Tentang Narsis dan Bencana Kota Jakarta

(*Maaf karena terlalu personal dan lebay, tulisan seri Tentang Rock Star saya publikasikan ke media lain. Hehe. Terimakasih untuk teman-teman disini yang mendoakan kesembuhan. Semoga kalian disana baik-baik selalu dan bisa kumpul dengan keluarga, sahabat dan tetangga*)

Sudah lama tidak menulis. Iseng ahh, menulis lagi. Hehe…

Jadi begini ceritanya, kemarin itu saya sedang berkomunikasi dengan adik saya si Uul melalui video internet. Sebagaimana tradisi Cilincing kami, tentu saja obrolan tidak jauh dari bercanda saling meledek dan mentertawakan kehidupan sehari-hari kami sendiri.

Gara-gara kuota internet si Uul habis, dan modem yang mengambang di air banjir jadilah obrolan itu terputus. Halah.

Ibu saya SMS tidak lama kemudian isinya: “Ibu seneng liat kamu kayak aripoter sekarang, tapi itu rambut makin panjang aja. Potong gih sana biar ganteng”.

Sambil tertawa saya membalas: “Ibu yang bener aja dong, ini lagi banjir ama bingung soal modem, lah kok ngomongin rambut saya kayak aripoter” (*Harap maklum  lidah betawi beliau lebih biasa melafalkan tokoh sihir Hogwarts Harry Potter dengan sebutan aripoter*)

Ibu balas: “Capek sehari-hari liat banjir mendingan ngomongin rambut kamu”

Saya tertawa ngakak tidak berhenti-henti. Ironi. Satu sisi khawatir tentang banjir, satu sisi lagi tentang pragmatisnya orang-orang kampung Cilincing. Sebuah desa pinggir laut di ujung Jakarta.

Sejenak saya lupa, kalau saya (lagi-lagi) sedang dirumahkan dari kerja memburuh harian akibat kondisi kesehatan yang kembali tidak stabil. Dan saya senang itu. Bisa lupa (atau tepatnya, istirahat) dari himpitan sehari-hari. Bicara dengan keluarga, yang walaupun jurang ideologi sangat mencolok tapi selera humornya sama, jadi penting untuk memulihkan kondisi kesehatan.

Tidak lama kemudian saya berbalas pesan dengan Gugun, adik yang lain. Isinya tidak jauh-jauh dari banjir Jakarta. Gugun tinggal di kampung kecil di ujung lain Jakarta. Ia sedikit mengeluh karena bersama keluarga kecilnya tidak bisa mengunjungi sanak saudara lain akibat transportasi yang sulit di masa banjir ini.

“Gua pengen sih ke rumah Ibu, tapi susah pake motor. Paling bisa pake mobil truk. Tapi mana punya gua mobil truk?”

Anaknya Gugun berusia empat tahun. Lahir di tahun 2010. Sebagaimana generasi yang lahir pada tahun ini di daerah Jakarta dan sekitarnya, mereka terbiasa dengan banjir. Bahkan dianggap sebagai hiburan tahunan, bermain dengan banjir.

Kami warga Cilincing sudah sangat akrab dengan banjir. Kalau musim hujan tiba, jalan-jalan kampung itu tergenang dengan banjir. Ibu adalah guru SD, yang walau banjir tetap mengajar. Anak muridnya, duduk dengan kursi diatas meja. Sebagaimana ia pun mengajar sambil berdiri di atas meja. Sebab itu satu-satunya KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) tetap dimungkinkan. Banjir boleh datang Jakarta boleh tenggelam, kata ibu saya, tapi pendidikan jalan terus dong!

Beberapa tahun lalu, banjir besar melanda Jakarta. Rumah Ibu saya tenggelam. Mereka mengungsi, ke loteng atas rumah. Ibu saya cerita:

