya harus ganti?”

Ia mengambil saputangan dari tas jinjing. Mengelap sedikit ujung mata. Saya menatap dengan ragu. Tahun 2003, senjata genggam murah meriah macam Hi Point kaliber 9mm bonus magazin 9 peluru dan paspor palsu abal-abal kewarganegaraan Belgia itu sekitar tiga ribu lima ratus euro. Sementara paspor aspal rapi karya disainer terlatih kelas mata-mata, lebih dari tiga kali lipatnya. Jelas bukan barang KW. Sebab dengan paspor aspal itu, seseorang mampu melintasi benua dengan santainya. Saya lihat dari tadi paspor yang dibawa Lucija, ini bukan bikinan abal-abal. Sebab sempat tanpa sepengetahuannya, saya foto dengan kamera ponsel lalu mengirim ke teman untuk dianalisa. Hasilnya, kami kaget bahwa pemilik paspor asli itu ternyata berwajah tidak jauh beda dengan muka saya.

Disainer pemalsu terlatih (artinya bukan hanya mampu membuat cetakan kertas dan segel paspor/dokumen dengan baik, melainkan juga mampu melakukan riset mencuri dan menanamkan data) dapat bayaran mahal. Biasanya karena mereka melakukan riset sebelum membuat karya. Tidak sembarang orang dicuri identitasnya. Hanya mereka yang berwajah hampir mirip dan punya beberapa latar belakang yang hampir mirip. Disainer ini bekerja dalam tim. Jujur saja saya sendiri tidak perlu mau tahu siapa mereka dan apa yang telah dikerjakannya. Yang pasti, jika terlatih begini, pasti ada trainingnya. Dan siapapun otak yang membuat training itu, pasti bukan seseorang yang gemar menampilkan dirinya ke hadapan publik dengan senyum ceria. Mereka ini orang yang hidup dalam bayang-bayang. Dan entah kenapa, saya tidak pernah percaya pada mereka.

“Itu bukan pertanyaan yang perlu dijawab. Kamu seharusnya sudah bisa menebak kenapa saya datang pakai pesawat murah. Sebagaimana pertanyaan kamu mau pakai atau tidak? Seharusnya kamu bertanya, dari sini ke rumah Alban untuk berkemas, berapa lama? Kamu tahu ga, nanti malam rumah Alban di sweeping?”

Saya terperangah. Ia kenal Alban darimana? Sweeping apa? Apa maksudnya?

Gantian. Kini dia yang menatap lesu, “Identitas Agus kamu bocor. Ingat kasus Grenoble? Sekarang mereka balas dendam”

Saya menunduk. Menghela nafas dalam dan menghembuskannya panjang dan lama. Kalau identitas saya bocor, berarti ada ‘orang dalam’ yang terlibat. Kalau ada ‘orang dalam’ yang terlibat, berarti sebentar lagi identitas-identitas lainnnya bakal terbuka. Termasuk identitas orang-orang yang saya cintai.

Saya gemetar.

Para bajingan itu sekarang yang gantian memburu saya.

Dan tentu saja saya bukan Bang Pitung yang sendirian dengan goloknya mengobrak-abrik satu kampung dengan gagahnya. Saya cuma bangaip, jangankan gagah, golok saja nggak punya.

Ini tiba saatnya. Ketika letih dan bahaya mengintai dari ujung sudut. Ini saatnya. Pulang. Menuju hati yang dicintai. Saya harus kembali.

Beberapa jam kemudian setelah pamit pada Alban, saya sudah duduk samping jendela bangku pesawat menuju Roissy (penduduk kota Paris memanggil airport mereka yang sebenarnya bernama Charles de Gaulle dengan Roissy).

Disamping duduk perempuan cantik yang kelihatannya telah membuka besar-besar lubang celengannya hanya untuk menyelamatkan seorang lelaki dari Cilincing yang memiliki hobi yang aneh.

Saya genggam tangannya. “Kamu perempuan baik. Kenapa kamu melakukan ini?”

Dia menatap lama. Lalu bertanya, “Kamu cinta saya?”

Ahh saya tolol sekali. Betapa naifnya hati. Kenapa dari tadi tidak pernah menyangka bahwa akan ada pertanyaan ini. Orang apa yang mau melakukan perbuatan bodoh demi lainnya kalau bukan atas dasar cinta?

roissy airport

Dan saya meninggalkannya di sini. Saya bilang, “Kita pamit”, bukan “saya pamit” atau “kamu pamit”. Jalur hidup kami berbeda. Ia dibawah lampu sorot dan bergelimang cahaya dan perhatian mata laki-laki di seluruh dunia. Saya, dalam hidup sepi dan sunyi seperti petapa. Kami tak akan bisa bersama. — Aéroport Paris-Charles-de-Gaulle 2012.

This entry was posted in bangaip, sehari-hari and tagged , , . Bookmark the permalink.

5 Responses to Tentang Perburuan Wanita (Sembilan – Asia dan Perpisahannya)

  1. Tentang organisasi pemalsu dokumen ini, kemarin saya menemukan sebuah situs berbahasa Indonesia yang mengiklankan jasa pemalsuan dokumen. Sedikit menelusuri, sepertinya situs tersebut tergabung dalam suatu jaringan dan saya menemukan satu website lain dalam bahasa yang berbeda dengan tampilan yang sama.

    –0–

    Saya baru pulang dari Magelang beberapa minggu lalu, Mas. Ketemu salah seorang periset keamanan paspor internasional. Beliau ini WNI ternyata dan sudah belasan tahun malah menelusuri dunia dokumen perjalanan. Dari beliau banyak sekali dapat info soal seluk beluk loophole yang ada di imigrasi internasional. Diantaranya termasuk RI. Padahal imigrasi RI terhitung sebenarnya sudah cukup canggih. Tapi ternyata banyak bolongnya. Dan imigrasi, terlalu angkuh untuk mengakui (atau menambal) bolongan di celana dalam mereka

  2. deking says:

    Wah mirip Jason Bourne tuh bang hehe
    Omong-omong tentang dokumen, saya pernah bertemu seorang warga negara Belanda (keturunan Cina) yang memiliki KTP Indonesia. KTP yang dia miliki bukan sekedar KTP sementara (Kartu Identitas Penduduk Musiman/Kipem), tapi betul-betul KTP “asli”.
    Mudahnya pembuatan KTP (seperti bisa dilihat dari contoh Bangaip dengan 4 KTP dan saya dengan 2 KTP (tapi nama sama)) merupakan kebocoran yang cukup berbahaya karena di Indonesia KTP merupakan “gerbang” untuk pengurusan dokumen lain.
    Semoga saja pemberlakuakn e-KTP bisa meminimalisir kebocoran tersebut.

  3. @ Oom deking

    Perempatan Pramuka kalo di Jakarta. Gosipnya di situ sedia blanko aslinya yang entah mereka dapat dari mana. Eh, tapi ini baru gosipnya lho ya 😀 Dan itu beberapa tahun yang lalu. Ndak tau sekarang gimana nasibnya berhubung sudah mau penerapan e-KTP :)

  4. nobek says:

    Bang, ini nobel. Sori baru komen setelah sekian tahun kagak nyambangin blog abang lagi. Aq masih catch up sama cerita abang dan skr masih di prrburuan wanita… Kalo boleh tanya bang… Mengenai Istri abang yang kemarin. Aq juga mo tanya mengenai hak cipta bang. Aq penulis novel amatir. Abang berminat menulis novel mengenai kisah perburuan ini bang? Kalo minat ane bisa bantu.. Email aja kalo abang minat

Leave a Reply