Monthly Archive for March, 2010

Boikot

Sudah beberapa tahun belakangan ini makin santer gerakan ‘anti-antian’ terhadap negara lain. Di bantu internet, memang tambah memudahkan aksi ini.

Waktu zaman Schapelle Corby dituduh membawa berkilo-kilo ganja ke Bali dan polisi belum mampu membuktikannya, langsung ada gerakan ‘Boikot Bali’ bahkan hingga ‘Boikot Indonesia’ di negara tetangga. Saking parahnya di daerah suburban barat laut Melbourne sana hingga ada sebuah bar yang menempelkan plang papan di depan pintunya ‘No Beers 4 Indonesians
(*Kami nekat masuk. Memesan es teh manis. Tetap tidak dilayani. Bahkan malah dipelototi. Tapi cuek saja nyemil kacang gratis yang ada di depan meja bartender. Hihihi*)

Hingga akhirnya Schapelle Corby ternyata benar-benar seorang ratu ganja, gerakan boikot ini ternyata belum di cabut juga. Alasannya kali itu adalah; Penjara Kerobokan Denpasar Bali tidak layak untuk seorang Corby. Beuh!

Hari berganti, begitupun peristiwa. Ada negara tetangga yang mengklaim sebuah lagu dan tari yang bahkan sudah dilirik anak negeri. Tiba-tiba semua orang kebakaran jenggot. Ramai-ramai pakai batik supaya si negeri jiran tak berani mengklaim lagi. ‘Boikot negeri sebelah’ tiba-tiba jadi trend yang seksi. Ramai-ramai anak muda jadi nasionalis dadakan dengan memakai atribut mencela negeri tetangga. Tiba-tiba, idiom ‘makin nyela tetangga makin gaya’ merambah kemana-mana dan jadi sebuah bangga.

Lalu sebagaimana peristiwa lainnya, orang-orang lupa. Atau mungkin; terlalu banyak di dera masalah dan peristiwa yang nan tak kalah ajaibnya… Jadi dilupakan.

Hingga akhirnya muncul lagi. Ketika Garuda Indonesia ketek sayapnya di jitak Uni Eropa. Sehingga burung-burung besi milik maskapai penerbangan pribumi itu dilarang terbang di langit Eropa sana. Berbagai pejabat negeri tiba-tiba (lagi) berkoar menjadi nasionalis sejati. Ada yang asal bunyi berkata “Ini pasti politis, gara-gara pembunuhan Munir yang belum terungkap maka kita dilarang terbang”.

Politis? Uh! Itu benar-benar asal bunyi. Sebab sebelum di larang, sudah berkali-kali diperingati bahwa Garuda itu gagal memenuhi persyaratan untuk mendarat tepat waktu. Dikiranya, seluruh bandara di Uni Eropa milik bapak moyangnya apa? Pilot-pilot itu main landing seenak jidatnya. Bung, tahukan anda terminal bandar udara itu beda dengan terminal angkot Cilincing, kampung di ujung laut Jakarta sana di mana para sopir mangkal semau-maunya?

Diberitahu begitu, makin merah muka sang pejabat. Sampai-sampai mengeluarkan titah, “Apapun yang terjadi, Garuda kita harus melanglang di langit Eropa. Kalo nggak bisa juga, boikot saja negara yang melarangnya”.

O-o-o… Lagi-lagi ada masalah bisnis yang diintervensi kebijakan negara. Kok yaa tidak berfikir lebih dulu dengan seksama, bahwa kadang-kadang teknisi kita terkenal tukang lupa. Hingga parahnya alpa membersihkan korosi di mesin burung-burung besi kebanggaan (beberapa) anak negeri itu.

Lagi-lagi boikot. Lagi-lagi boikot. Kalau buruh kecil pabrik tekstil di Tangerang sana boikot minta keselamatan kerja dan upah layak, maka semua aparat dituruni untuk mengemplangi para manusia kecil bernasib naas itu. Beuh!

Lalu, sebagaimana sejarah, ini akan tetap berulang terus. 2009, sebuah website terkenal tempat kumpul para seniman tiba-tiba memboikot semua orang-orang Indonesia yang ada di sana. Gara-gara, beberapa orang pencuri (tentu saja dari IP address Indonesia dan memiliki status geografis RI) diam-diam menyikat hasil karya member lain dan lalu dengan bodohnya terang-terangan menjual karya colongan itu, di website yang sama.

Memboikot semua orang Indonesia yang ada di forum?

Hahaha… Tahu darimana dia orang itu adalah WNI atau minimal mengaku orang Indonesia?

Dari IP address? Buset dah, gara-gara beberapa orang maling ber alamat Indonesia tiba-tiba memblok semua karya anak Indonesia? Lagi pula, apakah semua orang yang ber IP address Indonesia adalah orang Indonesia? Hahaha… Gimme a break!

Dari status geografis? Ampun deh, mengganti status geografis di forum itu bisa dilakukan dalam waktu beberapa detik. Toh bisa saja saya mengaku dari Republik Vanuatu.

Dari nama Indonesia. Jadi semua orang yang bernama ‘berbau-Indonesia’ harus di blok? Hahaha…
(*Apa forum website berbasis di California itu berani nge-block Bapak Sehat Sutardja? Ahh Pak Sehat mana mau masuk forum rasis begitu :D Buang waktu ajah*)

Lah terus bagaimana dengan orang-orang Indonesia yang tidak memiliki IP address Indonesia, apakah harus di boikot juga? Aje gile deh.

Boikot pencuri dari Indonesia itu adalah tindakan cerdas. Tapi boikot semua orang Indonesia (atau yang mempunyai penampakan seperti WNI karena mungkin mereka semuanya maling, koruptor, dan sebagainya) jelas adalah tindakan bloon.

Yang terkini, mungkin beberapa hari lalu. Ketika ada pertandingan sepakbola antara kesebelasan sepakbola kebanggaan warga Jakarta, Persija dengan pengocek bola piawai dari Bandung Persib. Hasilnya imbang.

Mungkin karena hasil yang dianggap tidak memuaskan atau alasan tidak penting namun memuakkan lainnya, beberapa supporter Persija, Jakmania memukuli seorang bocah berumur tujuh tahun. Hanya karena, ia anak supporter lawan kesebelasan yang bangga memakai kaus supporter Persib bernama Viking Bandung. Itu anak, babak belur dan bukan hanya kausnya, mata dan pipinya pun ikut lebam membira.

Haruskah kita memboikot para supporter sepakbola asal Jakarta tersebut? Sebagaimana niat kita memboikot bonek supporter sepakbola dari Surabaya?

Well, hati kecil saya berkata iya. Namun ketika melihat bahwa dari ribuan manusia pendukung sepakbola tersebut sebagian besar adalah orang-orang biasa yang mencintai sepakbola daerah lokalnya, maka nurani pun berkata berbeda.

Jika ada beberapa orang beratribut islami melakukan tindakan tolol luar biasa dengan membunuh manusia lain atas nama tuhan yang mereka percayai, tidak menjadikan semua orang islam adalah pembunuh yang tolol. Sebagaimana hanya karena satu dua yahudi menjadi pencuri tidak selayaknya kita mengirimkan mereka semua ke kamp konsentrasi.

