Tentang Kutipan

Tahun ini saya putuskan bahwa saya tidak akan membuat anak saya jadi yatim gara-gara hobi riset yang sedang dijalani.

Konsekuensinya, saya meninggalkan dunia petualangan ugal-ugalan ala Jason Bourne yang penyendiri dan berganti menjadi seorang petani yang berhubungan dengan tanaman, kebun dan bunga-bunga. Konsekuensi lain, saya dicap tidak konsisten sebab dengan begitu saja meninggalkan riset selama 5 tahun pas ketika hampir mencapai puncak karya. Tapi saya tidak begitu peduli. Anak saya lebih utama daripada semua puja-puji umat manusia. Konsekuensi lain, kata beberapa orang hidup saya jadi sedikit membosankan. Sebab harus berhubungan dengan manusia baik-baik dan melakukan hal yang baik-baik saja. Haha…

Sejak saya berganti hobi, dari tukang ojek yang suka cari masalah menjadi tukang kebun wannabe, akhir-akhir ini saya sering mendengarkan orang-orang di sekeliling saya bicara. Hidup di dunia yang berbeda itu butuh adaptasi, mendengarkan adalah kunci. Iseng-iseng saya kumpulkan kalimat paling banyak dan yang paling sering mereka ucapkan. Biasanya, kalimat-kalimat itu lalu menjadi kutipan-kutipan.

Kutipan-kutipan ini dikumpulkan berdasarkan banyaknya kalimat yang diucapkan paling sering/aneh (berdasar frekuensi) ketimbang kalimat-kalimat lainnya yang didengarkan. Atau paling tidak sering diucapkan atau terdengar di telinga (saya). Sama sekali tidak penting. Dan kelihatannya tidak berguna sama sekali, tapi ini cara (saya) mengidentifikasi personal dan ide-ide dibelakang kepala mereka (teman-teman/keluarga/kerabat kerja saya).

Berikut ini kutipan ucapannya:

(*Pengucap hanya dijelaskan tanpa menjelaskan nama asli mereka. Atas alasan privasi. Berikut ini tabel pengucapan kutipan):

