Archive for the 'bangaip' Category

Page 5 of 38

Negara Bagian Bola

Seorang rekan kerja saya bertanya keheranan beberapa siang lalu, “Kamu kok nggak pake baju oranye?”

Saya meringis menjawab bahwa saya punya agenda untuk bertemu beberapa orang yang dianggap pabrik cukup penting pas pada jam pertandingan antara Belanda dengan Denmark. Jawaban lainnya, saya memang tidak mendukung satu tim pun dalam kejuaraan piala dunia. Buat saya, pertandingan-pertandingan ini mirip film seri drama aksi di layar televisi. Bedanya, tentu saja tidak sehitam-putih kisah cinta. Tidak ada bandit dan tidak ada jagoan di pertandingan sepakbola. (*Tapi itu sih pendapat saya, yang tentu saja amat sangat bisa diperdebatkan. Hehe*)

Dia menatap saya marah; “Seharusnya tidak ada seorangpun yang menghalangi kamu menonton pertandingan ini!” Lalu mulai menyalahkan pabrik yang semena-mena mengambil jatah waktu menonton sepakbola saya.

Saya cengar-cengir. Rekan saya ini, bukan supporter sejati. Namun buat dia jam rapat saya; yang antara jam satu hingga jam tiga siang itu, sungguh mengganggu. Peduli amat bahwa pertandingan ada pada jam produksi, piala dunia harus jadi prioritas utama.

Ketika saya akhirnya mengalah dan akan mengikuti pertandingan melalui siaran ulang, ia menjawab lagi; “Lebaran itu penting, tapi ada setiap tahun. Natal itu penting, tapi sama aja tetap ada tiap tahun. Ini piala dunia! Sekali dalam empat tahun!”

Saya terbahak mendengarnya.

Bola dalam pertandingan-pertandingan Piala Dunia itu katanya lebih sakti dari tongkat penyihir manapun. Sebab ia mampu membuat jutaan mata terpaku, membelalak, mendesis, berteriak dan lain sebagainya.

Pantas saja, rekan kerja saya ini, yang sama sekali bukan ahli bola, ikut-ikutan tersihir sudah.

Saya? Ahh saya bagaimana yaah?

Kalau boleh sedikit alasan, begini ceritanya. Saya kerja di pabrik dimana manusia-manusia dari segala penjuru dunia ada di sana. Bayangkan saja, negara antah berantah macam Ghana atau Slovenia saja, ada perwakilannya di pabrik saya. Dan sialnya, negara-negara antah berantah itu punya tim sepakbola yang muncul dalam pertandingan piala dunia 2010 kali ini.

Jadi bisa dibayangkan, betapa pabrik saya penuh dengan hiasan bendera, supporter yang memakai kaus kebanggaan negaranya masing-masing. Sliweran hilir mudik dengan santainya sambil dengan bangga mendukung kesebelasan mereka berlaga di pertandingan piala dunia di Afrika Selatan sana.

Saya? Buset dah! Dulu ada dua orang Indonesia di pabrik ini. Entah kenapa, akhirnya tinggal saya semata wayang sebagai WNI yang teridentifikasi di sini. Sialnya lagi, tahun 2010 ini, kesebelasan Indonesia tidak berlaga di piala dunia sana. Jadi, mau dukung siapa dong saya?

Karena beberapa kali di tanya oleh teman-teman bahwa kenapa Indonesia tidak ikut Piala Dunia sepakbola di Afrika Selatan, saya sempat garuk-garuk kepala? Itu pertanyaan yang bagus. Mungkin pertanyaan seharga jutaan dollar. Artinya, untuk menjawab itu mungkin butuh biaya jutaan dollar sebelumnya. (*Misalkan saya menjawab, “oh ya, Indonesia sudah pasti akan berlaga nanti kalau jadi tuan rumah piala dunia di tahun dua ribu sekian” itu artinya biaya APBN akan membengkak gila-gilaan*)

Saking sebalnya ditanya-tanya terus soal piala dunia, akhirnya saya putuskan untuk duduk di tepi taman dekat pabrik bersama seorang rekan kerja yang nampaknya juga tidak punya kesebelasan sepakbola untuk disoraki.