Maka, apabila solusi yang di rasa paling tepat adalah supporter klub sepakbola Jakarta menindak koleganya yang berbuat tak senonoh pada bocah Bandung berusia tujuh tahun. Maka sudah sepantasnya kita memboikot ‘kolega’ kita yang bawa-bawa nama ‘kami’ hanyak sebagai alasan untuk menzalimi.


Kursus HTML untuk Ibu-Ibu Senior

Saya baru saja memberikan kursus sejenak (iya, dinamakan sejenak karena hanya sekitar 32 menit) kepada ibu-ibu.

Kursus ini cukup luar biasa buat saya, sebab:

  • Untuk mengadakan kursus ini, kami sudah harus membuat janji di sela-sela waktu yang ada. Dan mencari waktu yang kosong antara saya dan ibu-ibu ini memang susah sekali. Jadi setelah 1 tahun mengendap, kursus ini baru terealisasi.
  • Akibat semua peserta dan pemberi materi adalah manusia yang agak tipikal tingkat kesibukannya tinggi (sebab semuanya sudah berkeluarga, hehe) jadi waktu 1 tahun itu banyak habis untuk mencari kelengkapan birokrasi dan bla-bla-bla sebagainya.
  • Pesertanya kebanyakan ibu-ibu yang sudah berusia 45 tahun ke atas (senior dalam usia). Diantaranya malah ada yang sudah punya cucu :)
  • Kursus ini adalah kursus HTML. Targetnya, agar para ibu-ibu itu mampu membuat newsletter atau email berbasis HTML.
  • Mereka ikut kursus karena mereka mau memiliki ilmu lebih banyak dan lebih baik sehingga bisa improvisasi diri.
  • Kursus yang dijadwalkan setiap jumat pagi ini niatannya adalah sekitar 1 jam penuh. Namun karena antusias dan daya tangkap yang baik dari para peserta, mampu selesai dari setengahnya saja.

Begitu selesai, saya langsung posting ini untuk menyatakan rasa kekaguman.

Salut saya sama ibu-ibu ini. Walaupun sudah berumur dan punya banyak tanggung-jawab di rumah maupun di kantor, masih saja tetap mau belajar. Nampaknya saya harus mencontoh mereka.

Apa yang saya berikan hari ini sebagai materi kursus HTML adalah:

  1. Apa itu server, localhost dan webserver
  2. Apa itu File Transfer, FTP client, FTP server, scripts dan tags dan bagaimana mendapatkan FTP client yang baik, lintas platform sistem operasi dan gratis (saya rekomendasikan Cross FTP)
  3. Apa itu browser, browser yang baik untuk test dan browser apa yang kuat di pasaran wilayah pasar kami
  4. Apa itu HTML dan pernik-pernik yang menyertainya. Tidak lupa sedikit memberitahu mengenai kegunaan HTML 5 di masa depan
  5. Belajar menulis “Hello World” dan menjelaskan fungsi tag yang ada di dalamnya
  6. Mengenalkan basis style paragraf

Hasilnya lumayan. Mereka semua bisa membuat halaman ‘Hello World’, transfer data via FTP di localhost dan test crossing browser pakai IE6, IE7, Firefox dan Safari.

Not bad at all…

Pagi ini, walaupun sarapan cuma dengan pisang dan tomat kecil-kecil. Saya bangga sama mereka dan juga pada diri saya :D

Server Berbasis Telepon Genggam

Sejak tahun 2006 saya mengikuti perkembangan implementasi server pada perangkat telepon jinjing (mobile phone). Entah kenapa, saya sempat bermimpi, bahwa suatu hari akan memiliki mobile server. Bentuknya ringan, mudah di akses, aman, hemat energi, harga terjangkau dan ringkas penempatan.

Kenapa saya bercita-cita punya server mobile?

  1. Saya ingin punya server personal khusus untuk berbagi data tapi saya tidak mampu membeli server rack U. Entah unit berapa, pokoknya(tm) semuanya terlalu mahal untuk kantong saya
  2. Ketika main-main ke datacenter di Haarlem waktu jaman sekolah dulu, ternyata sewa tempat menaruh server rackmount itu mahal banget. Di Antwerpen parah, lebih mahal lagi. Doh!
  3. Di datacenter, server didinginkan dengan chiller water cooler. Bahkan kadang agak edan pakai nitro. Belum lagi backup listriknya, biasanya pakai mesin diesel diatas 1500 KVA (contohnya si EVO ini). Semuanya boros energi
  4. Punya server itu artinya makan tempat. Andaipun dipaksa punya server pribadi di gudang rumah, yaah harus pandai-pandai pengaturan udara dan penempatannya. Dan saya belum sepandai insinyur-insinyur dari Utah Datacenter, Hewlett-Packard dan Google dalam mengatur pengaliran udara pendingin pada server

Jadi sekarang mengerti kenapa saya ingin punya server mobile?

Tapi pertanyaan selanjutnya yang paling penting adalah, “apakah bisa menjadikan telepon genggam menjadi server?”

Jawabannya banyak. Sebab server memang harus mumpuni. Loh wong mau diakses orang banyak atau diakses dari jarak jauh, yaa harus mumpuni, tho!

Tapi apa kategori server mumpuni. Mari kita telaah satu-satu beberapa jawaban di bawah ini;

  • Hardware / Perangkat Keras

Ini mah bukan rahasia, kalau makin tinggi processor makin bagus kecepatan dan daya olah server. Pada saat tulisan ini dipublikasikan (Maret 2010), server dengan spesifikasi berikut (Quad Core Intel Xeon X3430 Lynnfield 2.4 GHz 8MB-cache Quad Core Processor – 8 GB RAM – 1×500GB HD – 10000GB (10TB) Bandwidth – 8 Ip’s – Remote Reboot) adalah dedicated server terbaik yang ada di pasaran.

Perangkat keras pada telepon genggam memang belum mencapai angka sefantastis di atas pada saat ini, namun sudah menunjukkan arah yang lebih baik. Di pasaran, saat ini bahkan telah ada telepon genggam dengan kecepatan 1 Ghz (Gigahertz) dan mampu menyimpan kapasitas storage hingga 48 Gb (gigabyte)

  • Sistem Operasi

Saya pribadi, di rumah memakai distro Linux (CentOS atau Ubuntu) sebagai basis OS server. Sedangkan di kantor memakai Windows 2003 R2 sebagai basis sistem operasi server. Dua-duanya, tentu saja dipilih karena alasan tertentu. Pada intinya, gabungan antara efisiensi dan efektifitas kerja.

Beberapa orang menggunakan Free BSD sebagai landasan sistem operasi server mereka. Sebab sistem operasi berbasis BSD diyakini amat stabil dan telah sukses melayani banyak server.

Di perangkat lunak jinjing, sepengetahuan saya sudah ada empat sistem operasi yang mendukung pengembangan server sejak 2007. Mereka adalah Symbian (pada basis S 60 di Nokia), Windows Mobile (versi Pocket PC 5 ke atas), lalu iPhone OSX (pada iPhone) lalu Android (berbasis Linux).