Kutipan Pengucap
“Matahari tanpa wibawa” Diucapkan seorang seniman dari penghuni mantan komunitas seni Jogj. Kini beliau tengah naik daun sebab karyanya diburu oleh kolektor seni. Pada sebuah siang di musim dingin, matahari bersinar terik namun suhu menunjukkan angka -7C
“Memangnya kenapa?!” Diucapkan dengan nada mengotot dan mata melotot jika perlu. Sering sekali terlontar jika pendiri salah satu organisasi jurnalistik terkenal ini berbeda pendapat dengan lawan bicaranya. Sangat cerdas dan sangat kritis
“Manusia sering lupa dan bilang kita harus menyayangi alam. Padahal, kita manusia itu sendiri bagian dari alam” Filosof, pelukis dan ahli masak. Lelaki setengah baya yang sering lupa umurnya
“Gua mah kayak cowok. Abis orgasme tidur” Seorang wanita muda dari Indonesia ahli finansial mikro ketika berkomentar tentang perilaku seksual laki-laki vs perempuan
“Oh ya? Begitu yaa?” Kalimat yang sering terlontar dari wartawan senior yang sering meliput perang. Asam garam hidupnya sudah terlalu banyak. Sering skeptis dengan data dan selalu mempertanyakan keabsahannya
“Aku ini sudah capek. Pulang kerja maunya istirahat. Tidak mau lagi dengar masalah. Eh, di rumah selalu saja ada masalah. Gimana aku nggak gila!” Teriak seorang perempuan muda yang bekerja sebagai buruh migran mengomentari keluarganya yang selalu minta uang dan mengeluh soal uang setiap ia telpon ke kampungnya
“Terus.., terus.., terus…” Dalam setengah jam bicara ia hanya mengucapkan kalimat ini berulang-ulang. Pakar gender. Pendengar yang baik. Kadang suka galau tanpa sebab
“Saya takut ke Indonesia. Sebab di sana banyak orang islamnya” Perempuan muda juga. Dari Italia. Pernah bermukim lama di Jepang dan bersumpah bahwa saudara angkatnya, perempuan Indonesia beragama islam, adalah orang yang sangat baik. Ia belum pernah ke Indonesia dan kalimat ini diucapkan ketika ia dijawab harus liburan ke Indonesia saja.
“Hidup itu petualangan. Semua orang juga tahu. Basi. Yang orang nggak tahu itu, jangan terlalu jujur (ketika menjalani petualangan). Yang jadi pertanyaan, apa bener mau berhenti (berpetualang)?” Seorang lelaki muda, pebisnis, penulis dan filosof wannabe menceramahi saya di stasiun kereta ketika bercerita tentang hubungan antara pria dan wanita. Pacaran dengan perempuan di nomor empat.
“Sejak koneksi internet, tivi dan telpon saya putus, saya jadi kenal tetangga dan bartender di seberang jalan” Lelaki Inggris, 42 tahun, bujangan, ahli jaringan komputer
“Jumlah kekayaan itu seharusnya berimbang. Jika ada yang lebih kaya dari yang lain, artinya ia mengambil kekayaan dari kantong orang lain” Wanita. 27 tahun. Punker. Tidak punya pekerjaan tetap. Hobinya hidup menumpang dari rumah teman satu ke teman lainnya
“Ketika lo menguasai satu bahasa baru, satu dunia baru…, kebuka” Orang yang sama di nomor tiga
“Apa salahnya orangtua memanjakan anak. Kalau orang tua tidak mampu terus memanjakan anak, itu salah. Kalau mampu, kenapa salah?” Salah seorang pendiri komunitas seni ketika ditanya mengapa ia memberi subsidi terus pada komunitas seni baru
“Jadi begini…, bukan, bukan begitu…, gini…, eh… gimana yaa?” Pria, menjelang 40 tahun. Bujangan. Tinggal bersama orangtua. Bekerja paling lama 2 tahun di satu tempat. Sambil meremas-remas rambut ketika menjelaskan kisah cintanya yang dalam dalam 20 tahun terakhir, berantakan. Sebagaimana kisah cintanya, rambutnya yang sering dicukur pendek itupun kini sering rontok tumbang ke haribaan bumi
“Api ama asep itu sepaket” Kata seorang ibu-ibu dari Cilincing, Guru SD, ketika menceramahi anaknya yang hidup dipenuhi rumor-rumor tidak jelas
“Saya depresi. Saya mau pulang” Pengakuan seorang petani penggarap. Pria muda beranak satu yang rindu keluarganya dan jauh dari rumah
“Kalau lu membunuh satu pohon, sama aja lu bunuh banyak nyawa. Sebab pohon itu sumber hidup, sumber air, sumber kita” Kata seorang seniman senior sekaligus mantan pelarian politik. Kini jadi arsitek sekaligus petani
“Kalau kita terpaksa harus one night stand, pikir yang bener. Sebab dia harus berguna di masa depan. Jadi kalo kita butuh apa-apa, dia inget masa lalu, sebab kuncinya adalah nostalgia” Diucapkan seorang playboy dari Kebon Nanas, Jakarta. Di sebuah siang di Monas ketika ditanya apa kiat-kiatnya menjadi seorang player yang terus digila-gilai banyak wanita. Saat ini hidup dari tunjangan perempuan-perempuan yang dikibulinya (tanpa mereka tahu satu sama lain)
“Gimana caranya mengetahui kalau cowok kita masih perjaka atau nggak?” Tanya seorang perempuan muda, baru lulus SMU, lugu, asal Brebes, yang tengah berpacaran dengan lelaki dari Yunani. Seorang pendengar menjawab, jika pacarnya berusia tiga tahun, kemungkinan besar masih perjaka
“Saya mencatat omongan orang-orang. Saya jalan-jalan hanya untuk mencatat” Sambil bicara, lelaki muda berambut pirang dari Swedia ini membuka buku tulis dan mengambil pulpennya. Saat ini beliau dirawat di rumah sakit jiwa di Malmö. Katanya mengidap hypomania
“Orang yang kuat gampang terlihat ketika mereka bicara. Bukan dari cara bicara, tapi dari isinya” Lelaki dari Rumania. Bekerja di industri film dewasa sebagai editor dan pendistribusi konten. Mahasiswa teknik informatika. Gitaris. Baru saja diputus pacar. Suka memberi kursus bagaimana tetap tegar, kepada pria-pria yang mengalami disfungsi ereksi.
“Abis aku mau gimana lagi dong? Aku kan juga manusia!” Seorang wanita muda dari Indonesia lulusan sekolah tinggi teknik berprestasi akademis banyak sekali, menjawab dengan pertanyaan ketika ditanya mengapa ia menggoda seorang lelaki Irlandia rekan kerjanya yang beristri perempuan Korea
“Yang penting duitnya. Mau gendut, mau jelek, mau hitam, mau bau, nggak masalah. Yang penting duitnya” Lelaki setengah baya. Tambun. Berkumis. Pandai berhubungan dengan angkutan besar. Berprofesi sebagai penjaja cinta di Jawa dan Bali. Melayani pria dan wanita. Menjawab pertanyaan, apa rasanya menjalani profesi saat ini
“Durhaka itu hanya sudut pandang saja sebenarnya” Bapak dua anak. Petani merangkap pengusaha restoran merangkap pustakawan. Tinggal sporadis di beberapa daerah di pulau Jawa. Berkomentar soal tradisi sungkem
“Orang kalo jatuh cinta suka malu-malu” Seorang tentara khusus, ahli tembak jitu, pengawal RI-1, tanpa-ditanya-tanpa-diskusi tiba-tiba bicara cinta di markas. Komandannya mendelik ketika mendengar ia melontarkan kalimat ini. Ada delapan orang di barak saat itu, tiba-tiba semuanya terdiam
“Abis kalo nggak begituan saya stress” Perempuan muda. Masih SMP. Menjawab waktu diinterogasi di kantor Polres Tanjung Priok. Ketika tertangkap basah mengutil lipstik di supermarket. Orangtuanya keluarga terpandang, jadi tidak diproses. Tidak lama kemudian si ABG ini dipindah ke sebuah pesantren di Banyumas
“Lebih baik kaya sekarang daripada lebih kaya tapi nanti” Presenter televisi infotainment ketika membuka acaranya. Beberapa orang penonton bisik-bisik berkomentar bahwa si presenter tengah melakukan ‘mind fuck’, menggunakan media untuk memperkosa audensinya. Dari sejak jaman sekolah di Depok dulu, ia memang suka memperkosa logika lawan bicaranya
“Domba itu binatang yang cute sekali. Aku mau banget reinkarnasi jadi domba” Suatu sore sambil merokok. Perempuan, 26 tahun, seksi, ahli perangkat keras komputer, bekas tentara IDF ini berkata. Kini tengah berjuang mendapatkan promosi karena efisiensi kerjanya
“Yang penting itu usaha. Ikhtiar yang bener. Soal rejeki, bukan urusan kita” Ustad di Denpasar berkomentar soal bisnis anti hama yang dijalani sejak sepuluh tahun belakangan. Mantan preman Cilincing. Di bahu kanan masih memiliki tatto bertuliskan 100% HARAM. Masih bangga menunjukkan di paha kanan dekat selangkangan ada tatto bergambar hati dan nama pacar pertamanya
“Tetangga yang baik itu adalah tetangga yang menolong tetangganya berbelanja” Seorang kakek dari Turki. Pengusaha meubel kayu. Berkomentar ketika harus membeli barang melalui internet banking dan tidak tahu bagaimana caranya
“Sistem bisa salah. Sebab gangster bisa menguasai negara dan membuat sistem pemerintahan” Kata seorang mahasiswi arsitektur Semarang ketika mendebat temannya yang berdiskusi bahwa sistem pemerintahan RI itu selalu benar dan yang salah adalah oknum
“Radio itu dari awal ditemukan hingga sekarang sama saja. Ketika dibungkus kemasan berbeda mereka menyebut dagangannya radio baru” Seorang mantan CEO perusahaan elektronika multinasional terkenal dari US ketika tengah meyakinkan anak buahnya yang sangat skeptis
“Saya itu ibarat buku yang terbuka. Semuanya saya ceritakan ke sahabat dan orang-orang terdekat saya. Tapi kata suami saya, harus hati-hati dengan informasi. Sebab tidak semua orang itu sama” Kata seorang Ibu dari Swiss beranak balita dua orang ketika berkomentar soal bisnis high tech barunya dan kepada siapa dia harus cerita