Saya: “Hmhh, emang begini nih nasib kita. Nggak punya tim di Afrika sana”
Dia: “Err, saya dari Guadalupe…”
Saya: “Iya, saya tau. Guadalupe kan pulau”
Dia: “Iya kamu benar. Kami ada di pulau kecil. Tapi kami bagian dari negara Mexico. Dan asal kamu tau, Mexico memberangkatkan tim sepakbola ke Afrika Selatan. Kamu kenapa sih Rip lesu aja?”

Hah! Kampret. Saya kira saya bertemu dengan teman senasib sepenanggungan.

Akhirnya setelah menyelesaikan makan siang (yang mati-matian saya belokkan topiknya menjadi pariwisata pantai daripada terus-terusan ngomongin bola), kami kembali menuju departemen masing-masing.

Sambil membereskan rantang makan siangnya, Si Guadalupe berterimakasih atas obrolan siang itu. Ia bertanya, “Kenapa kamu tidak pakai kaus Indonesia? Ayo dong dukung tim Indonesia di Afrika sana!”

Entah kenapa, saya hanya cengar-cengir menjawabnya. Sebab tidak mungkin saya bilang Indonesia adalah bagian dari Mexico. Hehe.

Tiga Malam Tiga Teror

Saya dapat tiga teror dalam minggu terakhir ini. Saya pikir, saya coba telan semuanya dengan pahit melalui lidah dan lalu masuk tenggorokan hingga di proses di hati dan di perut. Berharap, seiring bersamanya waktu, semua kenangan buruk itu bisa saya buang bersama kotoran di lubang WC.

Sayangnya tidak. Sial beribu sial, saya bukan orang yang mudah lupa. Kadang kenangan pahit memang mudah dilupakan di siang hari. Menyebalkannya, ketika malam tiba; memori buruk itu menjelma jadi mimpi-mimpi menyeramkan.

Daripada jadi mimpi yang membuat teriakan dan keringat dingin, lebih baik saya tuliskan saja di sini. Dan ini berarti adalah semacam peringatan, bahwa tulisan saya kali ini mungkin dapat pula mengganggu anda. Jangan memaksa untuk membaca jika anda adalah tipikal yang sedang mencari kesenangan sesaat dalam membaca. Hehe.

Teror pertama: Tetangga Oh Tetangga

Rumah saya sekeluarga adalah rumah kontrak. Dindingnya menempel dengan tetangga kiri dan kanan. Tidak terlalu tebal. Kami hidup sederhana.

Tetangga kanan saya, sepasang suami istri yang bermasalah. Punya dua anak. Yang kecil, si Santi berumur 8 tahun. Yang besar, si Sonia, berumur 17 tahun.

Masalah diantara suami istri ini semakin hari semakin memuncak. Tiada hari yang kami lalui selain mendengar dari sebelah tembok ketika mereka berteriak saling mencaci maki dengan kalimat-kalimat kasar dan menyedihkan.

Tiap hari, saya, istri dan bayi kami harus ikhlas mendengar mereka saling membanting pintu, menangis, mengutuk hingga menggedor dinding sampai membanting piring. Well, bisa saya bilang, itu bukanlah masa-masa yang indah buat mereka dan juga bukan masa yang cukup menyenangkan buat kami.

Telinga tersiksa.

Singkat cerita, pasutri ini mencoba memperbaiki kehidupan rumah tangga yang telah terbina. Konsultan pernikahan menasihati agar mereka pergi berlibur. Berdua saja sebaiknya. Anak-anak, ada baiknya dititipkan pada keluarga atau sanak saudara terdekat.

