Tentang Perburuan Wanita (Sepuluh – Kereta Menuju Poznan)

Saya ingin seperti dia yang duduk diseberang ruangan. Baru pulang liburan dari luar negeri, katanya disana berenang dengan lumba-lumba di hari ulang-tahunnya. Kado dari pacar. Enak kali yaa jalan-jalan dengan pacar. Romantis. Dapat hadiah ulang tahun begitu dahsyatnya.

Saya ingin seperti dia, yang lainnya. Tokoh dalam tulisan blog internet yang sering saya baca. Ia jalan-jalan kesana-kemari, ketawa-ketiwi, baik sendiri, dengan teman-teman atau keluarganya. Makan enak dan sebelum makan ini makan itu, makanan difoto lalu dipajang. Bikin saya ngiler dan iri. Perlihatkan di sosial media aksi wara-wirinya. Ahh hebatnya, bisa jalan berpetualang dengan gembira.

Saya ingin seperti dia, dia dan dia.

Kenapa?

Apa ada yang salah dengan saya? Kenapa mau jadi orang lain? Memangnya tidak cukup puas dengan terlahir seperti ini?

Akhir Juli 2012

Ibu kirim SMS. Katanya minta ditelpon. Beliau memang selalu begini, minta ditelpon. Bukan karena mau mengirit, sebab ternyata jauh lebih murah menelpon dari Cilincing sana ke posisi saya saat ini. Bukan. Sama sekali bukan.

Ini hanya karena Ibu, sejak 20 tahun lalu, tidak pernah tahu dimana lokasi geografis saya, anaknya, berada.

Sore itu obrolan kami berlangsung lirih. Banyak sekali jeda diam antara kami berdua.

kompartemen_jan_kiepura

Kompartemen kereta ekonomi Jan Kiepura (ini video jelasnya). Satu kamar bisa diisi enam penumpang. Pada siang hari, mereka duduk dibawah tiga berhadapan dengan tiga. Ketika matahari terbenam, masing-masing menuju tempat tidurnya. Pada kelas eksekutif, satu kompartemen hanya berisi ranjang dua orang dan kamar mandi pribadi. Saya duduk di kelas ekonomi. Sebab hanya disana bisa bertemu ‘mereka’

“Kamu ngapain di Polandia?”, ini adalah pertanyaan standar keluarga saya. Sedang apa, sampai kapan dan apa tujuannya. Ini pertanyaan yang menuntut jawaban.

Saya diam sejenak. Bagaimana menerangkan pada Ibu bahwa anaknya sedang mengejar sindikat perdagangan bayi yang terlahir dari perempuan-perempuan yang diculik dan jadi budak seksual. Saya diam. Susah untuk membentuk sepenggal kalimat sederhana bahwa saya sudah ada di kereta membelah Eropa menuju Poznan selama 14 jam hanya untuk bertemu seorang wanita yang mau memperdagangkan bayi 1,5 tahun yang terkena down syndrome.

Bagaimana menerangkan pada Ibu bahwa ada perempuan muda yang diperkosa lalu dibiarkan hamil dan melahirkan agar anak hasil kandungannya bisa dijual oleh penculiknya?

Bagaimana menerangkan pada Ibu bahwa ada manusia-manusia yang rela menjual bayi tersebut kira-kira hanya sekitar 3-5 juta rupiah saja?

Bagaimana menerangkan pada Ibu mengapa proses transaksi rumit ini harus berjalan di atas kereta yang membelah hukum negara-negara yang walaupun berdaulat ternyata memiliki celah masing-masing yang saat ini dimanfaatkan oleh para pedagang budak?

Bagaimana menerangkan pada Ibu, yang seumur hidupnya jauh dari kekerasan, bahwa di muka bumi ini ada manusia yang memiliki hati lebih gulita daripada malam yang kelam?