“Tadi malem banjir parah banget. Ujannya deres sekali. Ibu ketakutan. Tapi untung ada adek-adek kamu di rumah sama anak-anaknya. Awalnya cuma 15 senti, tapi ujan kaga berenti-berenti. Trus Ibu bangunin adek-adek kamu. Kita ngambil ijasah ama surat-surat penting lainnya. Sama mindahin kompor ama terpal plastik ke loteng. Trus banjirnya naik 30 senti. Ibu, adek-adek kamu ama cucu-cucu Ibu naik ke loteng. Waduh disana banyak tikus juga ngungsi. Kotor banget dah. Udah cucu ibu pada masih bocah bayi gitu nangis ditambah tikus gotnya cicit cuit bikin berisik aja. Tikus segede kucing. Tengah malem buta. Listrik mati. Lah, pas ibu itung, loh kok adek kamu si Ami kaga ada. Ibu cepet-cepet manggil Gugun, nanyain dimana si Ami. Eh buset ga taunya tuh anak masih tidur. Dia mah gila, dia pikir lagi ngimpi. Pas kasurnya basah kebanjiran, dia ambil meja trus ditaro di atas ranjang. Abis itu tidur lagi. Pas banjir udah semeter lebih, dia baru sadar. Bloon banget dah tuh anak, sadar pas tidurnya miring trus kejebur di aer comberan banjir. Amit-amit jabang bayi. Tidur kok sampe kebluk begitu. Pas dia bangon akhirnya udah pada di loteng semua. Ujan masih deres, loteng udah mulai basah. Ibu ketakutan lagi, nanti kalo lotengnya ambruk pigimana? Ini pan loteng rumah tua, kayunya lapuk. Jadi Ibu sama semuanya ngungsi di atap rumah. Udah kayak pengungsi Vietnam. Alhamdulillah ujannya berenti dah udah subuh kira-kira. Ibu masak mi buat adek-adek kamu”

Saya bengong mendengar cerita itu. Terbayang Ibu saya, beserta anak menantu dan cucunya, semuanya berjumlah delapan orang, berjejalan di ujung lancip segitiga loteng rumah. Menangkring bagaikan burung. Saling menutupi anggota keluarga dari terjangan dingin dan hujan, pakai terpal plastik. Dan memasak mi instan dengan kompor minyak. Gila, itu sih akrobat namanya.

Ditambah binatang-binatang pengungsi, macam tikus got, anjing tetangga, kecoak, kucing liar, semut; terbayanglah sebuah cerita epik tentang kapal Nabi Nuh zaman modern, namun dalam versi karam dan terbalik.

Ini bukan keluarga saya. Tapi kira-kira begini illustrasinya. Bedanya sama banjir di Cilincing yang dialami keluarga saya adalah, ada lebih banyak manusia (plus binatang) di atap itu. Ditambah satu sama lain saling pegang terpal plastik biru melindungi dari hujan. Plus ditengah-tengah mereka, ada ibu-ibu yang sedang memasak mi instan pakai kompor minyak tanah.

Ini bukan keluarga saya. Tapi kira-kira begini illustrasinya. Bedanya sama banjir di Cilincing yang dialami keluarga saya adalah, ada lebih banyak manusia (plus binatang) di atap itu. Ditambah satu sama lain saling pegang terpal plastik biru melindungi dari hujan. Plus ditengah-tengah mereka, ada ibu-ibu yang sedang memasak mi instan pakai kompor minyak tanah. (kredit foto untuk deredactie)

Jadi pagi ini. Tepatnya dini hari, saya dan Gugun masih bertukar pikiran lewat pesan-pesan digital. Kami bicara banjir. Tentang pemerintah daerah yang kerja mati-matian. Tentang para politisi pusat yang belaku ugal-ugalan. Tentang harapannya bisa mengunjungi orangtua. Tentang bocah kecilnya yang sudah memiliki mind-set bahwa banjir adalah fenomena alam yang wajib dijadikan arena bermain. Tentang kegilaan warga Jakarta yang berharap datangnya seorang utusan Tuhan yang mampu menuntaskan banjir secepat kilat tapi tetap buang sampah seenaknya. Kami bicara semuanya.

Saya lebih banyak diam dan hanya bertanya. Tak mampu berbuat apa-apa. Paling bisa, kirim uang buat beli makanan siap saji dan pulsa. Tak bisa lebih dari itu. Saya salut dengan mereka yang mengambil tindakan cepat menuntaskan banjir ini. Sama salutnya dengan mereka yang langsung turun tangan membantu korban bencana. Doa saya, dalam diam, untuk para korban dan mereka yang membantunya. Lepas dari itu adalah bagian dari kerja mereka atau sukarela, tetap saja bahagia ada orang-orang yang mau membantu keluarga dan warga Jakarta lepas dari bencana banjir ini.