Beberapa server khusus memang saya pernah dengar, seperti Pixo. Namun jika sayangnya Pixo hanya di buat untuk spesifikasi khusus seperti download ringtones saja. Maka tiga sistem operasi di atas sudah terbukti bisa menghandle WebDav dan transfer HTTPD.

  • Perangkat Lunak / Software

Saya jatuh cinta dengan LAMP. LAMP sendiri istilah yang merupakan singkatan dari Linux, Apache, MySQL dan Perl/PHP/Phyton. Mereka merupakan sebuah paket perangkat lunak bebas yang digunakan untuk menjalankan sebuah aplikasi secara lengkap. Biasanya saya pakai dalam menjalankan server berbasis web (internet). Dari LAMP sendiri, Apache memegang peranan penting sebagai web server.

Dalam OS Symbian, produsen telepon genggam Nokia mengembangkan Raccoon, Mobile Web Server dan PAMP, singkatan dari Personal Apache MySQL PHP sebagai perangkat lunak server mereka.

Android, sistem operasi yang dirintis oleh raksasa mesin pencari Google dan Open Handset Alliance, telah memiliki i-jetty. Ijetty adalah web server sumber terbuka (opensource) yang dapat berjalan di Android. Kelebihannya adalah memiliki akses ke API Android, ini berarti Anda dapat membawa/melihat isi ponsel ke browser desktop normal. Dalam tampilan monitor komputer. Katanya, i-Jetty ini makin hati makin stabil.

Sementara iPhone OSX memiliki serverman, sebuah perangkat server yang dikembangkan oleh FreeBit. Dinamakan serversman katanya di adaptasi dari ‘WalkMan’, perangkat pemutar kaset yang sempat populer di tahun 80-an dulu.

Yang menarik dari serversman adalah ternyata ada perangkat lunak bernama sama dan gratis berbasis Windows Mobile bagi pengguna smartphone berbasis Windows. Artinya, bagi pengguna telepon jinjing berbasis Windows Mobile pun tidak ketinggalan dapat membuat handphone mereka menjadi web server.

Sekian segini dulu. Besok-besok saya sambung lagi (kalo inget, hehe). Maap pemirsa, waktu saya usai sudah hari ini. Hehe. Namun kalau anda penasaran seperti apa server yang bagus, maka klasifikasi di bawah ini patut diperhitungkan.

  • Jaringan

Apakah 3G atau 3,5G atau HSDPA atau UMTS atau EDGE atau GPRS atau apalah sebutannya, yang pasti untuk jadi server memang harus punya jaringan yang stabil. Maka itu, nampaknya harus dipilih-pilah penyedia jasa telekomunikasi yang mampu menawarkan kestabilan koneksi. Jadi bisa sesumbar 99.99% uptime garansi. Hehe

  • Aman

Karena server berbasis telepon genggam ini ringkas, maka memang memudahkan untuk dibawa-bawa kemana-mana. Di sisi lain, membuka peluang lebih besar di embat maling atau dipijit-pijit tombolnya oleh anak anda. Hehe. Maka itu, hati-hati.

  • Bisa Di Upgrade

Ini yang berat. PC masih kita bisa bongkar pasang ganti RAM, Mobo atau processor. Kalau telepon genggam, nampaknya masih susah. Maka itu, kita doakan di masa depan ada handphone yang hardwarenya bisa dioprek.

  • Gampang Dikustomisasi

Kebutuhan client makin lama makin membesar. Maka itu OS maupun perangkat lunak di mobile server semestinya memang mudah untuk dikostumisasi. Jadi bisa ditambah atau dikurangi sesuai kebutuhan.

Saya harap, dengan membagi mimpi ini, anda juga ikutan bermimpi seperti saya. Dan lalu seperti kata John Lennon, “You may say that I’m a dreamer. But I’m not the only one”

Hihihi

Otherwise… I hope someday you’ll join us :)

Tolong! Saya Dipukuli Suami. Terus Bagaimana Dong?

(*Beberapa nama dalam tulisan ini bukanlah nama sebenarnya*)

Kata beberapa orang rekan kerja, sudah beberapa waktu belakangan ini saya terlihat murung ketika makan siang. Saya memang tidak bisa menyembunyikan kegelisahan yang tengah saya alami.

Adik saya yang bungsu, si Uul mengabarkan bahwa sahabat yang sekaligus tetangga saya, Fatimah, seorang ibu berputri tiga, dihajar habis-habisan oleh suaminya. Suatu hari suami Fatimah pulang ke rumah. Dalam keadaan emosi. Menurunkan kalimat kotor cercaan dan pukulan pada istrinya. Di depan ketiga anak mereka (yang paling tua sembilan tahun yang paling kecil empat tahun). Di depan Ibu Fatimah. Dan di depan adik Fatimah. Fatimah di hajar sabuk pinggang hingga lebam-lebam.

Fakta bahwa pemukulan itu bukan kejadian yang pertama dan pekerjaan sang suami adalah seorang penegak hukum, sungguh amat membuat berang. Siapa saja yang mendengarnya, tentu akan marah. Ini memang mirip film India. Tentang suami yang doyan selingkuh. Tentang suami yang menjadi penegak hukum dan sering beroprasi penyamaran dalam dunia hitam. Lalu ketika pulang ke rumah, menjadikan istrinya bak penjahat yang harus di aniaya dan di siksa. Bedanya ini tidak terjadi di film, apalagi film India. Ini terjadi di Indonesia, tepatnya di kampung saya; Cilincing tercinta.

Empat jam setelah kejadian. Adik sang korban mencurahkan isi hatinya pada Uul. Dan lalu, Uul jelas melapor pada kakaknya. Karena dia tidak tahu kemana lagi harus mengadu. Sebab sang korban adalah sahabat dekat kakaknya semasa SMA.

Begitu dapat telepon dari Uul, saya jelas amat kecewa. Di sisi lain emosi betul rasanya hati ini.

Namanya juga saya orang Cilincing sih dan peristiwa ini melibatkan orang Cilincing. Maka langkah pertama yaa kontak teman-teman Cilincing saya. Namanya emosi jiwa, apapun yang saya katakan memang dibalut emosi dan tentu saja itu hal yang tidak bijaksana. Sebab sahabat-sahabat Cilincing saya memang jauh lebih ajaib dibandingkan dengan saya kalau sudah emosi. Beberapa orang diantara mereka bilang, “Ngepet…, mentang-mentang dia (si suami) polis kali bisa maen gampar bini seenaknya! Si bajingan itu lupa kali di Cilincing bukan cuman dia doang yang punya pestol!”

Setelah diomeli oleh istri (*iya istri saya marah betul mendengar pembicaraan antara saya dan teman-teman Cilincing. Ia takut suaminya ikut campur dan jadi otak dalam tindak kekerasan*) akhirnya saya sadar bahwa kekerasan memang benar-benar tidak bisa diselesaikan dengan kekerasan.