Bagaimana? Aneh? Tidak cocok? Tidak penting?

Jangan khawatir. Bukan Anda saja yang bingung. Saya sendiri suka bingung. Tapi itu tidak penting. Yang penting adalah manusia itu berkomunikasi dengan caranya masing-masing. Dengan hasil yang masing-masing berbeda.

Dan saya sudah berbagi dengan Anda.

Jadi, kalau mau berbagi, apa kalimat dari mulut manusia di sekitar Anda yang paling ajaib/sering Anda dengar?

This entry was posted in sehari-hari and tagged . Bookmark the permalink.

6 Responses to Tentang Kutipan

  1. rere says:

    My Bro apa kabar ? sudah menemukan pelangi setelah badai ? hehehe … saya sekarang di KL bro, kalau sempat main yah …. Sukses selalu bro

  2. awaludin says:

    Aa gagah, itu kata istriku. sering aku dengar karena aku sering di rumah dan memuji betapa cantiknya dia.

  3. Wijaya says:

    No 15 itu ibu-ibu yang sedang ngomelin anaknya di No 16 😀
    Pria No 16 itu lalu galau karena sawah ladangnya ada di negri antah berantah dan gak bisa pulang kampung setiap saat dia ingin :)

    *sok teu, hihi*

  4. Pingback: blog auk » Blog Archive » tentang blog bang Aip

  5. sayang bgt mas blog sebagus ini jarang sekali update artikelnya

Leave a Reply