Sialnya, keluarga ini memang sudah tidak populer diantara keluarga besar mereka. Tidak ada satupun anggota sanak keluarga yang bersedia dititipi si Santi dan si Sonia. Maka sebagai alternatif, pasutri ini akhirnya membawa Santi untuk pergi berlibur di akhir pekan.

Si Sonia tinggal di rumah.

Sebagaimana remaja yang beranjak dewasa. Si Sonia mulai dong kenal cinta. Normal buat anak sebayanya. Maka ketika sang papa mama dan saudara tidak ada, cowok idamannya pelan-pelan masuk rumah niat indehoy untuk bercinta.

Uuh maaf, maksud saya cowok-cowok. Sebab memang lebih dari satu orang.

Maka teriakan malam hari caci maki di hari kerja, di akhir pekan bisa berubah jadi lenguhan cinta dan hentakan keras ranjang beradu dinding. Well, bisa saya bilang, itu masa-masa yang indah buat mereka namun belum tentu cukup menyenangkan buat kami. Terutama putri saya yang cukup terganggu tidurnya akibat dinding kamarnya pas tepat bersebelahan dengan kamar Sonia.

Istri saya mulai merengut ketika bayi kami susah lelap di malam hari. Apalagi ketika nampaknya mereka menyadari bahwa erangan gelinjang semakin susah dikontrol dan mencoba memutar CD Michael Jackson dalam volume amat keras sebagai samarannya.

Maka untuk mencoba menjadi suami dan ayah yang baik, saya fasilitasi keluhan anak dan istri. Memencet tombol bel pintu tetangga dan mengadukan keluhan pukul sebelas malam. Pada tiga pria muda kira-kira berusia 18 tahun yang hanya mengenakan handuk bertanya apa yang mereka bisa bantu melalui longokan jendela.

Sejak malam itu, tidak lagi ada musik. Michael Jackson nampaknya akan tenang di alam sana. Suara emasnya tidak lagi digunakan untuk membangunkan bayi yang sedang tidur lelap.

Namun anehnya, lelaki muda yang datang semakin banyak saja di akhir minggu.

Puncaknya akhir minggu lalu. Sekitar sebelas pria muda duduk di belakang rumah tetangga. Berteriak-teriak sambil mabuk. Tiga-tiga dari mereka secara teratur masuk dalam rumah bergantian. Sisanya, kembali berteriak-teriak dan membakar api unggun. Diantara yang sudah sedemikian bodohnya (atau amat gembira menantikan gilirannya tiba) melemparkan tabung-tabung bekas hairspray dan cat semprot ke dalam api unggun.

Akibatnya bisa ditebak. Api membumbung tinggi sekali kemana-mana. Bahkan hingga menjilat pagar dan tanaman di belakang rumah kami. Untung saja tidak terjadi kebakaran.

Dan saya yang sudah sedemikian emosinya, hanya dengan mengenakan piyama bergegas akan pergi menggedor pintu mereka.

Istri saya mencegah. Lebih baik panggil polisi kata beliau. Dari jendela, ia sempat melihat beberapa orang anak muda ini mengggunakan obat bius. Dan obat bius itu lekat sekali dengan senjata. Ia tidak ingin kehilangan suaminya yang sok pahlawan menasihati rombongan anak muda bertubuh besar pemabukan bersenjata.

Ia telepon polisi.

Namun sayang sekali polisi tidak datang. Bahkan hingga saat ini. Mereka tidak pernah datang.

Teror Kedua: Unthinkable

Kawan lama datang ke rumah. Setelah mengobrol ngalor-ngidul melepas rindu, tanpa sadar malam telah tiba. Ia harus pergi. Saya pun esoknya harus kerja. Mungkin malam itu lupa, ia meninggalkan sekeping DVD film berjudul Unthinkable dan melalui telpon bilang bahwa saya boleh menontonnya.

Esok sepulang kerja, makan malam, lalu mengantar putri tidur di peraduannya; saya putar film tersebut melalui komputer.