Akibat kasus ini melibatkan penegak hukum dan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), dua hal yang saya akui saya tidak pandai menganalisanya. Maka saya melakukan riset terlebih dahulu. Dengan berupaya kontak beberapa teman yang berada dekat lokasi kejadian perkara. Diantara mereka kebetulan terkenal karena keahlian spesifik mereka. (*Pada waktu ini, sumpah mati saya bersyukur bahwa teman-teman saya bukan hanya makhluk berangasan saja. Para pemarah. Namun banyak juga yang orang baik dan tidak segan membantu*)

Bang Rere, seorang polisi yang kebetulan juga mantan anak tongkrongan Cilincing, menyarankan agar sesegera mungkin dilaporkan ke kantor polisi terdekat. Saran dari beliau adalah:

  1. Lakukan visum sesegera mungkin. Sebab nanti kalau sudah sembuh lukanya alat bukti hasil visum bisa samar
  2. Dan apabila dihalang-halangi (karena pelaku adalah oknum anggota polisi) lalu proses pengaduan yang tidak dikerjakan/ diperlambat. Bisa di jamin Polri tidak berani, karena sudah merupakan program dari Kapolri untuk menanggapi setiap laporan. Namun kalau masih benar-benar tidak ditanggapi; maka solusinya amat mudah caranya… Yaitu layangkan surat/pengaduan ke divisi Propam (profesi dan pengamanan) Polda Metro jaya ditembuskan ke Polres terkait
  3. Untuk KDRT, laporkan pada Polres lokal. Sebab di sana sudah ada unit Perempuan dan Anak yang diawaki kebanyakan oleh Polwan
  4. Kalau masih dipersulit juga, saya diberi nomor telepon beliau (*Dan karena alasan privasi, tidak akan saya sebar ke publik, hehe*)

Dari Imam yang pada waktu kejadian ini berprofesi sebagai pengacara menyarankan agar:

  1. Menghubungi Mbak Ratna (Ratna BM) yang menjadi inisiator LBH Apik. Nomor telepon LBH apik adalah 021-87797289
  2. Karena kejadian ini di JKT, segera hubungi RSCM (Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo) dimana mereka juga memiliki layanan pengaduan dan konsultasi (istilahnya women crisis centre) yang buka 24 jam
  3. Melihat tulisan Dinda mengenai alamat kontak untuk pengaduan kekerasan dalam keluarga di beberapa tempat di Indonesia

Sementara Loli, sahabat saya yang ahli pendampingan terhadap korban menyarankan agar Fatimah diajak ke

Yayasan Pulih
Jalan. teluk peleng no 63 A Rawa Bambu Pasar Minggu
telp. 78842580 hotline: 98286398, 0888-1816860

Agar bisa di bantu didamping dalam melewati masa-masa sulit ini.

Dengan sejumlah jaminan ini dan beserta banyak dukungan lainnya dari beberapa teman yang peduli, maka saya sampaikan kabar dan data ini kepada Uul. Pada intinya satu, menyarankan agar Uul memberi sejumlah data ini kepada Fatimah atau anggota keluarga Fatimah lainnya. Jadi Fatimah bisa keluar dari neraka yang saat ini bernama rumah tangga.

Setelah menyempaikan kabar tersebut, sehari saya tunggu jawaban dari Uul. Masih belum ada jawaban. 36 jam setelah kabar ini turun, masih belum ada jawaban. Saya gelisah. Saya takut. Dalam hati berdoa semoga hal buruk tidak semakin parah menimpa Fatimah. Maka ketika 48 jam berlalu sudah, saya putuskan untuk menelpon Uul.

Yang menerima bukan Uul, melainkan Ibu saya. Jawaban beliau, benar-benar anti klimaks. “Udah kamu nggak usah ikut campur. Itu rumah tangga orang”

Saya kecewa. Pertama karena yang menerima bukan Uul. Yang kedua, mengapa alasan “Urusan dalam rumah tangga” menjadi sebuah ayat suci yang tingkat hukumnya sedemikian tinggi sehingga tidak bisa dipertanyakan lagi bahkan ketika kekerasan sudah melanda rumah tangga tersebut? Yang ketiga, saya benar-benar kecewa Ibu meminta saya berhenti di tengah jalan.

“Ibu gimana sih! Ini bukan masalah rumah tangga lagi. Ini kriminalitas! Bukan lagi urusan rumah tangga. Sekarang kita masih syukur sebab si Fatimah masih idup. Coba gimana kalo besok-besok nyawanya nggak ada? Kalo kita diem dan besok-besok dia meninggal dihantem suaminya, kita dosa, Bu!”

Ibu itu relijius. Saya harap kalimat saya bisa mengubah pendpaat beliau. Walaupun sebenarnya sungguh menyesal saya menghardik Ibu dan membawa-bawa kalimat dosa. Dua hal yang tidak perlu.

Ibu diam sejenak. “Ibu udah ngomong ama Fatimah. Dia nggak mau dibantu. Dia takut suaminya masuk penjara. Kata dia kalo polisi masuk penjara kasian, digebugin terus”

Saya diam lama sekali mendengar itu. Lalu dengan pelan saya tanya lagi, “Ibu berani jamin dia nggak apa-apa?”

Ibu mengiyakan di seberang sana.

Namun entah kenapa, saya masih masygul. Bisa jadi karena si bedebah pemukul perempuan itu masih berkeliaran dengan bebasnya. Atau bisa jadi karena kecewa mendengar sahabat saya Fatimah yang mati-matian melindungi suaminya seakan tidak ada lagi pilihan di muka bumi ini. Atau bahkan saya kecewa karena saya tidak ada di sana untuk memastikan mata kepala saya bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Malam itu yang ternyata bukan hari keberuntungan saya, nampaknya harus semakin tabah menerima rasa kecewa.

Sebelum tidur saya baca status facebook dari seorang sahabat, “Ado kurang ajar. Ga mao denger kata orang tua. Terpaksa gua maen tangan”

Ado itu anaknya. Tidak mau bangun untuk ibadah di pagi buta. Ibunya, sahabat saya, murka (atau khilaf, sebut saja terserah anda). Hingga bocah lelaki berumur enam tahun itu merah pipi ditampari.


Kanker Penggertak Buruh

Profesi saya ini buruh kecil biasa. Kerjanya ya begitu deh, memburuh.

Namanya juga buruh, kalau untung dalam bekerja, lumayan deh, bisa pergi pagi pulang petang. Lalu makan malam bersama keluarga. Kalau tidak untung, bisa pergi pagi-pagi buta lalu pulang larut malam. Tidak bisa makan malam bersama keluarga. Tidak bisa menerima ciuman sayang dari putri maupun istri ketika pergi atau pulang kerja. Tidak ada lampu menyala di rumah ketika saya sampai di rumah. Sebab semua orang sudah tidur. Namun lebih tidak untung lagi, kalau masa perburuhan kadang bahkan mengharuskan untuk berhari-hari meninggalkan rumah. Seringkali di landa badai rindu terhadap keluarga. Kangen.

Tapi namanya juga nasib, yaa dijalani saja apa adanya.

Sebagaimana proses lainnya proses perburuhan ini tentu saja memiliki efek samping. Diantaranya efek letih dan lelah setelah pulang bekerja. Efek ini, efek yang wajar tentunya. Yang (mungkin) tidak wajar adalah saya mencari penyaluran efek ini dengan bermain facebook. Ealah! Kok yaa enak sekali bermain facebook kalau sudah selesai pulang bekerja atau ketika jauh dari rumah.