Setelah berdehem sejenak saya jawab, “Ada orang yang butuh bantuan, Bu. Katanya sih biar saya aja nyang nulungin anaknya”

Ibu diam sejenak disana. Beliau ini guru SD, sederhana. Tapi tidak bodoh. Saya kenal beliau sudah lama. Pertama kali belajar melihat sinar, yang saya pelajari adalah wajahnya. Saya tahu beliau diam lama disana, menyusun kalimat. Kelihatannya saat ini, kami sedang mencari strategi. Menyusun informasi. Saling menyelidiki dengan kata-kata yang disusun biar terlihat sederhana

“Lah kamu jalan-jalan gitu nyang bayar sapa?”

Ini pertanyaan yang berat. Serius. Kalau saya jawab apa adanya, bahwa uang tabunganlah membiayai hingga saat ini, Ibu pasti akan bertanya, “Uang kamu kan nggak banyak. Aneh, buat apa?”. Kalau itu sudah ditanyakan, tandanya skak mat. Saya harus cerita dari awal hingga akhir. Dan saya tidak mampu membuat dirinya sakit jantung dengan informasi yang saya pegang saat ini.

Maka sialnya, entah kenapa saya harus berbohong menjawabnya, “Ada nyang bayarin, Bu”

Tidak lama kemudian kami saling menutup percakapan dan mengucap salam sampai jumpa kembali. Saya merasa berdosa, berbohong pada perempuan yang amat mengasihi sejak saya lahir dari kandungannya.

Tapi, saat ini, itu pilihan yang saya ambil. White lies, black lies, tetap saja bohong. Dan sore itu, atas nama keamanan, saya membohongi perempuan yang mencintai saya. Ahh…

Saya kembali ke kompartemen kereta. Di luar langit biru. Musim panas ini berlangsung dengan baik di atas bumi Jerman Timur. Sudah berjam-jam saya duduk di kereta ini. Hanya sekadar menunggu. Menunggu ada manusia yang bicara.

Perempuan pirang paruh baya dihadapan saya tidak banyak berkata apa-apa. Ia tidak mengerti bahasa Indonesia. Sibuk menggendong bayi down syndrome berusia 1,5 tahun. Sebentar lagi Poznan. Kota terbesar kedua di Polandia. Ia akan mendaftarkan si bayi di kota ini sebagai cucunya agar punya nama baru. Hanya dengan cara ini si bayi bisa dan lalu dibawa ke Eropa Barat untuk ‘diadposi’.

Jadi begini modusnya:

  • Anak perempuan, usia 16, cantik. Diculik dari kampungnya di Eropa Timur sana.
  • Si bocah malang akan terus disiksa, diperkosa dan terus diperlakukan begitu hingga menurut untuk harus menghasilkan uang. Ia dipaksa ikut dalam prostitusi
  • Suatu saat, entah kondom bocor, entah diancam akan dibunuh, entah apalah alasannya; sperma masuk dan merambah janinnya dan ia pun hamil
  • Dalam kondisi hamil, si bocah ini masih terus akan dipaksa melayani tamunya. Ia jadi pasar khusus untuk pria-pria yang gemar menyetubuhi perempuan hamil
  • Kira-kira sembilan bulan kemudian si bayi lahir
  • Untuk menghilangkan ikatan antara ibu dan anak juga demi pemasukan, Dipisahkanlah antara bayi merah ini dengan ibunya dengan cara dijual ke penadah bayi korban perkosaan
  • Si tukang tadah bayi adalah agen penyalur anak-anak yang akan diadopsi. Mirip panti asuhan. Bedanya, ia hanya khusus untuk bayi sesuai pesanan pengadopsi
  • Agar bisa diadopsi jelas si bayi harus punya identitas. Maka tentu saja sang bayi harus ‘dicuci’ (*Proses yang sama terjadi pada aksi kejahatan pemutihan uang*)
  • ‘Pencucian’ bayi dilakukan dengan cara mendaftarkan bayi tersebut dengan cara mengklaimnya sebagai cucu/ponakan/atau_whatever oleh pengungsi yang melintasi antar negara (*Jadi disini saya pikir Anda bisa mengerti mengapa kejahatan ini bersifat internasional dan mengapa saya membuntuti wanita pirang paruh baya melintas empat negara dengan kereta*)
  • Setelah ‘dicuci’, bayi punya identitas baru. Pengadopsi tidak tahu apa-apa proses ini. Yang mereka tahu, mereka harus menyetor sejumlah uang untuk proses adopsi

Mungkin akibat baru saja bicara dengan Ibu, jika akhirnya saya mampu menuliskan proses rumit yang keji dan bahaya dalam beberapa penggal kata diatas sebuah tempo yang memakan waktu berbulan-bulan.