Jalur ceritanya sederhana. Sebagaimana layaknya genre film hollywood masa kini yang sedang populer. Yaitu agen rahasia Amerika Serikat hampir paruh baya jadi jagoannya. Sementara sang musuh adalah teroris muda, Islam dan tentu saja pakai jenggot.

Jalan ceritanya, mudah ditebak. Jagoan menang, musuhnya kalah. Mirip konsep Holywood. Tidak jauh dari sinetron Indonesia. Menjual mimpi. Di mana orang baik selalu berakhir menang dan hidup bahagia hingga akhir hayatnya. Sebagaimana cerita bumbu terorisme lainnya. Jagoan akan mati-matian mencari teroris dan berhasil mengungkap kasus. Masyarakat hidup bahagia setelahnya. Persetan kenyataan berada sebaliknya. Toh dalam film Holywood memang mimpi yang harus dijual.

Well, ternyata saya salah.

Sang teroris ternyata sudah tertangkap. Dan malah setelah tertangkap, film berjudul Unthinkable ini justru baru dimulai.

Si teroris tertangkap. Ia memiliki tiga bom nuklir dan tidak mau memberitahu dimana bom tersebut berada. Maka apapun yang terjadi, tiga bom yang ditempatkan sang teroris itu harus ditemukan.

Cara yang paling mudah, meminta agar sang penebar bom nuklir itu mengaku dimana ia menempatkannya. Dan meminta ia mengaku, bukan hal yang mudah. Saking sulitnya mengorek keterangan dari si pelaku, seluruh agen rahasia Amerika berkolaborasi lalu meminta jasa interogator sewaan agar bisa mendapatkan informasi.

Si interogator sewaan, yang lebih suka dipanggil ‘H’, menjalankan aksinya dengan keji. Dalam sebuah kamar khusus yang dibangun untuk interogasi, ia mengikat si tawanan dalam kursi yang diberi penyengat listrik. Di depan para petinggi keamanan dan di atas tanah Amerika yang mereka pikir menjunjung tinggi demokrasi, ia memotong jari tawanan dan menyiksanya hingga batas yang sukar dipahami.

Sialnya, si tawanan tidak mau mengaku. Hingga akhirnya para agen rahasia itu mendatangkan istri sang teroris pun ia tetap tidak mau mengaku. ‘H’ menyilet leher perempuan malang yang tidak tahu apa-apa itu hingga hampir putus di depan suaminya.

Sial, tawanan tetap tidak mau mengaku.

Hingga akhirnya H berhenti menyiksa si pelaku pemboman. Ia lalu mengambil dua orang anak si pelaku, lalu menyeret dua bocah molang berusia delapan dan sembilan tahun itu ke dalam kamar penyiksaan. Ia tahu, ia tidak dapat mendapatkan informasi dengan cara menyiksa si teroris. Tapi ia yakin bisa, dengan menyiksa dua anak tersebut, ia dapat mendapatkan informasi mengenai tiga bom yang masing-masing mampu membunuh sepuluh ribu orang. Di depan mata para koleganya yang hampr tidak mampu berbuat apa-apa mencegah H beraksi, H hampir menyuntik cairan kimia penyiksa kedalam tubuh dua bocah malang tersebut.

Di bagian ini jiwa saya mulai terteror. Saya bertanya dalam hati, apa yang akan saya lakukan untuk mendapatkan informasi penting yang mampu menyelamatkan puluhan ribu manusia.

Sumpah saya sungguh terteror. Pertama karena film ini penuh darah. Kedua karena dialog-dialognya memang memaksa otak saya bekerja lebih keras daripada biasanya.

Saya tahu, jawaban hitam putih itu mudah. Sejak kecil kita sudah dibebani informasi mengenai ideologi kebaikan seperti “Jangan menghalalkan segala cara” atau ideologi nisbi macam “Tergantung…” atas segala pertanyaan abu-abu.