Dari facebook, bertemulah saya sahabat-sahabat lama (atau baru) yang sudah beberapa tahun tidak berjumpa. Lalu ketika bersua di dunia maya, senang sekali hati saya rupanya.

Kami bercanda-canda. Sama seperti dahulu. Lepas begitu saja. Gembira.

Yang saya tidak sadar adalah, bahwa manusia itu berubah. Dan itu mungkin ketololan awal saya yang akan diceritakan dalam tulisan kali ini. Saya lupa bahwa manusia itu berubah.

Becanda saya, mampu dikategorikan sebagai becanda dengan umpatan-umpatan kasar. Atau bahkan menyinggung masa lalu yang pernah terjadi diantara kami para sahabat lama. Saya pikir, dengan melontarkan kalimat canda begitu mampu menggiring kami kembali ke masa lalu. Mentertawakan kejadian masa lalu itu menyenangkan. Obat setelah capai memburuh.

Tapi buat siapa?

Contoh: Dulu teman kami belajar naik sepeda. Sebut saja namanya si Fulan. Pada usia menjelang 18 tahun ia baru memulai belajar naik sepeda. Artinya ia sudah cukup dewasa. Suatu ketika ia jatuh ketika belajar. Semua yang melihatnya tertawa. Tapi apakah ia yang jatuh dari sepeda tertawa? Ia nyeri saat itu. Ia tertawa. Meringis. Tapi belum tentu tertawa karena merasa itu lucu. Ia mungkin tertawa menutupi malu.

Dan lalu bertahun-tahun setelah kejadian itu. Semua orang lupa. Lalu facebook pun tiba. Semua manusia berkumpul lagi. Diantaranya komunitas lama, para pengejek pesepeda. Lalu ketika sebuah foto akhirnya muncul, si Fulan yang tengah naik sepeda dengan lepas tangan, kenangan lama pun timbul pula. Kami semua berlomba-lomba mentertawakan fulan. Melalui status komentar foto facebook.

Bedanya, kali ini si Fulan tidak tertawa. Ia marah sekaligus kecewa.

Mungkin karena sudah terlanjur mengejek dan tinggi hati untuk meminta maaf, maka para pencela ini (yang sialnya termasuk diantaranya adalah saya) pun makin keras melancarkan arogansinya. Bahkan ada diantaranya menuduh si Fulan ‘terlalu sensitif, gitu aja kok marah!’ Sebuah statement yang luar biasa dungu. Ketika diberitahu untuk memperbaiki kesalahan, bukannya dijalani malah menantang balik.

Akhirnya si Fulan pergi dari grup kami. Komunitas para bully. Ia menjauhi teman-temannya yang ternyata para penggertak yang tinggi hati.

Lepas dari ‘Tragedi si Fulan’, kami semua kasak-kusuk. Mencoba menenangkan diri bahwa semua baik-baik saja. Bahwa si Fulan lah yang salah. Meyakinkan hati kami yang dungu, bahwa toh si Fulan dari dulu memang layak dicela.

Dua hari setelah kasus Fulan, saya dapat kabar ajaib. Kabar duka. Salah seorang paman terkena kanker. Sudah parah stadiumnya. Dan masalah si Fulan pun jauh terlupakan.

Akhir minggu itu rencananya saya, istri dan anak mau ke danau yang ada di dekat rumah. Sekedar jalan-jalan bersama di tepinya. Namun niat itu diurungkan. Kami semua akhirnya menengok ke rumah paman. Sekedar untuk melihat beliau ketika masih hidup dan mungkin syukur-syukur bisa menenangkan hatinya.

Ketika akhirnya tiba, saya lihat paman terbaring di tempat tidur. Dia kelihatan sakit sekali. Kata bibi, kanker sudah mengerogoti seluruh sel-sel darahnya. Di kamar itu, saudara sepupu saya duduk di samping tempat tidur. Memegang tangan ayahnya.

Paman sudah susah untuk konsentrasi mendengar orang bicara. Namun begitu melihat putri saya, ia sempat melemparkan seutas senyum pada kami semua. Saya sendiri tidak begitu banyak bicara. Walaupun saya memilih untuk tidak percaya hal-hal gaib, entah kenapa kamar itu memiliki aura yang berbeda. Muram. Seakan malaikat maut menggelayut di jendela.

Sebelum pulang, saya sempatkan berbisik ke telinga paman. Sebuah cerita bodoh ketika saya tidak bisa buang air besar selama lebih dari seminggu. Entah kenapa saya cerita hal yang menjijikkan tersebut kepada orang yang akan nafasnya tengah kembang kempis menahan sakit? Mungkin karena bermaksud untuk melucu. Menghiburnya. Sekedar berbagi senyum sebelum ajal tiba. Untungnya, ada lagi senyum muncul di wajahnya.

(*Istri saya sempat bertanya, apa yang saya bisikkan sehingga paman senyum. Saya tidak jawab. Malu… Hehe*)

Beberapa hari setelah kejadian itu. Paman menghembuskan nafas terakhirnya. Sesuai pesan beliau, jenazah dikremasi. Lalu abunya dikubur di pemakaman milik keluarga.

Beberapa hari pulang dari pemakaman beliau, kami sekeluarga dikejutkan lagi berita ajaib lainnya. Ayah kakak ipar saya (yang bukan mertua) ternyata pula kena kanker dan sudah mencapai stadium akhir.

Saya bingung. Istri pun bingung. Jangankan kami, mertua saya dan bahkan ibu saya pun ikut bingung. Kok yaah ini tiba-tiba seperti musim hujan telah tiba. Bedanya, yang tercurah bukan air, melainkan penyakit kanker dan kabar duka.

Karena kebanyakan para penderita kanker ini datang dari keluarga istri. Maka gundah gulana lah istri saya. Ia takut, khawatir kalau penyakit ini adalah penyakit warisan. Ia takut jika suatu hari ia menjadi salah satu korbannya. Namun lebih takut lagi jika putri kami yang terkena.

Maka tugas saya menenangkan hatinya. Sedihnya, akibat pekerjaan sebagai buruh yang menyita waktu, saya tidak bisa terlalu lama mendengarkan curhat emosi beliau. Jadi pagi itu, saya sarankan agar ia berbicara dengan tetangga kami, Mbak Isa. Seorang ibu muda yang hampir sebaya dengannnya dan memiliki dua anak perempuan yang manis dan lucu. Mungkin saja mereka bisa saling berbagi dan menasehati.

Hari itu, saya rupanya tengah beruntung. Setelah bekerja lebih keras daripada biasanya, pekerjaan di pabrik sudah selesai sebelum matahari terbenam. Jadi saya bisa pulang untuk makan malam dengan anak dan istri.

Pada makan malam, terjadilah komunikasi antara kami

Saya: “Apakabar Mbak Isa?”

Istri saya diam tidak menjawab pertanyaan saya. Mukanya agak keruh. Saya kaget juga melihatnya. “Kamu mau ganti topik?” Saya tanya kembali.

Dia masih diam. Namun akhirnya bicara juga, “Mas Aji, suaminya Mbak Isa. Kamu kenal kan?”

“Kenal”

“Umurnya berapa?”