Melihat bayi lucu yang tampan ini, di depan mata. Dan tidak mampu berbuat apa-apa pada saat itu juga (bahkan juga tidak dalam menelpon aparat berwenang, sebab jika mereka tiba-tiba muncul, semua orang bahkan hingga si bayi, dalam kondisi jiwa terancam) membuat saya merasa lemah.

Dalam hati saya hanya bisa membatin, “Bangsat! Bangsat! Bangsat!”

Ini lah yang disebut pemilihan umum iblis.

Mana yang harus saya pilih? Jika saya menelpon polisi diam-diam saat ini juga, kemungkinan besar bahwa mereka mampu menangkap perempuan perempuan ini dan menyelamatkan bayinya. Tapi bagaimana dengan Ibu sang bayi? Sebab sangat yakin bahwa penculik dan pemerkosanya akan menghapus nyawa si perempuan malang untuk menghilangkan jejak. Proses adopsi yang jadi alternatif agar si anak ada yang merawat, juga pasti akan gagal.

Jika saya pilih untuk mendokumentasikan perempuan ini, membuatnya bicara, bisa mencegah kejadian terulang di masa depan. Namun, akan ada seorang Ibu yang akan kehilangan anaknya. Gimana rasanya kalau saya kehilangan putri saya yang diculik paksa? Apa yang akan saya lakukan terhadapnya jika saya tahu bahwa ada orang di luar sana yang ternyata bisa mencegah peculikan ini dan membawa kembali putri tercinta ke pelukan saya, namun ternyata ia diam saja?

Ini pemilihan umum iblis. Iblis mana yang harus saya pilih? Tidak ada pilihan lain yang lebih sempurna. Hanya ada dua iblis di depan saya. Yang mana yang harus saya sikat? Yang mana yang harus saya dekap?

Ini bukan yang pertama. Ketika kualitas moral, etika dipertanyakan dan dikonfrontasi.

Hey, kamu laki-laki, apa jawaban yang akan kamu pilih. Awan menggumpal di balik jendela seakan mengejek.

Saya ingin seperti dia.

Sambil menatap langit berderak di atas jalur kereta, saya merasa tidak puas terlahir seperti ini. Seharusnya, saya jalan-jalan berdarmawisata saja. Mirip ia yang berenang dengan lumba-lumba. Mirip ia yang berwisata kuliner sebelum makan memfoto dan membaginya jepretannya pada sosial media dunia maya. Mereka yang kelihatan hidupnya begitu tenang dan bahagia.

Tanpa perlu harus bersekutu dengan iblis sebagai imbalannya.

Saya iri.

bayi di atas jan kiepura

Foto sang bayi di kereta. Ketika sang ‘nenek’ ke kamar kecil saya sempat tergoda untuk membawa bayi ini menuju kamar masinis dan polisi kereta untuk ‘aksi menyelamatkan’. Pikiran yang ugal-ugalan dan tergesa-gesa. Astaga, ia begitu lucu, damai dan menggemaskan. Tak ada yang menyangka bahwa bocah semanis ini adalah produk sebuah kekejian yang sungguh luar biasa

 

This entry was posted in bangaip, sehari-hari and tagged , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Tentang Perburuan Wanita (Sepuluh – Kereta Menuju Poznan)

  1. edel says:

    Pilihan yang berat… Akhirnya apa yang bangaip lakukan?

  2. awaludin says:

    untung ngga sms minta pulsa ya.

  3. Pingback: KEKERASAN TERHADAP ANAK DAN TEKNIK PENYIDIKANNYA | MATA HATI

Leave a Reply