Maka jika pertanyaannya adalah, “Apakah layak menyiksa lalu membunuh dua orang anak kecil untuk menyelamatkan dua puluh ribu manusia?” Apa jawaban seharusnya?

Malam itu, saya hampir susah tidur. Tetangga sunyi senyap. Anak istri sudah terlelap. Namun sukar sekali mata dipicingkan. Sebab saya bertanya pada diri sendiri, “Sejauh apa yang akan saya lakukan apabila putri cilik saya diancam mati?”

Teror tiga: #Obsat @Aburizalbakrie

Kemarin, kebetulan saya libur dan seharian menjaga dan bermain bersama putri yang masih berusia balita.

Seorang sahabat mengirim pesan melalui telepon, “Obrolan Langsat bakal seru. Ada Bakrie”. Wow, saya langsung menyalakan sambungan WiFi pada telepon dan memantau akun layanan media sosial twitter bernama #obsat (singkatan dari obrolan langsat), akun yang menyediakan laporan langsung diskusi di lokasi.

Sebelum memulai lebih lanjut, Obrolan Langsat adalah sarana diskusi yang dilakukan di Jalan Langsat. Menurut informasi resmi akun tersebut “Obrolan Langsat: Berdiskusi melatih kita untuk terbiasa dengan perbedaan dan keberagaman — dan bukan tidak mungkin dari sana kita memetik sebagian dari kebenaran”. Selain diskusi biasa, obrolan ini berlangsung dengan bantuan teknologi, sehingga bisa dinikmati oleh saya yang jaraknya ribuah kilometer dari Jalan Langsat, Jakarta Selatan

Saya sudah siap memberi pertanyaan-pertanyaan pada Pak Ical (panggilan Aburizal Bakrie, tamu Obrolan Langsat malam itu). Diantara pertanyaan saya topiknya adalah, apa perasaan beliau sebagai Commander-in-Chief Lapindo, orang yang dianggap paling bertanggung jawab dalam bencana lumpur di Sidoarjo, Jawa Timur menyikapi lumpur Lapindo.

Pak Ical tidak langsung menjawab pertanyaan saya. Beliau, sesuai dengan ketentuan yang berlaku, memiliki hak dalam memilih pertanyaan yang diajukan penanya. Tapi tentu saja tidak bisa berkelit ketika hampir semua suara penanya menyinggung soal Lumpur Lapindo.

Namun dalam beberapa pernyataannya, jawaban Pak Ical sungguh membuat saya sedih.

Kenapa saya sedih? Jawabnya simpel; sebab saya kecewa. Yang jadi pertanyaan sebenarnya adalah, kenapa saya kecewa?

Jawabnya sebenarnya lebih simpel lagi. Katanya, kekecewaan itu berangkat dari terpisahnya antara harapan dengan kenyataan. Maka itu, muncul kekecewaan.

Jadi sekali lagi, kenapa saya kecewa?

  • Saya kecewa, Pak Ical mengatakan bahwa lumpur Sidoarjo 80% adalah bencana alam. Harapan saya jelas berbeda. Harapan saya adalah, beliau yang begitu cerdas mau meluangkan sedikit waktunya membaca laporan American Association of Petroleum Geologists (AAPG) dan Centre for Research into Earth Energy Systems (CeREES) yang menyatakan bahwa besar sekali pengaruh kesalahan manusia dalam pengeboran Lapindo dan mengakibatkan bencana di Sidoarjo.
  • Saya kecewa Pak Ical bersikukuh menyatakan bahwa beliau tidak bertanggung-jawab atas korban warga Sidoarjo yang rumah, sawah, masjid, dan seluruh harta benda mereka terkubur lumpur dan sia-sia selama empat tahun lebih. Bahkan mencoba berlindung di balik pernyataan “Tapi karena perintah Ibunda, maka saya harus melakukan ganti rugi”. Harapan saya; Pak Ical yang datang malam itu ke Jalan Langsat ditemani anaknya. Dengan suara mantap di depan publik ia berkata pada anaknya “Nak, manusia melakukan kesalahan dan bapakmu ini manusia. Saya dan teman-teman pemilik Lapindo bertanggung jawab atas tragedi tersebut. Teman-teman, pengunjung, saya bertanggung jawab atas tragedi tersebut dan saya meminta maaf”.