Saya pikir Aji lahir di tahun yang sama dengan Gugun, adik saya, “Hmhh, yaah kira-kira nggak jauhlah dari saya. Lebih muda setahun atau dua tahun. Kenapa ama si Aji?”

“Aji kena kanker. Parah”

Dug! Jantung saya berdetak lebih keras daripada biasa. Saya berhenti menyendok makanan. Astaga, bukankah Aji masih muda. Anaknya yang paling tua berumur tujuh tahun. Satu lagi, masih seusia putri saya Novi Kirana, hampir dua tahun. Kok masih muda begitu bisa kena kanker ganas?

Saya sedih. Namun mampu menyembunyikannya. Sayangnya, istri saya tidak bisa. Putri kami yang sedang belajar makan bayam termangu menatap mamanya yang melamun di meja makan.

Ia menatap saya sebentar lalu bertanya, “Kenapa sih banyak orang baik mati muda?”

Saya diam di tanya begitu. Jelas saya tidak tahu apa jawabannya. Maut toh seringkali datang secara tidak terduga. Apa yang saya ketahui tentang maut sungguh sedikit.

Acara makan malam tidak lama kemudian berakhir dengan masygul.

Ketika saya mencuci piring, istri saya datang sambil menggendong Novi Kirana. Ia bertanya, “Bagaimana yaah kalau yang kena vonis kanker itu kamu? Apa yang harus saya lakukan? Apa yang akan kamu lakukan”

Saya menatapnya lama sekali. Tangan kanan masih memegang sikat dan sabun. Sumpah saya tidak tahu apa yang harus saya katakan untuk menjawab pertanyaannya. Ah! Betapa saya suami yang tidak pintar.

Di rumah samping kami sebentar lagi Mbak Isa akan menjadi janda. Iya yaah, bagaimana cara dia membayar kredit rumah? Bagaimana nanti anak-anaknya kalau Mas Aji meninggal? Bagaimana… Bagaimana… Dan sejuta bagaimana berkelebat di otak saya setelah mendengar pertanyaan istri. Katanya rejeki memang ada sudah ada yang mengatur. Tapi kalau lantas pasrah begitu saja, yaa bagaimana dong?

Otak saya penuh pertanyaan. Letih sekali rasanya memiliki banyak pertanyaan tanpa memiliki satupun jawabannya.

Selesai mencuci piring dan menina-bobokan anak, saya duduk di depan monitor komputer. Membuka facebook. Habis mau buka apa lagi? Saat itu facebook satu-satunya pelarian dari segala kesumpekan yang tengah ada.

Bedanya, kali ini pelan-pelan menulis permintaan maaf pada si Fulan.

Kalimat pembukanya; “Ternyata; hidup ini singkat


Sony Corp vs Sony AK vs Sony Toloyo

Sony Corporation, sebuah perusahaan raksasa multinasional baru saja mengajukan gugatan hukum pada bloger Bogor bernama Sony Arianto Kurniawan, karena Kang Sony yang orang Bogor ini memiliki domain www.Sony-AK.com.

Pukul 02.40 AM tanggal 11 Maret 2010, Sony AK (yang dari Bogor) menulis di forum PasarDomain

Dear all,
Saya Sony Arianto Kurniawan dan saat ini baru saja dapat “musibah” karena domain saya sony-ak.com di-sue oleh Sony Corporation Japan melalui kuasa hukumnya di Indonesia. Padahal itu saya register-kan berdasarkan nama saya sendiri dan sudah saya gunakan sejak lama untuk kepentingan murni penyebaran ilmu pengetahuan di bidang IT.
Saya ingin tahu bagaimana pendapat rekan-rekan di forum ini.
Best regards,
Sony AK
www.sony-ak.com

Seharusnya Sony Corp bisa belajar dari kasus Microsoft vs Mike Rowe.

Apa sih kasus Microsoft vs Mike Rowe?

Tahun 2003 Mike Rowe, seorang pelajar berusia 17 tahun dari Kanada yang hobi mendesign web dan programing kecil-kecilan mendaftarkan domain bernama www.mikerowesoft.com. Singkatan dari Mike Rowe (namanya sendiri) dan soft (sebab ia pikir lucu kalau pakai kalimat ’soft’ yang artinya lembut di belakang namanya).

Pada Januari 2004, perusahaan software raksasa bernama Microsoft marah-marah kebakaran jenggot. Mereka pikir MikeRoweSoft dot com itu tengah melakukan plagiasi pada domain mereka, microsoft dot com. Lalu, akibat arogansi mereka pun melakukan upaya akuisisi pada domain mikerowesoft.com. Caranya, pihak Microsoft menawarkan kompensasi uang sebesar $10 dollar Amerika kepada Mike Rowe agar menjual domain itu kepada mereka.

Mike Rowe berang. Ia merasa dilecehkan. Pertama karena dianggap ‘tengah mencuri nama microsoft’ (Padahal orang tua Mike Rowe sama sekali tidak berniat memberi nama anaknya mirip seperti perusahaan perangkat lunak dari Redmont yang bernama Microsoft Corp). Kedua karena apabila nama Mike Rowe begitu penting untuk Microsoft, kenapa ditawarkan hanya US $10 saja? (*Ia lalu meminta US $10 ribu untuk domain itu. Semata-mata karena kesal atas perlakuan Microsoft*)

Microsoft tentu saja ngamuk berat. Dengan segerombolan pengacara mereka yang bergaji hingga ribuan dollar perjamnya, mereka membuat 25 halaman tuntutan terhadap Mike Rowe. Bahkan diantara tuntutan adalah memenjarakan Mike Rowe dan mendenda pemuda berusia 17 tahun yang sial karena memiliki nama Mike Rowe (hampir mirip dengan Micro) sebanyak US $100.000

Mike Rowe menolak menerima kriminalisasi itu. Ia membuka kasus ini ke pers dan publik. Hasilnya adalah situs mikerowesoft.com dikunjungi oleh 250 ribu orang dalam tempo waktu 12 jam saja. Situs itu lumpuh segera akibat tidak bisa menerima kunjungan segitu banyak orang.

Di sisi lain, Mike Rowe ternyata mampu menggalang dukungan dari banyak orang. Memperoleh donasi US $6000 untuk membayar ongkos perkara dan juga memperoleh bantuan legal dari pengacara yang mau bekerja membelanya Pro Bono, tanpa bayaran.

Kasus ini benar-benar memicu kemarahan publik. Arogansi Microsoft Corp benar-benar dipertanyakan. Mike Rowe vs Microsoft mampu memicu media menganalogikannnya sebagai cerita versi cyber modern David vs Goliath. Si kecil yang teraniaya vs Raksasa yang jahat tiada tara.

Dalam beberapa hari setelah kasus ini mencuat di publik, terjadi kekacauan administrasi di tubuh Microsoft sendiri. Beberapa orang pengembang perangkat lunak jenius yang bekerja di Microsoft menganggap bahwa sudah semestinya mereka keluar dari perusahaan yang berubah jadi setan ini. Ribuan telpon berdering setiap hari di meja resepsionis mengutuk aksi Microsoft. Intinya, terjadi tekanan di tubuh dalam perusahaan dan juga dari luar. Oh! Bad for business.