Tadi malam saya bicara dengan sahabat, Kang Adi. Soal banjir Jakarta. Beliau cerita tentang Paris yang dulunya adalah kota super jorok dan banjir menggenang di mana-mana. Ketika Napelon berkuasa di Perancis, walau diktator dan agak gila, tapi beliau sadar bahwa kota Paris butuh penguasaan terhadap tata kota. Dengan tangan besi, ia memerintahkan arsitek dan insinyurnya, Baron Hausmann dan Eugene Belgrand, untuk membangun jaringan gorong-gorong kota sepanjang 600 kilometer. Gunanya untuk mengontrol air bersih dan air kotor kota Paris. Kang Adi menambahkan, bahwa pekerjaan ini walau dikontrol dengan tangan besi dan bujet tak terhingga, tetap saja butuh waktu 23 tahun.

Saya lalu berbagi cerita tentang air kota New York, sebuah proyek yang sedang dikerjakan oleh teman-teman. Bahwa ini adalah salah satu proyek yang paling lama dan paling eksis di kota itu. Selama manusia di kota New York ada, selama itu pula proyek ini berjalan dan terus berkembang. New York dibangun dalam lapisan. Mirip kota diatas kota. Lapisan paling atas dihuni oleh manusia. Lapis bawahnya oleh jaringan transportasi bawah tanah. Dibawahnya lagi ada jaringan uap, telekomunikasi, gas dan sebagainya. Lalu dibawahnya lagi ada jaringan air. Namun mengandalkan jaringan gorong-gorong, saluran air dan penampungan. Walaupun terlihat kompleks dan rumit, sebenarnya sederhana. Para pendiri kota New York sadar bahwa mereka butuh ruang untuk menyaring air bersih. Maka itu, ada banyak bagian kota New York yang dibiarkan sangat hijau untuk menyaring kebersihan lingkungan mereka.

Tapi tentu kami tidak begitu saja membandingkan Paris (yang sudah ada sejak zaman batu, sekitar 700 ribu tahun lalu) atau New York (yang sudah dihuni  sejak 1524 M) dengan Jakarta (yang baru berapa puluh tahun merdeka). Tentu saja kami tidak berani membandingkan peraturan dan kedisiplinan kota-kota itu dengan kedisiplinan warga Jakarta dalam menerapkan peraturan mereka.

Tidak mungkin memaki-maki orang Jakarta. Sebab untuk saya, ibarat memaki refleksi di depan kaca. Lahir dan besar di Jakarta, serta masih memiliki kartu identitas Jakarta, membuat saya terlihat bodoh memaki diri sendiri pada bayangan refleksi. Hanya sekedar untuk memuaskan jiwa sementara, memaki warga Jakarta (atau mereka yang mengaturnya) jelas membuat saya tidak menjadi lebih hebat daripada lainnya.

Paling yang saya bisa, ketika berkaca di dapur berkata dalam hati “Aku cinta kamu. Aku nggak mau keluargaku hanyut kebanjiran lagi. Aku nggak mau kena penyakit gara-gara air kotor. Aku mau bantu tetangga dan teman-teman menanam pohon dan mendirikan taman jadi kami bisa main bersama. Aku mau ajak jalan-jalan anak di udara pagi bersih. Aku mau bantu siapa saja yang mau mengurangi stress akibat macet. Aku mau kerja keras, karena aku cinta kamu”

Agak narsis memang. Tapi tidak apa-apalah. Hehe.

Sebab mungkin saja kota ini butuh orang yang mencintai dirinya dengan tulus sebagaimana ia mencintai lingkungan tempat tinggalnya.

Namun jika tidak begitu, mari siap-siap kita hadapi Jakarta yang akan jadi rumpon Atlantis baru. Hehehe…

This entry was posted in bangaip. Bookmark the permalink.

5 Responses to Tentang Narsis dan Bencana Kota Jakarta

  1. Amed says:

    Entah kenapa, selalu menyenangkan membaca cerita Bang Aip tentang Ibu. Separah apapun kondisinya, beliau tetap optimis :) . Ditambah bagian ini

    Banjir boleh datang Jakarta boleh tenggelam, kata ibu saya, tapi pendidikan jalan terus dong!

    nendang banget buat saya yang hujan sedikit langsung muncul niat untuk cari-cari alasan datang telat ke sekolah… 😳

    Anyway, semoga lekas sehat Bang.

  2. edratna says:

    Itulah yang menyenangkan mendengarkan logika orang yang sederhana, dalam kondisi susah (banjir) masih bisa mentertawakan situasi yang lain.
    Mungkin itu cara masyarakat perkotaan seperti Jakarta yang sudah capek, agar mampu bertahan.

  3. bunga says:

    Hahaha..itu emang foto narsis banget..

Leave a Reply