Setiap laki-laki itu tidak harus jantan, tapi sebagaimana para lelaki yang telah menempuh begitu banyak kesukaran dalam hidupnya, semestinya berani bertanggung jawab dan meminta maaf.

  • Saya kecewa Pak Ical bilang bahwa Sidoarjo akan kembali seperti semula sekitar 30 tahun lagi yang kemungkinan bahwa ia pun sudah tidak lagi hidup. Harapan saya; Pak Ical tidak berkata begitu. Apa itu arti ‘kembali seperti semula’, maksudnya kembali ke masa lampau ketika semua warga Sidoarjo hidup bahagia tanpa lumpur panas menyemburkan gas melahap ganas rumah mereka? Setelah 30 tahun, lalu bagaimana? Apakah danau lumpur itu akan jadi sebuah warisan berbentuk dosa kepada anak cucunya?

Lihat… Anda sadar sekarang betapa saya sedang menteror diri saya dengan harapan-harapan palsu. Harapan-harapan tidak wajar yang diantaranya adalah bahwa Aburizal Bakrie, salah seorang terkaya di bumi Indonesia meluangkan waktunya untuk membaca. Atau berperan sebagai ayah yang gagah perkasa di depan putranya. Atau seorang yang dengan amat terdidik yang mampu mengendalikan ucapannya.

Hah! Lihat! Betapa tololnya saya memberikan harapan-harapan itu pada diri saya sendiri.

Tapi saya kagumi mental Pak Ical dan putra beliau Anin untuk datang malam itu ke Langsat. Beberapa orang teman malah menyarankan agar beliau dikucilkan publik?

Dikucilkan? Astaga! Menutup komunikasi dengan pembuat masalah itu sama sekali tidak akan menyelesaikan masalah. Malah semakin menjauhkan kita dari solusi.

Beberapa orang lagi, malah mengatakan bahwa Obrolan Langsat, sarana komunikasi santai namun asik itu, menjadi bahan pencitraan imaji Pak Ical untuk membersihkan namanya dan lalu melaju sebagai calon Ketua Umum Partai Golongan Anu. Well, itu memang analisa konspirasi yang menarik.

Tapi belum tentu benar.

Tidak lama setelah akun-akun melaporkan secara live dari lokasi obrolan dengan Pak Ical. Saya sedih. Saya kecewa. Harapan-harapan saya musnah. Tidak saya temui laporan yang mengabarkan kegagahan, kebijakan dan kasih sayang Pak Ical terhadap manusia.

Publik mentertawainya sebagaimana mentertawakan badut pinggir jalan yang sedang menghibur pengguna jalan yang letih atau mungkin kantuk.

Telepon saya matikan, saya tatap sedih putri saya yang kini sudah berusia dua tahun sedang bermain di bak pasirnya. Saya berkata “Nak, doakan bapakmu. Aku sama sekali tidak ingin jadi sepertinya” sambil menatap akun twitter @aburizalbakrie perlahan hilang di layar telepon.

Sebagaimana hilang pula citra beliau di mata saya. Maka, jika banyak orang yang melihat citra baik Pak Ical malam itu semakin menguat dan berbinar-binar auranya. Percayalah, saya adalah orang yang percaya sebaliknya.

Tiga hari ini saya diteror. Tidak tahu mana yang paling parah; lenguhan perempuan muda yang bercinta dengan sebelas pria mabuk, atau kemungkinan sadisme dan balas dendam dalam jiwa saya, atau seorang pria kaya perlente yang telah menyengsarakan hidup manusia satu kampung secara langsung.

Tiga hari penuh teror. Tiga malam susah tidur.