Kasus ini akhirnya bisa diselesaikan dengan baik di luar jalur hukuum. Microsoft mengakui betapa arogannya mereka. Lalu menghadiahkan Mike Rowe hadiah-hadiah khas Microsoft.

Mike Rowe sendiri, lalu melelang 25 halaman tuntutan dari Microsoft di sebuah situs lelang E-Bay.

Lalu bagaimana dengan domain www.mikerowesoft.com?

Domain ini akhirnya di dapatkan oleh microsoft dengan perjanjian bahwa akan di selaraskan dan ditujukan langsung ke mikerowesoftforum.com (akhirnya entah kenapa, di deface). Namun kalau mengetik mikerowesoft.com, maka kita akan ditujukan ke halaman mesin pencari Microsoft yang bernama Bing yang isinya adalah kasus antara Microsoft dengan Mike Rowe.

Jadi apa yang harus dilakukan Sony AK yang blogger orang Bogor itu dalam kasus penuduhan soal identitas dari Sony Corp, raksasa elektronik Jepang?

“Terus aja nge-blog, Kang. Jangan takut. Mike Rowe saja yang bukan orang Bogor bisa menang. Pasti anda juga bisa menang kok”

Lalu apa yang bisa dilakukan Sony Corp supaya menang melawan Sony AK?

“Sebaiknya belajar dari kasus Microsoft vs Mike Rowe. Kalau tidak bisa belajar, coba pertimbangkan untuk ganti nama”

(*Sumpah mati, gara-gara kasus ini dan markas besar Sony di Tokyo saya jadi kepingin bikin domain Sony-Toloyo dot com. Haha*)

Status Facebook Walikota

Baru saja membuka penerima arus berita Google Reader, saya terkejut melihat alinea judul sebuah berita di sindikasi nusantara ANTARA. Judulnya “Mantan Walikota Jaksel Ditahan”.

Pertanyaan pertama di otak saya adalah, siapa yang di tahan?

Membaca lebih lanjut. Ternyata yang ditahan adalah Bapak Dadang Kafrawi. Mantan Walikota Jakarta Selatan periode 2001-2006.

Ini menarik. Sebab kalau tidak salah, Pak Dadang ini pernah menerbitkan buku otobiografi pribadinya. Judulnya ‘Mengabdi Tiada Henti’. Sebuah buku yang menceritakan strategi, tindakan dan kegagahan Pak Dadang dalam memimpin Jakarta Selatan pada masa pemerintahannya. Penyusunnya Myasa Poetika (nama yang unik tapi tidak ada di mesin pencari.

Tapi sebelum lebih lanjut bicara mengenai Pak Dadang dan bukunya. Mari kita lihat, apa musababnya Pak Dadang ini ditahan. Berikut ini kutipannya dari sindikasi berita ANTARA:

Mantan Walikota Jaksel Ditahan
Jumat, 5 Maret 2010 14:22 WIB | Peristiwa | Hukum/Kriminal |
Jakarta (ANTARA News) – Mantan Walikota Jakarta Selatan, Dadang Kafrawi, Jumat ditahan di rutan Salemba Cabang Kejaksaan Agung terkait kasus pembebasan lahan pemakaman unit Budha di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Tanah Kusir, Jakarta Selatan.
Penahanan tersebut dilakukan sekitar pukul 11.00 WIB, setelah penyidik pada Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus), melakukan pemeriksaan sejak Jumat (5/3) pagi.
Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus), Marwan Effendy, di Jakarta, Jumat, menyatakan, Dadang Kafrawi ditahan terkait kasus pembebasan tanah untuk pemakaman Budha di TPU Tanah Kusir yang diduga merugikan keuangan negara Rp12,96 miliar.
“Menurut penyidik cukup kuat alasan tersangka untuk ditahan, karena dia yang menandatangani surat perintah tukar guling (pemakaman Budha). Uangnya bisa cair kalau ada tandatangan dia,” katanya.
Seperti diketahui, dalam kasus tersebut, sembilan tersangka lainnya sudah menjalani hukuman setelah divonis oleh Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan.
Marwan beralasan tersangka saat kasus itu terjadi, menjabat sebagai Ketua Panitia Pembebasan Tanah (P2T).
Saat ditanya wartawan mengenai penahanan yang terhitung terlambat itu, ia menjawab untuk penahanan tidak bisa dilakukan begitu saja, karena harus ada alat bukti.
“Belakangan di persidangan (sembilan tersangka lainnya), diketahui bahwa kasus itu memang salah. Mau tidak mau harus dipertanggungjawabkan,” katanya.
Kasus itu bermula saat tersedia kredit anggaran pembebasan tanah pengganti pemakaman unit Budha di TPU Tanah Kusir, Jaksel, berdasarkan Daftar Anggaran Satuan Kerja (DASK) bulan Juni sebesar Rp13,5 miliar.
Dana sebesar itu antara lain dialokasikan untuk pembebasan lahan sebesar Rp12,96 miliar dan berdasarkan hasil musyawarah yang tertuang dalam SK Walikotamadya Jaksel, harga tanah yang bersertifikat sebesar Rp1.032.000/m2 dan yang belum bersertifikat Rp928.800/m2.
Namun dalam pelaksanaannya diduga terdapat beberapa penyimpangan antara lain uang penggantian yang diterima oleh pemilik tanah berbeda dengan yang tertera dalam kuitansi.
Luas tanah digelembungkan (mark-up) dan dokumen tanah dipalsukan sehingga terdapat tanah yang sudah dibebaskan pada tahun 1976, namun pada 2006 dibebaskan lagi.
Akibatnya negara dirugikan sebesar Rp12,96 miliar.
(T.R021/S026)

Aaahhh… Dugaan korupsi dan kolusi rupanya.

Saking isengnya (karena saya biasanya tidak begitu percaya berita dari satu sisi saja). Maka saya mencoba googling mengenai Dadang Kafrawi. Hei! Pak Dadang rupanya punya akun facebook.

Dan saya ternyata benar, bahwa Dadang Kafrawi yang di facebook itu adalah Pak Dadang Kafrawi yang mantan Walikota Jakarta Selatan, pernah bikin buku autobiografi, dan di duga korup lalu di masukkan rumah pemasyarakatan Salemba.

Ini screenshot akun FB milik Dadang Kafrawi;

laman facebook Dadang kafrawi

Sementara, bagi yang mau tahu profil Pak Dadang. Ini catatan resminya dari pemerintah kota DKI Jakarta:

biografi dadang kafrawi

Sudah jadi rahasia umum bahwa perangkat mobile mudah dipergunakan (atau di sewa atau diperjualbelikan – secara ilegal namun tentunya di sepengetahuan radar sipir) di Rumah Tahanan Salemba, lembaga pemasyarakatan yang terletak di tengah kota Jakarta ini.

Maka, karena Pak Dadang mantan walikota dan ada di rutan ’strategis’ seperti Salemba di JKT. Pertanyaan selanjutnya dari saya adalah, apakah Pak Dadang akan mengupdate status terkini facebooknya dalam penjara?

Apa isi status facebook sang (mantan) walikota? Orang yang pernah jadi manusia nomor satu di Jakarta Selatan itu.

Yang jadi pertanyaan lanjutan, pentingkah?

Buat saya yaa jelas penting. Sebab tidak tahu bagaimana tahanan kini diperlakukan di sana. Penjara adalah ruang rahasia. Namun, mungkin aplikasi facebook bisa mengungkapkan komunikasi di dalamnya ;)

Mari Ramai-Ramai Kita Tinggalkan Internet Explorer 6

Sudah beberapa tahun belakangan ini, beberapa rekan pengembang aplikasi perangkat lunak berbasis web selalu mengeluh dengan browser bernama Internet Explorer 6 (IE6). Bukan hanya pengembang aplikasi sebenarnya, para disainer yang berkarya berbasis laman-laman web pun ikut mengeluh.

Ada apa sebenarnya dengan IE6?

Jawabannya banyak. Tapi kalau mau dipisahkan berdasarkan kategori, adalah sebagai berikut:

  • Sisi disain; tidak mengijinkan tranparansi file PNG. Ini jelas aneh, sebab kalau transparansi hanya pakai GIF, kualitas menurun. Lalu apabila tidak mau kualitas turun, maka file membengkak gila-gilaan ukuran kilobyte-nya.
  • Sisi tampilan depan; Tidak ramah CSS. Padahal CSS itu digjaya. Dunia makin berubah. Begitupun usability aplikasi atau tampilan berbasis web. Dukungan IE6 terhadap CSS tidak sebegitu baik ketimbang browser lainnya. Hasilnya, banyak tampilan web yang tidak diinginkan mucul di IE6.
  • Sisi keamanan: Rentan akan serangan alias cukup berbahaya. Pada saat tulisan ini diturunkan (Maret 2010) terdapat 185 celah keamanan di IE6. Ini jelas mengerikan. Sebab beberapa aplikasi web perbankan di RI beberapa diantaranya malah mensyaratkan agar penggunanya menggunakan perambah internet IE6. Padahal IE6 bukanlah alat yang baik dalam transaksi yang melibatkan jaminan keamanan online. Pemerintah Perancis dan Jerman bahkan sudah melarang pegawainya untuk menggunakan IE6 akibat masalah keamanan ini.
  • Sisi dukungan: Bahkan pengembang IE6, yaitu Microsoft, sejak Januari 2010 sudah mensyaratkan bahwa mereka tidak akan mensupport IE6. Jadi dukungan kepada IE6 memang sudah tidak ada lagi. Ibarat anak ayam, ia sudah akan berjalan tanpa induknya lagi. Hehe.

Mengapa tulisan ini muncul?

Tahun 2009, sekitar 32% pengunjung website dan aplikasi web kami yang di Amerika Serikat sendiri mencapai 32%. pada penghujung tahun ketika windows 7 mulai ramai diperkenalkan, jumlahnya menurun. Sekitar 22% masih memakai IE6. Pada intinya, pengguna Internet Explorer 6 masih banyak. Terutama di kalangan pengguna internet senior (maksudnya dari sisi usia) masih susah diyakinkan bahwa ada banyak pilihan alat perambah dunia internet.

Masih banyak pengembang perangkat aplikasi web, yang entah kenapa, meminta penggunanya memakai IE6. Padahal ketika sudah berurusan dengan JavaScript, perambah internet ini sudah amat mengecewakan dan berbahaya.

Produktifitas pengembang perangkat lunak berbasis web biasanya terkurangi jika mereka harus memikirkan bagaimana aplikasi mereka jika berhadapan dengan IE6. Apabila kendala ini dapat diminimalisir, maka kita bisa meningkatkan produksi kerja para orang-orang pintar itu. Jika produksi mampu ditingkatkan, maka kualitas produk perangkat lunak berbasis web amat mungkin dapat diperbaiki.

Apakah ada solusi untuk mengatasi IE6?

Edukasi. Salah satu tujuan tulisan ini niatnya adalah berbagi pengalamn dan juga berbagi edukasi. Publik mau tidak mau harus diberitahu mengenai bahayanya memakai produk perambah internet buatan Microsoft yang bernama Internet Explorer 6.

Upgrade. Masih banyak pengguna sistem operasi buatan Microsoft yang bernama Windows XP tetap menggunakan IE6 sebagai andalan mereka dalam melakukan kegiatan berinternet. Padahal sebenarnya sudah bisa upgrade. Baik upgrade ke produk Internet Explorer yang lebih tinggi seperti IE7 atau IE8, atau ke upgrade sistem operasi.

Alternatif. Masih banyak perambah internet di muka bumi ini. Pengguna internet berbasis PC dapat menggunakan perambah handal, aman, canggih, pula sumber terbuka (open source) seperti Mozilla Firefox atau yang cepat seperti Google Chrome. Pada pengguna internet berbasis mobile maka Opera adalah nama yang dapat dikagumi.

Jadi tunggu apa lagi? Mari ramai-ramai kita tinggalkan IE6 :)

Mengapa Tidak Ada Alamat Google di Indonesia?

Iseng-iseng beberapa saat lalu saya mencari alamat Google, sebuah perusahaan mesin pencari. Sebagai langkah awal, jelas saya merumuskan sebuah pertanyaan dahulu sebagai berikut;

“Di mana alamat kantor cabang Google di Indonesia”

Dengan menggunakan salah satu produk Gooogle, mesin pencari. Jawabannya ternyata cepat;

Pada Maret 2010, Tidak ada

Kantor cabang Google terdekat dari Indonesia pada saat tulisan ini diturunkan adalah di Singapore. Dengan alamat;
Google Singapore
#38-01/01A
8 Shenton Way
Singapore 068811
Phone: +65 6521-8000
Fax: +65 6521-8901

Setelah melihat dengan seksama beberapa lowongan pekerjaan yang tertera, ternyata ada diantaranya adalah AdWords Account Strategist (Bahasa Indonesian/Thai) – Singapore. Maksudnya mungkin adalah seorang profesional yang bekerja pada bagian AdWords di Google yang mampu berbahasa Inggris sebagai bahasa pengantar pekerjaan dan Bahasa Indonesia serta bahasa Thai. Jadi lowongan ini bisa jadi terbuka untuk siapa saja yang multi-lingua dan menguasai AdWords.

Tapi tetap saja tidak bisa memungkiri kenyataan bahwa tidak ada kantor cabang Google di Indonesia.

Maka, yang jadi pertanyaan lanjutan saya adalah;

Kenapa Google tidak mempunyai kantor cabang di Indonesia?

Apakah pasar Indonesia tidak sebesar China?

Apakah karena Indonesia tidak memiliki mesin pencari sendiri sekelas Baidu di RRC?

Apakah Google merasa tidak memiliki saingan di Indonesia?

Apakah pemerintah Singapore lebih kooperatif daripada pemerintah Indonesia dengan memberikan subsidi pajak pada Google sebagaimana mereka memberikan subsidi pada George Lucas untuk mendirikan studio 3D Lucasfilm di Singapore?

Adakah hubungan politis antara ketidakstabilan pemerintah Indonesia (yang mempengaruhi keamanan dan pasar) ada hubungannya dengan investasi Google di Indonesia?

Hehe, saya terlalu banyak bertanya. Maafkan saya teman-teman Google Singapore (atau di mana saja). Ini sekedar bertanya. Tidak ada maksud apa-apa :)